
Suara ayam berkokok mengusik waktu tidur Ara. Hampir semalaman Ara dan Mama Lauritz dalam pembicaraan serius. Kedua orang tua Ara sudah menentang kuat keinginan Kakek Baren dan sudah mengambil keputusan bulat untuk benar-benar menjauhkan ketiga anaknya dari seluruh keluarga utama.
Meskipun penjelasan panjang lebar nan menenangkan masuk lancar dalam saluran pendengaran Ara, namun hal itu hanya ditanggapi Ara sebagai bentuk kepercayaan pada Papa Yudith dan Mama Lauritz. Nyatanya Ara tidak akan percaya, ia sudah sangat hafal keluarga Mama Lauritz yang super egois. Belum lagi jika keluarga Papa Yudith mengetahui ide gila Kakek Baren, 1000% Ara yakin pasti akan semangat memaksa Ara menerima perjodohan demi ikut menjadi parasit di hidup 'suami kaya Ara' kelak.
Masih dalam posisi berbaring di sebelah Mama Lauritz, Ara mengerjapkan mata perlahan. Banyak hal yang sudah Ara pikirkan sejak matanya masih menutup sempurna. Jika kesempatan membujuk Eric untuk menolak perjodohan gagal, maka Ara harus punya rencana cadangan berupa senjata manusia. Satu-satunya yang bisa Ara pikirkan adalah Gilang.
'Bang Gilang.. Iya, minta bantu Bang Gilang aja.' Senyum Ara mengembang, setitik pencerahan muncul sebagai solusi lainnya.
Duduk bersila, Ara merotasi bola matanya perlahan. Bukan mengamati kondisi ruang kamar penginapan sederhana, ia sedang sibuk memikirkan berbagai macam rencana. Iya, keluarganya lebih memilih membayar kamar penginapan dibandingkan harus merasakan hawa panas tinggal di rumah utama keluarga Vromme alias rumah orang tua Mama Lauritz.
"Pulang dari sini harus ngelobi itu orang. Moga mau." Bergumam lirih menangkupkan kedua telapak tangannya menutup wajah, Ara tetap masih frustasi. Tidak perduli meski kedua orang tuanya menyuruh Ara melupakan dan cukup diam tidak menggubris.
Tujuan Papa Yudith dan Mama Lauritz kembali membahas perjodohan hanya agar Kakek Baren mendengar langsung penolakan Ara. Niatnya membuat Kakek Baren sadar dengan penolakan dari bibir cucu nya sendiri justru memancing ancaman-ancaman lain yang terus dilontarkan.
Senyum dan terus tersenyum Ara memikirkan siasatnya, namun semuanya hanya bertahan tidak sampai setengah jam atau bahkan 15 menit. Senyum Ara hanya bertahan 7 menit sebelum kemungkinan masalah lain menyentak akal sehat Ara. Lagi-lagi jiwa pemikir Ara membuat gambaran jika rencananya menjadi boomerang kehancuran untuk dirinya sendiri.
"Tapi kalau lihat dari materi apalagi latar belakang keluarga, Bang Gilang pasti langsung didepak gitu aja." Ucap Ara lirih sambil sesekali mengawasi Mama Lauritz di sampingnya dan Papa Yudith yang tidur di lantai beralas selimut tebal.
"Gimana kalau disuruh buktiin pakai nikah sama Bang Gilang??" Ara menjambak rambutnya, wajahnya ditenggelamkan diantara kedua lutut. "Harus gimana ini biar semuanya aman??"
Terdiam dengan kepala berdenyut yang lama-lama justru terdengar dengkuran halus. Ara tertidur pada posisi duduk dengan lutut menompang kepalanya hingga sinar sang mentari menyapa.
"Kak.. Ayo cepet mandinya!!" Teriak Mama Lauritz pada Ara yang masih mengeram di kamar mandi seperti ayam betina takut kehilangan telurnya.
"Iya Ma.. Bentar.." Teriak Ara kuat dari dalam kamar mandi. Sebenarnya Ara sudah menyelesaikan acara mandinya, hanya saja ia sibuk menyelami pikirannya.
Ceklek
"Kita pulang ya Ma hari ini?"
"Iya Kak.. Tapi sekarang kita ke rumah sakit dulu ya.. Terus kita mampir ke rumah Nenek Ida sama Kakek Bagus. Dulu kita gak sempat pulang ke rumah Papa."
"Itu rumah orang tua Papa, rumah Papa di B Ma.. Cuma di Kota B rumah Mama sama Papa dan di sana nanti tempat kita sekeluarga pulang." Ucap Ara penuh penekanan.
"Iya Kak, iya.. Udah deh pagi-pagi jangan cemberut gitu. Nanti kelihatan tua Kakak daripada Mama yang masih ting-ting cantik awet muda ini." Mencubit gemas kedua sisi pipi Ara sambil sesekali ditepuk perlahan, Mama Lauritz ingin mengurangi kerutan-kerutan yang Ara ciptakan di wajahnya.
"Loh bener Ma.. Istri Papa ini memang yang paling cantik.. Anak Papa gak boleh iri ya.. Cantik juga kok, tapi cantikan Mama nya." Ucapan garing dari Papa Yudith terdengar seperti suara katak memanggil hujan, berisik tapi tidak bisa dihentikan.
"Ya udah, pagi sarapan dimana dulu?? Ara lapar super duper pol sekarang. Pengen yang pedes." Tanya Ara pada kedua orang tuanya. Mama Lauritz yang masih sibuk mengemas koper kecil hanya menaikkan dagunya memberi kode pada Papa Yudith.
"Sarapan jangan pedes-pedes Kak.. Pecel tumpang mau Kak?"
"MAAUUUUU!!! Pakai telur ceplok ya Pa!!?"
"Semangat banget kalau udah makanan."
"Udah lama Mama gak masak itu sih.. Kemarin aja udah bikin peyeknya, tapi keburu ke sini jadi gagal bikin pecel." Gerutu Ara kesal mengingat jerih payahnya menggoreng peyek pertama kali demi diwujudkan dalam kreasi nasi pecel sambal tumpang oleh Mama Lauritz.
"Pasti sama Bang Gilang udah dilibas habis bareng ketoprak atau gado-gado Ma.. Peyeekk kuu.."
__ADS_1
Meninggalkan drama kenangan peyek kacang tanah lengkap dengan ikan teri bertabur irisan halus daun jeruk, Ara sudah menahan lelehan liurnya agar tidak menetes kala menunggu pesanannya tiba. Setiap langkah kaki pelayan warung makan sederhana akan Ara amati seperti sudah terkena magnet. Sudah berkali-kali Ara berdecih kala setiap piring berlapis daun pisang itu mendarat tidak pada meja Ara.
...----------------...
Saat matahari sudah hampir sejajar dengan bayangan, Ara sudah tiba lagi di parkiran rumah sakit. Bujuk rayu Mama Lauritz dan Papa Yudith tidak mempan kali ini untuk Ara. Bertahan dengan sikap keras kepala, Ara menolak untuk ikut mengunjungi Nenek Mira jika harus bertemu Kakek Baren juga. Biar saja ia terlihat super kurang ajar, lebih baik menjauh dari sekarang sebelum semuanya terlambat.
"Bentar lagi udah jam nya.. Tunggu aja lah dulu." Menatap layar ponselnya, Ara kembali mengingat riwayat pesan singkat bersama Bima kemarin malam. Menghela nafas gusar, Ara tidak menemukan jejak kebohongan yang ditutupi oleh Bima.
Bima sudah berkata jujur sejauh yang Ara tau, namun mengapa Ega harus menutupi pertemuan antara dirinya dan Bima. Apalagi pembicaraan menemui Eric yang Ara dengar justru mengarahkannya pada pertemuan antara Ega dan Bima. Sangat wajar jika berbagai dugaan berkecamuk dipikiran Ara.
Maka di sini lah Ara berada mendudukkan dirinya setelah sempat merenung di dalam mobil. Di kantin rumah sakit ditemani segelas es jeruk peras dengan semangkuk mie ayam pangsit, Ara seolah punya lambung ganda. Mendadak menjadi pemikir kritis membuat Ara mudah kelaparan, mungkin sudah dasarnya Ara yang rakus tapi membuat alibi gara-gara banyak berpikir keras.
"Ara.." Suara bariton nan maskulin itu membuat Ara tersedak kaget.
"Uhuk!! Uhuk!!" Meraih es jeruk peras nya, Ara langsung menenggak habis tidak lagi menyeruput minuman melalui sedotan.
"Maaf ya Ra, jadi ngagetin banget ya??" Pertanyaan itu penuh kekhawatiran, namun di mata Ara semuanya saat ini tampak seperti basa-basi murahan. Berbeda dengan dulu yang pasti dianggap Ara sebagai bentuk perhatian.
Ara masih menahan beban pikirannya. Ia masih menyisakan ruang bila dugaannya salah dan justru melukai orang yang baik. Namun tetap saja ada rasa kecewa yang menyeruak bila membayangkan dugaannya menjadi kenyataan.
"Bang Bima udah lama di rumah sakit ini??" Mengalihkan pembicaraan, Ara ingin secepatnya menguras segala macam informasi.
"Kok bisa jadi di sini Bang?? Bukannya Abang masih koas dan gak bisa pindah rumah sakit??"
"Pemilik rumah sakit di sana itu sama kayak rumah sakit ini Ra. Entah kebetulan atau gimana dari rumah sakit ini ada narik staf medis dari yayasan di Kota Y, semua orang berhak ngajuin tinggal nanti dipilah dan Abang juga pengen banget ngerasain suasana baru, jadinya ya Abang ikut daftar.. Hasilnya ya sekarang ini, pengajuan Abang disetujui dan Abang lanjutin masa koas Abang di sini." Ucap Bima tanpa ragu sedikitpun
Pikiran Ara seketika melayang tidak tau kemana, bisa-bisanya ia sempat menerima perawatan di rumah sakit milik Om Arya tapi ia tidak sadar sama sekali. Kebetulan macam apa lagi yang harus Ara rasakan. Jika menyakini sosok Bima dihadapannya adalah Eric mungkin akan lebih wajar saat Ara tau tentang kenyataan baru ini. Kekuasaan keluarga menjadi mungkin sehingga bisa membuat Bima berpindah sesuka hati.
Masih ada sedikit perasaan mengganjal karena rasanya sangat mustahil, sejauh yang Ara ketahui tidak ada perpindahan koas hingga keluar kota seperti yang Bima katakan. Memilih pura-pura percaya pada ucapan Bima, mata Ara mulai menelisik ke arah lift yang tampak dari posisi Ara. Tidak ada gunanya mendesak Ega, lebih baik membuatnya dalam posisi terjepit untuk berkata jujur seperti rencana Ara saat ini.
'Nah kena lo Mas!' Menyeringai tipis sekilas, Ara mulai mengambil ancang-ancang.
"Abang di sini dulu sebentar ya.." Ucap Ara tanpa memandang Bima dengan langsung beranjak menuju sosok Ega.
"Maasss.." Suara Ara dibuat mendayu-dayu manja. Diraihnya lengan Ega tanpa permisi dengan cukup menarik kuat.
"Tumben jadi bocah?" Mengernyit heran Ega pada sikap Ara.
"Gak boleh??"
"Gak apa-apa, cuma tumben aja."
"Ayo Mas cepet, mie ayam ku nanti keburu dingin." Menarik atau lebih tepatnya Ara menyeret kuat Ega dengan berusaha berlari kecil. Keduanya sudah sampai pada meja dimana Ara menikmati mie ayam yang saat ini wujudnya tidak menyelerakan, mengembang penuh dalam mangkuk.
"Mas, ini Bang Bima. Bang, ini Mas ku, namanya Ega." Ucap Ara dengan senyum cerah. Dapat Ara lihat ada sedikit keterkejutan di wajah Bima dan Ega yang hanya muncul sekilas.
__ADS_1
"Ayo Mas, kenalan!!" Memaksa kedua laki-laki itu berjabatan tangan, Ara terus mengawasi setiap perubahan raut wajah Bima dan Ega.
'Ini mereka lagi akting atau emang biasa aja sih??' Ucap Ara dalam hati yang mendapati reaksi kedua laki-laki di hadapannya biasa saja, tidak ada tanda keterkejutan.
Ketiganya menghabiskan waktu cukup lama hingga Papa Yudith dan Mama Lauritz menyuruh Ara ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Tidak ada hal aneh sama sekali, seperti sihir Ara seolah hanya melihat pembicaraan antara bos dan pegawai. Mungkin ada 1 yang berbeda, yaitu tatapan terkejut Bima pada Ara yang rupanya masih keluarga pemilik rumah sakit yang dipilihnya sebagai tempat koas.
...----------------...
'Saat kalian sibuk tertawa, bercanda gurau, saling membagi kasih sayang.. Aku cuma punya Mama, Papa dan kedua adik ku untuk berbagi tawa kecil kami. Padahal kami juga bagian dari kalian.' Mata Ara sendu memandang sebuah keluarga. Ada sepasang lansia, pasangan muda dan seorang balita yang menjadi pusat tawa keempat orang dewasa itu.
Bohong bila Ara berkata tidak iri pada sang balita, Ara sangat-sangat iri. Andai ia menjadi balita itu, apa mungkin tatapan sayang akan Ara dapatkan?? Entah kemampuan apa yang Ara miliki, namun Ara mampu mengingat kenangan sejak ia berusia 3 tahun. Ara tidak merasa hebat, justru ia marah dengan kenangan yang terputar layaknya baru saja terjadi.
Saat Ara berusia 5 tahun, kala itu Papa Yudith sudah pergi merantau. Kehidupan Ara dan Mama Lauritz tidak serta-merta menunggu uang bulanan dari Papa Yudith, namun mencari penghasilan tambahan dari berjualan es campur. Bahkan Ara kecil dengan pemikiran membantu Mama Lauritz sampai rela menjual bekal donatnya pada teman saat sekolah TK. Hingga akhirnya Mama Lauritz berinisiatif membawakan Ara dagangan jajanan atau snack kecil karena melihat Ara sangat semangat berjualan. Tentu saja uangnya ditabung untuk Ara sendiri sebagai motivasi dan melatih mentalnya.
Penghasilan yang tidak besar dari berjualan es campur tetap Mama Lauritz sisihkan membeli sesuatu untuk orang tua dan mertuanya, seperti beras, gula, minyak dan berbagai bahan pokok semampu Mama Lauritz. Tapi tahukah apa yang dilakukan Nenek Ida saat ibu dan anak itu baru saja menginjakkan kaki di pelataran rumah demi sedikit hal yang susah payah telah dibeli?? Mama Lauritz diusir, Ara disebut sebagai alat meminta-minta Mama Lauritz pada keluarga Papa Yudith. Tidak ada sambutan hangat, hanya sapu melayang menghantam kaki Mama Lauritz yang Ara ingat.
Sakit, sungguh sakit. Bukannya Ara tidak tau saat itu, Ara adalah anak yang cerdas. Terbiasa diacuhkan keluarga Mama Lauritz tidak membuat Ara kecil mengemis kasih sayang pada orang-orang lain yang dikenalkan padanya sebagai keluarga. Namun Ara tetap tau kapan Mama nya bersedih, kapan Mama nya menangis diam-diam di sudut dapur dan tentunya bagaimana kerja keras Mama Lauritz menghemat segala hal.
'Mama', itulah kata yang keluar dari bibir si kecil Ara dengan bergetar, meremas tas boneka bulu kecil tanpa berani melangkah. Sama seperti saat ini, mata berkaca-kaca Ara menahan tangisnya.
"Mama.. Gak mau ke sini." Suara serak Ara memecah keheningan, nafas Ara tercekat sesak. Begitu pula Papa Yudith yang tiba-tiba meneteskan air mata. Sosok pahlawan kuat dalam hidup Ara memalingkan wajahnya karena tidak mampu menghalau jatuhnya air mata.
"Kita ke sana sebentar ya Kak.. Udah lama kita gak ketemu Nenek Ida sama Kakek Bagus kan?" Tanya Mama Lauritz lembut, namun dapat Ara tangkap mata sendu itu sedang mencoba tegar di depan Ara.
"Ampun Ma.. Kakak gak mau.. Kakak di sini aja Ma.." Mendengar kata 'ampun' sungguh menyayat hati Mama Lauritz dan Papa Yudith.
'Ya Tuhan.. Semua salah Mama kamu jadi trauma kayak gini..' Membatin pilu Mama Lauritz, usapan di puncak kepala Ara terus ia lakukan. Memandang Papa Yudith yang sudah menghapus lelehan air matanya, Mama Lauritz memilih keluar tanpa Ara.
Layaknya pengganggu, tepisan kasar pada tangan Mama Lauritz yang mencoba bersalaman membuka babak drama baru di mata Ara. Ia ingin keluar dan menghajar orang-orang yang kasar pada Mama Lauritz, namun kakinya melemas kala menemukan wajah yang biasa mengisi mimpi buruknya.
...****************...
*
*
*
Hana lagi pengen makan pecel tumpang pakai peyek sama mie ayam pangsit lengkap sama es jeruk perasš¤¤
Kira-kira ada yang udah bisa nebak Kota K itu dimana??š
Apa Bima beneran Eric??š¤
*
*
Terima kasih udah selalu pantau kisah Ara dan gak bosan kasih dukungan buat Hanaš„°
__ADS_1