
Saat mentari mulai beranjak ingin kembali menyembunyikan dirinya, Ara baru saja tiba di dalam kamar penginapannya. Lelah, pusing, pegal dan terasa remuk, itulah yang Ara rasakan saat ini.
Perjalanan panjang dan macet kemarin membuatnya sampai penginapan di malam hari. Belum lagi pukul 3 dini hari Ara harus bangun untuk mempelajari dan memeriksa ulang materi presentasi milik Bu Dian.
Meskipun nama Ara hanya tercantum sebagai anggota tim lapangan Bu Dian, tapi tugas Ara juga merangkap sebagai asisten pribadi dan pengolah data. Jika salah satu koma saja Ara letakkan, bisa jadi ia akan langsung terpenggal berbagai macam pertanyaan orang-orang hebat dalam ruangan berpendingin kala itu.
"Kapan Bu Dian pulang?" Tanya Ara pada dirinya sendiri saat melihat 2 bungkus berisi ayam bakar dan nasi uduk di atas nakas. Selama hampir 50 menit Ara di kamar mandi melakukan ritual berendam tidak terdengar sama sekali suara orang masuk ke kamar.
"Halo Bu?" Sapa Ara mengawali panggilan yang ia lakukan.
[Iya Ra, kenapa?]
"Ibu dimana ya?" Tanya Ara sembari memandangi bungkusan yang sudah kurang ajar menggodanya itu.
[Ibu lupa kabarin kamu Ra. Kamu kalau mau makan sekarang langsung ke warung di depan penginapan aja ya Ra. Ibu lagi ada di sini bareng Dosen-dosen yang lain.]
"Ja.."
[Ehh.. Pak Kim..] Terpotong sudah ucapan Ara yang ingin bertanya tentang ayam bakar siapa di kamar tidur Ara dan Bu Dian itu.
"Halo Bu?" Sapa Ara lagi untuk menyadarkan Bu Dian bahwa Ara masih setia menghabiskan kuota untuk sambungan telpon itu.
[I-iya Ra. Sebentar ya Ra. Pokoknya kamu ke warung bakso gunung di depan aja, lurus sama penginapan kok. Udah dulu ya Ra.]
"Ii.." Panggilan itu sudah terputus sebelum Ara sempat selesai berucap.
"Dasar Dosen bucin!! Tua-tua genit, ganjen, centil banget!!" Gerutu Ara kesal. Rasa lelah ditambah kesalnya membuat Ara ingin memaki orang yang biasanya ia hormati itu.
Ara bukannya tidak tau jika Bu Dian pasti sibuk dengan Pak Kim. Rasa kesal Ara tiba-tiba bertambah membludak kala mengingat 2 hari lagi ia akan pulang dengan formasi dan posisi yang sama.
"Arg!! Masa bodoh lah!! Makan aja." Seru Ara sambil duduk di lantai dan membuka 2 bungkusan itu.
Nyam..
Nyam..
Nyam..
"Uhuk!! Uhuk!!" Berlari ke sudut ruangan menghampiri kulkas mini yang sudah Ara isi air minuman botol. Faktor lapar dan marah membuat Ara beringas saat mengunyah potongan timun hingga tersedak.
"Sialan!! Gara-gara ingat harus semobil bertiga lagi jadi kesedak!!" Ucap Ara meninggi sambil kembali menyelesaikan makan malamnya hingga tandas.
"Pengharum masih mending, dia ada masih dirasa. Kalau aku, ada tapi kasat mata. Udahlah nanti tidur aja di mobil itu, terserahlah sama rasa gak enak." Gumam Ara lirih penuh keyakinan. Saat ini Ara sudah berada di atas kasur dengan mata terpejam total, tapi masih sanggup bergumam.
...----------------...
Stok kesadaran Ara tampaknya habis terkuras, sehingga terik matahari pukul 8 pagi muncul baru membuat Ara mengerjapkan matanya. Dilihatnya Bu Dian yang tengah menyusun beberapa map yang Ara ingat betul itu berisi lembaran poin-poin perbaikan, tambahan dan draft asli penelitian.
__ADS_1
"Astaga!! Maaf Bu, Ara kesiangan." Terlonjak kaget Ara berucap sambil menyambar handuknya. Tingkah Ara itu hanya ditertawakan oleh Bu Dian. Sebenernya Bu Dian sengaja tidak membangunkan Ara terlebih dahulu, ia tau Ara pasti sangat kelelahan. Lagipula pertemuan dengan tim Pak Damar akan dilakukan 2 jam lagi atau tepatnya pukul 10 pagi nanti.
Secepat kilat Ara berusaha bersiap-siap. Ara bersyukur karena ia bukan tipe yang perlu memakai polesan muka tebal, cukup pelembab, bedak, liptint dan pensil mata saja sebagai kamuflase agar tidak terlihat mengantuk.
...----------------...
"Ra, bisa duduk berdua dulu?"
"Mau apa?" Tanya Ara ketus.
"Aku udah izin Bu Dian kok. Ada yang mau aku bahas Ra tentang kita." Benar-benar muak Ara mendengar kata 'kita' yang dengan mudahnya diucapkan.
"Hans, udah gak ada kita lagi. Aku dan kamu!! Bukan kita!!" Suara Ara masih bertahan dengan nada ketusnya, namun jari-jari Ara sudah bergetar tidak karuan bersembunyi dalam tas ransel yang dikenakan di depan, berhadapan dengan dadanya.
"Ada banyak hal yang harus kita luruskan. Kita.. Maksud ku, aku sama kamu gak mungkin selamanya saling menghindar. Kita masih bisa berubah jadi teman biasa kan Ra?" Tanya Hans memelas.
Drek
Menarik kursinya kembali, Ara duduk menyandarkan punggungnya. Mata Ara menyorot tajam sosok Hans yang baru ia temui hari ini. Padahal sebelumnya Ara sudah sangat bersyukur kemarin tidak melihat Hans.
"Aku sama Linda gak ada apa-apa."
"Udah pernah bahas. Skip aja." Ucap Ara dengan cepat. Bosan Ara mendengar pembahasan itu lagi.
"Itu cuma tantangan waktu itu. Aku memang sempat terpesona sama dia Ra, tapi hati aku cuma buat kamu." Jelas Hans.
"Kamu pikir aku marah cuma gara-gara itu? Gak ada kerjaan banget. Kita itu gak ada hubungan apa-apa Hans. Bukan hak aku buat marah dalam posisi itu." Ucap Ara tegas menatap mata Hans. Tidak tampak gentar atau kerapuhan Ara, namun telapak tangan yang terkepal di atas pahanya berkeringat parah. Salah satu kuku ibu jarinya sudah berhasil melukai jari telunjuknya.
Ara pikir ia sudah mampu mengatasi dan menghapus bayangan masa lalu bersama Hans. Selama ini Ara baik-baik saja jika bertemu Hans bersama kumpulan Dosen dan mahasiswa lainnya. Akan tetapi, berhadapan berdua dengan Hans masih belum mampu sepenuhnya Ara lalui.
"Maksudmu apa Ra? Kalau bukan karena itu, kenapa kamu tiba-tiba jauhin aku? Kamu pasti marah dan cemburu sama aku kan Ra?" Tanya Hans yang masih belum mengerti.
Brak
"Cemburu? Segitu kepedean ya Hans? Aku memang suka sama kamu Hans, tapi bukan berarti aku bodoh. Aku memang berhak menyukai bahkan mencintai sekalipun. Tapi ingat, bukan kewajiban orang yang aku suka buat kasih balasan. Aku tau itu dan kita masih bisa temanan kalau cuma itu." Kepalan tangan kanan Ara sudah tidak disembunyikan lagi. Gebrakan kasar di meja seolah tidak menyakiti tangan Ara.
"Kamu pikir aku gak tau kalau aku cuma taruhan kamu?" Menyeringai Ara pandang Hans sinis.
"Ma-Maksud kamu apa Ra?" Ucap Hans sedikit terbata-bata.
"Aku udah tau semuanya dengan mata dan telinga ku sendiri. Aku memang jelek Hans. Bahkan kamu tau kan kalau aku pernah cerita gimana bullyan dan hinaan orang yang pernah aku suka sampai keluarga aku sendiri?? Apa kamu puas menertawakan aku saat aku cerita?" Tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Dari bayi Hans aku cuma diterima Mama Papa ku aja. Kamu tau kenapa Ibu dari Papa ku gak terima aku?? Karena katanya aku bayi jelek. Tangis pilu Mama ku masih aku ingat Hans.. Tangis yang cuma dibagi sama Papa. Kebenaran yang gak sengaja aku dengar." Ucap Ara dengan suara parau. Hidungnya sudah terasa tersumbat, matanya sakit karena menahan tangis.
"Kamu juga setuju kan sama hinaan mereka?? Kenapa kamu gak biarin aja aku sendiri di perpus?? Kenapa kamu selalu berusaha ajak aku ngobrol?? Kenapa kamu baik sama aku??" Lanjut Ara lagi yang membuat Hans mengalihkan pandangannya.
"Berapa kamu hargai kedekatan kita Hans?? 500 ribu dan harga diri mu yang berhasil buat aku nyaman, tapi juga sedih, kecewa, hah.." Ara tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, air mata Ara sudah tidak mampu terbendung lagi.
__ADS_1
"Maafin aku Ra." Ucap Hans yang mengejutkan Ara, suara Hans tiba-tiba serak. Mata berair milik Hans hampir saja menggoyahkan Ara.
"Aku memang brengsek Ra. Awalnya semua itu memang cuma taruhan, tapi aku beneran sayang Ra sama kamu. Aku beneran jatuh cinta sama mu Ra. Aku menyesal Ra. Aku ngerasa kacau saat kamu mulai jauhin aku Ra. Aku mohon Ra, maafin aku. Kita kembali kayak dulu ya Ra?" Air mata Hans menetes dari kedua matanya. Tampaknya penyesalan benar-benar Hans rasakan. Jika saja ia tau kelakuannya malah berbalik menyakiti dirinya sendiri, ia tidak akan kembali menyetujui perjanjian taruhan yang sempat terlupakan itu.
"Aku bisa aja maafin kamu lewat lisan Hans. Tapi rasa sakit, kecewa, marah itu sulit memaafkan gitu aja Hans. Satu hal yang perlu kamu ingat sekali lagi, tidak ada rasa sayang yang tertinggal buat mu di hati aku ini. Kita masih bisa berteman, tapi gak seperti kedekatan kita dulu." Ucap Ara mantap sembari menghapus sisa air mata di pipinya.
Mengabaikan Hans yang justru semakin terisak bergumam kata maaf, Ara berlalu meninggalkan Hans tanpa pamit. Tempat tujuan Ara kali ini adalah taman kecil di dekat penginapan. Tidak mungkin Ara kembali langsung ke kamar, ia takut berpapasan dengan banyak Dosen dan tentunya Bu Dian yang sekamar dengannya.
Di kursi besi bercat putih tulang Ara tersenyum penuh kepuasan meski tetap pancaran kesedihan itu lebih jelas sangat terlihat. Ara baru saja sadar bahwa selama ini yang tertinggal dan mengganjal di hatinya bukan rasa cinta untuk Hans, melainkan murni rasa kecewa dan marah yang ia kira cinta.
"Ha ha ha.. Aku berhasil.. Aku bisa.." Ucap Ara bangga pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
"Aku bisa Hans. Aku bisa. Kamu cuma seekor semut yang masuk ke gelas minum ku. Saat aku buang, air itu masih bisa aku minum Hans." Sekali lagi Ara berbicara sendiri.
Buk
Buk
Buk
"Aku bisa.. Hiks.. Hiks.. Bisa.. Hiks.. Aku biss-saa.." Berujar sambil terisak, Ara pukuli dadanya yang lama-lama justru terasa menyesakkan. Kepalanya seperti dicengkeram erat, sedang nafasnya tampak terputus karena tidak mampu meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Brugh
"ARA..!!"
...****************...
*
*
*
Sampai sejauh ini apa gak ada yang penasaran sama visual Yuki dan Dimas ya??🤔
Note :
Buat yang tanya background author apa Dokter, Calon Dokter, lagi Koas atau mahasiswa bidang medis lainnya kok tau banget tentang medis (kata reader ya, bukan aku sendiri yang bilang loh.. Jangan dibully kalau ternyata ada yang salah😁) jawabannya itu TIDAK.
Semua yang ada sangkut-pautnya sama medis murni hasil belajar mandiri dari google sebelum buat cerita, jadi ada riset sama analisis dulu sebelum ikut dituang biar gak di geplak sama ahlinya.😄
Kalau tentang alat laboratorium itu sih memang makanan aku waktu masih kuliah, bahkan aku bisa setiap hari kuliah di Lab yang bahkan ngalahin mahasiswa jurusan Biologi atau Kimia di kampus ku😌 Kuliah jurusan apa??🤔 Tebak aja lah ya😉
Penjelasan panjang lebar selanjutnya bakal ku post di bab khusus pengumuman yaa.. Kemungkinan sebelum/sesudah episode ke-29. Kenapa 29??🤔 Tungguin aja nanti😉
(Ingetin aku ya kalau lupa🤭)
__ADS_1