
“Gak mau mampir dulu, Ki?” Ucap Ara basa-basi. Sejujurnya ia sempat melihat kode Ega dari teras untuk mengajak Yuki mampir.
“Gak deh.. Aku pulang aja.” Jawab Yuki sambil melirik sekilas pada sosok Ega yang tersenyum manis padanya.
“Lagi ada tamu tuh kayanya di rumah mu..” Lanjut ujaran Yuki.
“Itu Mas ku, Ki.. Anak dari Adiknya Mama yang harusnya aku panggil Adik sih..”
“Sama di rumah ada orang tua Mama juga.” Ucap Ara lagi dengan wajah murung. Suasana hatinya berubah memburuk. Hal itu jelas dapat Yuki tangkap sempurna lewat intonasi suara dan gurat kesedihan di wajah Ara.
“Sabar ya..”
“Santai aja. Aku juga biasa aja kok..” Ucap Ara bohong. Mana mungkin Ara akan jujur pada Yuki bila ia layaknya pencuri di rumahnya sendiri.
“Ya udah, aku pulang ya.. Bye..”
“Bye..” Ara melambaikan tangan pada Yuki yang nyatanya tidak melihat meski menyadarinya.
Melangkah gontai Ara ingin bergegas ke kamarnya. Rasa lapar sudah terobati dengan semangkuk bakso gerobakan, kini tersisa lelah dan kantuk. Selain itu juga ia tidak ingin terlalu menghabiskan waktu di luar kamarnya dalam beberapa saat ini.
“Kenapa gak diajak mampir dulu teman mu, Dek?” Tanya Ega di balik punggung Ara.
“Udah diajak, tapi gak mau.” Jawab Ara sambil terus melangkah lebar.
“Mas malam ini tidur di sini?” Berbalik menghadap Ega, Ara juga memicingkan matanya.
“Iya. Kenapa?” Jawab Ega santai sambil menyilangkan tangannya.
“Pulang kapan?” Tanya Ara lagi.
“Kamu ngusir Mas?” Menaikan alis kanannya, Ega juga mendengus sebal pada pertanyaan Ara.
“Idih.. Ini nanya, bukan ngusir.” Memutar bola matanya malas, helaan nafas Ara terdengar berat.
“Kirain..”
“Terserahlah..” Ucap Ara jengah. Melanjutkan langkahnya, Ara yakin suara berisik dari kamarnya bersumber dari 2 bocil raksasa.
Menggelengkan kepalanya, Ara tidak habis pikir bagaimana kedua Adik kecilnya memiliki tinggi badan yang seolah membuat tubuh Ara terlihat menyusut. Bukan ia tidak tumbuh atau tulangnya terpangkas, namun pertumbuhan Jona dan Rian saja yang terlalu cepat.
“Sejak kapan kalian bikin kamar Kakak berantakan!?” Pertanyaan bernada sok galak Ara lontarkan. Sedangkan kedua tersangka yang sibuk perang bantal seketika terdiam saling bertatapan.
“Rian yang mulai, Kak..” Tuduh Jona. Selalu seperti itu. Bukan Jona serius ingin melemparkan kesalahan, tapi ia sangat senang menggoda Rian yang pasti bersungut-sungut cemberut.
__ADS_1
“Mamas yang mulai!!” Benar saja, Rian membalas tuduhan Jona dengan lebih semangat. Bibirnya manyun seakan minta diikat pita kado.
“Hayoo.. Ada yang marah.. Merajuk..” Ucap Jona dengan intonasi mengejek.
Bugh.
Bantal besar Ara menghantam wajah Jona hingga terpental jatuh ke lantai.
“Kakak lihat kan!?? Rian yang mulai nih..” Ucap Jona semakin bersemangat. Layaknya mendapat bukti nyata yang bisa ia tunjukan pada Ara.
“Udahlah sana main lagi! Kakak mau ke bawah pipis dulu..” Ucap Ara sembari melempar tas nya sembarangan. Rasa yang mendobrak tiba-tiba di bawah sana seakan nyaris membuat Ara mengompol. Mendengus sebal, Ara berharap orang tua nya khilaf dan membuat kamar mandi baru di lantai atas.
“Kakak.. Mas Rava telepon ini..!!” Teriak Rian sesaat setelah Ara membuka pintu kamarnya.
“Ya udah biarin aja. Udah mati gitu, kalau bunyi lagi baru langsung angkat.” Ucap Ara santai sembari mengikat rambutnya.
“Tapi ini udah Rian angkat.” Ucap Rian sambil menunjukan ponsel Ara yang berada pada genggaman tangan kanan.
“Ha??” Mengernyit bingung Ara mulai memahami maksud Rian. Seketika ia menarik kesimpulan singkat pada ponsel yang terulur ke arahnya.
“Oh angkat gitu.. Ya udah taruh aja di meja sana..!”
“Haduuhh.. Lama..!!” Ucap Jona gemas. Beranjak dari posisi rebahan dan menyambar ponsel Ara dari tangan Rian.
“Astaga!! Kenapa gak ngomong langsung sih..!!??” Meraih ponselnya, Ara sudah dilanda kepanikan. Secepat kilat pula Ara melangkah menuju balkon kamarnya, menjauh dari jangkauan Jona dan Rian.
“Halo, Mas?” Sapa Ara setelah sempat mengatur nafasnya.
[Kamu..]
“Maaf, Mas.. Ara gak tau kalau maksud Rian tadi telepon Mas udah nyambung gini.” Ucap Ara penuh sesal. Merasa bersalah karena telah membuat Rava menunggu cukup lama. Belum lagi jika memikirkan Rava yang harus mendengar dialog tidak berguna antara Ara dan Rian.
[Jadi kalau saya gak telepon lagi tadi kamu gak mau ganti hubungi saya?] Ucap Rava kesal. Belum juga api cemburu yang membakar padam, Rava bertambah kesal pada Ara yang terdengar mengabaikannya.
‘Aduh!! Mati aku!!’ Menepuk pelan bibirnya, Ara membatu pada pertanyaan Rava. Otaknya mengeras tidak mampu berkilah. Jika biasanya ia lincah berkelit pada pertanyaan sulit Dosennya, namun pengecualian pada Dosen berstatus ganda yang bernama Rava. Meski status ganda Rava sama-sama mengambil kewajiban membimbing Ara pada masa depan terbaiknya.
[Panggilan saya tadi kenapa gak kamu angkat? Asik ya berduaan sama Dion? Saya ganggu ya?]
‘Hah..’ Ara mendesah dalam diam. Tidak berani pula menghembuskan nafasnya penuh tekanan. Meski belum cukup lama memantapkan hati pada Rava, tapi ia cukup yakin pada satu sifat Rava yang mudah merajuk dengan kemanjaan akut.
“Nggak gitu Mas..”
[Maaf..] Nah kan, Rava sudah mulai bertingkah. Jika sudah begini hanya ada sebuah jurus yang harus Ara keluarkan, bukan ikut marah, tapi harus membujuk Rava dengan sok manis.
__ADS_1
“Mas.. Percaya sama aku kan? Kamu pasti tau aku gak kayak gitu, iya kan?”
[Hmm.]
“Tadi Ara pergi sama Yuki ke klinik Dokter Dion. Awalnya juga Ara bukan mau nemuin Dokter Dion. Serius deh, gak bohong..”
[Ada hal yang gak kamu ceritakan ke Mas?]
“Nanti setelah Mas pulang dari luar Kota pasti aku ceritakan ke Mas.” Ucap Ara yang masih siaga gawat darurat
[Awas kamu kalau gak cerita sama Mas..!!]
“Memang kenapa? Mas mau hukum aku??” Tanya Ara dengan intonasi menantang. Mana mungkin Rava tega menghukum Ara, begitulah dengan besar kepala Ara yakin.
[Iya. Kamu akan Mas hukum pelukan selama yang Mas mau.”
“Dasar!!” Terkekeh geli Ara melontarkan ujaran sok galak.
[Saya kangen banget sama kamu.]
‘Iya, aku juga..’ Balas Ara dalam hati. Lidahnya masih kaku jika harus membalas kalimat manis Rava. Bukan belum terbiasa, Ara sudah sering kali menjawab ungkapan rindu Rava, tentu hanya dalam hati. Ia masih takut terlena dan akhirnya menghadapi kenyataan bahwa semua ini hanya angannya saja.
Mengulum senyumannya, wajah bersemu Ara berubah menjadi datar. Sepasang mata Rian dan daun telinga Jona terasa menempel pada pintu kaca balkon mengawasi Ara. Menyengir tanpa dosa Rian melambai sekilas. Seolah paham dengan situasi yang salah, Jona melirik pada Ara dengan mengacungkan jari tanda perdamaian.
...****************...
*
*
*
Ayo tebak, apa status ganda Rava?🤔
*
*
Berlebihan gak sikap Rava yang Hana gambarkan?🤔
Kalau iya, sabarin aja ya.. Rava memang terlalu bucin.🤭
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰