
“Mata kamu lucu,” celetuk Rava dengan kepala menunduk, mengintip mata Ara dari celah bawah yang tidak tertutupi telapak tangan Ara.
“Gak usah ngejek!” ketus Ara sewot bersamaan dengan jari yang mencubit pinggang Rava. “Padahal gak nangis malam-malam terus tidur, tapi kenapa bisa bengkak gini sih?”
“Kamu terlalu menjiwai Sayang nangisnya,” ucap Rava sambil mengarahkan tangan kirinya menekan kepala Ara agar bersandar ke bahu kanannya.
“Halah … Tadi ada bapak-bapak yang nangis duluan itu siapa sih?”
“Bibirnya bilangin Mas bapak-bapak terus sukanya.”
“Kan memang jadi bapak dari anak Ara. Mas gak mau gitu?”
“Dasar nakal. Mas tau banget ya bukan itu yang kamu maksud.” Mengetuk pelan pipi gembul sang istri, Rava sudah tidak sabar untuk memeriksakan kondisi calon anak mereka.
Menurunkan pandangannya, Rava mengusap perut Ara sambil berujar lirih, “Bunda nakal Nak sama Ayah.”
“Rupanya si Bapak pengadu … Mas, kalau nanti dia gak ada gimana?” Senyum geli Ara yang sumringah berganti kaku, tatapan matanya sendu mengingat kehamilan kosong yang pernah dialaminya.
“Maksudnya? Dia siapa?” tanya Rava pura-pura tidak tau. Sebisa mungkin Rava berusaha bersikap tenang agar tidak membuat Ara semakin dilanda kekhawatiran. Riwayat kecemasan yang pernah diderita Ara jelas memberikan dampak besar jika seandainya Rava menunjukkan gelagat kegusarannya.
“Tespeknya memang positif, tapi kalau di USG nanti kosong lagi gimana?”
“Percaya saat ini udah ada anak kita di sini. Jangan khawatir ya?”
“Semoga ya ….”
‘Semoga beneran ada dan nanti dia kayak Mas Rava,’ lanjut Ara dalam hati. Tersenyum dipaksakan karena dirinya belum berani terlalu bahagia.
Memang benar tadinya Ara sempat menangis tersedu-sedu dengan kebahagiaan yang membuncah. Namun di lorong tunggu sebuah rumah sakit, tepatnya setelah mendaftar untuk pemeriksaan kandungan, kesenangan Ara menciut menjadi ketakutan bila kehamilannya tidak nyata.
"Ibu Belvya?!"
Tepat setelah Ara selesai bergumam dalam hati, namanya dipanggil untuk berganti melakukan pemeriksaan dari orang sebelum dirinya.
“Wah … Kita lihat di sini ada apa ya?” monolog sang Dokter sambil menggerakkan probe di atas perut Ara.
“Kantung janinnya sudah terbentuk. Sudah 6 minggu ya, Bu … Ibu dan Bapak bisa lihat lingkaran hitam ini? Ini kantung baby nya ….”
“Dok, kenapa kosong ya di lingkaran itu? Saya pernah lihat di internet ada titik atau lingkaran lagi yang katanya itu calon janinnya,” tanya Ara dengan suara bergetar. Tangannya saling meremas gugup dengan tangan Rava.
Mengusap pelan lengan Ara yang terbaring di atas brankar pemeriksaan, dingin tangan Rava tidak mengusik Ara sedikitpun. Seketika Rava menggumamkan banyak doa di dalam hatinya, berharap agar kebahagiaan mereka pagi itu tidak dicabut dan dihempas paksa.
__ADS_1
“Jangan khawatir berlebihan ya Bu, Pak. Ini masih normal kok, bisa diperiksakan lagi nanti di minggu ke-8. Atau sekarang saja kita cek dengan USG transvaginal, karena hasil dari USG transvaginal ini akan lebih jelas. Jadi, bagaimana Pak, Bu?”
“Cek saja, Dok,” jawab Rava mantap, matanya melirik Ara yang juga mengangguk mengiyakan. Meski terlihat ragu karena Ara jelas tau prosedur USG transvaginal itu seperti apa, namun ia sudah tidak sabar melihat hasil yang semoga saja berbeda.
Tidak menunggu lama, sebuah probe khusus memasuki inti bawah Ara. Seketika rasa ngilu menerpa sedikit demi sedikit seiring probe yang menerobos masuk. Dahi Ara mau tidak mau mengernyit dan bibir bawahnya digigit untuk menahan rasa asing.
Sedangkan Rava yang melihatnya hanya mampu mengusap pipi Ara. Sesekali punggung tangan Ara diarahkan ke bibirnya. Dikecupnya lama sebagai bentuk kasih sayang.
“Selamat Pak, Bu … Bisa dilihat di dalam kantung di sisi kiri ini, ini janinnya, debay nya masih terlihat samar. Biasanya di 6 minggu ini organ mata sudah mulai terbentuk, detak jantung juga bisa kita coba dengarkan. Tapi untuk kondisi Ibu Belvya bisa diperiksakan lagi nanti di minggu ke-8. Semoga nanti semakin jelas dan detak jantungnya sudah bisa diperdengarkan,” tutur Dokter itu menjelaskan. Tangannya menarik pelan probe yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan.
“Yang terpenting selalu jaga kesehatan, jangan mudah lelah apa lagi stres dan selalu jaga pola makan,” lanjut Dokter itu mengimbuhi penjelasannya.
Berhadapan dengan sang Dokter dalam posisi duduk yang berseberangan, Ara dan Rava masih saling menggenggam, keduanya berpandangan sesaat dengan senyum lebar.
“Maaf Dok, rencananya siang ini kami harus melakukan perjalanan ke Kota B. Awalnya kami sudah menjadwal tanpa tau tentang kehamilan ini. Jadi berisiko tidak ya Dok kalau kami tetap melanjutkannya?" ucap Ara lancar, mengajukan pertanyaan yang baru saja mengusiknya.
“Sebetulnya di trisemester awal kehamilan diusahakan jangan melakukan perjalanan jauh terlebih dahulu. Resiko kelelahan bisa berakibat fatal," ucap Dokter itu dengan sedikit menjeda perkataannya, "tapi berdasarkan pemeriksaan tadi kandungan Ibu cukup kuat. Catatan saya selang 20 sampai 30 menit lakukan peregangan … Kalau boleh tau perjalanannya ini mau menggunakan angkutan apa ya?”
“Mobil.”
“Pesawat.”
Jawaban berbeda terucap serentak dari bibir Ara dan Rava. Spontan Ara menoleh dengan alis menukik dan mata menyipit.
“Biar cepat sampai kalau naik pesawat. Mobil bisa dibawa pegawai Mas.”
“Haduh … Dadakan gak kasih tau duluan,” gerutu Ara lirih.
“Kalau begitu estimasinya tidak sampai 30 menit perjalanan sudah tiba di Kota B ya Pak, Bu. Kemungkinan meminimalisir resiko kelelahan."
"Iya, Dok. Hanya 20 menit perjalanan udara." Angguk Rava membenarkan.
"Di sini sudah saya berikan vitamin penguat kandungan. Semoga perjalanannya lancar dan setibanya di sana tolong langsung beristirahat ya, Bu. Jika nantinya terjadi kram perut dan muncul flek, segera diperiksakan."
...----------------...
2 Minggu Kemudian
Perjalanan melelahkan kembali ke Kota B sudah terlewat 2 minggu yang lalu. Tapi berita kehamilan Ara masih hanya diketahui sepasang suami istri itu. Belum ada keinginan mereka untuk membagikan kabar bahagia itu pada orang lain. Alasannya karena Ara pernah mendengar dari perkumpulan ibu-ibu ghibah di warung Bang Buna jika pamali membesar-besarkan berita di awal kehamilan.
“Mas di depan sana menepi dulu ya?” pinta Ara pada Rava sambil menunjuk lurus deretan pertokoan di dekat jembatan penyeberangan.
__ADS_1
Keduanya baru saja dari rumah sakit setelah kembali melakukan pemeriksaan ulang. Persis seperti yang disebutkan oleh Dokter yang memeriksa kehamilan Ara 2 minggu yang lalu, tepat pada minggu ke-8 Ara dan Rava berhasil mendengarkan detak jantung bayi mereka yang masih sebesar kacang tanah.
“Kenapa, Sayang?”
“Itu nanti di depan ruko dealer motor itu berhenti.”
“Kamu ngidam pengen beli motor?” tanya Rava yang membuat Ara langsung mendelik.
“Gak. Ngidam pengen nyium yang jaga dealer motor,” cetus Ara asal.
“Sembarangan! Gak! Pokoknya gak boleh!” tolak Rava dengan mata melotot tajam. Hampir saja kakinya menginjak pedal rem.
“Becanda, Mas … Ara mau ayam bakar di seberang jalan itu. Tapi pengen ke sananya lewat jembatan penyeberangan. Boleh ya?” memasang kerjapan dengan binar mata permohonan, Ara memanyunkan bibirnya hingga raut wajahnya terlihat sangat menggemaskan. Tentu saja menggemaskan bagi Rava.
“Lipai nya yang mau?” tanya Rava sambil menepikan mobilnya tepat di depan toko bangunan yang bersebelahan dengan ruko dealer motor. Meski hanya candaan Ara, tapi Rava tetap cemburu dan tidak suka saat melihat beberapa pemuda yang berseliweran di dealer motor itu.
“Bukan lipai kita, tapi ini Ara yang mau. Gak boleh nih kalau Ara yang mau?”
“Mana bisa Mas nolak kalau kamu yang mau.” Mengacak rambut Ara, Rava kemudian menarik rem tangan dan melepaskan pedal rem yang sempat diinjak cukup dalam olehnya.
“Tapi Ara mau cium yang jaga dealer Mas nolak tuh,” cibir Ara dengan bibir mencebik.
“Awas ya kalau minta yang aneh-aneh gitu.” Mencubit gemas pipi Ara, Rava menggeleng kecil.
“Ara gak akan minta yang aneh-aneh. Nanti kalau mau yang aneh-aneh berarti Lipai yang mau.”
Merasa aneh dengan panggilan ‘Lipai’?
Sejatinya sebutan ‘Lipai’ itu berasal dari little pie yang disingkat menjadi lil pie. Namun lidah Ara yang sering terpeleset, maka nama Lipai yang akhirnya menjadi sebutan janin dalam kandungannya setelah 2 minggu berlalu dari pertama kali Rava memanggil calon anak mereka little pie.
Meski sempat terjadi perdebatan kecil, namun Rava mau tidak mau harus mengalah jika akhirnya little pie yang disebutnya berubah menjadi Lipai. Bahkan lipai dalam benak Ara itu jelas-jelas merupakan karakter bernama Levi Ackerman yang familiar dengan sebutan ‘Lipai’ dari sebuah serial anime populer.
...****************...
*
*
*
Mulai dari bab ini, coba tebak kira-kira sebagian nama anak Ara dan Rava nanti apa?🤭
__ADS_1
(Sedang dalam mode dilema karena kebanyakan list nama depan😬)
Nantikan kelahiran Lipai dan terima kasih sudah menanti kisah ArVa🥰