
"Ma.. Papa mana?" Mencomot bakwan jagung dari balik tudung saji, Ara mendudukkan dirinya. Menahan gigitan pertama masuk, Ara harus duduk manis terlebih dahulu sebelum diamuk Mama Lauritz.
Sopan santun harus dimulai untuk diri sendiri begitulah cara membentuk tata krama yang baik kata Mama Lauritz. Menghargai diri sendiri disaat menyantap makanan adalah salah satu contoh kecilnya.
"Masih di bengkel Kak."
"Lembur??" Tanya Ara lagi.
"Iya. Kerjaan Papa mu lagi banyak. Ini Mama sama Jona mau nyusul. Kakak sama Rian jaga rumah ya.." Memicingkan matanya, Ara baru tersadar jika Mama Lauritz sedang mengemas banyak makanan layaknya perbekalan perang. Satu rantang penuh bakwan jagung yang bersanding dengan tempe dan tahu goreng tersusun di atas 2 rantang berisi nasi. Belum lagi ditambah sayur daun singkong yang sudah dibungkus plastik tahan panas dan tentunya beberapa toples camilan kering buatan Mama Lauritz.
"Iya kan biasa juga gitu Ma.."
"Beda ini Kak. Mama, Jona sama Papa malam ini mau tidur di bengkel. Gak ada yang jaga."
"Pantesan bawaannya banyak banget kayak mau perang aja. Bang Andi kemana Ma?" Menjelajahi perbekalan Mama Lauritz, meski bertanya pun mata Ara masih tidak teralihkan. Tangannya tergoda untuk mencomot bakwan jagung, padahal yang baru saja Ara makan juga masih dari adonan yang sama. Memang yang akan menjadi milik orang lain terkadang terlihat lebih nikmat, nyatanya memiliki rasa yang sama saja.
"Kata Papa dia pergi, tapi Mama gak nanya kemana Andi pergi. Paling juga kayak biasa, ikut balapan."
"Tumben Bang Andi gak nyuruh Bang Gilang ganti jaga.. Biasa juga gantian itu orang berdua. Memang gak lembur bareng Bang Gilang ya Ma?"
"Gilang pulang kampung udah mau 3 hari ini Kak. Katanya saudara jauhnya ngidam pengen digendong keliling rumah sama Gilang."
"Hahahaha.. Serius Ma??"
"Hmm." Deheman disertai anggukan kecil, Mama Lauritz sibuk menyusun segala kebutuhan perut ke dalam tas ungu yang lebarnya hampir setengah meter.
"Memang Bang Gilang punya kampung ya?" Ara berkata lirih sambil melenggang pergi menuju kamarnya.
'Masih punya saudara juga toh Bang Gilang. Kirain benar-benar sebatang kara.' Ucap Ara dalam hati kala kakinya sudah menginjak anak tangga terakhir di lantai 2.
Di dalam kamar memainkan ponsel untuk memantau aktivitas para idol kesayangannya lewat sosial media, Ara justru tersenyum hingga tergelak tawa kencang. Sebagai penggemar dari grup idol yang jauh dari kata 'normal' yang umumnya selalu menjaga kesan manis, grup pilihannya malah seperti kelompok pelawak.
Menghabiskan waktu menikmati kesenangannya, Ara semakin percaya bahwa kebebasan miliknya harus ia perjuangkan. Setelah menimang-nimang cukup lama, Ara akan kembali membujuk Ega mempertemukannya dengan Eric.
Beberapa menit terpejam, Ara kembali meraih ponsel yang baru saja beristirahat di atas bantal. Jari-jari Ara terus bergerak dengan bola mata seolah naik turun mencari nama Ega di daftar panggilan ponselnya.
"Mas.." Sapaan pertama Ara kala deringan ponsel bersambut dari seberang.
[Apa?]
"Beneran gak bisa bantu aku ketemu Eric?"
[Dia sibuk.]
"Sibuk apa?"
[Ya sibuk.. Dia kuliah juga kerja. Kenapa?]
"Mas tau kan kalau aku mau dijodohin sama yang namanya Eric itu!??"
[Dijodohin??]
"Hmm." Merotasi bola matanya kesal, sudut bibir kiri atas Ara tertarik sedikit. Nada suara sok terkejut Ega tertangkap basah di pendengaran Ara.
__ADS_1
[Terus?? Eric kan baik, lagian kalian udah saling kenal.. Bahkan kamu sering pergi sama dia.] Menyerocos tanpa jeda Ega tampak berdiri sebagai pendukung kubu Kakek Baren.
"Ha!!?? Apa!!??" Menajamkan pendengarannya, Ara yakin Ega mengatakan suatu petunjuk penting.
[Apaan lagi?]
"Itu tadi Mas bilang aku kenal bahkan sering pergi sama Eric kan??"
[Ap-Apaan sih?? Mas bilang Mas yang kenal kok.. Telinga mu itu Ra.] Tergagap, di seberang Ega sudah berjalan mondar-mandir. Nyaris rahasia yang ditutupinya sebagai perjanjian kekanakan dengan Eric terbongkar.
"Mas gak nyembunyiin sesuatu dari aku kan?? Eric itu bukan Bang Bima kan??"
[Hahahaha.. Gila kamu Dek, kenapa nyasar ke Bima?] Tawa kencang Ega tidak seperti sebuah kamuflase, namun Ara tetap masih curiga. Semakin besar dugaan bahwa kemungkinan Bima adalah Eric, meskipun Ara sadar dugaannya tidak memiliki bukti nyata sedikitpun.
"Aku pernah dengar Mas bahas perjodohan ku sama Eric di telepon, tapi setelah itu aku lihat Mas nemuin Bang Bima. Padahal sebelumnya Mas bilang ke Eric mau nemuin dia. Sekarang mau ngelak lagi!!??" Suara Ara ketus, bahkan tanpa bertemu Ega sudah bisa merasakan sorot tajam mata Ara menghunus nya.
Hening.
"Jangan buat aku kecewa lagi!!" Menutup panggilan sepihak, Ara pasrah menanti tindakan Kakek Baren. Lebih baik ia langsung dipertemukan dengan Eric dan menolak mentah-mentah dihadapan sang calon pilihan Kakek Baren.
Hidup Ara yang tidak diharapkan sudah ia relakan, jadi jangan harap ia juga rela untuk dikekang. Ara lebih memilih mati daripada tetap hidup di bawah kendali orang-orang tamak dan egois, begitu pikir Ara. Mata terpejam Ara membayangkan banyak benda mengkilap menggores tubuhnya, tangan terkepal nya menahan rasa ngilu dari pergelangan tangan. Selalu begitu bila merasa tersakiti, entah tulang atau urat nadinya seolah berdenyut nyeri dan ngilu tanpa bisa Ara cegah.
"Kakak!!!! Mama pergi....!!!" Teriakan melengking Mama Lauritz dari lantai dasar terdengar sampai ke kamar Ara. Melonjak dari posisi berbaring, Ara berlari kencang menuruni anak tangga.
...----------------...
"Lusa kita ke Kota B. Keluarga Eric sudah setuju dan Eric juga sudah pulang ke rumahnya."
"Tapi Bar, untuk apa kita ikut campur masalah jodoh Ara?? Bahkan dari kecil anak itu sudah cukup terasingkan." Ucapan penuh penyesalan yang tiada guna menjadi pedang bermata dua, mengiris rasa sayang yang diam-diam ditutupi.
Bukankah seharusnya Ara bisa menjadi tuan putri paling bahagia?
"Aku gak minta persetujuan. Aku cuma kasih tau karena masih menghormati kamu sebagai Kakek nya Ara juga. Mau ikut silakan, tidak juga justru lebih baik." Kakek Baren menatap sinis besannya, kebencian di mata Kakek Baren yang berimbas pada keluarga anaknya tersulut kembali.
"Aku minta maaf tentang masa lalu istri dan anak perempuan ku Bar."
"Masa lalu? Hahaha.." Tawa mencemooh Kakek Baren menggema. Ruangan yang sudah dipesan khusus itu menjadi saksi bisu pembicaraan kedua laki-laki paruh baya setelah sekian tahun lamanya saling mendiamkan.
"Istri mu itu memang manusia yang bisa dibeli pakai uang. Jangan lupa kamu beberapa waktu ini anak ku diperlakukan kayak apa sama istri mu!!" Kobaran api amarah meluap dari sorot tajam Kakek Baren.
"Kamu pikir aku gak tau?? Bagus.. Bagus.. Aku memang pernah menutup segala akses untuk Lauritz, tapi dia tetap anak ku. Apapun tentang Lauritz tetap dalam pantauan ku, termasuk penghinaan istri mu baru-baru ini."
"Maafin aku Bar. Ida bener-bener keras kepala. Aku terima kalau kamu bilang dia mata duitan. Sifatnya yang itu belum bisa aku perbaiki sampai kami setua ini."
"Kali ini tanpa disuap uang kalian kembali semena-mena sama anak ku!! Bukannya lebih baik diam tanpa membuang energi untuk menyakiti Lauritz!!??" Tanya Kakek Baren, suara yang bergetar menutup luka hatinya sebisa mungkin ia tahan. Sadar akan kesalahan mengabaikan anak perempuannya hingga Ara, sang cucu yang tidak berdosa. Tidak pernah Kakek Baren sangka tindakannya justru memecah keempat anaknya.
Membuka mata lebar-lebar pada kenyataan di hari tuanya, didikan serta sikap Kakek Baren menjerumuskan ketiga anaknya dalam kubangan keserakahan. Berlomba-lomba meraup harta hingga yang bukan miliknya, Kakek Baren tidak ingin menutup mata pada kondisi Mama Lauritz lagi. Setidaknya Ara harus tetap memperoleh haknya, meski harus ia lakukan dengan cara gila.
"Pernikahan mereka memang untuk menutup aib Laura. Bukan perkara mudah mengorbankan salah satu putri kita untuk putri kita yang lain.. Jika bukan Yudith yang menawarkan dirinya dan Lauritz setuju, masih banyak laki-laki lain yang juga bersedia." Helaan kasar mengiringi suara rendah, pandangannya menatap lurus pada kenangan masa lalu.
"Harusnya saat itu Laura langsung dinikahkan. Semuanya memang bermula dari kesalahan ku sebagai seorang Papa.. Hidup jauh dari pantauan, pergaulan bebas hingga hamil diam-diam.. Saat itu Laura masih 15 tahun dan keluarga Arya baru berada di puncaknya, setitik aib akan menghancurkan semua jerih payah yang sudah dibangun belasan tahun lamanya. Kalau saja Lauritz gak memergoki adiknya, cucu ku Ega pasti sudah hilang.." Kakek Bagus masih memilih diam mendengarkan segala hal yang Kakek Baren ucapkan. Terlalu malu menyela bila teringat pemicu kemarahan Kakek Baren pada keluarganya.
"Kita berdua sama-sama tau kalau tidak ada restu sebenarnya dari pernikahan Lauritz dan Yudith. Tapi aku cukup tau diri dengan pengorbanan Yudith, hingga Lauritz hamil kami mulai menerima kehadiran Yudith. Meski rasanya keluarga kalian gak sepadan, tapi kami sadar kalau Yudith tulus dan bisa membuat Lauritz bahagia. Tapi dengan mata kepala ku sendiri aku lihat dia di rumah dan istrinya dijadikan pembantu, apa yang dia lakukan!!??? Lauritz memang biasa hidup sederhana, dia gak mau dilihat sebagai anak orang kaya. Tapi ingat Bagus, dia putri ku.. Putri yang aku besarkan dengan kasih sayang!!!" Ucap Kakek Baren pilu, keputusan memaksa perpisahan keluarga kecil anaknya bukan hanya karena harta. Jika ingin Kakek Baren bisa langsung memberikan lahan perkebunan untuk dikembangkan Papa Yudith.
__ADS_1
"Maaf Bar.. Maaf.. Maafkan aku yang gak bisa berbuat apa-apa kala itu." Menunduk malu Kakek Bagus meremas jarinya.
"Bukan gak bisa!! Tapi memang gak ada niat sedikitpun di hati mu untuk membela Lauritz!! Semua uang yang aku gelontorkan demi kehidupan Lauritz dihabiskan untuk foya-foya istri dan anak perempuan mu.. Itu bukan masalah besar buat aku, tapi bisa-bisanya hanya karena telat aku kasih uang kalian jadi seenaknya!! Kurang baik apa anak ku sama kalian!!???" Ucap Kakek Baren ketus. Kemarahan yang pernah diluapkan puluhan tahun lalu kembali muncul ke permukaan seolah kejadiannya baru saja terjadi.
Drak
"Sekali lagi silakan ikut kalau keluarga kalian mau. Tapi lebih baik kamu pergi sendiri tanpa anak dan istri mu jika ingin hidup tenang!!" Menahan langkah kakinya, tanpa berbalik Kakek Baren mengucapkan kalimat yang juga berisi ancaman.
Sedangkan di tempat berbeda, tampak seorang pemuda berhadapan dengan sepasang sosok yang hampir berusia setengah abad. Ketiganya sedang dalam pembahasan serius. Bahkan teh susu hangat milik laki-laki paruh baya itu sudah dingin tidak tersentuh sedikitpun.
"Eric gak bisa Pi melanjutkan perjodohan ini!!" Suara lantang memecah keheningan.
"Terus kenapa kamu pulang sekarang?" Tanya Papi Eric santai, menatap anak semata wayangnya yang akhirnya pulang dari pelarian untuk menghindari perjodohan. Perjodohan yang baru saja Ara ketahui nyatanya justru sudah menjadi hal basi bagi Eric.
Sempat kabur ke Kota yang cukup jauh melepas segala fasilitas mewah keluarganya, Eric membangkang untuk pertama kalinya pada kedua orang tuanya. Kabur untuk menghindari perjodohan dan mengejar mimpinya, Eric justru dipertemukan dengan keluarga Ara di Kota B.
Meskipun sempat tumbuh benih-benih cinta, namun Eric secepat kilat menyadari bahwa rasa yang ia miliki berbeda. Terbiasa bersama Ara tidak membuatnya merasakan cinta pada lawan jenis, rasa sayang sebagai sosok Kakak atau Abang lebih melekat pada diri Eric.
"Eric pulang untuk menyadarkan Papi dan Mami kalau tindakan kalian itu salah.. Ara gak akan bahagia Pi!!"
"Dari mana kamu tau?? Kakek Baren bahkan udah setuju lusa kita akan lamaran." Membelalakkan matanya Eric semakin frustasi pada keputusan sepihak, bahkan keputusan gila yang diambil tanpa sepengetahuan Papa Yudith dan Mama Lauritz.
"Pi!! Eric mohon jangan kendalikan hidup Eric lagi, apalagi melibatkan Ara saat ini.. Sudah cukup keluarga Kakek Baren memperlakukan Ara secara gak adil, jangan tambah kita lagi yang menghancurkan hidupnya. Eric mohon Pi!!??" Menangkup kedua telapak tangannya, Eric sudah bersimpuh dihadapan Papi dan Mami nya.
"Eric.. Anak yang paling Mami sayang.. Dengerin Mami ya, dari pernikahan ini kamu kan juga bisa bikin Ara bahagia kalau kamu sayang sama Ara. Lagian sekarang Mami tanya nih, kamu udah kenal akrab kan sama Ara??" Mematung Eric mendengar pertanyaan sang Mami, ia lupa jika secara tidak langsung telah membocorkan kedekatannya dengan Ara.
"Jangan mengelak! Bahkan Papi sama Mami sudah punya laporan kapan kalian terakhir kali ketemu." Berdenyut kepala Eric, tidak tau lagi apa yang harus ia ucapkan. Jika hari-hari sebelumnya Eric hanya dibiarkan memohon, kali ini sebuah pertanyaan justru menyadarkan Eric dengan tindakan ceroboh yang ia ambil.
...****************...
*
*
*
Jadi, kira-kira Eric ini sebenarnya tokoh baru atau lama ya??š
Lusa Ara lamaran, gagal atau berhasil??š²
*
*
Kemarahan yang berlarut itu memang gak baik ya.. Malah kalau gak dituntaskan akhirnya berimbas ke hal-hal yang gak diinginkan.. Kayak Kakek Baren yang marahnya merembet kemana-manaš
FYI, Hana lagi sibuk banget.. Jadi maaf lagi ya kalau telat UPš
Bonus nih, visual tokoh di bab selanjutnya.. Hayooo tebak siapa iniš
*
__ADS_1
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hanaš„°