Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Calon Menantu


__ADS_3

Memejamkan mata dengan kepala mendongak dan mulut menganga, Ara menopang sisi kanan wajahnya dengan tangan bertumpu pada meja kayu dan kaki terjulur lurus ke depan. Sangat tidak mencerminkan sikap anggun, kalem dan cantik-cantiknya sama sekali.


Sedetik kemudian tangan Ara oleng hingga kepala yang ditopang terjatuh membentur lengan kiri Rava. Dengan sigap Rava langsung meraih kepala Ara, mendekap ke dada bidangnya.


Terkejut, tentu saja Rava rasakan. Kepala keras Ara menghantam kuat saat ia sedang memusatkan perhatian pada pekerjaan yang sengaja dibawanya ke rumah Ara.


Sedangkan Ara yang sudah masuk ke alam mimpi masih tidak sadar dengan apa yang terjadi. Ara justru semakin menenggelamkan wajahnya di dada Rava dan melingkarkan tangan memeluk pinggang Rava, dibenaknya Rava itu bantal besar berbahan busa jok motor. Keras tapi nyaman, itulah kata paling tepat untuk mendeskripsikan apa yang Ara rasakan saat ini.


Tidak ketinggalan pula Ara semakin memposisikan tubuhnya agar berbaring miring, setetes air liur tanpa permisi mengalir keluar dari sudut kiri bibir Ara, jatuh terhapus oleh baju Rava. Sungguh sangat memalukan jika Ara menyadari hal itu. Bahkan Rava saja tidak tau, atau entahlah mata Rava sudah tertutupi kabut apa hingga tidak sadar.


“Capek banget ya kamu.” Ucap Rava lirih, mengusap pelan puncak kepala Ara dengan penuh kasih sayang. Nyaris saja bibirnya menyentuh kepala Ara, namun suara melengking yang diyakini milik Jona menginterupsi. Sukses hal itu membuat Rava mematung dalam sepersekian detik dan buru-buru menegakkan punggung sambil menutup sepasang telinga Ara.


“Kak..!” Sekali lagi teriakan Jona menggema menyertai langkah lebarnya. Sepiring penuh gorengan berisi bakwan jagung, mendoan dan pisang goreng kesukaan Ara ada di tangan Jona.


“Ssstt..!” Telunjuk Rava reflek menempel dibibir, mendesis pelan agar Jona tidak berisik.


“Si Badak malah tidur.” Ucap Jona sekenanya dengan suara yang sama lantangnya sambil meletakkan piring penuh gorengan di meja. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di sisi Ara.


“Woi, Kak!!” Sentak Jona pada Ara yang nyaman dalam tidurnya, tidak terusik sedikitpun meski perlakuan Jona sudah menggoyang heboh bahunya. Ara hanya menggeliat dan kembali tertidur pulas.


“Mas!!” Ucap Rava dengan suara menggeram rendah. Sudah sepelan dan selembut mungkin Rava menjaga agar Ara tidak terjaga, kini justru dengan kasar Jona berteriak dan mengguncang tubuh Ara. Ingin rasanya Rava menjitak Jona, kepalan tangannya benar-benar gatal.


“Biarin Kakak mu tidur Mas!” Ucap Rava lirih, namun ada ketegasan dalam intonasi suaranya. Ibu jari Rava terus mengusap lembut pelipis Ara agar semakin nyenyak tidurnya.

__ADS_1


“Capek ya kayaknya dia. Pantes sih, semalam gak tidur. Kayaknya jam 5 pagi tadi baru akhirnya molor.” Ucap Jona sembari beranjak dari duduknya. Melenggang menjauh, Jona tidak lupa mencomot bakwan jagung dari piring yang tadi ia bawakan atas perintah Mama Lauritz.


Sedangkan Rava hanya mampu terbelalak dan menghela nafas panjang memupuk kesabaran. Sudah tau begitu kenapa masih berusaha mengganggu tidur Ara, mungkin seperti itu Rava ingin berteriak pada Jona dengan mata yang sudah melotot.


Seketika Jona merasa bulu kuduknya merinding. Mengusap kedua lengannya bergantian dengan tubuh yang sedikit menggelinjang, Jona merasa seakan ada sesuatu yang hendak menyerang dari belakang punggungnya. Berlari secepat mungkin, kini Jona sudah menyusul dan menyusup di samping Rian yang tidur meringkuk di kasurnya.


Berbeda dengan Rava yang mendapati Ara tiba-tiba mengendus hingga membuat Rava kegelian. Sejenak Rava menatap lucu tingkah Ara yang tidak jelas itu.


“Pisang goreng.” Pemilik mata yang masih terpejam itu bergumam pelan dalam posisi masih berbaring. Mengerjap beberapa kali seakan berusaha merangkai ingatan hingga dahinya mengernyit heran mengapa bisa tertidur di pangkuan Rava.


“Kok udah bangun?” Tanya Rava dengan posisi menundukkan kepala, menatap lekat Ara yang memberinya sorot kosong sarat akan kebingungan lewat sepasang pupil mata yang terpaku.


“Kok bisa gini?” Tanya Ara lemah sambil berusaha menjauh dari Rava dan menegakkan tubuhnya.


“Kamu ketiduran. Kalau capek istirahat dulu.” Ucap Rava lembut pada Ara, elusan tipis menyapu sebelah sisi pipi Ara yang memerah karena tertindih saat tidur miring.


Menutup pelan laptop yang sudah Rava matikan, matanya menatap lekat Ara yang berusaha mengumpulkan nyawa yang masih sibuk melayang di atas awan. “Mau Mas bantu buatkan?”


“Gak mau.” Jawab Ara cepat, membalas tatapan Rava dengan dahi berkerut dalam.


“Mas bantu nyusun aja gimana? Tetap kamu yang kerjakan, tapi nanti Mas bantu rapikan jurnal yang kamu buat, mau?” Tawar Rava lagi pada Ara. Hampir saja Rava melupakan sikap Ara yang tidak suka ada campur tangan pihak lain pada pekerjaannya.


“Tetap nggak. Nanti Ara bingung bacanya kalau Mas yang rapikan.” Tolak Ara kukuh pada pendiriannya.

__ADS_1


Bukan karena apa-apa, namun Ara merasa dengan mengerjakan semuanya seorang diri bisa sekaligus membantu dirinya menghafal letak setiap poin penting dalam jurnalnya. Begitu pula proposal penelitian yang sedikit saja enggan menerima bantuan Rava, meski sudah dibujuk sedemikian rupa.


“Ya udah kalau gitu Mas temani kamu ngerjain. Tapi sekarang stop dulu sebentar.” Tutur Rava lagi, ia mengalah dari pada membuat Ara kesal dan merusak mood yang menyebabkan pekerjaan Ara terbengkalai.


“Mau ini?” Tanya Rava sambil menusuk sepotong pisang goreng dengan garpu.


“Mau..” Ucap Ara lirih sambil mengangguk. Perlu ditekankan sekali lagi, mata Ara kembali terpejam menahan kantuk.


“Buka dulu matanya kalau mau makan.” Terkekeh Rava berucap sambil menyelipkan rambut Ara ke balik daun telinga.


“Sayang, ini minum dulu.” Imbuh Rava sembari menyodorkan segelas air putih. Pisang goreng yang sudah ditusuk garpu dibiarkan di atas piring.


“Makasih Mas..” Ucap Ara riang dengan tatapan sayu akibat rasa kantuk yang begitu besar. Ara menerima uluran segelas air putih dari Rava dan meneguk hingga tetes terakhir. Meletakkan gelas air yang sudah ia tandaskan, Ara membasahi bibirnya lewat sapuan lidah. Benar-benar sudah tidak sabar untuk melahap pisang goreng yang mengusik tidurnya.


Dalam waktu singkat, dua potong pisang goreng dan tiga bakwan jagung melesat cepat mengisi lambung Ara. Belum lagi sepotong mendoan yang terus Rava suap kan selama Ara memodifikasi tekstur diagram batang untuk membedakan antara data yang satu dengan lainnya.


Benar-benar kerjasama yang menakjubkan, sampai membuat Papa Yudith yang baru pulang dari bengkel menggeleng tidak habis pikir mendapati tingkah anak gadis dan calon menantunya. Bahkan Ara yang ketahuan menganga minta disuap lagi hanya menyengir tanpa malu pada Papa Yudith.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutan kisah Ara😘


__ADS_2