
Agenda mengunjungi makam kedua orang tua Rava batal. Jadwal yang sudah disusun dan sempat diulang dalam obrolan malam gagal total. Semua salah Rava, begitulah arti tatapan sinis yang Ara hadiahkan saat dirinya bangun kesiangan dengan Rava yang menyengir di sampingnya.
Jika sama kusamnya mungkin Ara bisa mentoleransi, namun Rava yang dilihat oleh sepasang mata Ara adalah sosok laki-laki tampan, berbau wangi, berbaju rapi dan rambut tertata klimis. Berbeda dengan Ara yang hanya mengenakan sehelai kaos milik Rava. Itu juga karena Rava yang memakaikan saat Ara terlalu lelap tertidur. Rava takut Ara masuk angin jika hanya tidur dengan tubuh polos dalam balutan selimut. Belum lagi tai mata yang menyempil di sudut terasa mengganjal, rambut jelas acak-acakan dan kusut. Beruntung bantal tidak basah karena air liur.
“Kenapa gak bangunin?” Rengek Ara kesal karena kelewat malu, namun bukannya beranjak dari posisi rebahan, Ara justru menarik selimut hingga menggumpal untuk dipeluk. Matanya kembali terpejam menikmati kemalasan dengan tulang rangka badannya yang seakan ingin dicopoti satu per satu.
“Ayo, bangun sekarang, Sayang. Apa mau lagi sebelum kamu mandi?” Goda Rava sambil menarik selimut yang Ara peluk.
“Gak maaauu.. Sakit badannya.” Keluh Ara dengan gelengan cepat, bibir manyun dan tatapan memohon.
“Sini tidurannya yang benar. Biar Mas urut sebentar.” Beringsut mendekati Ara, Rava menepuk pelan sisi kasur di dekatnya.
“Jangan aneh-aneh.” Ancam Ara yang belum mau bergerak sedikitpun.
“Nggak. Sini jangan geser-geser gitu..” Bujuk Rava dengan jari-jemari yang sudah mengusap lengan polos Ara yang terjangkau tangannya. Memberikan pijatan ringan pada Ara yang sesekali meringis.
“Bukan yang itu yang sakit. Bagian agak di bawah punggung.” Ucap Ara lirih dengan bibir mencebik manja.
“Miring dulu sebentar, Sayang..”
“Panggul ku, Mas.. Rasanya pegel, capek, sakit. Kayak habis sit up aja. Memang Mas gak sakit-sakit gitu? Kan Mas yang tadi pagi menggebu-gebu gitu.” Seloroh Ara sambil meringis saat bagian tubuhnya merasakan tekanan lembut yang Rava berikan justru seperti ditumbuk-tumbuk.
“Kalau boleh lagi, Mas malah mau lagi.” Jawab Rava sambil mengecup pipi Ara. Jika boleh ingin sekali Rava menyedot pipi selembut dan sekenyal bakpau untuk sarapannya yang tertunda.
“Halah.. Mau mu, Mas.” Ucap Ara sambil menurunkan selimut yang terangkat. Hampir saja Ara berlama-lama mengekspos paha mulus yang tidak tertutupi apapun.
...----------------...
“Bun, Yah, hari ini Rava udah bawain menantu Bunda sama Ayah. Cantik kan? Ini Ara, yang pernah Rava ajak ke sini belum lama ini. Rava berhasil Bun, Yah. Akhirnya setelah sekian lama Rava cuma bisa cerita ke Ayah, Bunda, sekarang Rava beneran bawa istri Rava ke sini. Gemesin banget kan?” Ucap Rava dengan senyum merekah bangga, namun matanya berkaca-kaca.
Mengusap lembut punggung Rava yang sedikit bergetar, Ara merapatkan tubuhnya, mendekap dengan sebelah tangan untuk menyalurkan kekuatan. Dapat Ara rasakan kerinduan yang sekuat tenaga Rava tahan.
“Bunda sama Ayah lihat Rava bahagia dari atas sana ya.. Mulai sekarang udah ada yang akan temani Rava selain Dion. Rava janji suatu saat nanti kami akan ke sini sama-sama.” Tutur Rava lagi dengan suara yang sudah bergetar. Terlalu gengsi jika harus menumpahkan air matanya di depan Ara. Rava tidak ingin Ara melihatnya cengeng, dirinya adalah laki-laki dewasa yang harus tampak kuat untuk Ara.
“Nangis aja, Mas. Nanti kalau ditahan gak enak loh..” Ucap Ara pada Rava sambil menyapukan punggung tangannya mengelus pipi Rava.
__ADS_1
“Kamu gak muak nanti lihat Mas nangis? Jelek loh.” Tanya Rava sambil terkekeh.
“Bagus dong kalau jelek, berarti nanti kalau ada yang genit sama Mas tinggal nangis aja biar kelihatan jelek. Udah gitu kan yang mau sama Mas cuma Ara aja. Awas aja kalau Mas yang genit!” Ucap Ara yang berawal santai berakhir dengan tatapan mata menyipit garang.
‘Lihat, Bun, Yah.. Kayak gini menantu kalian yang malah bikin Rava tambah sayang. Rava dulu pernah bilang kalau Rava bakal datang ke sini dengan perempuan yang Rava cintai. Maaf, Rava baru bisa bawa sekarang.’ Gumam Rava dalam hati, merengkuh pinggang Ara. Tampaknya pasangan pengantin baru itu lupa tempat malah terlihat mesra di area pemakaman.
“Kita langsung pulang ke rumah kita ya?” Ucap Rava yang seakan bertanya, namun kalimat ini hanya sebuah pemberitahuan untuk Ara.
Antara tidak sabar karena penasaran dan sudah diburu waktu dengan matahari yang terus bergerak, Ara mengangguk mantap mengiyakan tanpa kata. Sedetik kemudian keduanya sudah berada di dalam mobil yang melaju di atas jalanan yang cukup ramai. Melenggang dengan kecepatan sedang. Genggaman tangan Rava tidak terlepas, sesekali Rava mengecup punggung tangan Ara sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
“Gak capek itu bibir cium-cium terus?” Celetuk Ara setelah kecupan kesekian ratus kali Rava labuhkan. Jika dibiarkan bisa-bisa punggung tangan Ara akan terbentuk cap bibir Rava.
“Cuma kecup dikit, Sayang..” Ucap Rava santai sambil mengecup lagi punggung tangan Ara, namun kali ini juga mendaratkan bibirnya di pipi Ara. Memanfaatkan lampu merah yang masih tersisa 20 detik lagi untuk memberikan kecupan gemas. Saat ini Ara bingung harus memberi julukan apa lagi pada Rava setelah vacuum cleaner dan tukang stempel.
...----------------...
Memasuki jalanan paving sedikit menanjak dan berbelok di sisi kiri jalan utama, Ara memerhatikan banyaknya pepohonan. Tidak sampai 5 detik mobil yang keduanya kendarai sudah sampai di depan rumah berlantai satu yang tidak bisa dibilang sederhana. Suasananya tidak berbeda jauh dengan rumah Papa Yudith, hanya saja sedikit jauh dari jalan raya.
“Kamu suka?” Tanya Rava sambil tersenyum bahagia mendapati binar mata takjub Ara. Memasukkan telapak tangan kanannya ke saku celana, Rava bernafas lega dengan reaksi Ara yang terlihat sangat senang.
“Banget..!! Ini itu kayak rumah impian yang pernah Ara gambar waktu jaman sekolah. Tapi ini versi jauh-jauh berkali-kali lipat lebih bagus.” Ucap Ara girang hingga tanpa sadar sedikit melompat riang. Seketika Ara langsung memeluk Rava dengan senyum lebar.
“Syukurlah kalau kamu suka. Mas memang sengaja buat sesuai gambar kamu.” Seloroh Rava yang langsung merubah raut wajah senang Ara menjadi terkejut penuh tanya.
“Kok bisa?” Tanya Ara sembari mendongakkan kepalanya, menatap Rava yang lebih tinggi darinya.
Mencubit gemas kedua sisi pipi Ara dan menggoyangkan ke kanan kiri bergantian, Rava bukannya menjawab justru terkekeh. Sungguh Rava tidak sabar membawa Ara masuk ke dalam rumah untuk berkeliling dan berakhir di kamar. “Ayo, kita masuk. Nanti kalau ada yang gak kamu suka, kita ubah sama-sama.” Ucap Rava yang sudah melingkarkan lengan kirinya di bahu Ara. Berjalan menuju pintu masuk utama dengan dada berdebar bahagia.
“Kok rumahnya udah ada isinya, Mas?” Mengedarkan pandangan ke segala arah, dapat Ara lihat rumah yang katanya akan menjadi tempat tinggalnya bersama Rava sudah lengkap terisi perabotan. Tidak ada satu saja barang yang terasa kurang. Bahkan debu setipis jaring laba-laba saja tidak ada yang menempel di atas meja ruang tamu yang baru saja Ara colek.
“Kamu gak suka?” Tanya Rava sambil memeluk Ara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Ara dengan manja.
“Bukan gitu.. Ini istri gak berguna banget semuanya Mas yang siapin.” Gerutu Ara dengan jari telunjuk yang menunjuk dirinya sendiri. Merasa sedih karena seperti orang menumpang yang tidak tau diri.
__ADS_1
Memutar balik tubuh Ara menghadap ke arahnya, Rava mencubit gemas bibir manyun Ara. “Gak boleh bilang gitu. Mas sengaja siapin ini semua supaya saat kamu masuk gak perlu pusing kalau butuh sesuatu. Nanti yang gak kamu suka ya kita ganti aja.” Ucap Rava santai. Sungguh kalimat yang terdengar sepele ditelinga Ara itu semakin membuat istri kecil Rava memicing tidak suka.
Memiliki banyak uang bukan berarti bisa seenaknya menghamburkan tanpa memikirkan jangka panjang kedepannya. Apalagi jika pernah merasakan titik terendah dimana kesulitan ekonomi. Untuk orang yang cerdas, tentu ada masanya mereka bersenang-senang, namun artinya tetap berbeda dengan konteks foya-foya.
“Hahaha.. Kamu kenapa, Sayang?” Tawa renyah Rava menggema memenuhi ruang tamu.
“Boros kalau kayak gitu. Ara suka semuanya kok. Makasih ya, Sayang.. Suami nya Ara yang paling ganteng.” Ucap Ara cepat dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rava. Ini pertama kalinya Ara menyebut Rava dengan panggilan ‘sayang’ dan melontarkan pujian yang sangat langka. Sontak saja hal itu membuat pipi Ara panas merona.
Mematung kaget, kedua sudut bibir Rava tertarik ke atas tanpa perlu dikomando. “Lagi!?”
“Apaan?” Tanya Ara acuh sambil mendorong Rava menjauh.
“Itu tadi panggil Mas apa? Sebut lagi..” Rengek Rava sambil mengejar Ara yang terlepas dari pelukannya.
“Apaan sih, Mas? Gak ada kok.” Kilah Ara dengan senyum lebar dan berusaha menghindar dari Rava. Meski tetap saja Ara kalah dan kembali masuk dalam rengkuhan hangat Rava yang menghujaninya dengan kecupan sayang di seluruh sisi wajahnya.
...****************...
*
*
*
Terlalu baper dengan keuwuan pasangan pengantin baru sampai ingin rasanya diriku guncang🙂
Jika ingin masuk ke grup chat, silakan sebutkan 2 nama sahabat Ara di kotak perizinan😊 Bukan komen di bawah ini ya, tapi nanti saat klik grupnya.
Jika sudah follow Hana tapi belum di follback, silakan tinggalkan di kolom komentar😘
IG : @hi.onelight
FB : Hana Hikari
Terima kasih untuk semua pendukung tulisan Hana dan selalu setia menanti kisah ArVa selanjutnya 🥰
__ADS_1