
"Ra..!!" Jerit Yuki kala kaki Ara berlari cepat membelah kerumunan, menggeser paksa baik itu laki-laki maupun perempuan dewasa. Yuki yang masih sibuk mengancingkan pengait helm di bawah jok motor matic Ara hanya bisa mendengus kesal.
"Permisi ya Adik kecil.." Berucap lembut, Ara menghentikan langkah lebarnya. Rupanya Ara masih takluk bila sosok mungil dan imut yang ia hadapi.
"Tega banget ninggalin aku!!" Sungut Yuki yang akhirnya mampu mengejar langkah kaki Ara. Nafas Yuki sudah ngos-ngosan, padahal jarak larinya cukup dekat. Sungguh resiko yang suka rebahan terasa sangat nyata.
"Keburu rame di sana.." Ucap Ara sambil tetap menatap lurus pada tujuannya.
"Bang, jamur merang, enoki sama brokoli masing-masing seporsi ya.. Bungkus Bang!" Menatap etalase sederhana dalam warung tenda seluas 3 × 2 meter.
"Siap." Balas sang penjual tanpa menatap Ara.
"Tunggu sebentar ya Mbak.." Berujar lagi, namun kali ini sambil menatap Ara.
"Abaaaang.." Ucap Yuki panjang bernada menggoda, menggelengkan kepala Ara juga menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Loh ada Mbak Yuki.. Pelanggan paling cantik di sini." Ucapan sumringah itu bukan dari orang yang sama atau bahkan yang disapa Yuki, ada pemuda lain yang sibuk menggoreng jamur merang sedang menatap Yuki. Mengalihkan pandangan dari objek gorengan yang siap menggoyang lidah dan liur Ara, tatapan itu jelas tampak sangat senang.
Sudah tertangkap basah oleh mata kepala Ara bahwa sang pemuda naksir Yuki. Wajar saja, Yuki memang cantik, bahkan bagi Ara temannya itu bisa masuk kategori dewi kampus. Ada-ada saja Ara yang cepat peka pada perasaan seseorang pada orang lain, sungguh kasihan Rava yang perlu waktu lama untuk disadari keberadaannya oleh Ara.
"Mbak Yuki tambah cantik aja.. Kapan nih nemenin Abang jualan??" Kali ini baru sosok yang disapa berujar sambil tetap sibuk memasukkan aneka camilan krispi ke dalam kotak kertas.
"Nanti kalau Yuki temenin Abang yang lain cemburu kan bahaya.."
"Bahaya kenapa Mbak?"
"Bisa gak dikasih ekstra lagi nanti kalau beli jajan di tempat lain.. Haha.." Tergelak heboh dan membuka mulutnya lebar meski singkat, Ara secepat kilat menutup mulut Yuki agar tidak mengumbar wajah aib.
'Kebiasaan!' Membatin kesal Ara pada Yuki. Menghembuskan nafas berat, kelopak mata Ara terbuka lebar menatap Yuki yang menyengir.
"Ya udah nih spesial buat yang cantik Abang tambah brokoli lagi." Tersenyum ramah sambil menambahkan beberapa potong brokoli goreng tepung yang membuat mata Ara berbinar. Menyeringai bangga Ara membawa serta Yuki, sikap ramah Yuki sungguh menguntungkan Ara yang pendiam pada orang yang masih terasa asing.
"Nah sekarang cerita buruan!! Udah janji loh kalau aku traktir ini baru ngomong!!" Ucap Ara sarat akan ancaman. Bahkan ketiga kotak kertas berisi camilan itu masih Ara tenteng dalam kantong kresek bening. Kedua sudah berada di depan bangku kosong yang diterangi lampu menguning temaram, posisinya cukup jauh dari keramaian.
"Hah..!!" Menghembuskan nafas berat, Yuki pikir kemarin ia sudah berhasil kabur.
Jika bukan karena tamu bulanan yang membobol dan menembus perisai, mungkin Yuki akan sulit mengindari pertanyaan yang saat ini didapatkannya. Bisik-bisik yang terang-terangan diperjelas belum mampu Yuki jabarkan pada Ara. Apalagi saat itu baru hari pertama perkuliahan di mulai, walaupun memang Yuki ingin meremas bibir para tukang gosip yang sudah ia pelototi.
Beruntung Ara yang terlalu fokus mengawali harinya tidak sepenuhnya sadar sedang digunjing. Namun sayang, pada akhirnya Ara juga sadar. Setelah memikirkan matang-matang, Ara sudah benar-benar paham ada yang tidak beres.
"Mau yang dari mana?"
"Ck!" Berdecak kesal Ara memutar bola matanya malas.
"Inti gosip, dugaan, desas-desus kemunculan." Tanpa basa-basi, Ara langsung menyebutkan poin-poin permasalahan yang ingin ia ketahui.
__ADS_1
"Jadi intinya dirimu disebut pelakor. Dugaan aku ya Bu Dian yang sebar fitnah, siapa lagi coba yang mau dirimu susah lewat gosip murahan kayak gini?" Tampak wajah kesal Yuki dan tangan terkepal yang tanpa sadar justru meninju pahanya sendiri.
"Sambil ngemil ya?" Yuki yang cengengesan itu menatap Ara penuh binar permohonan. Perubahan ekspresi Yuki sangat mendefinisikan bermuka dua yang sesungguhnya.
"Masih ngutang satu poin loh, Ki."
"Iya, tau. Tapi nanti kisut terus lembek itu tepung krispi nya kalau dibiarin gak langsung dimakan." Beralasan, itulah kenyataan sebenarnya. Walaupun yang Yuki ucapkan tidak sepenuhnya hanya sebuah alasan agar cepat melahap camilan krispi itu.
"Udah tuh.." Membuka semua kotak, Ara juga menusuk sepotong brokoli dengan tusuk gigi.
"Enak banget kan?" Tanya Yuki pada Ara.
"Iya." Menjawab singkat, Ara sedang menikmati gurih, manis dan suara krenyes di dalam rongga mulutnya.
"Lanjut Ki!!" Ucap Ara tiba-tiba menagih sisa cerita dari Yuki.
"Jadi desas-desus pertama yang beredar Bu Dian sengaja jatuhin dirimu. Kedua, ada fans couple Dosen serbuk berlian yang nguntit dan 'jeng jeng', dia ngelihat kejadian Bu Dian pergoki Pak Rava selingkuh sama dirimu."
"Tunggu deh.. Maksudnya apa pergoki aku selingkuh itu?" Mengernyitkan dahinya, Ara sungguh bingung pada desas-desus kedua yang Yuki sampaikan.
"Nah kan gak masuk akal banget yang kedua. Lagian di kampus juga Bu Dian sama Pak Rava itu dekat baru-baru itu sebelum ke Kota Y."
"Sok tau banget dirimu."
"Dengerin dulu yang ketiga ini!"
"Ya udah cerita lagi.. Aku masih penasaran."
"Jadi banyak yang ngira kalian mulai selingkuh waktu ke Kota Y. Jadi kamu itu dibilang nusuk Bu Dian dari depan alias terang-terangan nikung."
"Dih.. Ada-ada aja." Menengadahkan kepalanya, Ara memejamkan mata. Pikirannya kosong, semua dugaannya terbukti benar lewat penuturan Yuki.
"Aku sebenarnya juga gak tau Ra kalau gak ada yang kirim screenshot ini." Menyodorkan ponsel miliknya, Yuki memperlihatkan sebuah percakapan dari seseorang yang disebut 'Cabe Mahal'.
"Cabe mahal??" Salah fokus Ara pada nama panggilan pemilik akun yang mengirim bukti postingan sebuah platform media sosial.
"Itu nama panggilan aja buat geng gosip.. Tuh lihat nama aku aja lontong sayur." Ucap Yuki bangga, senyum menawan menghias wajah mungilnya.
"HAHAHAHAHA!!!"
"Lontong sayur????"
"Kayak gak ada nama keren lain aja. Sumpah kocak banget sih!!!" Ucap Ara beruntun, beruntung tidak sepanjang kereta lokomotif, hanya saja layaknya truk gandeng. Setitik air mata muncul dari sudut mata Ara, tawanya memaksakan perasan kelenjar air mata.
Bugh!
__ADS_1
"Fokus Ra!! Fokus!!" Suara perintah itu berbarengan dengan pukulan yang cukup keras di lengan Ara.
"Coba lihat itu screenshot!!"
"Jadi ada akun bodong yang kirim foto aku..??" Mengangguk-angguk, Ara masih ingat dimana lokasi foto itu diambil. Bahkan rangkaian kejadiannya juga masih bisa Ara ingat jelas jika ia mau, sangat berbeda dengan deskripsi percakapan dalam screenshot yang dikirimkan Cabe Mahal.
"Admin akun gosip kayaknya udah tau kalau aku Yuki, jadi di postingan ini aku gak bisa lihat. Untung aja si Cabe gak sadar aku dicekal, jadi itu rencana dia mau ikutan ghibah bareng aku." Tidak bisa menyembunyikan tawa geli pada sosok yang dipanggilnya cabe, Yuki sedang terkekeh sampai tertawa jahat.
"Memang benar ya Ra waktu itu Bu Dian sampai jambak dan bikin rontok rambut mu?" Menghentikan tawa jahatnya, Yuki tanya Ara dengan serius.
"Gila ya?" Bukannya menjawab, Ara justru menatap remeh Yuki. Bisa-bisanya ia percaya pada gosip yang beredar tentang perkelahian Ara dan Dian.
"PEREMPUAN BRENGSEK!!!" Bukan Yuki, sungguh ini bukan jawaban Yuki.
"ARGH!! APA-APAAN INI!!!???" Memegangi rambutnya yang di remas kencang, Ara menahan sekuat tenaga agar kepalanya tidak tertarik.
"LEPAS!!!" Berusaha menerjang perempuan yang menghentak kasar rambut Ara yang berada dalam genggamannya, kaki Yuki justru saat ini tidak menyentuh tanah. Dua orang laki-laki tegap menahan lengan Yuki.
Meloncat-loncat di udara sambil terus meronta, tingkah Yuki melebihi hebohnya wahana disco pang-pang. Merasa tindakannya sia-sia, Yuki akhirnya menendang sepuas hati kaki kedua laki-laki yang diam menyaksikan Ara dijambak dan dipukuli. Menyesal Yuki mengiyakan keinginan Ara duduk di tempat sepi dan jauh dari kerumunan.
...****************...
*
*
*
Siapa perempuan dan kedua laki-laki yang berani mengusik waktu camilan Ara dan Yuki?🙄🤔
*
*
Sabar menanti bab selanjutnya ya untuk melihat pergulatan panas Ara dan Yuki di atas rumput atau mungkin tanah yang dingin 😂
Harap sabar, tadinya mau di bab ini aja.. Tapi rupanya udah melebihi batas jatah 1,2k🤭
BtW, ini wahana disco pang-pang buat yang sempat bingung 😊
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1