
“Maaasss..?!” Panggil Ara merengek. Mengekori Rava tanpa lelah dan bosan. Menempel bak permen karet disertai rengekan yang terus mengalun.
Bukan sekali atau dua kali, Ara sudah berulang kali menarik kaos yang Rava kenakan. Gelayutan manja juga tidak ketinggalan dilancarkan sebagai bujuk rayu.
“Jahat!” Ucap Ara ketus, menghentakkan kakinya dan berbalik badan. Baru dua langkah kakinya melangkah, tubuh Ara sudah tertarik dalam rengkuhan Rava.
“Ngambek?”
“Tau!” Tukas Ara ketus.
“Kok jadi ngambek gini?”
“Lepas!”
“Beneran ngambek nih?”
Menepis kasar tangan Rava yang melingkar, Ara kesal pada Rava yang sengaja mengelak sekaligus menggoda dirinya. Mengulur-ngulur waktu saat Ara mempertanyakan kejelasan swalayan bernama Arvada. Padahal Ara sudah cukup menahan diri semenjak kepulangan Rava berhubung keluarganya sedang berkumpul.
Rian yang terlalu lama ditinggal Mama Lauritz dan Jona meminta Papa Yudith mengantarkannya ke rumah sang Kakak. Sedangkan Papa Yudith yang awalnya berniat hanya mengantar Rian berakhir dengan bercengkrama bersama Rava yang sengaja pulang lebih cepat. Dari situlah kebersamaan keluarga yang tidak dirancang sebelumnya terjadi.
“Ngambek nih sama Mas?” Menyusul Ara yang sudah berbaring memunggungi, Rava berjalan ke arah meja kerja yang terdapat di kamar mereka. Sengaja ruang kerja Rava di desain menyatu dengan kamar tanpa sekat karena Rava ingin jika menyelesaikan pekerjaannya di rumah bisa sembari mendapat asupan energi dari kehadiran Ara di depan matanya.
Menarik laci paling atas, Rava mengambil sebuah kunci untuk membuka lemari kecil di dasar meja kerjanya. Tampak kotak plastik yang masih baru tertumpuk di atas sebuah kotak kayu yang jelas terlihat cukup tua.
“Masih mau ngambek? Yakin? Udah gak penasaran lagi?” Tanya Rava beruntun memberondong Ara, berusaha membujuk agar sang istri segera menyudahi aksi punggung-memunggung dan mogok bicara yang belum juga berlalu lebih dari 10 menit.
Mengulum senyuman menahan tawa, Rava dibuat gemas akan wajah merengut dan bibir mencebik Ara. Kini sepasang suami istri itu sudah duduk berhadapan dengan aura yang sangat berbeda. Jika Rava senang dan gemas, maka Ara super kesal dan muram.
__ADS_1
“Hilangkan dulu kerutan di dahi ini.” Menekan lembut dahi Ara dengan jari telunjuknya, gerakan memutar yang Rava lakukan membuat ketegangan di wajah Ara berangsur menghilang. Cukup nyaman.
“Mas mau kasih tau sesuatu, tapi senyum dulu. Mana senyum manis istri cantik Mas ini?” Tersenyum lebar, Rava mendongakkan wajah Ara agar menatap lurus tepat pada sepasang bola matanya.
“Hem!” Dehem Ara sembari menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum malas dengan pola bibir lurus, nyaris datar. Sontak hal itu berhasil menggelitik Rava untuk terkekeh. Menggeleng beberapa kali, Rava meletakkan kotak yang dibawanya ke depan hadapan Ara.
Dari dalam kotak itu Rava mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah di laminating. Meskipun begitu, wujud asli kertas lama yang lusuh dengan sudut kecoklatan masih dapat terlihat dengan jelas.
Meneliti lamat-lamat, Ara tertawa layaknya orang bodoh. Tidak tau harus berkata apa lagi. Ia tidak percaya sekaligus takjub. Bagaimana mungkin coretan masa kecilnya Rava simpan bahkan terjaga sampai berada di tangannya saat ini. Bahkan secara berlebihan terlaminating.
Sekilas Ara tergelak tawa kencang membayangkan Rava menyodorkan kertas lusuh itu pada pekerja yang membantunya melaminating. Sungguh konyol dan menggelikan. Bahkan coretan dari pensil berisi perkalian masih terlihat utuh.
“Ini?” Tanya Ara singkat sambil menunjuk kedua lembaran terlaminating itu. Mau tidak percaya, tapi fakta di tangannya sudah berbicara.
Dalam sepersekian detik Ara sempat bergetar takut pada Rava. Entah apa lagi yang diam-diam Rava lakukan. Sebesar apa perbucinan Rava kepadanya tidak bisa Ara bayangkan. Tidak terbayang pula bagaimana seandainya kisah cinta Rava dengan Ara kandas, tidak bermuara pada rumah tangga seperti yang terjadi saat ini.
“Gambar..?” Tanya Ara, kata yang terucap mengambang seolah meragu namun sebenarnya sangat yakin dengan tebakannya.
“Rumah impian peri kecil.” Celetuk Rava. Beringsut merapatkan tubuh dengan tangan kiri menyangga pada ranjang di balik punggung Ara, kepalanya menyandar manja di bahu Ara. Mendusel mengendus tengkuk polos Ara. Aroma asli yang menguar dari tubuh Ara layaknya obat penenang bagi Rava.
Menggeser tangan kanannya, Rava meraih jemari Ara. Menggerakkan jemari dalam genggamannya di atas sketsa yang Ara buat mirip seperti sebuah bangunan. Tentunya hanya sketsa amatiran berupa kotak-kotak penuh goresan asal. “Ini minimarket ala kafe impian si cerewet penjual donat.” Bisik Rava sambil mengenang awal pertemuan mereka.
Penjual cilik dalam balutan seragam putih merah yang menawarkan donat, menghibur hatinya yang berduka. Sosok asing yang tiba-tiba muncul dari balik rimbunnya bunga liar, tanpa ragu bernegosiasi menawarkan donat yang bisa menghasilkan tawa.
Jujur, awalnya Rava merasa Ara sangat aneh, namun juga layaknya anak-anak yang penuh khayalan pada umumnya. Tapi siapa sangka tawa yang Ara maksud bukan hanya tawa untuk Rava, tapi juga tawa bahagia Ara sendiri karena telah berhasil menjual kue buatan Mama Lauritz.
Segala pemikiran dewasa di balik tubuh kecil itu membuat Rava semakin kagum sekaligus miris pada kisah yang tidak sengaja didengarnya dari bibir mungil Ara. Banyak kisah yang Ara ceritakan pada sebatang pohon di pinggiran taman yang tidak terurus. Banyak pula pertanyaan yang dilontarkan perihal mengapa ia berbeda. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali dengan kisah yang tidak sama di setiap harinya. Tidak jarang terkadang Rava akan memergoki gadis kecil yang tidak lain adalah Ara itu menahan tangisnya.
__ADS_1
Ketegaran Ara berhasil mengajarkan Rava untuk kuat menghadapi ujian hidupnya. Untaian keluh kesah yang diam-diam Rava curi dengar seolah memberikan tamparan pada Rava yang sempat mengeluh tidak terima akan kematian kedua orang tuanya. Dulu Rava sangat ingin menjadikan Ara adiknya, setara dengan Dion.
Kehilangan jejak Ara yang rupanya merantau ke Kota B menyisakan rasa kehilangan. Tidak ada teman kecil yang akan menjual donat namun juga meminta bagian donat yang sudah dibeli Rava. Saat itu perasaan Rava hanya sebatas kepedulian. Gila saja jika dirinya sudah menaruh cinta, begitu pikir Rava saat itu.
Hingga pertemuan kembali di Kota K ketika Ara berumur 15 tahun menghidupkan kembali semangat Rava. Namun sayangnya Ara melupakan Rava dan setelah pertemuan itu pula Rava harus kembali kehilangan jejak Ara lagi. Tidak lama, karena pada akhirnya mereka dipertemukan dengan perasaan berupa cinta yang sudah Rava pendam dalam-dalam.
Rindu itu berubah menguasai hatinya. Bertahta layaknya penguasa. Menumbuhkan benih kepedulian menjadi cinta yang mulanya Rava tolak, namun tanpa ragu pula Rava akui saat setiap debaran jantung yang berdegup menghadirkan lentera yang semakin lama semakin menerangi jalan pikiran Rava.
“Ini kan yang kamu mau? Minimarket tapi punya space ala kafe di rooftop.” Ucap Rava sesaat setelah tersadar dari lamunannya. Ara masih terdiam mencerna segala situasi yang ada. Ia lupa pernah memberikan gambar di tangannya ini pada Rava. Seingat Ara dulu memang pernah menggambar di depan Rava, namun kertas itu Ara buang.
Menolehkan kepala yang langsung membuat pipinya menabrak bibir Rava, Ara terperanjat. Sedangkan Rava justru langsung mengecup pipi Ara dengan senyum yang merekah.
“Mas kenapa bisa dapat ini?” Tanya Ara pada Rava.
“Kenapa? Kamu ingat kalau gambar ini kamu buang?” Ucap Rava bertanya dengan santai yang hanya diangguki oleh Ara.
"Di sini Mas sedikit rombak dari gambaran keinginan kamu. Nanti di bagian belakang swalayan baru kita buat food court khusus di lantai 1. Atasnya, di lantai 2 kita buat kayak kafe rooftop. Ibaratnya surga tersembunyi dari swalayan kita. Hitung-hitung sekalian investasi kita, Sayang..” Imbuh Rava berucap secara gamblang.
...****************...
*
*
*
Terima kasih sudah menanti kisah perbucinan ArVa🥰
__ADS_1