
Langit masih berwarna cerah, meski sudah tidak biru lagi. Ara memarkirkan motornya di garasi, menenteng helm memasuki pintu samping rumahnya.
Seketika langkah ringan Ara terhenti. Ara sadar bahwa di rumahnya kedatangan tamu, namun tamu itu diluar dugaannya. Tersenyum kecut sembari menyeringai, Ara meraup udara sebanyak-banyaknya.
“Kakak pulang..” Ujar Ara nyaring seperti biasanya. Meletakkan helm di atas rak dan berjalan menuju dapur untuk minum.
‘Masa bodoh!!’ Mengabaikan beberapa pasang mata yang mengawasinya, Ara enggan melirik sedikitpun.
“Kak.. Turun ya nanti!” Ucap Papa Yudith pelan, namun jelas sebuah perintah bagi Ara.
“Hm.”
“Sekarang sapa Kakek mu dulu sebentar!” Lagi-lagi kalimat Papa Yudith terdengar bagai perintah.
“Nanti.” Jawab Ara ketus. Ara melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dengan menghentak dan mendengus kesal.
Memang benar, semenjak kejadian itu Kakek Baren mulai menurunkan egonya. Terpuruk mungkin itulah yang Kakek Baren rasakan setelah mengabsen semua kesalahannya pada Mama Lauritz, Papa Yudith dan tentu kepada cucu-cucunya. Belum lagi dengan mata kepalanya sendiri yang dihiasi kulit keriput Kakek Baren melihat Ara lebih memilih kematian dibandingkan hidup mewah sesuai rancangannya.
“Maaf ya, Pa.” Ucap Mama Lauritz lirih pada Kakek Baren.
“Gak apa-apa, mungkin Ara masih capek baru pulang kuliah sore. Biarin aja..” Ucap Kakek Baren santai seakan ia tidak merasakan kekecewaan. Sejenak ingatannya kembali menerawang jauh pada masa-masa yang sudah banyak ia lewati. Mengabaikan Ara yang terus menarik perhatiannya. Kini, Kakek Baren baru tersadar saat sang cucu sudah tidak menginginkannya.
Anggap saja menebus dosa, begitulah yang selalu Kakek Baren renungkan. Bahkan tubuh renta Kakek Baren rela menempuh perjalanan panjang demi memperjuangkan kata maaf. Meskipun tidak benar-benar terucap, namun tindakan bisa menjabarkan alasan kehadiran Kakek Baren di tengah keluarga Ara.
Tampak seperti hari ini, ada obrolan kecil, canda tawa nostalgia yang mengisi ruang tengah. Jangan lupa pula tentu dengan televisi yang ikut menyala. Seolah sebuah keluarga harmonis yang tidak pernah terpecah yang justru membuat Ara muak.
Akan tetapi satu hal yang tetap sama, kehadiran Kakek Baren yang tidak pernah Ara harapkan. Ara lebih memilih menghindar, menjauh atau bahkan mengurung diri seharian di dalam kamar. Hatinya masih berat menerima perubahan yang tiba-tiba. Ia seakan trauma bila akan ditinggalkan lagi setelah sempat dilambungkan perasaannya.
Jika ada yang berkata memaafkan bisa begitu mudah terucap, hal itu tidak pula berlaku untuk Ara. Lidahnya seolah membeku, kepalanya seakan membatu, tubuhnya layaknya patung di bundaran Kota yang tidak bisa digerakkan hanya untuk mengiyakan kata maaf Kakek Baren.
Entah apalagi yang harus Ara lakukan untuk mengobati hati yang terluka. Bila kata maaf itu sendiri sulit terucap, jelas luka yang terus tersayat itu masih menganga dan perih tidak terkira.
Meskipun terkadang rasa bersalah dan kasihan menyelinap di hati Ara kala melihat raut sedih yang menghiasi wajah keriput sang Kakek. Namun, sekali lagi Ara hanya bisa membatin sembari mencoba ikhlas dengan caranya sendiri.
‘Maafkan Ara, Ma, Pa.. Mau bagaimana lagi jika hatiku masih berdenyut sakit seperti teriris pedang bermata dua.’ Menghempaskan tubuh lelahnya, mata terpejam Ara dipaksa menutup rapat. Mengepalkan tangan kanan dan memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Ara sungguh kesulitan melepas semua tekanan semu yang tidak bisa didefinisikan.
Tok.
Tok.
Tok.
“Iyaa..” Sahut Ara sembari membawa tubuh malasnya ke arah pintu kamar.
Ceklek.
“Mau makan atau mandi dulu?” Tanya Mama Lauritz yang berdiri di ambang pintu.
“Masih kenyang, Ma. Kakak tadi udah makan di kampus sama Yuki.” Kilah Ara. Sejatinya lambung Ara sudah melilit karena hanya terisi cairan asam lambung saja. Ia enggan menginjakkan kakinya di lantai bawah yang pasti berisi orang-orang yang membuatnya malas meski hanya untuk sekedar menghirup udara yang sama.
__ADS_1
“Mandi dulu kalau gitu Kak!”
“Nanti ya, Ma.. Kakak masih mau rebahan. Sebentar aja, boleh ya, Ma?” Pinta Ara dengan binar penuh permohonan.
“Jangan sampai kebablasan tidur jadi gak mandi ya Kak.”
“Siap Kanjeng Mami.” Mengacungkan ibu jarinya tanda setuju dan patuh, Ara berlalu menghempaskan dirinya ke atas kasur. Tentu saja Ara tidak menutup pintu kamarnya.
Mama lauritz yang melihat tingkah anak gadisnya hanya mampu menggeleng perlahan. Menutup pintu kamar Ara dan kembali bergabung pada keramaian di ruang tengah.
“Kakak mana Ma?” Tanya Jona pada Mama Lauritz.
“Biasalah Mas, jadi kungkang di kamarnya.”
“Huh..!” Mendengus sebal Jona yang sejujurnya ingin berlari ke kamar Ara. Belum lagi Rian yang sedari tadi hanya diam menatap serial televisi dengan bosan. Keduanya yang terbiasa lebih memilih menghabiskan waktu bermain game berdua di kamar terpaksa harus duduk manis atas perintah Mama Lauritz.
Dari bola mata Jona dan Rian jelas ada rasa asing yang sangat kentara dari interaksi keduanya pada Kakek Baren. Bahkan seumur hidup Rian baru kali ini berada dekat dengan Kakek Baren. Sosok asing yang tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai Ayah dari sang Mama jelas membuat Rian risih.
Drrt.. Drrt..
Don't fight the feeling
Bonneung daero ga Babe
Don't fight the feeling
Yeah, don't fight the feeling, yeah
Don't fight the feeling, yeah
...
(EXO - Don't Fight the Feeling)
“Ha..”
[RA!!!! JADI NGGAK!!!????]
“ASTAGA!!!! YUKI…!!!” Menjauhkan ponselnya, Ara juga mengusap telinganya yang baru saja menerima serangan terompet maut.
“Gak usah teriak bisa kan?” Tanya Ara dengan suara rendah yang sedang menahan kesal.
[Maaf, terlalu semangat.] Jawab Yuki cengengesan di seberang panggilan telepon itu.
[Jadi pergi nggak?]
“Kita pergi mau agak malam aja. Aku belum hubungi Dokter Dion juga buat tanya malam ini buka klinik nggak.”
[Tanya sekarang, Ra!! Langsung kasih tau aku kalau udah dapat kabar. Aku mau pilih baju dulu..]
__ADS_1
“Kita mau ke klinik interogasi orang, bukan jalan-jalan apalagi mejeng, Ki. Pakai baju yang biasa aja kan bisa..”
[Kata siapa? Kamu kan?]
“Kan nyatanya memang begitu Yuki sayang..”
[Salah!! Aku mau sekalian tebar pesona ke Dokter ganteng tau..]
“Ya ampun.. Punya teman kok begini banget sih tingkahnya..” Gumam Ara lirih.
[Gak usah mengeluh, Ra. Siapa tau kita jadi saudara ipar nanti.]
“Apaan sih!?”
[Ya mana tau nanti jodoh ku rupanya Dokter mu itu. Katanya dia Adiknya Pak Rava, kan kita jadi saudara ipar kalau aku berhasil.. Hahaha..] Tergelak tawa kencang, Yuki sedang berguling-guling di atas kasur bernuansa merah muda dengan corak bunga sakura.
...****************...
*
*
*
Apakah ada yang setuju dengan pemikiran Ara bahwa mengucap kata maaf juga tidak semudah yang selalu dikatakan orang lain?🤔
*
*
Hana mau buat kisah Yuki setelah novel Aara tamat, setuju nggak?🙂
By the way, tolong dukung cerpen terbaru Hana yang covernya di bawah ini ya🙏👇
Blurb :
Aku menyeret tubuh rapuh ku yang tergolek lemah. Mengepal kuat meremas tanah dingin bertabur salju. Di bawah dinginnya malam tanpa bulan yang menyinari, sunyi yang biasa aku dengar berganti gemuruh mengerikan.
FYI, ini pertama kalinya Hana ikutan lomba cerpen 🤭
Kenapa jarang UP Ara tapi bisa bikin cerpen?🙄
Maafkan Hana ya.. Bikin cerpen ini kebetulan berhasil jadi salah satu cara pengalihan dikala capek dan biar otaknya refreshing ke kisah lain dulu sebelum lanjut nulis kisah Ara🙏🙏
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1