Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Pulang


__ADS_3

Angin kencang mengibaskan rambut Ara. Berulang kali Ara usap wajahnya yang terasa geli karena ulah rambutnya sendiri. Ternyata membiarkan poni rambutnya memanjang yang masih nanggung itu benar-benar mengganggu. Ingin Ara menarik poni sebatas hidung miliknya, berharap secepatnya memanjang dan mampu terikat dengan rambut lainnya, namun semua itu jelas mustahil.


“Minum Ra. Hati-hati, masih panas.” Segelas kecil coffee latte macchiato instan dengan uap panas yang mengepul disodorkan pada Ara. Gelas plastik berwarna putih itu mungkin hanya setinggi 7 sentimeter.


“Thanks, Zen.” Ucap Ara sambil meraih minuman yang berada di tangan kanan Zen. Tidak lupa Ara tersenyum ramah, hanya saja senyum itu tidak diberikan untuk Zen, melainkan minuman hangat sedikit pahit yang disodorkan kepadanya.


Menyeruput tipis minuman yang sudah menghangat di tangan kirinya, Zen juga mengeratkan jaket yang ia kenakan. “Aman sunrise nya?” Tanya Zen pada Ara yang masih belum beranjak menjaga keseimbangan tripod penyangga kamera GoPro milik Lea.


“Lumayan, mau lihat?” Mengangguk pelan, Ara melirik Zen yang sudah terlebih dahulu menatapnya. Tanpa bisa dihindari sorot mata mereka bersirobok beberapa detik hingga terputus saat Ara memilih mengalihkan pandangannya.


“Nanti aja waktu edit. Aku yakin pasti pengambilan gambar mu bagus.” Ucap Zen sembari memuji Ara. Bukan modus, tapi pujian sebenarnya. 40 Hari mengenal Ara sudah cukup membuat Zen paham akan keahlian Ara yang terlatih secara otodidak itu.


“Kamu gak mau masuk komunitas media? Di sana gak hanya seputar photografi, tapi juga diajari melatih skill editing. Aku lihat kamu cukup kompeten di bidang editing, Ra.” Lanjut Zen berucap, setengah bertanya dan seakan sedang mempromosikan salah satu komunitas dimana ia juga ikut terjun di dalamnya.


“Gak deh. Aku bisa juga cuma sekedar ya bisa gitu aja. Bukan yang mahir atau ada prospek masa depannya.”


“Kalau kamu ikut komunitas itu dan belajar bareng pasti gak hanya sekedar bisa. Yang penting serius.”


“Dan di sini aku lagi gak pengen serius sama hal kayak gitu. Setelah ini, di semester depan, aku mau fokus skripsi. Terlalu beresiko kalau aku baru mau terjun berbarengan dengan skripsi ku.” Papar Ara panjang lebar yang memang seperti itulah kenyataannya.


“Semoga lancar skripsi kamu, Ra.” Ucap Zen menyemangati Ara dengan tulus.


“Terima kasih. Kamu juga, semoga lancar kuliah mu.” Balas Ara yang juga bukan basa-basi belaka.


“Kita udah kayak mau berpisah aja.” Terkekeh Zen menyeletuk sambil kembali menyeruput coffee latte miliknya.


“Nyatanya memang kita mau pisah kan?”

__ADS_1


“Masih ada jadwal ketemu buat ngedit, meet up atau sekedar nostalgia lewat chat.” Ucap Zen santai dengan percaya diri.


Perlu digaris bawahi, benar mereka akan bertemu lagi seputar persiapan video dokumenter dan promosi Desa L, namun untuk meet up apa lagi nostalgia lewat chat entah bisa terwujud atau tidak. Ara yang terlalu malas membuka aplikasi pesan singkat di ponselnya itu saja sering mengabaikan rentetan obrolan Yuki dan Dimas yang notabene adalah sahabatnya.


“Aku udah selesai. kamu masih mau di sini atau masuk?” Celetuk Ara tiba-tiba. Mengabaikan ucapan Zen sebelumnya yang dirasa hanya sedikit benar. Ara cukup malas berbicara dan tidak punya bahan ngobrolan lagi, jadi lebih baik didiamkan saja.


Menoleh pada Ara yang sudah melipat tiang tripod, Zen menatap lekat Ara yang sangat jelas tidak menggubrisnya. “Kamu duluan aja. Aku mau ketemu teman ku yang dari kelompok lain.”


Mengangguk mantap dan menoleh pada Zen sambil mengacungkan ibu jarinya, Ara kemudian memutar badan dan turun dari deck teratas kapal ro-ro yang sudah berlayar selama hampir 5 jam perjalanan laut.


Lelah dan mengantuk benar-benar terasa. Sudah dari langit masih gelap Ara duduk diam menanti matahari terbit agar hasil video yang diserahkan bukan hanya berbobot dari segi informasi, namun juga memiliki nilai estetik yang tinggi.


Kegiatan KKN memang sudah berakhir, namun jangan kira semua akan selesai saat mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Masih ada laporan kegiatan yang harus mereka serahkan. Mengenai salah satu video yang sedari awal Ara dan Zen kerjakan, mereka cukup bersyukur masih diberi waktu kurang lebih 3 minggu lagi untuk mengumpulkannya pada setiap Dosen Pembimbing kelompok.


Meregangkan punggung kaku dengan berbagai gaya, Ara juga merentangkan tangan ke udara. Memang perjalanan lama menggunakan kapal ro-ro tidak membuat Ara mual, namun badannya tetap pegal.


“Mas Kakak udah turun ini dari kapal. Mamas di mana jemput nya? Gak kelihatan dari tadi.” Efek lelah seketika membuat Ara cerewet. Bibirnya terus menggerutu tidak ada habisnya. Matanya mengedar liar menyorot setiap manusia yang nyatanya terasa asing bagi Ara.


Ponsel yang sempat Ara buat dalam mode pesawat itu akhirnya digunakan untuk menghubungi Jona. Tidak menunggu lama, hanya dengan sekali panggilan sambungan itu terhubung.


[Mas Rava yang jemput Kakak. Aku disuruh tunggu di rumah aja. Memang belum sampai?] Ucap Jona dari seberang panggilan itu.


Membulatkan matanya, Ara sedikit kesal. Pasalnya dari tadi Ara sudah memaksa matanya untuk memindai setiap sosok yang mungkin saja mirip dengan Jona. Maklum saja, Ara yang bebal masih tidak ingin menggunakan kacamata. Bahkan kacamata miliknya sengaja ditinggal di rumah, tidak dibawa selama dirinya melaksanakan KKN.


“Kok gak bilang kalau yang jemput Mas Rava?” Gerutu Ara dengan suara pelan. Matanya kembali mengedar, namun tetap saja yang terlihat justru teman satu kelompok KKN nya yang juga belum terlihat jemputan nya.


[Kakak gak buka chat ku?] Tanya Jona yang sudah mengernyitkan dahi, matanya fokus pada film animasi pilihan dari salah satu stasiun televisi. Berbeda dengan Rian yang ikut menonton tapi lebih fokus menikmati camilan manis pedas dari keripik singkong.

__ADS_1


“Sebentar.” Ucap Ara ketus, menjauhkan ponsel dari telinga dan jarinya langsung sibuk menggulir layar ponsel.


Mendesah pasrah, Ara memang tidak sempat melihat ponsel semenjak lebih kurang 6 jam yang lalu. Rupanya Jona, Rava, Mama Lauritz dan juga Papa Yudith sudah mengabari jika Rava yang akan menjemput Ara, tidak jadi Jona bersama Papa Yudith.


“Gak sadar kalau kamu chat Mas. Ya udah Kakak cari Mas Rava dulu.” Ucap Ara mengakhiri panggilannya. Menekan power off agar layar ponselnya mati, Ara meraih koper dan sebuah tas berisi jajanan khas Desa L.


“Udah ketemu.” Ucap seseorang di samping Ara, mendekap dan merengkuh erat.


Plak.


Reflek tangan Ara melayang menampar punggung tangan yang menempel di bahu kirinya. Menjauhkan diri dan memutar tubuh, Ara terbelalak pada Rava yang sudah mengusap punggung tangannya yang memerah.


“Sayang..!” Ucap Rava dengan alis nyaris tertaut, berpura-pura seolah kesal dan kesakitan.


...****************...


*


*


*


Next?


Next lah ya, tinggal sedikit lagi.


Terima kasih yang udah setia menanti kisah Ara.🥰

__ADS_1


__ADS_2