Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Deklarasi Kepemilikan


__ADS_3

“Siapa?” Gumam Ara dengan sorot mata menajam pada sosok aduhai di hadapan Rava.


“Masa kamu lupa sama aku?” Pertanyaan dari perempuan itu menyeruak indra pendengaran Ara yang sudah berdiri di belakang perempuan itu.


“Ini aku loh, Fina, temen SMA kamu.”


‘Temen sekolah?’ Gumam Ara dalam hati seakan bertanya pada dirinya sendiri.


“Mas.. Siapa dia?” Berangsur berdiri ke sisi kiri Rava, Ara bertanya dengan suara lirih. Hanya gelengan jawaban dari Rava setelah sempat menatap malas pada sosok di hadapannya sekilas.


“Oh ini saudara, sepupu atau keponakannya kamu ya?”


Jlebb.


“Uhuk.. Uhuk..!!” Rava tersedak air liurnya sendiri. Kalimat yang terlontar santai itu bagai memukul tepat di leher bagian depan Rava. Tentu saja mata Rava sudah melotot tidak habis pikir pada dugaan perempuan dewasa yang sempat menggodanya.


Entah ia sudah lupa pada wujud asing di depannya atau memang tidak mengenalnya. Meski mengaku sebagai teman kuliah pun Rava mungkin tidak akan mengenali, apalagi yang baru saja mengaku sebagai teman masa sekolah menengah.


“Iya.” Jawaban Ara membuat Rava melotot lebar. Tangannya langsung menyentak tubuh Ara untuk menghadap padanya. Sayangnya Ara hanya memberi senyum manis sesaat sebelum raut wajahnya kembali datar.


“Sayang!?” Pekikkan dengan suara berat bernada rendah itu terlontar begitu saja. Rava bukan hanya tidak terima, namun juga kesal dengan pembenaran yang Ara berikan.


“Kenalin ya.. Aku keponakan yang bisa dinikahi sama Om ku.” Uluran tangan Ara disertai seringai di bibirnya.


“Aah.. Gak mau kenal ya? Ya udah gak apa-apa.” Meremas udara dengan hembusan nafas panjang. Sejenak Ara sudah beringsut ke balik punggung Rava yang masih duduk sambil bersungut, cemberut dan memalingkan wajahnya. “Ngomong-ngomong kalau TAN-TE mau cari jodoh tolong yang lain aja ya.. Kalau yang ini..”


Ucapan Ara sengaja dihentikan setelah sempat menekan kata tante dalam untaian kalimatnya. Kini ia memandang gemas pada Rava yang jelas ingin meluapkan kekesalan. Tanpa basa-basi Ara merangkul Rava dari belakang. Menopang kan dagunya manja di bahu Rava dengan tatapan tajam yang tidak teralihkan pada sosok yang terdeteksi sebagai musuh.


“PU-NYA A-KU.” Ucap Ara sinis seakan mencabik kesadaran sosok di hadapan Ara dan Rava. Raut wajahnya benar-benar menyeramkan. Belum lagi tatapan matanya seolah menguliti. Ara tampak seperti gambaran iblis cantik bertanduk di buku dongeng horror.


Sedangkan Rava bagai tersiram dahaganya dengan air asam yang diberi madu. Rava seakan meleleh hingga luber dan melayang ke angkasa. Senyum terkembang di bibirnya merekah semakin lebar. Ia tampak malu-malu meraih tangan Ara yang melingkar di bahunya.


“O-Oh, gitu. Ng-nggak kok.. Itu.. Itu tadi cuma kursi penuh. Mmm.. Permisi kalau gitu.” Kalimat terbata-bata itu keluar penuh perjuangan. Menundukkan kepala dengan senyum canggung ia melangkah pergi secepatnya. Malu, tentu saja perempuan bernama Fina itu ingin memutar kembali waktu agar menahan diri untuk tidak cari perhatian pada sosok pendiam yang popular pada masa sekolah.


“Hih..!! Ngeselin!!” Geram Ara sambil memukul udara. Rangkulan itu terlepas begitu saja, menyisakan kehampaan untuk Rava.


“Kenapa pergi?” Ucap Rava dengan tatapan memelas seakan kehilangan kesenangannya.


“Capek kali berdiri terus.” Ucap Ara ketus. Emosinya masih teraduk-aduk tidak menentu. Ia bahkan bingung mengapa rasanya ingin sekali menjambak sosok bak biduan salah alamat itu.


“Itu tadi siapa?” Menyipitkan matanya, kerutan kekesalan di dahi Ara belum juga berangsur hilang. Lama-lama jika seperti ini Ara akan bisa lebih cepat mengalami penuaan dini.


“Gak kenal.”

__ADS_1


“Bilangnya teman sekolah kok gak kenal!?” Tanya Ara ketus.


“Mas gak tau dia siapa, sayang.. Mau ngaku teman sekolah juga kalau Mas gak ingat ya gak kenal. Lagian waktu sekolah sama laki-laki aja Mas itu jarang bergaul, apalagi sama perempuan.” Jelas Rava tanpa ragu, ia senang mendapati Ara yang tampak cemburu padanya.


“Awas ya kalau macam-macam terus bohong sama Ara!!” Kilatan sorot mata mengancam itu ditangkap dengan rasa berbeda oleh Rava. Baginya sikap Ara yang seakan posesif itu bagai kemenangan yang tidak pernah diduga-duga.


“Iya.. Udah ya. Jangan bikin Mas pengen cium kamu gara-gara manyun gitu.” Bujuk Rava dengan ungkapan sepenuh hatinya.


Drek.


Ara menarik kursi di seberang Rava. Menelisik pada Rava yang menurutnya bertingkah aneh.


“Gak usah macam-macam!!”


“Iya..”


“Kenapa kamu senyum-senyum Mas? Kayaknya tadi ada yang monyong-monyong gak jelas kayak bebek kejepit.” Sindiran Ara tidak ditanggapi oleh Rava yang masih terlalu senang pada deklarasi kepemilikan Ara. Sebuah kalimat singkat yang terdiri dari 2 kata, ‘punya aku’, benar-benar membuat Rava melayang.


“Aku punya kamu. Kamu punya aku.” Melipat lengannya di atas meja, ucapan itu terdengar lirih dari bibir Rava disertai wajah bersemu merah.


“Apaan sih.. Gak usah aneh-aneh deh! Diem aja, ssstt..” Rengek Ara pada Rava sambil memanyunkan bibirnya. Sungguh amat sangat menggemaskan di mata Rava.


“Permisi..” Ucap seorang pramusaji membuyarkan sepasang sejoli yang dirundung kemesraan yang tampak malu-malu.


“Terima kasih.” Ucap Ara setelah semua makanan dan minuman selesai dihidangkan.


“Kamu suka ini kan?” Tanya Rava sambil menggeser sepiring kwetiau goreng. Tidak berhenti sampai di situ, Rava bahkan sudah bergerak cepat memisahkan isi kerang dari cangkangnya.


“Mas lapar banget ya? Kebut banget pisahin isi kerang.” Tanya Ara sembari memiringkan kepalanya.


“Buat kamu.” Ucap Rava yang meletakan hasil jerih payahnya di piring kecil ke hadapan Ara.


“Ya ampun, gak usah gini lah Mas. Ara bisa makan sendiri. Ini mas gak mau kwetiau nya?”


“Kamu makan aja sampai kenyang.”


“Mas.. Ara udah makan loh tadi di kampus.” Keluh Ara yang tiba-tiba merasa kenyang hanya dengan menatap berbagai makanan yang terhidang.


“Cuma roti bakar sepotong kenyang dari mana? Sekarang kamu makan aja biar Mas bantu pilah seafood nya.”


“Mas makan aja juga. Lagian bukannya Mas suka makan udang? Kenapa gak pesan yang pakai udang juga?”


“Kamu kan gak bisa makan udang. Makanya Mas sengaja pesan gak usah dikasih udangnya.”

__ADS_1


“Yaaahh.. Kok gitu?” ucap Ara seolah kecewa pada dirinya sendiri, namun sudut bibirnya berkedut ingin tersenyum karena merasa terharu pada tindakan kecil Rava.


“Sekarang Mas fokus makan buat diri sendiri dulu. Kalau gak Ara mending pulang aja habis ini.”


“Ih jangan, yang. Ini Mas makan juga.” Secepatnya Rava menyuapkan sesendok penuh nasi goreng seafood, tentu juga tanpa udang.


“Nah, gitu. Fokus aja makan pelan-pelan. Ara tau kok kalau Mas udah lapar banget dari tadi. Perut mu udah meraung gitu.”


“Kedengaran ya di mobil tadi?” Ujar Rava dengan raut wajah kaget.


“Banget. Udah kayak lagi sirkus aja itu lambung berisik.”


“Mas tadi pagi nggak sarapan juga, jadi lapar banget. Hah.. Malu kan jadinya kamu dengar kayak begituan.”


“Ngapain juga malu? Kayak sama siapa aja.” Memutar bola matanya malas, Ara berujar sembari menyodorkan kwetiau yang terlilit dan tertusuk garpu miliknya pada Rava.


...****************...


*


*


*


Ara cemburu, tandanya sudah cinta atau hanya merasa Rava miliknya?🤔


(Gak usah ditanya juga pasti pada bilang iya, iya kan?🤭 ehh.. Iya apa ya ini🤔)


*


*


Yang baca sudah baper atau belum?😚


Maafkan Hana yang nggak pro banget buat yang manis-manis.🤭


By the way, tadi Hana ada buat video kompilasi foto gitu tentang novel ini. Waktu lihat visual Yuki dan Dimas yang sengaja Hana pakai kok ngerasa cocok. Coba deh lihat ini👇, iya nggak sih?🤔



IG Hana @hi.onelight bagi yang mau menyapa di sana dan lihat apa yang sudah Hana bagikan silakan diintip.😊


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2