
“Sayang..” Panggil Rava pada Ara yang masih mengunci rapat bibirnya. Duduk manis di sampingnya, tepat di kursi penumpang dengan sorot mata lurus ke depan.
“Hm.” Dehem Ara singkat, masih betah mendiamkan Rava. Jika kemarin malam dirinya bisa bersabar dan melembutkan otot, maka siang ini Ara dalam mode macet bicara, belum mogok, hanya macet dan masih bersuara sedikit.
“Masih marah ya?” Tanya Rava dengan intonasi lembut mendayu, ia tau tapi seakan tidak tau apa-apa. Ini adalah basa-basi paling popular yang terkadang menjadi boomerang bola api.
“Menurut kamu?” Desis Ara ketus, melirik sinis dan berkata dengan gigi yang terkatup rapat. Bibir mungilnya yang bergerak tipis membuat Rava gemas meski dalam situasi memanas.
“Maaf.” Ucap Rava lirih penuh permohonan sembari mengulurkan tangannya meraih jemari Ara. Rava sangat tau dirinya memang salah. Tapi siapa yang tidak terbakar api cemburu jika disodorkan sebuah bukti kedekatan wanitanya bersama pria lain. Bodohnya Rava langsung meluapkan emosinya, tanpa mempertanyakan hal itu pada Ara terlebih dahulu.
“Maaf aja terus.” Merotasi bola matanya, sekali lagi Ara mengeluarkan perkataan ketus bernada sewot. Mood nya kembali memburuk. Belum lagi semalaman Ara tidak bisa tidur, rasanya ingin menangis saat membayangkan tiba-tiba cinta Rava berubah dan meninggalkan dirinya.
Ara tidak ingin dicampakkan untuk kesekian kalinya. Ara juga tidak ingin berusaha memohon bila hal itu benar-benar terjadi. Ia lelah pernah memohon kasih sayang namun hanya menyisakan luka mendalam.
“Iya, Mas tau, Mas salah udah berlebihan kemarin malam.” Sesal Rava sambil terus meraih jemari Ara yang selalu dijauhkan sang pemilik.
“Terus?”
“Jangan ngambek lagi dong..” Bujuk Rava, menggenggam lengan Ara dengan tarikan pelan agar si empu mau menoleh ke arahnya.
“Jangan pegang-pegang deh.” Tolak Ara lewat tepisan cepat bahunya.
Menoel pipi gembul Ara yang mulai kembali membengkak, Rava masih berusaha membujuk Ara yang bermuram durja. Tiada jatah senyuman manis dari Ara untuk Rava hari ini. “Udahan dong marahnya.. Jangan ngambek gini. Kamu mau pukul Mas, pukul aja. Tapi udahan ya marahnya?”
“Siapa juga yang marah!” Kalimatnya boleh membantah, namun dahi berkerut dengan alis nyaris tertaut dan bibir cemberut tidak bisa menepis fakta sebenarnya. Apa lagi sorot mata penuh permusuhan yang Ara berikan pada Rava sangat kentara sedang tersulut kobaran emosi jiwa.
“Kalau gak marah atau ngambek kenapa bibirnya minta diikat gini, hm?” Cubitan gemas Rava mendarat tepat di bibir tipis yang Ara manyun kan. Mendelik sebal Ara langsung memukul punggung tangan Rava.
“Apa minta dicium? Sini, Mas rela banget kalau memang kamu mintanya itu.” Ucap Rava lagi yang diakhiri mengerling genit dan menggoda dengan wajah sok lugu. Rava berharap Ara mengomel sepuasnya dan menghentikan aksi merajuk lewat macet bicara.
Sedangkan Ara hanya bisa menahan kekesalan dengan mata melotot tajam. Dasar pacar mesum, begitulah kira-kira bunyi umpatan Ara dalam diam.
__ADS_1
“Buka pintunya sekarang! Mereka udah kumpul itu di depan!” Perintah Ara pada Rava. Pasalnya kini Ara sengaja dikurung oleh Rava, tidak diizinkan langsung turun dari mobil karena belum juga tersenyum manis kepadanya.
Berulang kali Ara memaksa senyum kakunya, namun nihil, Rava tidak puas. Terus membujuk Ara yang cemberut, rupanya hal itu lebih sulit dibandingkan mengajukan proposal perizinan pada sebuah instansi pemerintahan.
Menyerah? Tentu tidak masuk dalam kamus besar perbucinan Rava. Pernah berjuang selama hampir 4 ribu hari, 100 ribu jam penantian, tentu tidak akan menyurutkan ketabahan Rava dalam membujuk Ara nya yang saat ini sedang badmood.
Semoga saja bekal kesabaran, ketabahan dan berbagai trik modus yang pernah Rava pelajari berhasil menyelesaikan permasalahan mereka. Tentu sebelum masalah inti yang akan Rava bahas langsung dengan Ara.
“Ayo lah Mas..” Nah kan akhirnya Ara merengek. Tidak meminta dengan marah-marah lagi.
“Kalau Mas masih tahan aku kayak gini. Liat aja, nanti aku pulang sendiri. Besok gak mau diantar Mas, kita libur buat ketemuan dalam waktu yang gak ditentukan!!” Ternyata salah, bukan hanya berakhir rengekan, namun juga ancaman. Seulas senyum yang sempat terlukis di bibir Rava langsung menghilang terganti sorot dingin tidak suka.
“Gak bisa gitu, Yang. Tega ya kamu! Apa kamu udah benar-benar gak sayang lagi sama Mas?! Apa benar kamu sekarang lebih suka sama Zen itu?!!” Tuduh Rava pada Ara.
“Kenapa sih dari kemarin Zen mulu? Segitunya kamu suka sama Zen sampai sebut-sebut dia terus!?” Melengking tinggi suara Ara melontarkan tuduhan tidak masuk akal. Bahkan intonasinya mengalahkan nada suara dalam ucapan Rava sebelumnya.
“Kok Mas sih? Sayang.. Mas ini laki-laki!”
Pusing pada Rava yang terlalu cemburu pada kedekatannya dengan Zen, selalu melarang yang sangat sulit Ara lakukan. Mana bisa Ara berhenti menemui Zen jika harus menyelesaikan tugas bersama yang tidak dapat diwakilkan. Ditambah lagi saat ini justru dirinya dituduh ingin berpaling kepada zen.
“Astaga Sayaaang..!! Amit-amit!!” Rava menyugar rambutnya dengan sedikit remasan, membuang helaan nafas berat sambil memejamkan matanya. “Mas masih normal..!! Gak tertarik sama laki-laki.. Cuma tertarik sama kamu, paham kan?”
“Tau deh! Bukain pintunya sekarang!!” Membuang pandangannya keluar jendela, Ara malas menanggapi perkataan Rava.
“Mas bukain, tapi ingat, jangan dekat-dekat sama Zen!” Ucap Rava bersamaan dengan kelopak mata Ara yang kembali melebar seiring ujaran itu diselesaikan.
“Tuh kan, Mas naksir sama Zen!!” Pekik Ara histeris tidak jelas, memukul asal lengan Rava sepuasnya.
“Nggak Sayang.. Kenapa jadi Mas yang dituduh aneh-aneh??”
Kedua manusia itu kini saling menatap tidak terima. Mendengus kesal saling menuntut tanpa alasan. Harusnya Rava langsung saja membeberkan alasan dirinya uring-uringan dan membatasi pergaulan Ara dengan Zen.
__ADS_1
“SAYAAANG.. INGAT PESAN MAS..!!” Teriak Rava kencang, melongok kan kepala nya dari kaca pintu mobil yang diturunkan. Mengabaikan tatapan terkejut beberapa pasang mata yang berada di sebuah Kafe. Sedangkan Ara hanya menanggapi dengan gelengan jengah, memutar tubuhnya hingga beradu pandang kembali dengan Rava, ia memanyunkan bibir ke arah Rava dan pergi begitu saja.
“Lama banget, Ra?” Tanya Zen yang menyambut Ara dengan senyuman, menggeser sebuah kursi dari meja seberang untuk Ara.
“Aku tadi ada urusan sebentar.” Jawab Ara sekenanya dan tanpa menatap Zen, ia lebih memilih tersenyum pada Lea yang sudah dapat dipastikan duduk mendekat pada Ara.
“Oh, gitu. Aku pikir kenapa tadi.” Balas Zen memutus obrolan, meski ia masih merasa jawaban Ara tidak menjawab rasa penasarannya. Pasalnya Zen yakin Ara akan diantar oleh Rava, ia juga sudah cukup hafal mobil Rava dan sejak beberapa waktu lalu mendapati mobil Rava terparkir di parkiran Kafe. Hanya saja kehadiran Ara justru tidak langsung tampak.
“Langsung lanjut aja ya.. Ini hari terakhir kita untuk kumpul bahas tugas. Tadi makalah laporan udah di print out, video udah di ekstrak dan hasilnya bagus banget. Sayang aja yang telat ini gak nonton, tapi biar deh, kan dia juga yang edit dari awal.” Ucap Arini membuka perbincangan yang setengah menyindir keterlambatan Ara.
...****************...
*
*
*
Apakah sesi macet bicara akan terus berlanjut?🤔
*
*
Ada yang penasaran gak sama isi pesan video dan foto itu?😃 Buat yang follow IG & add FB, nanti video kompilasi bakal Hana bikin story😄 termasuk beberapa video spoiler lainnya🤭 (ini promo terselubung😎)
IG : @hi.onelight
FB : Hana Hikari
*
__ADS_1
Terima kasih semuanya yang sudah kasih dukungannya buat Hana dan setia memantau kisah Ara🥰