Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
•Deterjen Jeletot


__ADS_3

Ara mendengus sebal melihat ponselnya yang sibuk bergoyang dan berkedip genit. Jika bernyawa pasti sudah sangat mirip goyangan Gilang dan Papa Yudith di sela berperang dengan oli hitam dan kepulan karbon monoksida.


Meski telinga Ara sudah terbiasa dengan alunan dangdut koplo yang berduet riang dengan bunyi mesin dan knalpot di bengkel Papa Yudith, namun matanya masih terasa gatal jika harus dipertontonkan pinggul patah-patah itu. Ara jadi merasa kerdil dengan badan kakunya.


Puk.


Tepukan kecil Yuki pada pundak mengejutkan Ara. Tas selempang silver dengan kilau mutiara imitasi super bertahta sombong di hadapan Ara. Tukang koleksi tas seperti Yuki ini sangat meresahkan. Beruntung Yuki tipe pembeli pintar yang suka harga miring tapi kualitas jempolan.


"Kusut banget itu muka.. Berapa kilo kali ini bebannya??"


"Seratus ton." Menelungkup kan wajah di celah lipatan tangan, Ara menjawab sekenanya dengan helaan nafas kasar.


"Dimas mana?"


"Biasa. Setor keripik dulu ke warung-warung." Ucap Yuki.


"Lama nih pasti." Ucap Ara sembari mencebikkan bibirnya.


"Lama apaan??" Suara Dimas menyeruak pendengaran. Sosoknya tiba-tiba muncul dari arah belakang Ara dan Yuki.


"Tumben udah selesai Dim!?" Mengernyit heran Yuki pada Dimas.


"Nita udah antar ke warung yang deket-deket rumah. Sisa yang jauh cuma 4 tempat aja, jadinya ya cepat." Ucap Dimas sembari mendudukkan dirinya di kursi seberang Ara dan Yuki.


Mengingat Nita atau Kanita Azalea si adik pertama yang sudah beranjak remaja, Dimas saat ini bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya Nita bisa membantu nenek dan mengurus si adik bungsu di rumah bila Dimas asik berkutat dengan kesibukannya.


"Hari ini mau bahas rencana skripsi kita??"


"Gak. Malas banget aku." Jawab Ara yang sedari tadi masih setia menyembunyikan wajahnya.


Sudah menjadi kegiatan rutin ketiganya merancang angan-angan tugas akhir kuliah setiap ada waktu luang. Kesepakatan tanpa hitam di atas putih itu berisi perjanjian bersama-sama mengejar skripsi pada semester 7. Mereka ingin merancang sematang mungkin meskipun semester 5 baru saja mereka selesaikan, bahkan nilai saja belum muncul pada website sistem informasi nilai mahasiswa.


Menilik dari kapasitas otak, sumber pustaka, waktu dan tentu saja biaya penelitian, ketiganya sepakat mengambil lokasi penelitian yang sama. Ide ini tentu saja dicetuskan oleh Ara dan disetujui bersama. Dengan kepercayaan jika meneliti di lokasi yang sama akan lebih mudah dalam mencomot sedikit penjelasan dari data masing-masing sebagai bahan pendukung eksternal.


Lokasi bekas penambangan pasir ilegal menjadi pilihan ketiganya. Salah satu alasannya karena 500 meter dari lokasi tambang pasir merupakan muara sungai besar dengan daerah hulu bekas pertambangan bauksit ilegal dan digunakan sebagai jalur transportasi kapal tongkang pada masanya. Hal itu tentu memunculkan ketertarikan yang lebih besar bagi Ara, Dimas dan Yuki.


"Nih coba lihat getar-getar mulu. Pusing aku." Mengacak rambutnya frustasi, Ara letakkan ponselnya ke tengah meja.


"Dasar deterjen jeletot." Geram Yuki saat membuka segala macam notifikasi muncul di aplikasi hijau tapi bukan khusus penyedia jasa antar. Julukan 'deterjen jeletot' disematkan Yuki untuk para netizen julid yang panasnya seperti sabun cuci serbuk bercampur bubuk cabe.


Dari nomor kontak bernama hingga nomor hantu, bahkan banyak grup asing yang terus berganti posisi teratas sudah meneror Ara sejak beberapa hari lalu. Beruntung kejadian pemicu di kantin terjadi pada hari terakhir Ara di kampus sebelum libur panjang semester.


Meskipun begitu ada satu yang terlihat horor, yaitu kontak dengan foto profil familiar bernama 'Bu Dian DOSEN'. Ada 11 tanda pesan belum dibaca dan Yuki yakin Ara belum melihatnya karena butuh 2 kali scroll hingga nama itu muncul.


Selamat tinggal bagi siapapun yang mengirim pesan pada Ara bila tidak berada di list yang langsung terlihat pada satu layar utama. Ara sangat malas memeriksa atau sekadar scroll sekali saja.


"Jangan diremas kuat-kuat Ki!! Gak punya uang buat beli yang baru tau." Merampas ponsel dari genggaman Yuki, Ara usap perlahan sisi tepi ponsel seharga 3 jutaan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kok sial banget sih aku geng." Ucap Ara lirih memelas dengan kembali menghilangkan wajahnya. Bersembunyi di bawah rambut yang terjuntai dan pipi kanan terhimpit dengan meja.


"Pak Kim diam-diam langsung sambar rupanya. Beda ya kalau udah pro itu. Keren juga." Dimas berkata seolah memuja sosok Kim.


"Waktu ke Kota Y kalian ada main ya?" Tanya Yuki dengan memicingkan matanya.


"Sembarangan kalau ngomong. Main apa juga?? Di sana udah kayak babu iya itu baru bener." Gerutu kesal Ara mengingat kondisinya pada saat itu.


"Ketemu aja waktu berangkat sama pas di rumah sakit." Gumaman Ara sangat lirih, namun daun telinga super Yuki rupanya masih mampu menangkap suara Ara.


"Di rumah sakit ngapain??" Terkutuk rem yang tiba-tiba blong hingga Ara keceplosan. Ara lupa kalau tidak ada yang Ara beritahukan jika ia sempat di rawat hingga harus pulang dengan Dion kala itu.


"Ingat surat yang ada di kotak makan siang gak?" Mengalihkan pembicaraan, Ara sudah tidak tahan ingin mencurahkan isi hatinya. Baginya sudah cukup ia simpan selama ini bahwa Kim menyukainya. Bukan Ara kegeeran, tapi ini fakta dan nyata.


"Surat apa?"


"Waktu bantu si cuit di lab kan ada yang kasih 3 kotak makan." Ucap Ara. Sedangkan Dimas yang lagi-lagi dipanggil cuit hanya memanyunkan bibirnya. Ingin protes juga sudah sering dilakukan hingga bosan.


"Sebelum aku pergi ke Kota Y juga yang sebelumnya tragedi modus kata mu pas kita makan keripik itu Bu Dian datang sama Pak Kim." Lanjut Ara lagi.


"Oh.. Capcay gak pakai udang ya??" Ucap Dimas dengan agak ragu.


"Iya itu." Ucap Ara membenarkan praduga Dimas.


"Kenapa??" Tanya Yuki.


"Itu Pak Kim yang kasih." Ucap Ara selirih mungkin dengan penekanan agar tetap dapat didengar Yuki dan Dimas.


Hening.


"WHAAATTT!!!????" Teriak Yuki. Melotot dan berdiri mendadak menandakan ia benar-benar terkejut. Dimas? Ia hanya melotot dengan tambahan mulut menganga saja. Keduanya tampak kaku, diam membeku dan seperti manekin saat ini di mata Ara.

__ADS_1


Brak.


Ternyata kursi di belakang yang tergeser kasar oleh Yuki punya kekuatan untuk jatuh mode slow motion. Atau bisa saja kursi itu sama terkejutnya dengan Dimas dan Yuki.


"Kak.. Tolong jangan berisik ya!"


Iya, baru saja petugas perpustakaan yang menegur perkumpulan trio Daphnia itu. Menganggukkan kepala sekilas ketiganya seketika saling berbisik-bisik.


Bukan kafe atau tempat tongkrongan kekinian yang ketiganya kunjungi, melainkan perpustakaan daerah provinsi berlantai 3 yang megah di pusat Kota B. Biasanya mereka berkumpul untuk mencari buku bacaan, namun kali ini perpustakaan dijadikan lapak rumpi.


"Kok bisa sih Ra??" Tanya Yuki serius pada Ara. Yuki sungguh penasaran sejak kapan Ara dan Pak Kim mulai PDKT alias pendekatan. Bagaimana Yuki tidak kepo jika bahkan Ara saja baru tau Pak Kim setelah beberapa kali Yuki jelaskan.


"Ra.. Barusan ada chat baru dari Pak Kim." Ucap Dimas yang rupanya sedari tadi masih diam-diam mencuri pandang pada ponsel Ara.


"Kenapa lagi sih itu bapak-bapak biang masalah." Ucap Ara yang lebih frustasi. Keinginan membuktikan bahwa 'Rava' yang dia duga adalah Kim sudah terwujud, namun bukan dengan publikasi seperti ini yang Ara inginkan. Mana Ara duga jika Kim bisa seberani itu memegang pergelangan tangan hingga menautkan jari-jemari mereka.


Menyesal Ara memilih pergi ke kantin dan tidak menghampiri Yuki dan Dimas saja. Jika tidak Ara pasti hanya dihakimi dua temannya, bukan hampir seluruh orang kepo yang bahkan sebagian besar tidak Ara kenal.


📩


Pak Kim


...Yesterday...


08: 21 Kamu sibuk gak?


16:05 Tolong temui saya besok, bisa?


20:01 Besok saya tunggu di klinik Dion.


21:23 Selamat malam. Semoga mimpi yang indah❤


...Today...


07:03 Jangan lupa sarapan.


10:12 Ada yang mau saya kasih ke kamu. Saya tunggu setelah kamu ketemu Dion.


12:14 Kenapa hari ini absen konsul lagi?


14:39 Kamu dimana? Kenapa gak di rumah?


"WHAT!!????" Melengking sudah suara Ara yang biasanya tersimpan di rongga tenggorokan. Niat hati ingin menghindari Abangnya dengan tidak konsultasi dengan Adiknya justru membuat pelaku yang meresahkan hati Ara bertindak nekad.


"Maaf ya Kak!! Sekali lagi tolong ngobrolnya di luar aja ya!!" Ucap petugas perpustakaan ketus dan sinis pada Ara.


Membungkuk malu Ara tarik lengan Yuki dan kerah baju Dimas. Sudah 2 kali mereka di tegur. Salah mereka bertiga yang tidak punya basecamp selain perpustakaan.


"Kesetanan apa lagi sih Ra?" Tanya Dimas ketus saat ketiganya sudah berada di luar gedung perpustakaan.


"Lihat ini!!" Menyodorkan ponsel yang berisi pesan dari Pak Kim.


Belum juga sempat Yuki dan Dimas memberi komentar, ponsel Ara kembali bergetar.


Drrt.. Drrt.. Drrt..


When I walk up in the club all the girls stare at me


I'm the only thing they see


And the guys wish they were me


Cuz I'm fresh and clean from my head to my feet


I'm the definition of the word masterpiece


...


(BTOB - MOVIE)


"Jangan bilang itu Pak Kim!!??" Ucap Ara dengan histeris tanpa melihat siapa si pemanggil. Tangannya masih terjulur jauh pada Yuki dan Dimas.


"Kepedean banget. Itu namanya Bang Bima. Pasti cowok tetangga kan?" Ucap Dimas sembari mendelik sebal.


"Halo?" Secepatnya Ara geser ikon menerima panggilan itu.


[Ra?]


"Iya Bang, kenapa?"

__ADS_1


[Di rumah nggak?]


"Lagi di luar Bang. Kenapa?"


[Tadi nenek ada telepon Tante Lauritz gak bisa. Tolong nanti kalau di rumah bilang nenek mau pinjam teflon kue serabi buat besok bisa apa gak ya Ra?]


"Oh.. Oke Bang. Kalau udah di rumah nanti Ara kasih tau Mama."


[Ya udah kalau gitu makasih ya.. Hati-hati nanti pulangnya. Jangan bawa motor kebut-kebutan lagi.]


"Iya Bang." Ucap Ara mengakhiri panggilan singkat itu sambil tersenyum.


"Bakal patah hati ini Pak Kim. Udah kalah start sama si Abang tetangga yang gak kalah tampan, malah lebih daun muda lagi. Hahaha.." Ujar Dimas sesuka hatinya sembari tergelak tawa kencang. Jika Ara menanggapi dengan mendengus sebal, berbeda dengan Yuki yang ikut tergelak tawa kencang.


...----------------...


Tap.


Tap.


Tap.


"Maamaaa..." Teriak Ara dari teras luar memanggil Mama Lauritz.


"Apaan sih Kak?? Pelan-pelan coba, bikin malu aja." Ucap Mama Lauritz yang entah sejak kapan rupanya sudah berada di ambang pintu.


"Bang Bima tadi bilang Nenek telepon Mama gak bisa. Mau pinjam cetakan serabi Mama itu buat besok katanya." Masih berdiri di balik salah satu daun pintu kayu yang sengaja tidak di buka, Ara langsung memberondong banyak kata pada Mama Lauritz di ambang pintu.


'Bima?' Membatin kesal, laki-laki dewasa yang sudah memanaskan sofa ruang tamu sedari tadi itu kedua alisnya nyaris bertaut. Kesal dan amat sangat cemburu kala mendengar nama laki-laki lain keluar dari bibir gadisnya, calon wanitanya.


"Dipakai nonton Rian tadi paling habis baterai. Masuk cepat sini kamu, masa mahasiswa bikin dosennya nunggu dari tadi. Gak sopan banget." Ucap Mama Lauritz sedikit berbisik yang mulanya membuat Ara bingung, namun kata 'dosen' seolah mengingatkan Ara pada pesan terakhir yang ia baca.


"Lupa kamu udah janjian di rumah??" Lanjut Mama Lauritz.


Meski sempat mematung beberapa detik, Ara memberanikan diri mengintip ke dalam rumahnya. Dugaan mendadaknya terbukti benar. Laki-laki yang bahkan pesannya diabaikan Ara sudah duduk manis, rapi dan pastinya tampan di salah satu sofa single ruang tamu.


Merutuki kecerobohannya, Ara sampai tidak curiga ada mobil asing yang jelas-jelas tidak terlalu asing baginya. Harusnya Ara sadar pada mobil yang sudah 2 kali ia masuki itu terparkir cantik di halaman rumah. Jika Ara kabur sekarang pasti ia akan dilempar sandal oleh Mama Lauritz.


"P-Pak?? Heheh.." Sapa Ara canggung.


"Ck!! Malah cengengesan. Udah situ!! Mama mau ke belakang, tempat Papa dulu. Untung Papa di rumah, jadi Pak Dosen bisa ngobrol motor dulu sama Papa sambil nungguin mahasiswa abal-abal ini." Berdecak Mama Lauritz gemas dengan tingkah anak gadis satu-satunya itu.


"Kalau tugas Ara berantakan marahin aja Pak. Mari Pak, saya tinggal dulu ya ke tempat Papa-nya."


" Iya, Tante." Ucapnya meski dengan berat hati ia harus menerima panggilan 'Pak' dari sosok yang dipanggilnya 'Tante' itu. Mau bagaimana lagi bila status yang dibawa adalah sebagai dosen anak gadis keluarga itu, bukan kandidat calon menantu.


...****************...


Daphnia : Daphnia sp. merupakan zooplankton golongan krustasea air kecil yang biasa disebut kutu air dalam filum artropoda yang dalam jenis hewan ukuran besar mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan, dan lainnya. Daphnia juga dapat digunakan sebagai pakan ikan alami karena kandungan protein yang tinggi.


(👇 Kenalan dulu sama Daphnia yang dilihat pakai mikroskop. Fyi, bulat-bulat di dalam badannya itu telur ya😉)



Ada yang gak tau kapal tongkang??🤔


👇👇👇Ini salah satu foto kapal tongkang yang Hana ambil di tempat si mbah ya😄👇👇👇



*


*


*


Masih seputar trio kutu air dan Pak Kim/Rava ini😄


Sudah pada siap menanti Hans comeback??🤭


Sudah pada siap menyambut Bang Bima pulang??😆


*


*


Terima kasih ya Kakak-kakak Cantik & Ganteng yang udah setia memantau kisah Ara😘😘


*

__ADS_1


Jika berkenan bisa bantu buat di share supaya makin banyak yang baca ya😊😉


__ADS_2