Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
EXTRA CHAPTER : Adik untuk Elly


__ADS_3

Dibalik jas hujan besar seorang balita berlindung dari hujan. Tubuhnya dililit kain jarik batik pada sosok laki-laki dewasa yang mengendarai motor, menjaga agar tubuh mungil menggemaskan itu tidak terjatuh.


Kaki kecilnya sesekali saling mengapit menghindari percikan air hujan dan genangan di jalanan. Mata bulat yang hanya bisa menatap mantel berbahan plastik itu mengerjap lucu. Mengira-ngira sebentar lagi akan sampai pada tempat tujuan dari lintasan paving di bawah sana yang diintipnya.


"Gagaaaa ...." Bersorak riang sambil bertepuk tangan Elly menyambut sosok balita yang lebih tua 2 tahun darinya keluar dari balik mantel hujan.



"Kakak, gak boleh panggil gitu sama Mas Angga!" tegur Rava pada Elly. Putri kecilnya itu terlihat sangat menggemaskan dengan sepatu bot kuning senada mantel hujannya.


Melompat girang Elly yang asik bermain hujan bersama Rava. Meski sempat dilema, namun Rava dan Ara sepakat mengizinkan putri mereka bermain hujan dengan resiko yang ada. Elly memang harus belajar tentang alam, termasuk hujan yang terkadang menjadi momok menakutkan bagi para orang tua.


Meskipun begitu, tentu Rava dan Ara tidak serta merta melepaskan Elly begitu saja. Terbukti dari mantel hujan dan sepatu bot senada yang Elly kenakan. Sama halnya dengan Rava yang juga ikut mengenakan mantel hujan agar putri kecilnya itu tetap belajar untuk menjaga kesehatan dan melindungi diri, walaupun suatu saat nanti dirinya pasti tumbuh besar.


"Jalan pelan-pelan aja, Kak. Jangan lari-lari," pinta Rava dengan nada khawatir. Langkah kecil nan lincah yang melesat cepat meski bisa ditangkapnya itu membuat Rava jantungan. Mau tidak mau Rava tetap takut jika Elly terpeleset dan jatuh.


Sedangkan Ara hanya menatap geli tingkah Rava yang sedikit merentangkan tangan dengan raut wajah pucat pasi mengekori Elly. Ia dilarang Rava untuk ikut bermain hujan. Tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Apa lagi kini Ara kembali mengandung calon buah hati mereka. Maka dari itu Rava dan Ara mulai membiasakan memanggil Elly dengan sebutan 'Kakak'.


"Yah gak boyeh mayah ... Unda biyang ce-paaatt uwa." Elly mengacungkan jari telunjuk pendeknya, menggoyangkan ke kanan dan kiri dengan mata melotot menyerupai Ara.


Meskipun tumbuh kembang Elly tergolong pesat, namun bicaranya belum terlalu lancar. Ia cadel dalam beberapa kata dengan konsonan tertentu, seperti L, R, S dan T. Hanya saja untuk pengucapan huruf T dan S sudah sedikit banyak mengalami peningkatan, meski harus diucapkan dengan usaha yang lebih keras.


"Ayah gak marah, Kakak."


"Yah ini ... Mayah," ucap Elly sambil mengerutkan dahinya seolah meniru raut wajah Rava yang baginya menyiratkan kemarahan.


"Oya? Ayah gak marah, tapi takut Kakak jatuh. Nanti kalau Kakak jatuh yang sakit siapa? Kakak, kan?" ujar Rava lembut sambil merendahkan tubuhnya, berjongkok di depan Elly yang menatap lamat, mencerna ucapan Rava dengan anggukan kecil sebagai balasan. "Nah itu, Ayah gak mau Kakak sakit. Jadi tadi Ayah bukan marah, tapi Ayah khawatir kalau Kakak jatuh."


"Ayo kita jalan pelan-pelan ... Pegang tangan Ayah, ya?" Elly menggenggam jari kelingking Rava, tersenyum lebar pada sosok Angga yang sudah duduk di samping Ara.


Gadis kecil itu mempercepat langkah tidak sabaran. Berhenti di penghujung teras, melepas sepatu bot dan mantel hujan yang kini ada di tangan Rava.

__ADS_1


"Gagaaaa ... Gaga gak main hujan?"


"Sebentar ya, Princess ... Mas Angga kita kasih ini dulu," sela Dimas pada Elly sambil menunjukkan seperangkat hearing aid. Dipasangkan alat bantu dengar itu pada daun telinga sebelah kiri Angga.


"Mami Papi nya ke mana, Dim?" tanya Ara sambil mengusap tangan mungil nan dingin milik Angga. Sejurus kemudian ia meraih bahu Elly hingga gadis itu bergerak lebih mendekat dan menempel di kakinya.


"Maminya biasa lah, kuliah. Kalau Bapaknya kemarin pergi ke Kota P mau lihat lahan kebun. Makanya aku yang jemput dari sekolah," ucap Dimas sembari menepuk-nepuk sebagian celana Angga yang basah.


"Oh gitu ...." Angguk Ara menanggapi jawaban Dimas.


"Jadi gimana persiapan buat acara nanti?" tanya Rava tiba-tiba, ia mengangkat tubuh mungil Elly dalam gendongannya.


"Buat acara lusa udah selesai semua, Pak. Nita juga udah kasih data pembagian tim dari anak-anak organisasi dia. Di tas ini ada fotokopiannya sekaligus rincian siapa-siapa aja yang stay di titik kumpul sehari sebelum acara."


"Koordinasikan aja setiap ketua lapangannya untuk temui aku dulu. Besok suruh datang ke rumah sama Nita juga," ucap Ara sambil beranjak dari duduknya. Ia mengusap puncak kepala Angga yang menunduk, masih diam dan asik menggoyangkan kakinya.


"Soalnya ada yang untuk panti sama bagi-bagi ke semua orang. Aku gak bisa langsung turun, paling temani Mas Rava sampai selesai buka acara aja terus pulang. Bawaan aku pusing terus kalau di tempat terlalu ramai." Tampak Ara mengalihkan usapannya ke puncak kepala Elly yang tidak melepas pandangan dari Angga, satu-satunya teman yang Elly miliki meski jarang berinteraksi. Angga terlalu pendiam dan menutup diri karena keterbatasannya.


"Unda, mau main peyoyooott-ttaaan boyeh?" celetuk Elly tiba-tiba sambil melingkarkan tangan di leher Rava.


"Hujan, Sayang ... Nanti ya kalau udah gak hujan lagi, main perosotan sama Mas Angga. Sekarang Elly mandi dulu yuk sama Bunda biar makin cantik, mau kan?"


"Mau Unda ... Dada Maaa-aaasss Gaga. Eyi mau mandi duyu ...," ujar Elly seraya melambaikan tangan pada Angga yang disambut dengan anggukan dan juga lambaian kecil. Ia memang suka dan semangat jika mendengar kata 'cantik'. Sekilas Ara tersenyum geli mengingat Elly yang aktif, riang dan ramah yang lebih mirip Jona dibanding dirinya dan Rava.


"Ayo masuk, Dim. Kasihan Angga kedinginan." Ajak Rava pada Dimas, matanya menatap Angga kecil yang mulai meremas jemarinya. Tampak anak itu mulai merasa dingin, tapi tetap diam tidak mengeluh.


...----------------...


Hujan mulai reda meski masih menurunkan rintik halus. Malam itu keduanya duduk berdua di ruang keluarga setelah makan malam. Sedangkan Elly asik menyusun mainan ke dalam kotak penyimpanan, sebuah kebiasaan yang Ara ajarkan agar putrinya belajar arti tanggung jawab dan mandiri.


"Papa tadi telepon waktu kamu dandanin Elly, katanya hari ini gak jadi datang. Mau ikut Mama tidur di toko sekalian cek ulang kue-kue kering yang lusa mau dibagi-bagi juga," jelas Rava sambil mengelus perut besar Ara. Tinggal menanti sebentar lagi calon adik untuk Elly, buah cinta keduanya yang akan lahir, berkumpul bersama menambah keramaian keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Kalau yang dari kita aman kan, Mas?"


"Aman, kamu tenang aja. Mas udah suruh Sekretaris Mas koordinasi sama tim dari kantor. Untuk mahasiswa yang ikut kegiatan ini juga udah disediakan sama panitia. Dimas itu kan ketua panitianya. Semoga aja niat baik kamu bisa berjalan lancar."


"Ara kan cuma niat, Mas. Semua ini kalau bukan karena Mas juga gak bisa terwujud jadi kegiatan yang sebesar ini ... Semoga aja dengan ini kita bisa berbagi kebahagiaan kita, meskipun cuma sedikit."


"Undaaa ... Cucah ...," rengek Elly mengalihkan perhatian Ara dan Rava. Terlihat Elly yang berusaha menutup kotak mainannya dengan kedua tangan menekan kuat disertai bibir manyun sedih. Ia kesulitan mengatupkan tutup kotak penyimpanan mainan yang tampaknya terganjal salah satu mainan Elly.


Mengecup singkat pelipis Ara, Rava mengangkat tangannya yang merangkul bahu Ara. Ia beranjak dari duduknya dan berlalu menghampiri Elly. Sedetik kemudian terdengar Rava yang menasehati Elly sembari menunjukkan alasan mengapa kotak mainan itu tidak bisa ditutup rapat oleh putri nya.


Sejenak argumen kecil pun terjadi hingga pembicaraan antara ayah dan anak itu berakhir dengan kecupan lama dari Elly untuk Rava sebagai ucapan terima kasih. Elly memang mudah penasaran dengan keingintahuan yang tinggi.



"Makacih Ayah ... Cayaaaang Ayah banyak-banyak ...," ucap Elly dengan mata berbinar setelah melepas kecupan yang meninggalkan bekas memerah di pipi Rava karena terlalu kuat menekan bibirnya. Kemudian ia berlari menghampiri Ara, merentangkan lengan pendeknya memeluk perut membulat besar milik Bundanya. "Cayang Unda banyak-banyak ... Cayaang Dedek juga ...."


...****************...


*


*


*


Elly udah mau punya adik nih😄


Extra Chapter yang masih bikin penasaran gak sih?😁


(Jujur kaget yang FAV ❤ nambah, padahal udah tag tamat🤭)


Terima kasih ya sudah mendukung novel pertama ku ini🥰

__ADS_1


__ADS_2