
Cup
Cup
"Heh!! Eugh!!" Erang Ara bernada marah.
Cup
Plak
Bugh
Brugh
"KAKAAKKKK!!!!" Suara memekik itu seketika membuka mata Ara selebar daun kelor.
"Baby ngapain kayak gitu??" Tanya Ara pada sosok yang tampak berbaring santai setengah badannya dan menggantungkan kaki di tepi kasur Ara.
Beringsut duduk di samping Ara, wajah cemberut itu membuat Ara sangat gemas.
"Ululuuh.. Adeknya Kakak yang imut-imut kayak dugong ini kenapa??" Ucap Ara sembari dengan lincah jarinya mencubit gemas pipi pemilik bibir monyong itu, "Rian dipukul Mas Jona lagi ya?? Pipi mu merah gini beb.. Ya ampun Adek sayang.. Awas aja Mas Jona nanti yaa.. Biar Kakak hih gitu!"
Ara melempar selimutnya ke sembarang arah bersiap tempur memarahi Jona. Pipi Rian sangat merah, nyaris seperti tomat goreng. Ara paham betul tangan Adik sulungnya itu sangat ringan, bahkan saat tertawa Jona bisa tanpa sadar memukul siapapun di dekatnya hingga babak belur.
"Yang mukul tangan kakak. Rian tadi cium pipi malah dipukul." Langkah kaki Ara terhenti tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka. Sudah seperti patung yang bisa diputar kepalanya, Ara menoleh menatap Rian. Saat saraf otaknya benar-benar menyambung, dengan secepat mungkin Ara berlari memeluk Rian, si Adik kecil kesayangannya.
"Pantesan tangan kakak panas tadi. Maaf ya sayangnya Kakak.. Kirain tadi mimpi ditempel kelinci laut, rupanya dicium beruang madu." Ucap Ara sembari mengelus pipi Rian yang mungkin ditampar dan dipukulnya itu.
"Kelinci laut? Memang ada ya Kak?" Tanya Rian dengan kepala yang sudah mendongak miring ingin menatap Ara.
"Itu loh yang kayak siput tapi kecil gak punya rumah terus gak pakai baju." Mengurai pelukan pagi hari itu, Ara meraih handuk oren berlalu meninggalkan Rian yang masih penasaran dengan wujud kelinci laut.
"Kakak mau kemana??" Tanya Jona sambil mengernyit heran.
"Hari ini tanggal merah tau kak sampai besok." Ucap Jona lagi pada Ara.
"Masa??" Melotot kaget Ara pada Jona, tangannya yang sibuk mengikat tali sepatu terhenti.
"Kan kebiasaan gak lihat kalender Kakak ini. Asal pergi aja mentang-mentang masih selasa. Ini kalau gak Jona kasih tau pasti udah kayak piyik nyari induknya. Ketahuan banget gak belajar padahal kemaren bilang ini minggu ujian semesternya." Layaknya rapper profesional Jona mulai mencerca Kakak-nya dalam satu tarikan nafas.
"Udah tau kali.. Kakak emang mau pergi. Bilangin Mama ya Mas ganteng.." Ujar Ara sembari berlalu menuju motor matic pink yang mau tidak mau memberi Ara tumpangan itu.
"Untung Jona ngomong dulu. Bisa garing di kampus sendiri. Pantes Pak Kim minta ketemu kamis." Membatin lega, Ara sangat berterima kasih pada bibir cerewet Jona.
...----------------...
I’m feeling just fine, fine, fine
I’ll leave your hand now.
I know I’m all mine, mine, mine
Cuz I’m just fine
I’m feeling just fine, fine, fine
I will not be sad anymore
I could see the sunshine, shine, shine
Cuz I’m just fine, just fine
~
(BTS - I'm Fine (English Ver.))
Alunan nada dengan lirik menguatkan diri Ara itu keluar dari earphone hitam yang sudah sedari tadi nangkring di telinganya. Tidak perduli hari itu tanggal merah atau tidak, Ara perlu mengkonfirmasi gedung yang pernah Mas Ega tunjukkan sebagai tempat Bang Dewa bekerja.
Perkara bantuan yang Mas Ega akan lakukan sudah Ara tidak pedulikan lagi. Cukup bukti perselingkuhan Kak Dinda yang nanti akan Ara berikan sebagai hadiah perpisahan dengan Bang Dewa. Biarlah Ara menjadi tega, toh itu juga ada baiknya untuk Bang Dewa.
__ADS_1
"Permisi Pak." Ucap Ara pada Bapak-bapak berkepala separuh plontos yang baru saja keluar dari gedung kantor.
"Maaf kalau saya ganggu Pak. Di sini apa ada karyawan yang namanya Dewa ya Pak?" Lanjut Ara berucap.
"Dewa yang mana ya Mbak?? Di sini ada banyak Dewa. Mau Sadewa, Dewan, Dewantara, Dewa Banyu, De..."
"Dewa Radit Anggara, Pak." Ucap Ara cepat memotong nama selanjutnya yang akan disebutkan Bapak itu.
"Hm.." Berdehem sejenak, Bapak itu mengerutkan dahinya seperti sedang berpikir.
"Coba tanya Mas satpam itu Mbak. Kayaknya anak baru yang Mbak cari. Saya cuma tau yang udah kerja minimal 5 tahun di sini." Ucap Bapak itu sambil mengusap puncak kepalanya yang sudah kinclong dan menunjuk seorang satpam yang tengah asik menyeruput kopi hitamnya.
Belum juga sempat Ara bertanya pada satpam, ekor matanya sudah menangkap sosok Bang Dewa. Dengan langkah seribu Ara kejar bayangan Bang Dewa yang berjalan menghampiri Honda CRF hitam di parkiran depan gedung yang sudah Ara pantau hampir seharian.
"Bang Dewa.." Panggil Ara lantang.
"Iya." Ucap Bang Dewa singkat, namun mampu membekukan Ara.
......Jangan berani-beraninya deketin aku! Bikin jijik aja......
......Gak punya malu banget orang sejelek itu......
......Pinter sih, tapi sumpah gendut jelek banget......
......Mungkin cuma mimpi dia bisa jadi cantik......
Suara yang sama dengan sosok di hadapan Ara menggemakan hinaan di pendengaran Ara. Bayang-bayang tragis kisah cinta yang bahkan belum Ara ungkapkan kembali berputar.
"Maaf, siapa ya?" Ujar Bang Dewa menatap Ara yang justru masih terdiam.
"Halo??" Lagi-lagi masih Bang Dewa yang bersuara. Tangan Bang Dewa sudah melambai-lambai mengisyaratkan Ara untuk sadar bahwa ada makhluk hidup di hadapannya.
"I-iya." Jawab Ara tergagap. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga menyakiti sisi kiri dadanya.
"Aku bisa. Aku bisa. Ara bisa." Ucap Ara dalam hati sembari mengepalkan tangannya.
"Iya, saya kenal. Bisa saya minta waktunya sebentar??" Ucap Ara mantap, namun alih-alih menatap bola mata lawan bicaranya, Ara malah menatap tajam jakun Bang Dewa.
Saat ini keduanya masih berdiri pada posisi yang sama berjarak 1,5 meter dengan sorot mata Ara yang masih berkelana tidak fokus, nafas berat tercekat, jantung disko dan telapak tangan yang banjir keringat.
"Ada sesuatu yang harus saya kasih dan bicarakan dengan Abang. Tapi sekarang gak saya bawa takutnya Abang gak ada."
"Ini bukan modus penipuan kan?" Tanya Bang Dewa curiga.
"Bukan Bang. Saya Vya. Kalau Abang bisa, tolong temui saya hari kamis di pondok kuning dekat simpang lampu merah sepulangnya Abang dari kantor." Ujar Ara yang enggan mengenalkan dirinya dengan nama panggilan 'Ara' sembari menyerahkan kertas yang sudah ia tulis nomor ponselnya.
...----------------...
Di sini Ara saat ini menanti Bang Dewa penuh kekhawatiran. Pemilik tangan yang terus bergetar itu mengharapkan sosok yang ditunggunya hadir, meski sepatah katapun tidak Ara terima pada pesan di ponselnya.
Tubuh dan hati Ara memang masih bergejolak hebat menolak pertemuan yang mungkin akan terjadi. Keringat dingin tidak hanya membasahi telapak tangan Ara, namun baju di balik punggung Ara rasanya sudah cukup bisa untuk diperas. Akan tetapi sikap keras kepala Ara terus menguatkan bahwa ia mampu, ia bisa dan tidak akan mundur sebelum perang benar-benar dimulai dan diakhirinya sendiri.
Langkah kaki tidak beraturan sudah terasa semakin mendekat. Aroma parfum yang cukup Ara kenali juga hampir jelas tercium. Ara berharap bukan sosok ini yang menghampiri Ara terlebih dahulu. Rasa cemas yang tiba-tiba membuat kepala Ara terasa pusing, hingga dering ponselnya memunculkan kelegaan dan membentuk seringai tipis di bibir Ara.
We got that power power
Niga nareul ***-ttae
Seoro gateun maeumi neukkyeojil ttae
Power power
Deo ganghaejineungeol
Turn the music up now
...
__ADS_1
(EXO - POWER)
Ingat kembali bahwa nada dering ponsel Ara akan sering berganti sesuai lagu yang sering Ara dengarkan kala itu.
"Halo?"
"..."
"Bang Dewa ya?"
"..."
"Iya. Saya udah di dalam. Di meja ujung, pakai jumpsuit kotak-kotak biru." Ucap Ara percaya diri.
Bagaimana tidak percaya diri bila Ara sudah menghabiskan waktunya berdandan dan mengenakan pakaian terbaik pilihan Mama Lauritz meski baru pertama kali ia gunakan. Sudah seperti akan melakukan kencan pertama saja.
Sedangkan sosok yang hendak menghampiri Ara hanya mampu terdiam mematung. Sosok itu masih mencoba mencerna situasi yang sebenarnya terjadi. Dirogohnya ponsel yang berada di saku celananya itu, ia menatap pesan terakhir di ponsel yang ia terima sebelumnya.
📩
*My Nymph***💕*
Bisa ketemunya di pondok kuning aja?? Kebetulan saya masih ada urusan di situ*.
Ada rasa kecewa yang harus ditepis kala melihat gadisnya sudah duduk berhadapan dengan laki-laki lain. Bahkan dengan penampilan luar biasa yang baru pertama kali ia lihat. Tidak ada kaos oblong, baju kedodoran, jaket levis, hoodie atau style boyish andalan Ara biasanya. Kali ini Ara terlihat sangat-sangat manis.
Drek
Ditariknya kursi untuk menompang tubuh lelahnya, sosok yang masih jelas terlihat kecewa dengan tatapan mata sendu itu memilih duduk dekat dengan Ara saling membelakangi. Berharap segala percakapan yang Ara lakukan dengan laki-laki yang juga ia kenali itu dapat terdengar jelas.
...****************...
Hi kakak-kakak.. Kenalin dulu ini Kelinci Laut atau Sea Bunny🐰
Kelinci Laut itu termasuk jenis siput yang gak punya cangkang dan panjangnya cuma sekitar 2,5 cm aja. Warna kelinci laut gak cuma kayak yang digambar itu aja yaa.. Masih banyak lagi😁
Kelihatan lucu kan??😊
*
*
*
Cover novel ganti lagi loh.. Suka gak?? 😁 (Disuruh ganti, ya udah ku ganti lah😌)
Sampai sini udah ada pencerahan kan gimana alur selanjutnya??🤭
Gimana sikap Ara nanti bakal aku ulas lebih di bab khusus yaa.. mungkin ada yang bertanya-tanya 'Serius orang yang katanya trauma bisa ambil tindakan kayak gitu?' atau 'Katanya PTSD, kok kayak takut biasa'.
Bisa jadi juga itu cuma rasa cemas ku dari banyak pikiran takut kakak-kakak semuanya mikir gitu🤭
Jujur aku berusaha bikin ini serealistis mungkin supaya ngehalunya lebih lancar. Semoga gak jadi lebay ya😁
(Duuh.. Gimana ya ngehalu tapi realistis??🤔😳)
Dan jujur lagi, aku udah banyak potong naskah asli biar gak bertele-tele jalan ceritanya.. Aku aja yang bikin baca ulang nyaris bosan, takut orang lain juga sama😆
*
*
Maaf juga 2 hari ini aku pasif gara-gara lagi drop, tekanan darah rendah melanda😞
Sekali lagi nih, yang mau kepoin apa hal yang disukai Author "Aara Bukan Lara" bisa ke IG : @hi.onelight (ini gak penting, cuma promo abal-abal)
__ADS_1