
Tin.. Tinn..
"ASTAGA!!" Tersentak kaget Ara saat melewati sebuah mobil Avanza yang baru saja berhenti di dekatnya.
"Cewek.. Ikut Abang yuk.." Goda si pengendara mobil setelah menurunkan kaca mobil itu.
Bugh
"ADUH RA!! Sakit tau!! Itu botol keras malah buat mukul orang." Pekik Bang Gilang sembari mengelus lengannya yang Ara pukul dengan botol air minum.
"Lagian ngagetin aja!!" Ucap Ara ketus.
"Kan namanya kejutan. Udah ayo masuk!" Perintah Bang Gilang pada Ara.
"Kok bisa jemput?? Tau dari mana Ara gak bawa motor??" Tanya Ara sambil memasang seatbelt.
"Ya tau lah, kan yang dorong motor mu ke bengkel itu Abang. Lagian gimana caranya gerak dari gedung ke sini?? Jalan kaki Ra??" Tanya Bang Gilang yang ingin menjemput Ara di sekitar terminal bus fakultasnya, namun justru sudah melihat Ara di depan gerbang utama kampusnya yang jaraknya cukup jauh dari gedung fakultas Ara.
"Ini pasti bawa mobil orang diem-diem kan? Nyolong nih." Memilih mengabaikan pertanyaan Bang Gilang, Ara mengalihkan pembicaraan dengan menuduh Bang Gilang sesuka hatinya.
"Enak aja. Kanjeng Mami yang suruh Abang jemput kurcacinya. Kalau mobil ya jelas Pak Bos yang suruh bawa mobilnya sekalian buat tes, kalau mogok nanti dorong ya Ra." Bang Gilang mengedipkan mata kirinya dengan genit.
"Eh Bang berhenti dulu!!" Ucap Ara tiba-tiba.
"Kenapa lagi?? Jalan aja baru kita Ra.. Mesinnya baru nyala sebentar ini." Jawab Bang Gilang sembari menepikan mobil yang dikemudikannya.
"Abang tolong pura-pura romantisin Ara Bang di dekat orang itu." Tunjuk Ara pada seseorang yang tengah berjalan perlahan sembari memainkan ponselnya.
"Ogah. Kalau ada yang lihat harga jual Abang bisa turun Ra di mata cewek-cewek di sekitar sini. Gimana kalau seandainya ada yang naksir Abang terus mundur gara-gara lihat kita romantisan??" Ucap Bang Gilang menolak permintaan Ara.
"Nilai jual Bang.. Harga jual lagi. Heehh.." Mendelik Ara pandang Bang Gilang.
"Pokoknya itulah. Lagian kurang belaian banget sih Ra." Ucap Bang Gilang yang tampaknya sedang menahan tawanya.
"Gado-gado Mbak Tuti seminggu deh." Negosiasi jual beli akhirnya mulai dilancarkan.
"Lebih ogah itu." Ujar Bang Gilang cepat.
"Kenapa?? Bukannya sebelum Mbak Tuti nikah deket sama Abang?? Udah janda loh sekarang.." Menaik turunkan alisnya Ara menggoda Bang Gilang.
"Dia Ra yang suka deketin sama godain Abang, tapi tiba-tiba nikah sama yang lain." Jawaban penuh kesal dari Bang Gilang.
"Ciyee.. Ada yang nyesek ini. Hahahaha.." Gelak tawa Ara mengisi penuh sesak mobil itu.
"Udahlah pokoknya seminggu gado-gado, tapi bantuin.. Ikatin tali sepatu juga gak apa-apa." Lanjut Ara.
"Romantis apa itu?? Aku dijadiin pembantu iya." Gerutu Bang Gilang namun ia tetap turun dari mobil mengikuti Ara yang sudah berjalan di depannya terlebih dahulu.
"Sayang tunggu.. Tali sepatu kamu itu loh." Ucap Bang Gilang tiba-tiba sembari mengurai kembali tali sepatu Ara. Meski sempat syok ternyata Bang Gilang juga memanggilnya dengan kata 'sayang', namun Ara puas saat ekor matanya menangkap tatapan kesal orang yang di targetnya.
"Ih Abang manis banget sih." Ucap Ara yang sebenarnya geram. Tali sepatu itu diikat sekencang mungkin, bisa Ara lihat gigi Bang Gilang sedang mengatup rapat dari celah bibir yang sedang menyeringai itu.
__ADS_1
"Kurang ajar nih orang. Awas aja." Batin Ara.
"Udah Bang. Orangnya udah pergi." Ucap Ara tiba-tiba sembari berlalu meninggalkan Bang Gilang yang masih berjongkok dengan terbengong itu.
"Ra.. Abang jadi merasa tertipu." Ujar Bang Gilang saat langkah kaki keduanya sudah sejajar.
"Tertipu apa?" Mengeryit kebingungan Ara mendengar keluhan tiba-tiba dari Bang Gilang.
"Dulu Abang kira Ara pendiam gitu. Iya sih pendiam, tapi pas udah kenal lama, udah biasa ngobrol lah alamak kayak panci dipukulin." Ucap Bang Gilang sembari berlalu meninggalkan Ara dengan cepat. Jika botol minum masih di dalam mobil, bukan berarti tas punggung Ara tidak bisa menghantamnya begitu pikir Bang Gilang yang sudah hafal sifat Ara.
Menghabiskan waktu 40 menit di perjalanan, saat ini Ara sudah di rumahnya menggenggam amplop berisi uang 15 juta. Sebelum kembali ke bengkel, Bang Gilang mengembalikan uang hasil kejahatan keduanya pada Ara, rupanya Bang Gilang sengaja mengambil tugas menjemput Ara untuk uang itu.
Ara sudah mengira hal ini jauh-jauh hari, orang sebaik Bang Gilang pasti tidak akan tenang hidupnya jika mengambil hak orang lain. Belum lagi permohonan Bang Gilang untuk ikut meminta maaf pada korban bila Ara ingin mengembalikan seluruh uang sisanya. Ara jadi merasa sangat bersalah karena memberi beban hidup lain pada Bang Gilang.
...----------------...
"Permisi.."
"Ganteng." Ucap Yuki lirih menatap takjub sosok rupawan tipe idealnya itu. Sedangkan Ara sudah gemetaran tidak mampu melepas pandangan keterkejutannya yang penuh kilatan amarah.
"Maaf Kak, kalau mau ke fakultas ekonomi di sini gedungnya yang sebelah mana ya? Saya tadi di kasih tau harus lewat sini." Tanya orang itu.
"Ya ampun Abang gantemmm.." Seketika mulut Yuki dibungkam Dimas dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf Bang.. Kalau lewat sini kejauhan, jadinya Abang mutar-mutar. Harusnya dari gerbang utama kampus Abang ambil lurus terus bukan belok ke kanan." Ucap Dimas yang masih setia membungkam mulut Yuki. Kondisi Ara saat ini masih terdiam, telapak tangan yang sudah sangat basah itu saling menautkan jari-jemarinya untuk menguatkan hati.
......Kamu punya kaca? Ngaca sejelek apa muka mu itu......
......Gak punya malu banget orang sejelek itu......
......Pinter sih, tapi sumpah gendut jelek banget......
......Mungkin cuma mimpi dia bisa jadi cantik......
"Ra!?" Sentak Yuki sembari menggoncang pelan tubuh Ara. Ternyata sudah cukup lama sosok itu menghilang dan Ara terhanyut dalam kenangannya.
"Gak apa-apa kan Ra?" Tanya Dimas khawatir.
"Jangan bilang yang barusan masa lalu mu juga?" Memicingkan matanya Dimas bertanya serius pada Ara. Sungguh keajaiban dunia sepertinya mendapati Dimas yang tiba-tiba memiliki tingkat kepekaan tinggi.
"Tapi gak mungkin deh. Gak kelihatan kenal kok orang tadi. Pasti lagi terpana ya?? Kalian ini kenapa sih kalau sama yang ganteng-ganteng cepat banget?? Aku segitunya gak ganteng apa??" Tanya Dimas dengan kesal dan bertambah kesal saat Ara dan Yuki mengangguk serempak.
"Dia tadi nanya apa aja?" Tanya Ara pada Dimas yang tidak bisa mengubur rasa penasarannya.
"Segitunya terpana sampai gak dengar omongan kami Ra?? Apa jangan-jangan bahkan di belakang cowok tadi muncul efek bling-bling di mata mu Ra??" Mengerutkan dahinya, Dimas bertanya penuh penekanan.
"Lebay." Bukan Ara yang mengatai itu, tapi Yuki.
"Katanya itu cowok intinya mau ketemu Pak Kim." Ucap Yuki.
"Buat apa?" Tanya Ara kembali.
__ADS_1
"Mana kita tau." Jawaban Dimas dan Yuki serentak.
"Oya, Ki. Di grup fanbase Pak Kim itu isinya apa aja?" Ara mengalihkan pembicaraan sebelum Dimas dan Yuki sempat menggodanya kali ini.
"Baru juga kesemsem sama cowok lewat, ehh sekarang bahas Pak Kim." Celetuk Dimas.
"Sumpah ni anak berisik banget sih. Kalau gak mau terasing mending ikut ghibahin kumpulan cogan." Ujar Yuki pada Dimas.
"Mending aku ke lab kencan sama mikroskop ngintipin plankton." Ujar Dimas sembari mengemasi isi tasnya dan berlalu menuju gedung laboratorium.
...----------------...
"Dewa Radit Anggara.." Ucap Ara lirih sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Kamu gak berubah. Masih sama kayak dulu. Tapi kamu gak kenal aku." Lanjut Ara dengan senyum yang penuh makna.
"Hah!! Dari dulu juga kamu gak mau kenal aku." Helaan nafas kasar Ara menambah beban yang terasa mengganjal di jantungnya.
"Aku sekarang cantik dan aku gak sedang mimpi. Aku cantik.. Aku gak perlu mimpi.. Aku cantik.. Aku udah gak gendut.. Aku gak tidur.. Aku gak mimpi.. Iya, ini aku. Aku udah cantik.. Aku gak jelek.. Aku cantik.." Ucap Ara dengan suara parau, ia tergelak tawa pelan. Akan tetapi mata yang terus menatap langit-langit kamarnya itu mengalirkan air begitu deras hingga menyamarkan pandangannya.
...****************...
Plankton : Organisme kecil/mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di perairan, mempunyai gerak sedikit dan tidak bisa melawan arus, sehingga mudah terbawa arus.
Plankton bisa digunakan sebagai pakan ikan alami, sedangkan untuk lingkungan sendiri plankton bisa digunakan untuk indikator kondisi lingkungan, seperti penanda adanya pencemaran atau peningkatan pemanasan global dan lain-lainnya.
Pernah dengar/lihat istilah RED TIDE misalnya di berita TV??
Nah.. RED TIDE itu istilah buat menyebutkan ledakan populasi plankton.. Kalau ada yang ingat dan tau berita tahun 2015 laut di Pulau Ai Kepulauan Banda Kabupaten Maluku Tengah yang berubah merah atau tahun 2019 ada kematian massal biota laut di teluk Ambon.. Itu kasus efek ledakan populasi plankton.
Plankton dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Fitoplankton (Plankton Tumbuhan) memiliki sifat sama seperti tumbuhan yang memiliki klorofil sehingga Fitoplankton juga melakukan fotosintesis.
2. Zooplankton (Plankton Hewan), perlu sumber energi dari memakan fitoplankton.
Kalau lihat danau air nya hijau itu kenapa ya??
Bisa jadi populasi Fitoplankton jenis Chlorophyta (Alga Hijau) tinggi.. tapi tetap perlu di cek spesiesnya apa yaa😄
Jadi, plankton di Spongebob itu Fito atau Zoo yaa??🤔🤔
*
*
*
Duh pusing bahas plankton.. kita lihat visual Abang Dewa Radit Anggara aja yuk😁
__ADS_1
Ada yang bener gak nebak kemarin??🤭