
Gigi putih yang berbaris rapi seakan merasa kekeringan karena terlalu lama terpapar udara dan kilau sinar mentari. Senyum sumringah terpatri di wajah rupawan Rava sambil merangkul mesra pinggang Ara. Langit biru dengan awan yang bergumul menjadi saksi Rava dan Ara baru saja menyelesaikan administrasi pendaftaran pernikahan mereka.
“Minggir deh, Mas! Gak enak dilihat orang lain jalan lebar tapi nempel-nempel gini.” Keluh Ara lirih, mendorong tubuh Rava serta menepis tangan yang bertengger santai di pinggangnya. Sayangnya telapak tangan Rava seolah sudah tertempel lem dan terpaku baja hingga sulit untuk dibebaskan dari pinggang Ara.
“Salahnya mereka lihat.” Ucap Rava acuh, justru tersenyum semakin lebar memamerkan sifat posesif atas diri Ara.
“Besok kita jadi foto prewedding?” Tanya Ara sambil menatap Rava yang sedang memasangkan seatbelt untuknya.
“Harus jadi. Mas tadi udah dikabari lagi kalau kamu besok harus mulai dandan jam 3 pagi.”
“Serius?” Terperanjat Ara bertanya dengan mata melotot tidak percaya. Tidak ingin Ara bayangkan disaat dirinya masih mengantuk tapi sudah harus bertempur dengan aneka perlengkapan make up.
Awalnya Ara menolak melakukan sesi foto prewedding, bahkan pernikahan yang ia harapkan hanyalah sebuah resepsi sederhana. Akan tetapi berbeda dengan Rava yang menginginkan moments bersejarah itu dilangsungkan dengan megah, meninggalkan kesan membekas tidak hanya untuk dirinya dan Ara, namun semua orang yang menikmati pesta.
Oleh karena itu, berkat kegigihan Rava membujuk yang tiada habisnya, ditambah Kakek Baren yang beberapa hari lalu datang ke Kota B mengikuti gladi bersama tidak kalah ngotot menyuruh Ara agar rangkaian persiapan semakin sempurna, maka mau tidak mau Ara menyetujui melakukan foto prewedding.
Jangan kira drama yang harus dihadapi berhenti begitu saja. Ara yang tidak suka make up tebal dan gaun yang terlalu mewah tentu sudah berontak, namun demi menyenangkan hati Rava, sekali lagi terpaksa Ara mengalah dan menurut.
Bisa dipastikan hampir 80 persen konsep pernikahan yang diusung adalah pilihan Rava. Kali ini Rava tidak perduli jika harus disebut egois, karena jika menuruti semua kemauan Ara bisa dipastikan akan berakhir seadanya, jauh dari kata sederhana yang selalu Ara sebutkan.
...----------------...
Menanti dengan tidak sabaran, Rava hanya perlu menghabiskan beberapa detik lagi sebelum bisa bertemu kembali dengan Ara yang sedari tadi telah dimonopoli para penata rias. Melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Rava menghela nafas gusar.
__ADS_1
Srak..!
Sepersekian detik setelah hembusan nafas Rava berhasil terlepaskan, sebuah tirai berwarna krem disingkap, menyembulkan sesosok gadis pemilik singgasana di hati seorang Aquila Ravandra Kim. Dengan langkah ragu gadis yang tidak lain adalah Ara itu memangkas jarak diantara dirinya dan Rava.
“Aneh ya?” Tanya Ara pada Rava yang terbengong memandangi gadis cantik di hadapannya. Dunia Rava seakan berhenti berputar hanya untuk mengagumi keindahan nyata di depan matanya.
Memalingkan pandangan, Ara berdehem keras memecah kecanggungan nya. Sorot mata Rava yang lekat membuat Ara semakin gugup. Bukan meragukan kemampuan para MUA yang meriasnya, namun mungkin saja Rava merasa aneh pada penampilannya yang sangat berbeda itu.
“Cantik.” Hanya satu kata, namun benar-benar membuat Ara melayang. Semburat merah tanpa basa-basi langsung menampakan wujud di pipi Ara yang sudah terpoles make up tebal. Mengedarkan pandangannya, Ara sangat malu saat mendapati reaksi orang-orang yang mengamati interaksi dirinya dan Rava.
“Kayaknya Mas harus cari cara agar kamu tetap di bumi. Mas takut tiba-tiba kamu pulang kalau kayak gini.” Ucap Rava tiba-tiba bermaksud melancarkan pujian atau yang lebih familiar disebut dengan gombal.
“Apaan sih?” Mengernyit heran, Ara yang tadinya sudah malu-malu kini menjadi dibuat kebingungan.
“Ternyata bidadari kalau kesel tetap cantik ya..” Ucap Rava lagi yang semakin tidak jelas bagi Ara. Nyatanya bukan Rava yang tidak jelas, Ara saja yang kurang peka pada kalimat penuh gombal Rava.
“Mas, Mbak, bisa kita pergi sekarang? Sebentar lagi sunrise muncul.” Suara seseorang yang Ara yakini sebagai fotographer yang sebelumnya sudah Rava kenalkan menginterupsi obrolan receh sepasang calon pengantin itu.
Kini berlatar matahari terbit, Rava dan Ara berlari kecil di pantai sambil bergandengan tangan. Sejenak rasa canggung sirna, berganti tawa riang Ara yang merasa lucu pada tingkahnya dan Rava demi sebuah hasil jepretan yang bagus sesuai arahan sang fotographer. Sedangkan Rava yang tadinya hanya mampu berekspresi kaku sudah bisa menarik kedua sudut bibirnya tersenyum penuh cinta, tersihir oleh tawa riang Ara. Padahal Rava sendirilah yang ngotot ingin melakukan foto prewedding.
Lelah yang mendera tidak dirasa, berbagai pose sudah Rava dan Ara lakukan. Hingga matahari mulai naik, kini setengah badan Rava sudah tenggelam di dalam luasnya sapuan ombak pantai. Menggendong Ara ala bridal style, sapuan ombak yang menggulung terasa menabrak di sebatas pinggang atas Rava. Sedangkan Ara saat ini sudah melingkarkan tangannya di leher Rava dengan dahi yang hampir saling bersentuhan. Sungguh pemandangan yang mengguncang keteguhan hati para jomblo.
Meninggalkan moments yang sangat berarti untuk kedua calon pengantin itu. Terhitung saat ini tersisa satu minggu lagi sebelum acara yang akan membawa warna baru di hidup Ara dan Rava berlangsung.
__ADS_1
Kini kedua sahabat Ara sudah duduk manis tertawa riang saling mengejek dan menggoda, namun semua materi obrolan yang dilontarkan selalu berisi nama Ara. Gatal dan kesal tidak dapat dihindarkan oleh telinga Ara yang selalu menangkap suara keduanya. Belum lagi Jona, Mama Lauritz dan Papa Yudith juga ikut-ikutan menambah bumbu godaan itu. Beruntung Rian memang pendiam dan lebih suka dengan dunia game yang ia mainkan.
“Kak, kasih undangannya ke Yuki sama Dimas. Nanti Kakak lupa lagi.” Ucap Mama Lauritz menyuruh Ara memberikan undangan pernikahannya dengan Rava kepada Yuki dan Dimas.
“Gak pakai undangan juga aku pasti datang, Tante. Ada makanan gratis gak boleh disia-siakan.” Seloroh Dimas sekenanya diakhiri gelak tawa seluruh orang, kecuali Ara, Rian dan Yuki. Jika Rian dan Ara hanya diam, berbeda dengan Yuki yang sudah menoyor kepala Dimas sambil mencebikkan bibirnya.
“Udah, Kak, ambil sana dulu.” Ucap Mama Lauritz yang kembali menyuruh Ara mengambil undangan pernikahan yang sengaja disisihkan atas nama Yuki dan Dimas.
Beranjak dari duduknya, Ara berjalan gontai menuju kamarnya di lantai atas. Dua lembar undangan sederhana berada di atas nakas. Meraih kedua undangan tersebut, Ara kembali bergabung bersama keluarga dan sahabatnya.
“Ini.” Ucap Ara singkat sambil menyodorkan kedua undangan di tangannya ke hadapan Yuki dan Dimas bergantian.
“Wah.. Gak nyangka setelah ini cuma aku yang jomblo.” Ucap Dimas sambil mengamati undangan yang sudah berpindah ke tangannya. Sedangkan Yuki hanya mampu tersenyum kecut dengan helaan nafas tipis yang menyesakkan. Ia bahagia, namun juga sedih karena di angannya berharap bisa sebahagia Ara.
...****************...
*
*
*
Datang ya besok di nikahannya Ara dan Rava.😄
__ADS_1
Semoga ada reporter Dimas yang meliput menu makanan apa aja di acara nikahannya Ara.🤭
Terima kasih untuk semuanya yang sudah setia menemani Hana berjuang dalam khayalan receh di kisah Ara ini🥰