
“Setelah tau Bima kecelakaan, Nenek inisiatif minta tolong keluarga dari pihak Ayahnya Bima karena Bima perlu tindakan secepatnya dan Nenek gak punya pegangan cukup untuk menutup seluruh biaya. Kebetulan sebenarnya orang tua Ayahnya Bima masih ada dan mereka cukup berada, kalau gak begitu Nenek gak tau lagi apa Bima masih bisa bertahan sampai sekarang.” Kalimat panjang itu terjeda helaan nafas yang terhembus berat.
“Jadi di sana masih ada keluarga Bima lainnya yang bantu merawat. Makanya sekarang Nenek bisa pulang untuk mengurus kepindahan. Paling sementara pamit ke Pak RT sama tetangga aja dulu.” Lanjut Nek Imah berkata dengan maksud agar Ara tidak perlu khawatir lagi.
“Syukurlah kalau gitu, Nek..” Ucap Ara lega. Setidaknya dalam kondisi tersulit nya, Bima tidak berjuang seorang diri. Ara juga berharap semoga keluarga Bima mau menerima kondisi Bima tanpa penolakan yang menyakitkan.
“Kasihan Bima.. Demi temani Nenek, anak itu rela tinggal dan hidup susah dari hasil jualan kue-kue aja. Padahal keluarga Ayahnya bisa kasih apapun yang Bima mau kalau dia minta.” Tutur Nek Imah sambil menerawang jauh ke masa lampau. Masa-masa Bima yang baru beranjak remaja enggan berpisah dari sang Nenek, sosok yang melahirkan Ibunya. Meski sempat terjadi perselisihan antar orang tua pada keputusan Bima yang ingin mengikuti Nek Imah, menemani perempuan tua itu agar tidak hidup sebatang kara.
Singkat cerita, akhirnya Ara mengetahui bahwa kedua orang tua Bima meninggal sekitar 11 tahun lalu berselang dalam waktu yang tidak cukup jauh. Ayahnya yang terburu-buru pulang setelah dikabarkan istrinya pendarahan meninggal dalam kecelakaan beruntun. Sedangkan Ibunya yang sedang hamil besar tidak selamat bersama bayi dalam kandungannya karena terlambat mendapatkan penanganan.
Saat itu menjadi kondisi paling menyedihkan bagi Bima. Ia sudah beranjak remaja dan bahkan dirinya sempat malu akan memiliki seorang adik di usianya yang sudah belasan tahun. Namun takdir berkata lain, adik yang mulai ia tunggu kehadirannya pergi bersama Ayah dan Ibu meninggalkan dirinya.
“Dari kecil dia itu anak yang penurut dan berbakti. Nenek rasanya ingin menukar nyawa saat tau kecelakaan Bima gara-gara orang bawa mobil ugal-ugalan itu. Mau Nenek sumpahin juga dia udah gak di dunia ini.” Ucap Nek Imah kesal bercampur putus asa dan miris.
“Apa yang dulu meninggal orang yang nabrak?” Ucap Ara dengan pupil melebar dan mulut terbuka yang sudah ditutupi telapak tangannya. Tiba-tiba otaknya sudah berspekulasi dalam dugaan baru.
“Sepertinya gitu nak.” Ucap Nek Imah ragu, namun membenarkan dugaan Ara.
Kini Ara mendengus kesal pada dirinya sendiri yang akhirnya mengingat kelakuannya. Ia yang sudah kalut saat itu justru tidak mendengarkan informasi secara lengkap. Otaknya sudah memilih jawaban sendiri bahwa Bima lah yang meninggal. Bahkan ia baru mengingat bahwa Papa Yudith sempat menyebutkan ingin pergi ke rumah sakit di pusat Kota bersama Pak RT untuk mencari informasi.
‘Astaga Ara!! Bodohnya kamu!!’ Umpat Ara dalam hati pada dirinya sendiri.
Ara juga cukup menyesali sikapnya yang berubah tidak perhatian pada informasi seputar Bima. Seharusnya ia bisa bertanya pada Papa Yudith lagi sehingga mendapat kejelasan, begitu pikir Ara.
“Kamu naik pesawat jam berapa?” Celetuk Nek Imah tiba-tiba seolah menjadi alarm bahaya bagi Ara.
“Hampir aja Ara lupa kalau harus pergi, Nek. Ara pamit dulu ya Nek..” Ucap Ara sambil membungkukkan badannya, meraih tangan Nek Imah.
“Maafin Nenek juga yang jadi cerita kemana-mana. Hati-hati di perjalanan.” Ucap Nek Imah sambil menepuk pelan bahu Ara.
“Iya, Nek.. Nenek juga hati-hati ya nanti.” Ucap Ara sambil mulai melangkah keluar toilet.
“Kakak!!??” Sentak Jona pada sang Kakak. Mengguncang kuat lengan Ara yang terlalu fokus berjalan cepat dengan langkah lebar.
__ADS_1
“Mamas kok masih di sini?” Tanya Ara dalam keheranan. Keduanya kali ini sudah berlari kecil.
“Ayo berangkat!!” Ucap Jona lagi dengan ketus. Ia cukup kesal karena panggilannya beberapa kali Ara abaikan. Bahkan Jona harus rela menyusul Ara dan menunggu di luar pintu utama toilet khusus perempuan itu. Namun hasilnya ia justru tidak terlihat oleh mata Ara, terlewati begitu saja dan ditinggalkan. Sungguh Jona sudah mendengus kesal beberapa kali dan siap mengamuk.
“Kakak kenapa lama banget? Kamu mencret??” Tanya Mama Lauritz tiba-tiba sesaat setelah langkah Ara terhenti di dekatnya.
“Tadi Ara ketemu Nek Imah di toilet, jadi ngobrol sebentar.” Jawab Ara tanpa menatap Mama Lauritz, matanya sibuk memindai penumpang lainnya yang juga sedang mengantri untuk check in. Meski tampak tidak saling perduli, tapi Ara yakini telinga orang-orang itu dapat menangkap jelas perkataan Mama Lauritz.
“Nek Imah?? Neneknya Bima??” Tanya Mama Lauritz lagi dengan intonasi menuntut.
“Iya, Ma. Rupanya selama ini Nek Imah di Kota Y dan Bang Bima lumpuh akibat kecelakaan itu.” Jawab Ara dengan raut mendung memenuhi wajahnya.
“Ya ampun.. Kasihan nya Bima.. Kamu udah simpan nomor Nek Imah kan Kak?” Alis Mama Lauritz menukik turun, dahinya mengerut dengan sorot mata prihatin.
“Astaga!! Ara lupa Ma..” Ucap Ara sesal, raut wajahnya sudah bertambah muram. Seolah mendung di wajahnya siap menumpahkan air hujan.
“Hadeeh..” Bukan suara Mama Lauritz, tapi Jona yang menyimak pembicaraan kedua perempuan dalam keluarganya itu.
...----------------...
Menempuh perjalanan kilat di atas udara, kini keluarga kecil Papa Yudith sudah menginjakkan kakinya di Kota K. Menghirup udara malam yang terasa sangat dingin. Terlihat pula titik-titik air hujan baru saja membasahi permukaan tanah di atas Kota K.
“Sebentar..” Ucap Papa Yudith tiba-tiba yang memilih menjauh, mengangkat dering beruntun dari ponsel yang baru saja diaktifkan. Meski tampak aneh di mata anak-anaknya, namun ketiganya seolah tidak perduli. Lelah sudah menghantam tubuh yang bergemeretak saat melakukan peregangan.
Berbeda dengan Mama Lauritz yang sudah kehabisan kesabaran. Tanpa basa-basi Mama Lauritz menghadang Papa Yudith. Matanya sudah melotot garang, mengangkat dagu sekilas sebagai kode agar Papa Yudith segera menjawab panggilan yang sudah terhubung.
“Halo, Lex?” Memilih mengalah, Papa Yudith cemas pada penuturan yang akan disampaikan dari seberang panggilan itu. Sedangkan Mama Lauritz yang tadinya melotot garang berubah mengernyit dengan sudut bibir kiri tertarik ke atas. Bukan menyeringai atau tersenyum senang, Mama Lauritz malah sedang bingung pada panggilan langka itu.
Semenjak Papa Yudith dan Mama Lauritz memilih tinggal di Kota B, tidak pernah sekalipun Om Alex menghubungi keduanya terlebih dahulu bila tidak terpaksa atau ada maunya. Tentu saja hal ini semakin membuat Mama Lauritz bertanya-tanya masalah apa yang sebenarnya sudah terjadi.
[Kalian sudah dimana? Sekarang Mama kritis. Tadi sempat sadar nyari Lauritz.] Ucapan yang terdengar ketus itu sejujurnya juga menyiratkan kekhawatiran.
“Maksud Mas apa!!??” Merebut ponsel dari tangan Papa Yudith, suara Mama Lauritz bergetar dalam perkataan yang terlontar.
__ADS_1
[Jantung Mama bocor, sekarang kritis. Kamu cepat pulang, Liz!! Mama nungguin kamu di sini, sebelum semuanya terlambat.]
“Mas Alex ngomong apa sih??” Mendongak menatap pada sang suami yang sudah memeluk dan mengusap punggungnya, wajah Mama Lauritz pucat pias dengan mata berkaca-kaca. “Mas Yudith jelasin ini ada apa!!???”
“Kami baru turun dari pesawat. Mama masih dirawat di rumah sakit yang sebelumnya kamu bilang kan, Lex?” Tanpa melepas cengkeraman tangan Mama Lauritz dari ponselnya, Papa Yudith menekan ikon pengeras suara dan memastikan informasi yang sebelumnya Om Alex kirimkan.
[Iya.]
“Ya udah, aku lanjutkan perjalanan dulu. Semoga semua baik-baik aja.”
Panggilan itu terputus bersamaan dengan Mama Lauritz yang terkulai lemas. Sontak hal itu mengejutkan Ara, Jona dan si bungsu Rian yang hampir tertidur dalam posisi berdiri sambil menyandar pada tiang beton.
...****************...
*
*
*
Haru atau pilu yang akan menimpa keluarga kecil Papa Yudith?🤔
*
*
(22/08/21) Tadi sekitar jam setengah 11 siang Hana sempatin waktu buka apk ini. Kaget bab yang harusnya update kemarin masih proses review. Padahal niatnya mau cek typo lagi, soalnya kemarin malam gak bisa on di jam seharusnya bab sebelumnya rilis. Semoga untuk bab ini bisa langsung lolos review.🤲
Covernya Hana ganti lagi, mohon sarannya kurang apa ya.. Hana masih belajar ngedit sendiri. Maaf kalau kelihatan gak mulus dan amatir hasilnya.🙏
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1