
“Matamu kenapa Ra?”
“Bengkak lah.. Kayaknya karena begadang.” Jawab Ara sambil menengadahkan wajahnya diiringi tepukan lembut kedua jari telunjuk di area kantung mata.
“Begadang apaan?? Lagian kita nggak banyak tugas.” Cibir Yuki dengan bibir mencebik.
“Memang.” Menghembuskan kasar nafasnya dari mulut, tidak ada kelegaan sedikitpun. Melirik sekilas pada Yuki yang sorot matanya terfokus pada layar ponsel. Jari-jemari Yuki sibuk menggulir foto aneka tas murah dari salah satu platform belanja online.
“Udah daftar jadi asisten makanya ada tugas??” Tanya Dimas tiba-tiba. Mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas berisi tugas catatan klasifikasi mikroalga yang dua jam lagi harus dikumpulkan.
“Belum.” Jawab Ara lemah. Menopang dahinya dengan tangan kiri, Ara menatap malas setiap goresan tintanya.
“Aku nanti mau ikut Bu Fika aja. Habis UTS Bu Fika baru mulai ngajar semester 4.” Lanjut Ara.
“Akhirnya ikut Bu Fika?” Tanya Dimas.
“Iya, Dim. Ambil bagian jadi asisten Bu Fika di praktikum aja. Jadi menjelang UTS jadwal ku kosong.”
“Bisalah bantu aku bimbing Adik tingkat yang lagi aku bawa..” Ujar Dimas sambil menyenggol lengan kiri Ara.
“Bilang aja kalau butuh bantuan. Kalau bisa aku pasti bantu.”
“Terus sekarang masalah kamu apa, Ra?” Tanya Dimas lagi.
“Hah..” Bukan jawaban yang Dimas peroleh, melainkan hembusan kasar penuh kesal.
“Udahlah.. Ayo, lanjut tulis lagi.” Ucap Ara mengalihkan pembicaraan.
Berhasil, Dimas yang masih punya banyak materi yang harus dicatat pun kembali sibuk menulis. Sejujurnya banyak pertanyaan mengganjal di benak Dimas, namun ia masih sadar prioritas utamanya kini adalah tugas catatan yang mendukung nilai A pada lembar isian hasil studinya. Dimas juga yakin Ara sengaja ingin melupakan pembicaraan keduanya.
“Jurnal tentang Cyanophyta aku udah ambil yang tahun lalu. Kamu ambil yang terbitan terbaru aja ya, Dim?” Ucap Ara sambil menunjuk beberapa file jurnal yang terpampang dari laptop Ara dan Yuki.
“Siap..!!” Jawab Dimas mantap.
“Udah sampai mana catatan mu?” Tanya Ara, mengintip sedikit pada lembaran di bawah tangan Dimas.
“Baru yang kedua, tentang Pyrhophyta. Hehe..” Dimas menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia semalaman bermain game online sampai lupa mengerjakan tugas catatan yang tidak bisa disebut banyak ataupun sedikit.
Beruntung Dimas memiliki sahabat seperti Yuki dan Ara yang sudah siap sedia. Feeling keduanya cukup kuat kala ponsel Dimas sulit dihubungi. Ara dan Yuki yakin pasti Dimas memasang mode pesawat terbang dan menumpang wifi gratis milik tetangga lagi.
Bermodal jurnal ilmiah yang jauh-jauh hari sudah dikumpulkan, ketiganya memulai dengan sesi merangkum bersama. Tentu saja agar tidak ada informasi yang kurang sedikitpun.
Dapat dipastikan pula hanya Dimas yang memulainya dari awal, sedangkan Ara dan Yuki sudah hampir menyelesaikan tugasnya. Cara kerja ketiganya bukan lagi disebut SKS alias sistem kebut semalam, namun sudah SKM tapi bukan susu kental manis, melainkan siap kebut mepet.
Ketiganya kompak mengolah dan menambah sumber jurnal berbeda agar tidak terdeteksi sebagai rekan kecurangan. Kadar otak seksi yang tidak seberapa itu memaksa Ara, Yuki dan Dimas untuk kerja cerdik, namun jelas belum termasuk licik. Sumber pustaka yang nyaris sama Ara, Yuki dan Dimas olah lewat tata bahasa yang berbeda, namun dengan makna yang jelas harus sama.
__ADS_1
“Kamu udah siap, Ki?” Celetuk Dimas ringan, namun tegas tanpa mengalihkan fokusnya pada sebuah kalimat yang tertera pada salah satu jurnal ilmiah yang Ara tunjukan.
“Belum.. Tinggal klasifikasi yang terakhir.” Jawab Yuki santai
“Kerjakan dulu sana!!” Perintah Dimas sambil menatap Yuki yang berada di sebelah kanan Ara.
Iya, Ara lagi-lagi harus duduk diantara bom nuklir yang bisa meledak kapan saja. Bukan sengaja, hanya kebiasaan yang tanpa sadar terus dilakukan.
“Checkout tas dulu, sebentar.. Lagi diskon 70% sama ada voucher belanja toko nih..” Jawab Yuki yang masih terus menggerakkan jarinya lincah di atas layar ponsel.
“Bisa-bisanya dia santai aja. Kepala aku sekarang ini malah udah sakit banget.” Keluh Ara. Menghentikan gerakannya, pulpen yang tidak sampai 5 ribuan itu nyaris terlempar.
“Serius deh ada apa?? Pasti kamu lagi banyak pikiran ya??” Meletakkan ponselnya, Yuki merangkul lengan kanan Ara. Bukan keluhan Ara yang mengusik Yuki, namun misi belanja gila dari diskon besar-besarannya telah usai.
“Mikirin Pak Rava ya sampai susah tidur??” Goda Yuki yang langsung mendapat pelototan oleh Ara.
“Aku begadang lacak akun yang menyebar gosip itu tau..!! Udah 3 hari pusing banget belum ketemu.” Keluh Ara ketus. Emosinya cukup tidak stabil hingga merembet pada tugas yang biasanya tidak dikerjakan di waktu yang sangat menipis.
“Kok lama sih??” Rangkulan Yuki seketika terlepas. Ia cukup kecewa bahwa Ara belum juga menemukan si pelaku.
Sedangkan Ara justru kembali meraih pulpennya. Tugas di depan mata lebih penting dibandingkan kekepoan Yuki.
“Di film-film itu aja sebentar.. Aku kira dirimu juga bakal cepat dapatnya.” Gumam Yuki yang jelas masih bisa Ara dengar.
Pletak..!!
“Sakit sayang ku..!! Jari mu dari baja berkarat ya!!??” Menekan setiap untaian kata yang terlontar, Yuki tersenyum segaris sambil melotot.
“Jangan samakan aku dengan yang ahli, apalagi sama film yang udah dipercepat sesuai skenario yang ada!!” Ucap Ara kesal.
Pikiran Ara bercabang, antara tugas kuliah dan memburu penyebar hoax meresahkan. Sejujurnya, Ara ingin mengabaikan segala gosip miring tentangnya. Pikir Ara percuma juga ambil pusing bila keburukan sudah tertanam di otak para penggosip. Namun sayang, ia sudah bergerak mengambil langkah. Pantang bagi Ara untuk mundur, selain itu ia juga sangat penasaran pada motif sesungguhnya dari fitnah yang beredar.
“Orang amatiran kayak gini hebat banget kalau bisa langsung ketemu semua informasinya!!” Ucap Ara ketus sembari mendengus kesal.
“Kalau bisa dipercepat kayak film, aku nggak harus bolak-balik mengacak-acak kemana-mana..!! Pusing deh!!” Keluh Ara dengan suara berat tertahan. Secara bersaman Ara geram dan gemas, tentunya pada dirinya sendiri yang belum juga berhasil.
“Biasa juga bergadang nonton drakor sampai pagi, kadang nggak tidur aja nggak sampai gitu matamu. Alasan aja deh..” Celetuk Dimas tiba-tiba sambil menggeleng perlahan.
“Beda kali, Dim. Kalau nonton drakor itu bawaannya seneng, kalau ini stres tau nggak!!? Aku jadi pengen nonton Oppa ku dulu..” Ujar Ara lemah. Semangat dalam dirinya seakan padam mengingat banyak waktu menonton para Oppa-oppa dari Negeri Ginseng itu lenyap, berganti waktu menyebalkan mengulik akun abal-abal.
“Jadi gimana?” Tanya Yuki.
“Apanya?” Mengernyit bingung, Ara justru balik bertanya.
...****************...
__ADS_1
Klasifikasi Mikroalga :
1. Chlorophyta (Alga Hijau)
2. Pyrhophyta (Alga Api)
3. Cyanophyta (Alga Biru - Hijau)
4. Chrysophyta (Alga Keemasan)
Pasti udah gak asing kan dengan kata 'Spirulina'??
Perkembangan bioteknologi mikroalga membuat banyak produk kecantikan dan obat yang menggunakan Spirulina.
Nah.. Singkatnya Spirulina atau Spirulina sp. merupakan salah satu Mikroalga dalam klasifikasi Cyanophyta alias alga biru-hijau.
Spirulina sp. berbentuk spiral memiliki sel berkoloni yang bergabung menjadi satu membentuk filamen terpilin tidak bercabang. Termasuk organisme autotrof alias berfotosintesis.
Di perairan, keberadaan Mikroalga juga bisa menjadi indikator perubahan lingkungan. Tanpa pengamatan di bawah mikroskop, klasifikasi mikroalga bisa ditebak dari warna air.
Contoh lingkungan perairan yang kaya akan Cyanophyta alias alga biru-hijau dapat terlihat seperti di bawah ini 👇👇
*
*
*
Benarkah Nindy si penyebar fitnah itu?🤔
Apa motifnya dan bagaimana bisa Nindy menyebarkan gosip murahan itu?🤔
*
*
Hana jarang UP, maaf kali ini gak bisa berbagi alasannya karena apa. Mungkin nanti.. 😁
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰