
"Sini Mama kompres dulu tangannya."
"Sakit Ma." Keluh Ara.
"Tahan dulu sebentar, jangan bandel!!" Ucap Mama Lauritz sambil memelototi Ara.
Ara meringis menahan rasa ngilu dan nyeri. Dalam genggaman di atas pangkuan Mama Lauritz tangan kanan Ara sedang dikompres dengan air dingin.
Tampaknya trik murahan Ara sudah tidak mempan menipu Mama Lauritz. Sambutan heboh kala Ara pulang hampir menjelang malam sempat membuat Ara kebingungan. Lengan jaket yang sengaja Ara buat kedodoran pada sisi kanan seketika disingkap oleh Papa Yudith dan berakhir pada kondisi seperti saat ini.
"Tadi Papa mu itu sampai kelabakan dapat kabar Kakak jatuh di kampus. Lagian tumben pagi tadi berangkat cepat." Ucap Mama Lauritz sembari menekan lembut sisi tangan Ara yang tidak ikut memar.
"Ha?" Ara melongo heran. Entah apa maksud Mama Lauritz. Ara tidak ke kampus, ia tidur mati gaya batu bahkan kebo ngorok di kontrakan Bang Gilang.
"Biasa juga Kakak kebut di jalan Papa ada kabar dari temen, ini malah sampai jatuh kok bisa gak tau." Berganti Papa Yudith berujar yang membuat Ara semakin bingung.
"Iya, Pa. Rupanya jatuh di kampus. Kenapa coba bisa jatuh sampai tangannya ketimpa motor Kak?? Aneh-aneh aja.. Biasa aja jadi tukang parkir sampai motor diangkat-angkat gitu. Tumben banget kok lemes."
Bersumpah sekuat tenaga, Ara sudah sangat bingung dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua orang tuanya. Apa mungkin Ara sempat amnesia dan ingatannya tertukar atau bahkan saraf otaknya tidak sengaja terputus dan salah tersambung ulang. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang berputar di dalam isi kepala Ara. Apa harus Ara benturkan kepalanya ke sudut meja agar tersadar?
"Ngomong apa sih Ma??" Tanya Ara akhirnya ingin menuntaskan kebingungan yang melanda.
"Tadi Papa di chat Dosen mu itu.. Dikasih tau anaknya jatuh ketimpa motor orang di parkiran kampus." Ucap Mama Lauritz sembari melirik Papa Yudith dengan tatapan mengejek.
"Tadi Papa udah kayak kerasukan mau nyamperin Kakak sampai pas buka tempat motor kaget kok motornya ada di rumah." Masih dengan mengompres tangan Ara, Mama Lauritz terus berujar.
"Papa gak baca chat benar-benar. Keliatan ada kata Kakak, jatuh, sama motor dipikir emang Kakak jatuh waktu bawa motor." Ucap Mama Lauritz lagi.
"Ada untungnya juga Dosen mu waktu datang kemarin minta nomor Papa Kak.. Kirain tadi jadi mau bawa mobilnya ke bengkel, ternyata kasih kabar biar gak khawatir kalau anaknya luka." Tersenyum lega Papa Yudith meraih bantal sofa untuk dipeluknya.
"Pak Rava??"
"Siapa itu Kak??"
"Ah.. Maksudnya Pak Kim ya?? Namanya ada Rava juga. Minta dipanggil Pak Rava aja, tapi Kakak udah kebiasaan panggil Pak Kim. Cuma barusan keceplosan jadi bener." Ucap Ara mencoba membenarkan dan menjelaskan panggilan sebelumnya.
"Iya. Udah dulu itu datang kayak minta izin ngajak anak Papa malam mingguan, padahal masih jumat. Hati-hati ya Kak.. Naksir sama kamu loh itu Pak Dosen."
Deg
"Sok tau." Ucap Ara ketus pada sang Papa demi menutupi kegugupannya.
"Papa dikasih tau Mama loh.. Tau kan Mama hebat kalau nebak masalah kayak gitu?? Tapi kok gak ambil kesempatan ngantar kamu pulang sih Kak?? Malah naik ojek kamu ini.. Hilang poin yang mau Papa kasih ke kandidat baru Mama." Papa Yudith memainkan kedua alisnya naik turun untuk menggoda Ara.
"Udah Pa.. Gak usah godain gitu.. Pakai sok ganteng segala. Sekarang kasih tau langsung sama Ara ada masalah apa di rumah." Ucap Mama Lauritz yang tiba-tiba membuat suasana menegang. Dapat Ara lihat ada beban, kegelisahan dan rasa tidak suka dari sorot mata kedua orang tuanya.
"Kita harus pulang. Nenek Mira sakit." Singkat, jelas, padat dan menghunus jantung Ara.
"Heh!!" Menyeringai. Ara ingin tertawa kencang tanpa alasan.
"Rumah kita di sini Pa.. Gak ada lagi tempat buat pulang."
"Sayang.. Nek Mira tetap Ibunya Mama. Mau gimanapun sikapnya, darah yang sama juga mengalir di tubuh kamu." Ucap Mama Lauritz lembut. Usapan di lengan Ara seolah mengatakan ia tidak boleh bersikap seperti saat ini.
Mengingat kata darah yang sama mengalir di tubuhnya dari banyak sosok yang juga menyakiti hatinya, Ara ingin mengoyak daging dan mengeringkan darahnya. Otak Ara sudah dipenuhi banyak hal gila untuk menyakiti dirinya sendiri. Ingin Ara berlari ke dapur dan mengambil pisau daging untuk memotong, membuang segala hal yang masih berhubungan dengan manusia-manusia biadab baginya.
"Walaupun gak ada hubungan darah juga kita gak boleh mendendam begitu dalam. Kamu akan sakit sendirian. Apalagi kali ini Nenek yang minta supaya kita pulang sekeluarga. Nenek pasti kangen sama cucunya." Suara Mama Lauritz masih terasa lembut di pendengaran Ara.
"Hahahaha.. Kangen??" Ucap Ara lirih. Tawanya penuh luka.
Mata Ara berubah sendu. Bukan tidak ingin Ara merasakan dirindukan sosok paruh baya itu, namun hatinya terlanjur hancur. Jiwanya sudah ikut remuk. Kini kata-kata tidak akan mampu mengobati segala hal yang sudah menjadi abu digenggaman Ara.
"Malam ini kita siap-siap baju sedikit aja. Kita cuma 2 hari di sana. Jona sama Rian gak bisa izin sekolah sama lesnya lama-lama. Nanti kesenangan gak belajar anak-anak itu." Ucap Papa Yudith, bangkit dari duduknya meninggalkan Ara dan Mama Lauritz.
"Ma.. Bisa kita tinggal Jona sama Rian lagi??"
"Mereka masih kecil Ma.. Lebih baik mereka gak kenal sama keluarga Mama atau Papa daripada mereka harus ngerasain langsung kayak mana dibuang itu." Ara memohon pada Mama Lauritz. Tangannya bergetar menggenggam penuh permohonan pada Mama Lauritz.
"Mama mohon Kak.. Maafin Nenek ya.. Bisa jadi ini permintaan terakhir Nenek.."
"Maksudnya Ma??" Mengernyitkan dahi, Ara tatap Mama Lauritz dengan heran.
"Mas mu tadi telepon kasih kabar Nenek minta kita pulang.. Nenek di rumah sakit, sempat kritis dan saat bangun langsung minta kita disuruh pulang. Penyakit jantungnya kambuh."
"Kenapa baru sekarang Ma?? Kenapa kerasa mau mati baru mau ketemu kita??" Sarkas Ara. Rasa hormatnya sudah lenyap. Menepis tangan Mama Lauritz, Ara berlari ke kamar mandi di bagian luar rumah.
Ara marah hanya diinginkan di saat-saat terakhir. Ara teringat pada Eyang, Nenek dari Mama Lauritz. Kasih sayang singkat yang dapat Ara rasakan dari sosok Eyang sebelum ajal memisahkan mereka tepat keesokan harinya. Semuanya hanya sosok penipu. Mereka hanya ingin terbebas dari beban sebelum menghadap Tuhan, sedangkan Ara yang ditinggalkan dengan kebahagiaan singkat hanya mampu meratapi nasibnya. Menangis dan hanya menangis yang bisa Ara lakukan. Ia sudah lelah mengemis kasih sayang.
Di dalam ruang persegi gemericik air keran yang sengaja dinyalakan mengisi penuh hingga menyamarkan suara-suara lirih tidak jelas. Bersandar pada sisi dinding dekat pintu, Ara menatap kosong air yang terbuang sia-sia.
Sedangkan di bagian ruang lainnya kedua orang tua dan adik-adiknya sedang sibuk berkemas. Jona dan Rian terpaksa mengambil izin tidak sekolah untuk ikut pulang ke Kota K. Ingin Ara berteriak menolak ajakan Papa Yudith dan Mama Lauritz. Ingin Ara mengamuk atas keputusan membawa Jona dan Rian. Ingin Ara membawa kabur kedua Adiknya, menyembunyikan keduanya selama yang Ara bisa, tapi sayangnya ia juga tidak mampu untuk menyakiti orang tuanya.
Membayangkan wajah sedih kedua adiknya bila menghadapi penolakan membuat Ara marah dan juga ketakutan. Selama Ara hidup, ia hanya ingin tawa dan senyum bahagia yang menghiasi wajah adiknya. Bahkan selama 10 tahun hidup Rian tidak pernah mengenal keluarga lain selain Mama Lauritz, Papa Yudith, Ara dan juga Jona. Bagaimana Ara harus bersikap saat nanti Adik-adik kesayangannya tersakiti??
"Gimana kalau mereka dihina juga??" Gumam Ara.
"Apa mereka bakal nangis kayak aku dulu??" Kuku Ibu jari kanan sudah berada tepat di bibir Ara.
"Gak!! Nggak!! Gak boleh. Ada aku sekarang. Aku bisa. Aku udah lebih kuat. Bahkan Tante Laura udah mulai miskin gara-gara aku. Mereka cuma orang-orang bodoh yang licik."
"Apa aku harus lakuin itu ya?? Tapi.. Hah!! Kalau Mama Papa sedih semua jadi salah aku. Tapi kalau aku lakuin kita bisa gak ke Kota K." Bergumam lirih dan mendesah kasar. Ara butuh bernafas meski helaan nafas Ara tercekat.
"Gantung diri? Gak boleh, nanti lidahnya keluar sama matanya melotot. Minum racun? Nanti kalau kejang-kejang terus kaku pasti juga melotot, mana pasti mulutnya kotor. Apa harus lompat ke laut atau sungai ya? Kalau nanti berubah jadi ikan kembung atau ikan buntal badannya juga jelek. Itu kalau masih belum dimakan ikan atau buaya. Apa harus potong urat nadi lagi?" Ucap Ara dalam hati, nyaris kuku ibu jarinya sudah ia gigit seluruhnya. Kerutan di dahinya juga menandakan ia sedang berpikir serius.
"Lagi?? Bahkan aku gak punya keberanian buat potong urat nadi ku.. Cuma sayat kulit tipis ini aja gak seberapa." Ucap Ara menertawakan hidupnya. Tertawa dan menangis serentak, itulah yang Ara inginkan saat ini.
"Hah!!"
Ceklek
Setelah mengurung diri di kamar mandi hampir satu jam lamanya, Ara ingin memenangkan dirinya terlebih dahulu. Berdiri di atas kasur tebal miliknya, Ara naikan volume ponselnya semaksimal mungkin. Aplikasi streaming video online Ara buka.
"Ne saranghae.. Dradan dradan.. Dradan dradan.. Dan dan.. Ne saranghae.. Dradan dradan.. Dradan dradan.. Dan dan.. Ne saranghae.."
"KAKAK GILA!!!" Teriak Jona memekakkan gendang telinga Ara. Pemuda tampan yang beranjak remaja itu memandang sengit Ara yang meloncat, berjingkrak-jingkrak sambil bergoyang heboh di atas kasurnya.
"Cih!! Berisik!! Nyanyi ini." Berdecih Ara cebikkan bibirnya ke arah Jona
"Apaan nyanyi dandan-dandan gitu!?? Aneh!!" Ucap Jona mencibir Ara sembari menarik koper hitam berukuran sedang.
"Itu bunyi efek musiknya tau!! Nih!! Drandan drandan kan??" Ujar Ara kembali memutar lagu berjudul 'I Love You' dari boyband Treasure asal negeri ginseng.
"Ya gak usah diikutin juga kali kak kalau bukan liriknya." Ucap Jona gemas hingga ingin melipat Kakaknya ke dalam karung dan dibuang.
"Ini koper siapa Kak??" Ucap Jona yang sudah duduk di lantai kamar Ara. Telunjuknya mengarah pada koper yang terkunci gembok di sela lemari tertutup kain hitam besar.
"Punya organisasi kampus. Isinya gak penting banget lah, cuma dokumen-dokumen lama.. Dititipin dulu sama Kakak." Ucap Ara sambil menghampiri koper yang Jona maksud dan memperbaiki kain penutup yang tersingkap.
__ADS_1
"Ya udah sekarang mana baju-baju Kakak?? Kata Mama kita bertiga satu koper ini aja."
"Tinggalin aja di situ, nanti Kakak kemas sendiri. Mending main game aja sama Rian di bawah." Ucap Ara yang sebenarnya mengusir Jona secara halus.
"Asik.. Sayang Kakak.."
Cup
"Ihh.. Basah pipi ku!! Kebiasaan bibirnya dibuat mekar biar nyebar ludah!!" Menggosok pipi kirinya kasar, Ara mendelik pada Jona.
"Hahahaha.. Wek!!" Menjulurkan lidahnya di ambang pintu, Jona lari secepat kilat meninggalkan kamar Ara.
Kedua sisi bibir Ara tertarik ke atas. Senyum bahagia tampak menghiasi wajah Ara. Hanya sekilas, cukup 5 detik saja dan berganti menjadi wajah muram. Ekspresinya sangat datar, matanya terasa kosong, ada kehampaan di relung hatinya.
Rasa yang bercampur aduk itu berubah-ubah. Sebentar Ara akan kembali tersenyum, namun secepat kilat akan berubah lagi menjadi marah, sedih, ketakutan, dan yang terakhir ia akan termenung dengan tatapan kosong. Ara seperti menjadi sosok berkepribadian ganda, tapi sekali lagi Dokter Dion pernah menekankan pada Ara bahwa ia hanya mengalami efek gelombang emosi yang tidak stabil. Bukan seorang pasien bipolar, namun pengidap PTSD.
...----------------...
Menyandarkan kepala pada sisi kaca jendela mobil, Ara menatap pemandangan di luar yang terus berganti. Hingga satu jam perjalanan, mobil berhenti pada lampu merah di perempatan jalan. Mata Ara membulat kala 3 sosok manusia sedang asik bertengkar tanpa memperdulikan sekitarnya. Ara turunkan kaca mobil yang ia tumpangi, berharap suara ketiganya dapat Ara dengar. Iya, menguping adalah tujuan Ara.
"Gak malu banget kelahi di tepi jalan. Anak muda jaman sekarang ini." Mama Lauritz menggelengkan kepalanya sambil ikut mengamati drama 2 orang laki-laki dan seorang perempuan cantik. Meski hanya didominasi oleh luapan amarah salah seorang laki-laki.
"Ternyata kamu memang murahan!! Kita putus!!" Bentak laki-laki yang sedari tadi juga Ara lihat sudah merah padam penuh amarah.
"Gak!! Gak kayak gitu.. Dia temen aku." Pembelaan perempuan bergaun sabrina dusty pink selutut.
"Ck!! Temen di atas kasur maksud kamu!!?" Ara menutup mulutnya kala mendengar ucapan dari sosok yang ingin ia cincang halus dan tendang habis perkututnya itu. Begitu juga Mama Lauritz dan Papa Yudith yang ikut terbelalak. Ara yakin pasti seluruh orang yang menanti lampu merah berganti kali ini rela bila sedikit lebih lama lagi harus menunggu demi siaran langsung layaknya sinetron ikan ngambang.
Senyum menghina Ara hadiahkan kala sepasang mata menatapnya lekat. Kedipan genit mata kiri Ara bukan untuk menggoda, namun menghina lebih dalam dan merendahkan harga diri sosok yang juga Ara tatap kala itu. Ara tidak perduli jika akan dianggap menjadi golongan perempuan jahat lainnya. Meski begitu Ara sadar bahwa tingkahnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang sudah membuatnya hancur. Membatin kesal Ara pada darah yang memang tidak bisa berbohong.
...****************...
Bipolar : Suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati secara ekstrim mulai dari posisi terendah depresif/tertekan ke tertinggi/manik, yang dapat membuat pengidapnya mengalami perasaan gembira dan semangat yang berlebihan dan tak kunjung mereda (sering disebut mania) di satu waktu, dan kemudian bisa mengalami kesedihan tiada tara di lain waktu yang terjadi secara bergantian.
*
*
*
Jadi jelas ya kalau PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) itu beda sama gangguan Bipolar (Manik Depresif)
Ada yang masih ingat PTSD itu apa?😄
*
*
Terima kasih buat yang udah setia menanti Kisah Ara😘
Terima kasih juga yang udah kasih Hana dukungan.. like/komen/vote/gift/5 bintang.. Maafin Hana yang belum bisa kasih reward ke Kakak-kakak semuanya🙏🙏
Bantu share karya Hana ya Kak supaya makin banyak yang baca😘😘 (sifat aslinya muncul😌 ngelunjak banget kan??🤭)
*
Note : Buat yang udah klik favorit di karya Hana tapi belum ada komen atau like, tolong kasih like di salah satu bab yang udah Hana UP ya🙏🙏 Hana cuma pengen mengucapkan Terima kasih dan buat dokumentasi, karena tanpa Kakak-kakak semua karya ini bukan apa-apa 😊
~Salam sayang dari Hana🥰
"Sini Mama kompres dulu tangannya."
"Sakit Ma." Keluh Ara.
"Tahan dulu sebentar, jangan bandel!!" Ucap Mama Lauritz sambil memelototi Ara.
Ara meringis menahan rasa ngilu dan nyeri. Dalam genggaman di atas pangkuan Mama Lauritz tangan kanan Ara sedang dikompres dengan air dingin.
Tampaknya trik murahan Ara sudah tidak mempan menipu Mama Lauritz. Sambutan heboh kala Ara pulang hampir menjelang malam sempat membuat Ara kebingungan. Lengan jaket yang sengaja Ara buat kedodoran pada sisi kanan seketika disingkap oleh Papa Yudith dan berakhir pada kondisi seperti saat ini.
"Tadi Papa mu itu sampai kelabakan dapat kabar Kakak jatuh di kampus. Lagian tumben pagi tadi berangkat cepat." Ucap Mama Lauritz sembari menekan lembut sisi tangan Ara yang tidak ikut memar.
"Ha?" Ara melongo heran. Entah apa maksud Mama Lauritz. Ara tidak ke kampus, ia tidur mati gaya batu bahkan kebo ngorok di kontrakan Bang Gilang.
"Biasa juga Kakak kebut di jalan Papa ada kabar dari temen, ini malah sampai jatuh kok bisa gak tau." Berganti Papa Yudith berujar yang membuat Ara semakin bingung.
"Iya, Pa. Rupanya jatuh di kampus. Kenapa coba bisa jatuh sampai tangannya ketimpa motor Kak?? Aneh-aneh aja.. Biasa aja jadi tukang parkir sampai motor diangkat-angkat gitu. Tumben banget kok lemes."
Bersumpah sekuat tenaga, Ara sudah sangat bingung dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua orang tuanya. Apa mungkin Ara sempat amnesia dan ingatannya tertukar atau bahkan saraf otaknya tidak sengaja terputus dan salah tersambung ulang. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang berputar di dalam isi kepala Ara. Apa harus Ara benturkan kepalanya ke sudut meja agar tersadar?
"Ngomong apa sih Ma??" Tanya Ara akhirnya ingin menuntaskan kebingungan yang melanda.
"Tadi Papa di chat Dosen mu itu.. Dikasih tau anaknya jatuh ketimpa motor orang di parkiran kampus." Ucap Mama Lauritz sembari melirik Papa Yudith dengan tatapan mengejek.
"Tadi Papa udah kayak kerasukan mau nyamperin Kakak sampai pas buka tempat motor kaget kok motornya ada di rumah." Masih dengan mengompres tangan Ara, Mama Lauritz terus berujar.
"Papa gak baca chat benar-benar. Keliatan ada kata Kakak, jatuh, sama motor dipikir emang Kakak jatuh waktu bawa motor." Ucap Mama Lauritz lagi.
"Ada untungnya juga Dosen mu waktu datang kemarin minta nomor Papa Kak.. Kirain tadi jadi mau bawa mobilnya ke bengkel, ternyata kasih kabar biar gak khawatir kalau anaknya luka." Tersenyum lega Papa Yudith meraih bantal sofa untuk dipeluknya.
"Pak Rava??"
"Siapa itu Kak??"
"Ah.. Maksudnya Pak Kim ya?? Namanya ada Rava juga. Minta dipanggil Pak Rava aja, tapi Kakak udah kebiasaan panggil Pak Kim. Cuma barusan keceplosan jadi bener." Ucap Ara mencoba membenarkan dan menjelaskan panggilan sebelumnya.
"Iya. Udah dulu itu datang kayak minta izin ngajak anak Papa malam mingguan, padahal masih jumat. Hati-hati ya Kak.. Naksir sama kamu loh itu Pak Dosen."
Deg
"Sok tau." Ucap Ara ketus pada sang Papa demi menutupi kegugupannya.
"Papa dikasih tau Mama loh.. Tau kan Mama hebat kalau nebak masalah kayak gitu?? Tapi kok gak ambil kesempatan ngantar kamu pulang sih Kak?? Malah naik ojek kamu ini.. Hilang poin yang mau Papa kasih ke kandidat baru Mama." Papa Yudith memainkan kedua alisnya naik turun untuk menggoda Ara.
"Udah Pa.. Gak usah godain gitu.. Pakai sok ganteng segala. Sekarang kasih tau langsung sama Ara ada masalah apa di rumah." Ucap Mama Lauritz yang tiba-tiba membuat suasana menegang. Dapat Ara lihat ada beban, kegelisahan dan rasa tidak suka dari sorot mata kedua orang tuanya.
"Kita harus pulang. Nenek Mira sakit." Singkat, jelas, padat dan menghunus jantung Ara.
"Heh!!" Menyeringai. Ara ingin tertawa kencang tanpa alasan.
"Rumah kita di sini Pa.. Gak ada lagi tempat buat pulang."
"Sayang.. Nek Mira tetap Ibunya Mama. Mau gimanapun sikapnya, darah yang sama juga mengalir di tubuh kamu." Ucap Mama Lauritz lembut. Usapan di lengan Ara seolah mengatakan ia tidak boleh bersikap seperti saat ini.
Mengingat kata darah yang sama mengalir di tubuhnya dari banyak sosok yang juga menyakiti hatinya, Ara ingin mengoyak daging dan mengeringkan darahnya. Otak Ara sudah dipenuhi banyak hal gila untuk menyakiti dirinya sendiri. Ingin Ara berlari ke dapur dan mengambil pisau daging untuk memotong, membuang segala hal yang masih berhubungan dengan manusia-manusia biadab baginya.
"Walaupun gak ada hubungan darah juga kita gak boleh mendendam begitu dalam. Kamu akan sakit sendirian. Apalagi kali ini Nenek yang minta supaya kita pulang sekeluarga. Nenek pasti kangen sama cucunya." Suara Mama Lauritz masih terasa lembut di pendengaran Ara.
__ADS_1
"Hahahaha.. Kangen??" Ucap Ara lirih. Tawanya penuh luka.
Mata Ara berubah sendu. Bukan tidak ingin Ara merasakan dirindukan sosok paruh baya itu, namun hatinya terlanjur hancur. Jiwanya sudah ikut remuk. Kini kata-kata tidak akan mampu mengobati segala hal yang sudah menjadi abu digenggaman Ara.
"Malam ini kita siap-siap baju sedikit aja. Kita cuma 2 hari di sana. Jona sama Rian gak bisa izin sekolah sama lesnya lama-lama. Nanti kesenangan gak belajar anak-anak itu." Ucap Papa Yudith, bangkit dari duduknya meninggalkan Ara dan Mama Lauritz.
"Ma.. Bisa kita tinggal Jona sama Rian lagi??"
"Mereka masih kecil Ma.. Lebih baik mereka gak kenal sama keluarga Mama atau Papa daripada mereka harus ngerasain langsung kayak mana dibuang itu." Ara memohon pada Mama Lauritz. Tangannya bergetar menggenggam penuh permohonan pada Mama Lauritz.
"Mama mohon Kak.. Maafin Nenek ya.. Bisa jadi ini permintaan terakhir Nenek.."
"Maksudnya Ma??" Mengernyitkan dahi, Ara tatap Mama Lauritz dengan heran.
"Mas mu tadi telepon kasih kabar Nenek minta kita pulang.. Nenek di rumah sakit, sempat kritis dan saat bangun langsung minta kita disuruh pulang. Penyakit jantungnya kambuh."
"Kenapa baru sekarang Ma?? Kenapa kerasa mau mati baru mau ketemu kita??" Sarkas Ara. Rasa hormatnya sudah lenyap. Menepis tangan Mama Lauritz, Ara berlari ke kamar mandi di bagian luar rumah.
Ara marah hanya diinginkan di saat-saat terakhir. Ara teringat pada Eyang, Nenek dari Mama Lauritz. Kasih sayang singkat yang dapat Ara rasakan dari sosok Eyang sebelum ajal memisahkan mereka tepat keesokan harinya. Semuanya hanya sosok penipu. Mereka hanya ingin terbebas dari beban sebelum menghadap Tuhan, sedangkan Ara yang ditinggalkan dengan kebahagiaan singkat hanya mampu meratapi nasibnya. Menangis dan hanya menangis yang bisa Ara lakukan. Ia sudah lelah mengemis kasih sayang.
Di dalam ruang persegi gemericik air keran yang sengaja dinyalakan mengisi penuh hingga menyamarkan suara-suara lirih tidak jelas. Bersandar pada sisi dinding dekat pintu, Ara menatap kosong air yang terbuang sia-sia.
Sedangkan di bagian ruang lainnya kedua orang tua dan adik-adiknya sedang sibuk berkemas. Jona dan Rian terpaksa mengambil izin tidak sekolah untuk ikut pulang ke Kota K. Ingin Ara berteriak menolak ajakan Papa Yudith dan Mama Lauritz. Ingin Ara mengamuk atas keputusan membawa Jona dan Rian. Ingin Ara membawa kabur kedua Adiknya, menyembunyikan keduanya selama yang Ara bisa, tapi sayangnya ia juga tidak mampu untuk menyakiti orang tuanya.
Membayangkan wajah sedih kedua adiknya bila menghadapi penolakan membuat Ara marah dan juga ketakutan. Selama Ara hidup, ia hanya ingin tawa dan senyum bahagia yang menghiasi wajah adiknya. Bahkan selama 10 tahun hidup Rian tidak pernah mengenal keluarga lain selain Mama Lauritz, Papa Yudith, Ara dan juga Jona. Bagaimana Ara harus bersikap saat nanti Adik-adik kesayangannya tersakiti??
"Gimana kalau mereka dihina juga??" Gumam Ara.
"Apa mereka bakal nangis kayak aku dulu??" Kuku Ibu jari kanan sudah berada tepat di bibir Ara.
"Gak!! Nggak!! Gak boleh. Ada aku sekarang. Aku bisa. Aku udah lebih kuat. Bahkan Tante Laura udah mulai miskin gara-gara aku. Mereka cuma orang-orang bodoh yang licik."
"Apa aku harus lakuin itu ya?? Tapi.. Hah!! Kalau Mama Papa sedih semua jadi salah aku. Tapi kalau aku lakuin kita bisa gak ke Kota K." Bergumam lirih dan mendesah kasar. Ara butuh bernafas meski helaan nafas Ara tercekat.
"Gantung diri? Gak boleh, nanti lidahnya keluar sama matanya melotot. Minum racun? Nanti kalau kejang-kejang terus kaku pasti juga melotot, mana pasti mulutnya kotor. Apa harus lompat ke laut atau sungai ya? Kalau nanti berubah jadi ikan kembung atau ikan buntal badannya juga jelek. Itu kalau masih belum dimakan ikan atau buaya. Apa harus potong urat nadi lagi?" Ucap Ara dalam hati, nyaris kuku ibu jarinya sudah ia gigit seluruhnya. Kerutan di dahinya juga menandakan ia sedang berpikir serius.
"Lagi?? Bahkan aku gak punya keberanian buat potong urat nadi ku.. Cuma sayat kulit tipis ini aja gak seberapa." Ucap Ara menertawakan hidupnya. Tertawa dan menangis serentak, itulah yang Ara inginkan saat ini.
"Hah!!"
Ceklek
Setelah mengurung diri di kamar mandi hampir satu jam lamanya, Ara ingin memenangkan dirinya terlebih dahulu. Berdiri di atas kasur tebal miliknya, Ara naikan volume ponselnya semaksimal mungkin. Aplikasi streaming video online Ara buka.
"Ne saranghae.. Dradan dradan.. Dradan dradan.. Dan dan.. Ne saranghae.. Dradan dradan.. Dradan dradan.. Dan dan.. Ne saranghae.."
"KAKAK GILA!!!" Teriak Jona memekakkan gendang telinga Ara. Pemuda tampan yang beranjak remaja itu memandang sengit Ara yang meloncat, berjingkrak-jingkrak sambil bergoyang heboh di atas kasurnya.
"Cih!! Berisik!! Nyanyi ini." Berdecih Ara cebikkan bibirnya ke arah Jona
"Apaan nyanyi dandan-dandan gitu!?? Aneh!!" Ucap Jona mencibir Ara sembari menarik koper hitam berukuran sedang.
"Itu bunyi efek musiknya tau!! Nih!! Drandan drandan kan??" Ujar Ara kembali memutar lagu berjudul 'I Love You' dari boyband Treasure asal negeri ginseng.
"Ya gak usah diikutin juga kali kak kalau bukan liriknya." Ucap Jona gemas hingga ingin melipat Kakaknya ke dalam karung dan dibuang.
"Ini koper siapa Kak??" Ucap Jona yang sudah duduk di lantai kamar Ara. Telunjuknya mengarah pada koper yang terkunci gembok di sela lemari tertutup kain hitam besar.
"Punya organisasi kampus. Isinya gak penting banget lah, cuma dokumen-dokumen lama.. Dititipin dulu sama Kakak." Ucap Ara sambil menghampiri koper yang Jona maksud dan memperbaiki kain penutup yang tersingkap.
"Ya udah sekarang mana baju-baju Kakak?? Kata Mama kita bertiga satu koper ini aja."
"Tinggalin aja di situ, nanti Kakak kemas sendiri. Mending main game aja sama Rian di bawah." Ucap Ara yang sebenarnya mengusir Jona secara halus.
"Asik.. Sayang Kakak.."
Cup
"Ihh.. Basah pipi ku!! Kebiasaan bibirnya dibuat mekar biar nyebar ludah!!" Menggosok pipi kirinya kasar, Ara mendelik pada Jona.
"Hahahaha.. Wek!!" Menjulurkan lidahnya di ambang pintu, Jona lari secepat kilat meninggalkan kamar Ara.
Kedua sisi bibir Ara tertarik ke atas. Senyum bahagia tampak menghiasi wajah Ara. Hanya sekilas, cukup 5 detik saja dan berganti menjadi wajah muram. Ekspresinya sangat datar, matanya terasa kosong, ada kehampaan di relung hatinya.
Rasa yang bercampur aduk itu berubah-ubah. Sebentar Ara akan kembali tersenyum, namun secepat kilat akan berubah lagi menjadi marah, sedih, ketakutan, dan yang terakhir ia akan termenung dengan tatapan kosong. Ara seperti menjadi sosok berkepribadian ganda, tapi sekali lagi Dokter Dion pernah menekankan pada Ara bahwa ia hanya mengalami efek gelombang emosi yang tidak stabil. Bukan seorang pasien bipolar, namun pengidap PTSD.
...----------------...
Menyandarkan kepala pada sisi kaca jendela mobil, Ara menatap pemandangan di luar yang terus berganti. Hingga satu jam perjalanan, mobil berhenti pada lampu merah di perempatan jalan. Mata Ara membulat kala 3 sosok manusia sedang asik bertengkar tanpa memperdulikan sekitarnya. Ara turunkan kaca mobil yang ia tumpangi, berharap suara ketiganya dapat Ara dengar. Iya, menguping adalah tujuan Ara.
"Gak malu banget kelahi di tepi jalan. Anak muda jaman sekarang ini." Mama Lauritz menggelengkan kepalanya sambil ikut mengamati drama 2 orang laki-laki dan seorang perempuan cantik. Meski hanya didominasi oleh luapan amarah salah seorang laki-laki.
"Ternyata kamu memang murahan!! Kita putus!!" Bentak laki-laki yang sedari tadi juga Ara lihat sudah merah padam penuh amarah.
"Gak!! Gak kayak gitu.. Dia temen aku." Pembelaan perempuan bergaun sabrina dusty pink selutut.
"Ck!! Temen di atas kasur maksud kamu!!?" Ara menutup mulutnya kala mendengar ucapan dari sosok yang ingin ia cincang halus dan tendang habis perkututnya itu. Begitu juga Mama Lauritz dan Papa Yudith yang ikut terbelalak. Ara yakin pasti seluruh orang yang menanti lampu merah berganti kali ini rela bila sedikit lebih lama lagi harus menunggu demi siaran langsung layaknya sinetron ikan ngambang.
Senyum menghina Ara hadiahkan kala sepasang mata menatapnya lekat. Kedipan genit mata kiri Ara bukan untuk menggoda, namun menghina lebih dalam dan merendahkan harga diri sosok yang juga Ara tatap kala itu. Ara tidak perduli jika akan dianggap menjadi golongan perempuan jahat lainnya. Meski begitu Ara sadar bahwa tingkahnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang sudah membuatnya hancur. Membatin kesal Ara pada darah yang memang tidak bisa berbohong.
...****************...
Bipolar : Suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati secara ekstrim mulai dari posisi terendah depresif/tertekan ke tertinggi/manik, yang dapat membuat pengidapnya mengalami perasaan gembira dan semangat yang berlebihan dan tak kunjung mereda (sering disebut mania) di satu waktu, dan kemudian bisa mengalami kesedihan tiada tara di lain waktu yang terjadi secara bergantian.
*
*
*
Jadi jelas ya kalau PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) itu beda sama gangguan Bipolar (Manik Depresif)
Ada yang masih ingat PTSD itu apa?😄
*
*
Terima kasih buat yang udah setia menanti Kisah Ara😘
Terima kasih juga yang udah kasih Hana dukungan.. like/komen/vote/gift/5 bintang.. Maafin Hana yang belum bisa kasih reward ke Kakak-kakak semuanya🙏🙏
Bantu share karya Hana ya Kak supaya makin banyak yang baca😘😘 (sifat aslinya muncul😌 ngelunjak banget kan??🤭)
*
Note : Buat yang udah klik favorit di karya Hana tapi belum ada komen atau like, tolong kasih like di salah satu bab yang udah Hana UP ya🙏🙏 Hana cuma pengen mengucapkan Terima kasih dan buat dokumentasi, karena tanpa Kakak-kakak semua karya ini bukan apa-apa 😊
__ADS_1
~Salam sayang dari Hana🥰