Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kebobolan Gas Alam


__ADS_3

Hiruk-pikuk derap langkah kaki tidak beraturan yang berbenturan dengan lantai keramik mengisi suasana yang sempat hening. Bukan karena fokus mengamati materi yang dipresentasikan sang pengajar, namun hening yang tercipta karena rasa bosan, kantuk, bingung dan lapar. Jelas materi yang disampaikan mental untuk memasuki otak para mahasiswa yang sudah menahan lapar.


Menyisakan tiga kepala yang enggan diajak beranjak, ruang perkuliahan itu terasa lapang. Hembusan nafas berat yang bukan pertanda sebuah kelegaan menarik perhatian Dimas dan Yuki yang entah mengapa hari ini duduk berdekatan. Sedangkan tersangkanya sudah menelungkupkan wajah diantar kedua lengan yang terlipat di atas meja.


"Itu bocah kenapa dari tadi kayak orang linglung?" Celetuk Dimas sambil mengedikkan dagu ke arah Ara.


"Palingan lagi mikirin Pak Rava." Jawab Yuki cepat.


"Maksudnya??" Kernyitan sekilas tampak menghias dahi Dimas sesaat


"Iya lagi mikirin Pak Rava." Ujaran santai Yuki seolah sudah memberikan banyak informasi, namun sayangnya tidak ada sedikitpun menjawab kebingungan Dimas.


"Iya maksudnya kenapa dia mikirin Pak Rava??" Suara rendah dan mata melotot, Dimas tersenyum lurus menampakkan barisan gigi. Seakan sedang mengikuti ajang model iklan pasta gigi, Dimas masih juga mempertahankan senyum anehnya.


"Ceritanya panjang.." Menyipitkan mata, Yuki bukannya tidak ingin bercerita, ia hanya sedang memancing rasa penasaran Dimas. Meresapi aktingnya dengan gelengan perlahan dan mata terpejam, Yuki seakan menerawang jauh kembali ke masa lalu. Merangkai kembali kepingan adegan di setiap detiknya tanpa tercecer meski hanya secuil.


"Mau dengerin nggak??" Tersenyum menyeringai, Yuki juga memainkan kedua alisnya naik turun secara serentak. Lama-kelamaan senyuman Yuki berubah menjadi sok manis di mata Dimas.



"Tinggal ngomong aja pakai nanya-nanya lagi.. Sengaja banget bikin orang penasaran." Mendengus kasar Dimas yang sudah hafal salah satu perangai Yuki, sangat cocok bila ia menjadi antek-antek biang rumor. Ucapan dan gestur Yuki selalu berhasil memicu jiwa kepo para targetnya. Dimas akui, ia saat ini sudah masuk dalam jebakan laba-laba beracun.


"Aku jadi agak kesal ingat kejadian hari itu!!" Bersedekap sambil memanyunkan bibirnya, Yuki menatap sebal pada Ara yang masih dalam posisi menirukan patung air mancur. Iya, posisi tangan kanan Ara saat ini lurus menjuntai ke depan hingga melewati lebar meja. Bisa Yuki bayangkan bila ujung jari Ara mampu mengeluarkan air mungkin ia sudah diangkat ke tengah kolam ikan eksperimen.


"Lah apaan lagi sih sekarang??" Memijat pelipis kirinya, kegagalan memproses apa yang telah terjadi membuat kepala Dimas berdenyut.


"Tadi Ara linglung dibilang mikirin Pak Rava, sekarang disuruh cerita malah jadi kesel. Memang ada apa? Udah jelasin aja langsung!! Gaya banget pakai sok-sokan gak mau cerita." Ucap Dimas agak ketus, level geramnya pada Yuki mau tidak mau harus meningkat.


"Ra?? Ara?? Sadarlah!!" Terkesiap Ara pada sentakan tangan Dimas di bahunya. Dirinya yang hampir tertidur itu mengerjap perlahan lalu kembali ke posisi semula.


"Kenapa?" Jawab Ara lirih dengan mata yang sudah terpejam.


"Cerita dulu ada apa!?"


"Yuki, aku pinjam bibir mu buat cerita. Buruan ngomong sana..!! Aku mau tidur sebentar." Ucap Ara seenaknya, seolah bibir Yuki bisa ia kendalikan sesukanya.

__ADS_1


"Lah ini anak bikin tambah lapar aja!!" Menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, Dimas sudah menatap tajam Yuki untuk langsung bercerita.


"Mau dengerin nggak!??" Masih saja Yuki bertanya, benar-benar tidak bisa ia lihat kepala Dimas sudah berasap karena penasaran.


"Ya udah.. Aku ceritain nih.. Jadi.."


Flashback On


"Ayo kita pulang.. Ini udah malam, gak baik kalian masih keluyuran." Rava memegangi bahu Ara dengan usapan perlahan yang menghangatkan sisi tubuh Ara itu.


"Ya udah, Ara sama Yuki pulang aja. Mas Rava kalau mau duluan gak apa-apa." Ucap Ara lembut, bukan mengusir, ia hanya merasa tidak enak pada Yuki atas kehadiran Rava yang tiba-tiba menemaninya.


Padahal tanpa Ara ketahui, memang inilah tujuan awal Yuki membuat Rava kebakaran jenggot. Meski akhirnya Yuki seakan menjadi pohon tidak bertuan diantara Rava dan Ara. Ingin ia menangisi nasib mirisnya menyaksikan drama manis tanpa sensor di depan matanya, namun apa boleh buat kalau semua memang trik dadakan yanh terlintas di otaknya. Peluang modus pendekatan yang Yuki ciptakan spesial untuk kedua sejoli yang masih tarik ulur.


"Kamu pulang sama Mas aja.." Puncak kepala yang diusap perlahan diiringi senyum Rava menggetarkan jantung Ara. Layaknya getar ponsel yang kadang menggelikan, tubuh Ara juga terasa tersengat rasa geli yang menjalar memerahkan daun telinganya.


'Malu-malu pula.. Gak lucu banget sih Ra!! Hahahhahahaha..!!!' Pemilik bibir terlipat ke dalam yang menahan luapan tawa itu masih mengerjap cepat sambil menggembungkan pipinya.


"Ara sama Yuki aja.. Gak enak tau kalau pulang sama Mas." Rengek Ara tiba-tiba dengan bibir dicebikkan.


"Tapi kan aku pergi sama Yuki tadi Mas.." Masih terus merengek, Ara bak anak kecil yang memohon dibelikan gula kapas berwarna merah muda.


"Kamu sama Mas, kita antar Yuki dari belakang, setuju?" Tawar Rava pada Ara. Tidak ada nada paksaan, namun jelas Rava sangat tidak ingin mengalah.


"Ara sama Yuki, Mas Rava ikutin dari belakang!" Putus Ara mantap, menepis pelan tangan Rava yang bertengger di kepalanya.


"Kamu sama Mas!"


"Gak! Ara sama Yuki aja!" Kelopak mata Ara terbuka lebar layaknya menantang duel lawan di hadapannya.


"Aku sendiri aja!!" Menghentak kuat kakinya membelah kedua manusia yang memperdebatkan hal sepele. Yuki yang tadinya masih tersenyum melihat interaksi kecil Ara dan Rava lama-lama merasa jengah dan bosan. Belum lagi perutnya yang tiba-tiba berdemo melilit ingin kentut harus ditahannya. Gengsi jika harus membuang gas sembarangan yang belum tentu tidak berbunyi nyaring dan bebas tidak terendus.


"Nggak bisa gitu Yuki kita berangkat bareng Jadi pulangnya harus bareng!!" Menahan pergelangan tangan Yuki, bola mata Ara mendelik memberikan kode persekutuan.


"Udahlah, Ra.. Cuma pulang aja pun aku bisa sendiri kok. Gak apa-apa, lagian bener kata Pak Rava kalau antar dirimu dulu bisa tambah jauh aku pulangnya." Yuki mengacungkan ibu jarinya pada Rava secara terang-terangan di hadapan Ara.

__ADS_1


'Pengkhianat!!' Geram Ara dalam hati. Lemah sudah keyakinannya untuk melawan kehendak Rava.


"Aku udah kebelet kentut nih!! Ayo, pulang." Bisik Yuki tepat di telinga Ara. Rasanya jika harus menunggu perdebatan selanjutnya ia bisa kebobolan.


"Tapi aku sama mu, ya!!?" Masih juga Ara mendesak Yuki.


"Heh!! Terserah deh!!" Melangkah mendahului Ara dan melewati Rava begitu saja, cara Yuki berjalan justru tampak seperti menahan gejolak yang lebih besar. Tanpa sadar Ara menertawakan Yuki yang sedang kesulitan itu, ternyata sangat biadab juga memiliki teman seperti Ara.


"Ck!! Kelamaan!!" Rava tiba-tiba mengangkat tubuh Ara. Jangan bayangkan Ara yang tiba-tiba berubah menjadi tuan putri yang digendong ala bridal style, namun bayangkan sebagai sekarung beras yang dipikul di pasar.


"AAAAA..!!! MAS RAVA!!!"


...****************...


*


*


*


Apa yang sebenarnya mengganggu pikiran Ara?🤔


Kira-kira Yuki bakal kebobolan gak gas alam dari perutnya nggak?🤭


*


*


Hanya untuk UP pengumuman aja Hana gak bisa.. Bukan Mangatoon/Noveltoon yang error, tapi provider yang Hana pakai lagi peningkatan jaringan ke 5G bikin sinyal gangguan beberapa hari ini.😞


Di sini juga Hana mohon maaf buat temen-temen yang di kick dari GC Hana🙏🙏 Jika berkenan untuk gabung lagi bisa join ulang, karena kemarin Hana pembersihan pakai sistem lambang family juga.🙏🙏


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2