Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
The Wedding of Rava & Ara


__ADS_3

“Kira-kira Ara lagi mimpi gak ya, Bang?” Celetuk Dion sambil melipat tangannya ke belakang kepala, menyandarkan punggungnya di sofa ruang keluarga yang sangat jarang keduanya gunakan karena tuntutan kesibukan masing-masing.


“Ngapain kamu mikirin Kakak ipar kamu?” Ucap Rava ketus dengan sorot mata menajam seolah ingin menguluti Dion. Masih ada rasa cemburu Rava pada Dion jika bersangkutan dengan Ara.


“Masih calon, Bang. Bisa jadi besok Dion yang jadi suaminya.” Seloroh Dion acuh sambil mengangkat bahu menyombongkan diri.


“Kamu mau Abang hajar?” Spontan Rava langsung berdiri seolah menantang duel, bantalan sofa sudah diremas dalam cengkeraman tangan dengan urat menonjol.


Memutar bola matanya, Dion menggeleng tidak percaya, bahkan bibirnya mencebik mencibir tingkah Rava yang sok jagoan. “Cih, gaya!”


“Serius deh, Bang.. Ara kira-kira sadar gak ya kalau besok dia bakal jadi istri Abang? Jangan-jangan Ara mimpi atau Abang pelet ya sampai mau gitu sama Abang? Kasihan banget ya Ara, mana masih muda lagi. Malah lebih cocok sama aku loh, Bang.” Lanjut Dion mengimbuhi decihan dan ucapan yang ia lontarkan sebelumnya, namun kali ini Dion sudah tidak duduk bersantai lagi.


Kilatan menyambar dari mata dan dengusan udara panas lewat hidung Rava seolah mencambuk langsung meremangkan rambut-rambut halus di lengan polos Dion. Mengusap asal lengannya yang merinding, Dion menyengir pada Rava yang mengetatkan gigi dengan rahang mengeras.


Brak.


“DIOOON..!!” Teriak Rava kesal pada sang adik.


Lemparan bantal kursi meleset dari targetnya yang menghindar dengan gesit. Membentur remot televisi di atas meja yang ikut terhempas jatuh ke lantai. Kini kedua benda padat tidak bernyawa itu tergolek tidak berdaya di atas lantai yang sama tapi saling berjauhan.



“Jangan marah-marah, Bang.. Anak aja belum ada nanti udah dikira Om nya Ara, bukan suami. Hahaha..” Ucap Dion nyaring dengan gelak tawa menggelegar, masih sempat Dion menggoda Rava dengan gerakan jari yang lucu sebelum berlari terburu-buru menuju kamarnya.


Senyumnya masih terlukis jelas hingga saat pintu kamar dikunci, Dion langsung terduduk di lantai merasakan kebahagiaan bercampur kesedihan yang sulit ia definisikan. Rasa sukanya masih bersemayam, belum terganti apalagi terlupakan. Satu hal yang Dion syukuri bahwa ia sudah menyadari semua rasa yang dimiliki bukan cinta. Tapi tetap saja sulit melupakan seseorang yang namanya sempat singgah di hati.


Selama ini Dion tetap memantau kesehatan Ara, tentu atas sepengetahuan dan permintaan Rava. Walaupun Ara sudah menolak keras melanjutkan pengobatan, namun selama pernyataan sembuh total belum Dion ucapkan, rasanya Dion masih memiliki tanggung jawab yang seolah menjadi beban hutang baginya. Alhasil kini Dion hanya mengandalkan laporan Rava atas gelombang pergejolakan emosi Ara selama mereka bersama.


Tampaknya Dion menjadi tokoh sad boy sesungguhnya di kisah Ara. Rasa sukanya pada seorang gadis tidak hanya bertepuk sebelah tangan, namun bermuara dalam status baru yang disebut ipar.


...----------------...


Menuju detik-detik prosesi acara sakral dilangsungkan ketegangan semakin terasa. Dapat dilihat wajah Rava yang membeku, pucat nyaris kehilangan kemampuan bernafas. Berulang kali Rava berjalan ke sana kemari tiada henti. Ia juga sudah ratusan kali ke toilet seolah ingin buang air kecil, namun nyatanya hanya keinginan semu tanpa sedikitpun urin yang terbuang.


“Santai, Bang..” Ucap Dion sembari menepuk pelan bahu Rava beberapa kali. Sangat terasa otot di bahu dan tengkuk Rava mengeras, bukan karena marah, namun gugup super dahsyat.

__ADS_1


“Duduk dulu, tarik nafas dalam-dalam terus keluarin perlahan sambil pejamkan mata.” Ucap Dion lagi menginstruksi Rava dengan tarikan pelan agar Rava mendudukkan dirinya pada kursi ruang tunggu mempelai laki-laki. Tidak lupa Dion memberikan pijatan kecil pada telapak tangan Rava, tepatnya disela antara jari telunjuk dan ibu jari Rava.


“Sekarang Abang bayangkan muka Ara yang tersenyum bahagia.” Sekali lagi Dion berucap dengan masih setia memberikan pijatan lembut yang konstan. Melakukan metode relaksasi dan memicu efek bahagia kilat, berusaha membuyarkan kegugupan Rava layaknya setetes pewarna yang menyebar di atas permukaan air.



Meletakkan telapak tangan kiri di depan dada, Rava menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskan nya. Tidak hanya sekali, namun berulang-ulang agar kegugupannya sedikit berkurang.



Sedangkan Ara yang berada di ruangan berbeda tidak kalah gugupnya. Beruntung make up tebal tapi tampak natural dapat sedikit menyamarkan sisi pucat wajah Ara.


Jarum jam yang terus berputar seolah mengisyaratkan Ara dan Rava untuk segera memasuki ballroom acara pernikahan mereka. Sempat beradu pandang hingga saling terpaku, keduanya menjadi penghibur dadakan para tamu undangan. Apa lagi Rava yang seketika menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan mata berkaca-kaca menatap Ara yang berjalan semakin mendekat dengan sangat anggun.


Menghembuskan nafas pelan tertahan mengusir kegugupan, Ara sesekali meremas gaunnya. Tepat beberapa detik yang lalu dirinya sudah berganti status dari gadis lajang menjadi istri seorang laki-laki dewasa yang selalu menggenggam jemarinya. Bahkan sudah beberapa kali Rava melabuhkan kecupan singkat di punggung tangan Ara tanpa malu. Sukses hal itu kembali mengundang reaksi beragam dari para tamu undangan, mulai dari gelengan kepala, gelak tawa hingga kaum baperan berteriak histeris dalam diam.


“Belum selesai ya Mas..” Celetuk seseorang yang membuat Ara tertunduk menahan malu, sedangkan Rava tetap saja tidak tau malu dan dengan bangganya menunjukkan sifat bucin posesif.



“Terima kasih, Sayang.” Bisik Rava lirih tepat di telinga Ara. Menundukkan wajahnya mengecup singkat pipi Ara tanpa malu-malu. Sedangkan Ara spontan terbelalak ingin memukul Rava, beruntung Ara lebih cepat sadar sedang berada di situasi dan status yang seperti apa. Jika tidak, mungkin keduanya kembali menjadi pemeran utama yang banyak memberikan drama hiburan.


“Akhirnya si bucin sejagat berhasil ngikat sang pujaan hati.” Goda Aris, teman Rava yang dulunya rekan kerja di PT ELANG AKIRA sebelum akhirnya Rava memilih hengkang dan mendirikan kantornya sendiri tanpa bayang-bayang kerja keras orang tuanya lagi.


“Thanks Ris udah datang.” Ucap Rava menyambut uluran tangan Aris. Sesekali Rava membalas senyum tamu undangan yang merupakan karyawannya di kantor baru. Rava memang sengaja mengundang seluruh bawahannya, tidak memandang kedekatan atau jabatan, semuanya Rava beri undangan agar mereka bisa menjaga sikap jika sewaktu-waktu Ara berkunjung mendadak ke kantor. Sedangkan karyawan Rava tentu takjub pada Rava yang rupanya bisa tersenyum seramah itu.



Berganti gaun dengan model lebih memamerkan bahu polos yang awalnya ditolak Rava tapi kalah ngotot dengan Mama Lauritz, Ara berjalan perlahan menghampiri Rava yang sudah berdiri gagah menantinya di ujung jalan. Untuk pertama kalinya Ara merasa gugup menatap Rava yang kini sudah menjadi suaminya.



Bridesmaid mengekor mengiringi dan membantu memegang ujung veil yang Ara kenakan. Tidak banyak, hanya Yuki dan Nita, adik perempuan Dimas yang sudah Ara anggap sama seperti Jona dan Rian.


Meraih tangan Ara, mengangkat sedikit gaun yang Ara kenakan agar memudahkan Ara melangkah, Rava kini sudah merangkul pinggang Ara dengan mesra. Pemandangan itu tidak lepas dari mata Papa Yudith, Mama Lauritz dan Dion yang tersenyum senang, bersyukur atas kebahagiaan kedua mempelai. Sedangkan Jona dan Rian diam-diam sudah bersatu dengan Dimas mengabsen menu makanan di meja prasmanan.

__ADS_1


Lain hal dengan ketiga anak laki-laki, Yuki dan Nita sudah bersiap menyumbangkan satu buah lagu. Keduanya saling memonopoli sebuah mic, berdiri di hadapan Ara dan Rava dengan jarak yang lumayan jauh. Saat kalimat pertama sukses Yuki nyanyikan, Ara baru menyadari bahwa suara Yuki benar-benar memiliki potensi merusak gendang telinga. Beruntung lagu itu tidak hancur karena suara Nita yang sangat merdu.


Maukah lagi kau mengulang ragu


Dan sendu yang lama


Dia yang dulu pernah bersamamu


Memahat kecewa


Atau kau inginkan yang baru


Sungguh menyayangimu



(Adu Rayu - Glenn Frendly, Tulus dan Yovie Widianto)


Verse yang sarat sindiran untuk sang mantan sontak tanpa ragu mencubit anak lidah seorang pemuda sebaya Ara. Berdiri terpaku menatap sosok Ara yang sangat mempesona, ia masih setia berdiri di samping temannya yang membawa undangan pernikahan Ara.


...****************...


*


*


*


Akhirnya nikah😆


Oh iya, tadi siang ArVa ini udah dapat kiriman hadiah pernikahan dari dedek Singa Kamalanskha. Padahal yang diminta amplop jangan lupa, tapi katanya di masa pandemi ini amplop dan isinya harus stay jaga jarak.😂



__ADS_1


__ADS_2