
“Ara mau cerita tapi Mas Rava harus janji buat jujur sama Ara, janji?” Tanpa izin atau kata lagi Ara membelit kan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rava. Meski sempat mengernyit heran, Rava tetap menganggukkan kepala yang tentunya masih dengan senyuman manis menghiasi wajah menawannya.
“Sebenarnya kemarin Ara sengaja datang ke klinik Dokter Dion buat ketemu Suster Nindy.. Tapi ternyata Suster Nindy udah nggak kerja lagi di tempat dokter Dion.” Ucap Ara sambil menghela nafas pelan, namun cukup terdengar berat.
“Buat apa kamu mau bertemu dengan Nindy yang kerja di klinik Dion?” Tanya Rava masih dengan intonasi yang santai, menutupi rasa penasaran dan selidik yang sekilas terlukis di raut wajahnya.
“Jangan pura-pura nggak tau..!! Sekarang jujur sama Ara. Mas Rava tahu sesuatu tentang suster Nindy, kan??” Memicingkan matanya, Ara sudah sangat curiga pada Rava.
"Ng.."
"Jangan pura-pura lagi!! Ara tau kok Mas Rava yang selesaikan masalah gosip di kampus." Seru Ara memotong ucapan Rava sambil menatap lekat sepasang bola mata Rava yang tampak mulai gusar. Rava memang sempat terkejut kala Ara yang ternyata mengetahui masalahnya dengan pihak kampus sudah Rava atasi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ara.
"Kenapa Mas nggak pernah cerita sama Ara?? Ini kan juga masalah Ara, bukan cuma buat Mas." Ujar Ara dengan tatapan sendu dan raut wajah kecewa. Ia merasa menjadi beban bagi Rava, meski tidak sepenuhnya permasalahan hanya berkaitan dengan Ara.
"Bagi Mas, kamu itu cukup belajar.” Mengusap kepala Ara penuh kasih sayang, Rava juga menyelipkan rambut Ara ke belakang daun telinga.
“Cukup belajar? Heh.. Mas, Ara itu udah besar.. Jangan disamakan kayak anak kecil deh.” Gerutu Ara yang hanya ditanggapi dengan kekehan Rava. Tersenyum tipis mendapati gadis kecil pujaan hati kesayangannya menggerutu sambil mendelik ke arahnya.
“Lagi pula Mas hanya meluruskan masalah sebenarnya ke rekan kerja. Mas cuma mau jaga-jaga aja kalau nanti ada berita yang gak benar tentang kamu lagi supaya gak jadi gosip murahan. Mas Cuma minta kamu gak usah tanggapi omongan orang di luar sana yang masih menjelekkan kamu." Jelas Rava pada Ara. Ada rasa khawatir bila Ara akan kembali tertekan, meski ia juga cukup yakin bahwa Ara nya mampu menghadapi masalah yang ada.
“Ara tau kok Mas. Percuma kita membela diri seperti apapun kalau yang mereka anggap benar hanya gosip yang menurut mereka asik untuk terus dibicarakan.” Kembali menatap pohon mangga, Ara berujar dengan santai. Ia benar-benar masa bodoh dengan pandangan orang lain terhadap dirinya. Selama hal itu tidak mengusik hidupnya terlalu dalam, Ara tidak ingin ambil pusing untuk mengurusi pola pikir orang lain.
“Ngomong-ngomong kok Mas bisa tau gosip Ara? Seingat Ara beberapa waktu itu Mas gak ke kampus deh.. Kata Yuki gosip itu juga memanas di fakultas kelautan aja. Mas kan udah gak ada urusan dan gak pernah Ara lihat Mas seliweran di fakultas Ara.”
“Kalau ada yang berhubungan tentang kamu pasti Mas bisa tau dan harus tau.” Jawab Rava tanpa memberi penjelasan apapun lagi.
Pada kenyataannya jelas Rava tau dari bibir mata-mata bayarannya. Bahkan dari awal mula Rava memutuskan mengajar di kampus Ara, mata-mata suruhannya yang merupakan teman satu angkatan Ara sudah ia perintahkan untuk melaporkan segala hal tentang Ara. Jangan tanya bagaimana Rava bisa menempatkan mata-mata di sekitar Ara, semua hanya kebetulan dan keberuntungan yang berpihak pada Rava.
"Mas.." Panggil Ara lagi pada Rava setelah cukup lama terdiam. Tapi tidak dengan Rava yang sejak tadi terus mengusili rambut Ara. Rambut yang dibiarkan tergerai dan melambai indah karena terpaan angin itu membuat Rava gemas.
__ADS_1
"Hmm.." Jari nakalnya kini beralih sibuk mencubit pipi Ara, seolah tidak puas hanya memandangi wajah cantik gadis kecilnya. Entah apalagi yang akan Rava lakukan pada Ara, yang jelas Rava hanya ingin Ara terus berada di dekatnya.
"Jujur deh.. Mas tau sesuatu tentang Suster Nindy kan?" Merengek Ara bertanya penuh selidik.
"Iya." Jawab Rava singkat yang memilih menyerah dalam menyembunyikan kebenarannya pada Ara.
“Apa benar kalau Suster Nindy pelaku utama dari berita palsu itu?" Tanya Ara dengan ragu. Ia masih menduga-duga bahwa Nindy adalah pelaku sesungguhnya.
“Kenapa tanya gitu?”
“Ya kan Ara penasaran, Mas.”
“Maksud Mas itu kenapa kamu bisa menduga kalau pelakunya Nindy. Bukannya Nindy itu kerja dengan Dion dan gak ada hubungannya sama kuliah kamu?” Ucap Rava yang seakan membolak-balikan pertanyaan Ara. Sedangkan Ara yang diberikan pertanyaan bukannya kesal ataupun gugup, ia malah dengan semangat ingin membagi kisah mengesalkan nya.
“Mas ingat gak beberapa waktu lalu mata Ara udah kayak monster panda gitu?”
“Monster panda? Maksudnya waktu kantung mata kamu menghitam dan kamu bilang banyak tugas dan kurang tidur?” Tanya Rava sambil mencerna maksud sebenarnya dari perkataan Ara.
“Sebenarnya Ara malas, tapi udah terlanjur dibantu Yuki sama bukti-bukti yang ada. Kan nanggung banget kalau Ara biarin. Jadi ya Ara coba aja cari dan hasil akhirnya mengarah ke Suster Nindy. Cuma Ara bingung, kenapa bisa Suster Nindy?” Jemari yang seolah membentuk logo merek brand sepatu kenamaan itu sibuk mengetuk dagunya. Dahi yang berkerut itu jelas menunjukan Ara sedang menerawang jauh dalam pikirannya.
“Kenapa kamu gak cerita langsung sama Mas waktu itu?” Tanya Rava dengan nada suara yang menyiratkan kekesalan.
“Mas Rava marah sama Ara?” Menyilangkan tangannya, tatapan Ara pada Rava menajam. Jika benar Rava marah padanya, maka Ara siap untuk bertingkah lebih galak lagi.
“Nggak gitu sayang. Mas cuma khawatir dan kesal sama diri Mas sendiri.”
“Merasa bersalah karena gak cerita kalau Mas udah handle masalah Suster Nindy ke Ara kan?” Ucap Ara yang jelas tepat sasaran.
Rava menyesal menanti hari yang tepat untuk menceritakan sepak terjangnya membasmi Nindy. Jika ia tau Ara akan mengorbankan waktu tidurnya, Rava pasti dengan tegas akan mengatakan bahwa semuanya sudah ia tangani.
__ADS_1
...****************...
*
*
*
Siapakah 'teman satu jurusan' Ara yang menjadi mata-mata untuk Rava?🤔
*
*
Mau curhat..
Udah beberapa waktu ini Hana mulai ketik naskah novel pakai laptop. Alasannya jelas karena jari-jari sakit nahan beban waktu ketik di smartphone.
Dulu waktu puasa Hana full ketik pakai smartphone yang hasilnya kelingking punya kapal, tinggal siap berlayar buat jaring ikan di tengah samudra. (ups.. becanda🤭)
Tapi tepat 24 Juli kemarin laptop Hana hang dari pagi. Layarnya standby tapi gak bisa apa-apa, gak mau dimatikan bahkan dipaksa power off sampai dibiarkan mati sendiri karena kehabisan baterai juga dia malah dalam kondisi sleep aja waktu di isi ulang daya nya.
Semalaman coba kutak-katik sendiri, berharap bisa dan uang yang menipis gak makin nyusut gara-gara buat service laptop.
Hari ini doa Hana memang terkabul. Laptop berhasil dibenerin sendiri. Tapi..
4 BAB YANG HARUS DI UP HILANG😭🤧
Bab ini adalah hasil ketik ulang yang mungkin feel nya jadi gak banget. Imajinasi yang tertuang sebelumnya ikutan anjlok karena badmood. Padahal kemarin udah semangat banget sampai bergadang nulis yang hasilnya HILANG.😑
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰