Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kehilangan


__ADS_3

“MAMAAA..” Tubuh lelah itu luruh ke lantai. Meraung memanggil nama sang Mama yang sudah tertutupi kain putih tanpa celah. Raganya ada, namun nyawanya sudah pergi. Menanti di tempat yang belum bisa dikunjungi oleh saudara, anak-anak dan tentu saja belahan hatinya yang masih mampu merasakan kehilangan.


Di sudut kursi dalam ruangan yang penuh tangis, ada seorang pria renta yang memejamkan matanya erat. Menahan air mata yang mendobrak dinding pertahanan dirinya. Sosok itu ialah Kakek Baren yang baru saja ditinggalkan untuk terus berjuang seorang diri hingga ajal menjemput.


Kakek Baren masih tidak kuasa untuk mendekati ranjang dimana raga sang istri tertidur untuk selamanya. Janji menua bersama sudah keduanya tepati, kini tersisa satu janji sehidup semati yang nantinya akan Kakek Baren buktikan, meski harus menanti waktu itu tiba seorang diri.


Berbeda pula dengan Ara, Jona dan Rian yang memilih menyingkir, menjauh dari suasana duka yang terasa hampa bagi ketiganya. Tangis Mama Lauritz memang mengusik hati nurani Ara, namun ingin dikatakan apalagi bila tidak ada rasa kehilangan sedikitpun yang menyelinap di relung hatinya.


“Jadi kita ke sini sebenarnya gara-gara Mama nya Mama sakit?” Tanya Rian tanpa menyematkan sebutan yang seharusnya berupa ‘Nenek’. Sebegitu jauhnya ikatan batin antara si bungsu Rian dengan sosok yang masih berstatus keluarga itu.


Semuanya sungguh wajar, bukan karena Papa Yudith dan Mama Lauritz tidak pernah mengenalkan, namun agar ikatan itu terbentuk tetap perlu interaksi. Selama ini, tidak ada kasih sayang yang mengalir dan tersalur langsung.


“Kayaknya gitu.” Jawab Jona sambil merangkul bahu Rian. Membawa sang Adik berjalan menuju kursi besi di lorong tunggu. Saling menumpukan beban tubuh dengan rasa kantuk yang mendera.


Sedangkan Ara masih terdiam menyandar pada tiang beton dengan mata menatap lekat pada pintu berisi tangis pilu Mama Lauritz. Suasana malam yang sunyi dengan dingin menusuk membuat Ara beberapa kali harus mengusap lengannya.


‘Jangan ambil Mama dan Papa Ku lebih dulu.. Tolong aku aja yang duluan. Aku gak tau apa bisa hidup tanpa Mama dan Papa..’ Rasa kehilangan itu justru mengiris jantung Ara kala terbayang ia suatu saat nanti akan ditinggalkan kedua orang tuanya. Tidak tau pula mengapa Ara bisa berpikir seperti itu, karena semuanya hanya secara mendadak terlintas dibenaknya.


Tes.


Tes.


“Mas pikir kamu nggak akan nangis..” Tanpa mengusap air matanya, Ara menolehkan kepala pada pemilik suara di sisi kanannya.


“Aku juga manusia.” Jawab Ara sambil menghapus sedikit jejak air mata di pipi dan sudut matanya.


“Nenek memang gak pernah nunjukin kasih sayangnya ke kamu. Tapi asal kamu tau, Nenek selalu kangen sama kamu.” Ucap Ega yang salah paham pada air mata Ara. Tentu Ega mengira air mata itu bentuk kehilangan Ara pada sang Nenek yang baru saja tiada. Nyatanya perasaan Ara benar-benar hampa, tidak ada kesedihan apalagi kehilangan yang saat ini Ara rasakan.


Mati rasa? Mungkin itu jawaban yang tepat.

__ADS_1


‘Pembohong!’ Umpat Ara dengan mata berkilat marah dari wajah yang dipalingkan.


“Kamu pasti bilang Mas bohong, iya kan? Tapi begitu faktanya. Nenek sering diam-diam lihat foto kamu waktu masih kecil. Katanya itu foto yang diam-diam diambil waktu kamu umur 4 tahun.”


“Oh..” Ucap Ara malas menanggapi cerita yang mengalir bebas dari bibir Ega. Sayangnya Ara tidak tau bahwa ada kesedihan yang terselip dalam kisah yang baru saja Ega bagikan.


“Ego Kakek dan Nenek itu terlalu besar untuk meminta maaf duluan ke Mama dan Papa, apalagi untuk meminta maaf ke Papa yang dulu dihina habis-habisan. Kamu pasti lebih gak percaya karena Mas yang cerita kan?” Jelas Ega tanpa diminta oleh Ara. Meski tampak tidak perduli, tapi rasa penasaran yang Ara tutupi terlihat sangat jelas.


Menarik sudut bibirnya, Ega ikut menyandarkan punggungnya di sisi lain tiang beton berbentuk balok. Bersedekap dan menarik nafas dalam-dalam, Ega benar-benar merasakan kehilangan.


“Mas tau semua ini tentu dari Nenek.. Kalau kamu bilang Mas ini cucu yang paling disayang, itu salah. Mas hanya cucu yang paling dekat dengan kedua orang tua renta itu." Ucap Ega terjeda dengan tarikan nafas yang kembali meraup udara sebanyak-banyaknya.


"Sejujurnya mereka sadar kalau selama ini mereka salah udah menuruti sikap pongah anak-anaknya yang lain. Dan tentunya tidak mau mengalah dengan sikap egois yang mengatasnamakan mereka adalah orang tua yang harus dihormati. Kesalahan dan penyesalan mereka yang paling dalam adalah menutupi aib Ibu dengan mengorbankan Mama.” Ega menerawang jauh pada percakapan dimasa lalu. Cerita sebenarnya yang kembali ia dengar. Kisah masa kecil dan fakta dibalik kelahirannya hingga kenyataan bahwa dirinya dulu sempat tidak diinginkan.


Beruntung Mama Lauritz dan Papa Yudith yang kala itu masih berstatus bukan siapa-siapa justru berjuang mempertahankan Ega. Dua anak manusia yang terpaksa terikat dalam janji suci pernikahan untuk mengangkat derajat dan hak seorang bayi tidak berdosa yang tidak lain adalah Ega. Memberikan keluarga utuh dengan kasih sayang yang bahkan hingga kini tidak pernah luntur, meski harus terpisahkan sekian lamanya.


“Saat semua sudah jadi penyesalan, maka itu bisa jadi pelajaran. Meski yang menyesal tidak bisa memetik pelajaran atau udah gak ada, tapi saksi hidup bisa mengambil sisi baik pelajarannya. Terima kasih udah bercerita.” Ucap Ara panjang dan berlalu meninggalkan Ega. Ara tidak ingin tergoyahkan dan kembali tersakiti pada kenangan manis yang hanya terukir diakhir hayat sosok yang pernah ia perjuangkan.


...----------------...


“Pa.. Bisa Ega ngobrol berdua sama Papa?” Ucap Ega pada Papa Yudith yang baru saja keluar dari salah satu kamar rawat dimana anak-anaknya tertidur menemani Mama Lauritz yang kembali pingsan untuk kesekian kalinya.


“Bisa dong.. Anak Papa ini mau ngobrol apa? Sambil makan ya, mau?” Ucap Papa Yudith lembut, mengamati Ega yang tampak kacau. Mungkin sejak sebelum kedatangan Papa Yudith, Ega sudah tidak mengurus dirinya lagi.


“Papa aja yang makan, Ega masih kurang selera makan, Pa..” Menolak halus ajakan Papa Yudith, Ega menggeleng lemah. Dirinya yang tegar di hadapan Ara hilang di mata Papa Yudith, berganti seorang anak kecil yang seolah sedang kehilangan arah.


Sama halnya seperti Ega yang kehilangan selera makannya, Papa Yudith juga merasakan hal yang sama, namun tidak mungkin Papa Yudith membiarkan Ega menikmati keterpurukannya. Sebisa mungkin sebagai sosok orang tua, Papa Yudith ingin menjadi sandaran bagi Ega yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri.


“Makanya Papa temani makan.. Udah lama kan kamu gak makan bareng Papa?”

__ADS_1


“Habis ini Ega mau urus kepulangan Nenek ke rumah duka.” Jawab Ega lemah.


“Nanti ada Om Alex yang bantu urus. Kamu istirahat dulu Mas..”


“Om Alex udah datang lagi?”


“Iya.. Barusan sampai.” Mencoba berjalan terlebih dahulu, Papa Yudith dapat mendengar langkah kaki yang mengikutinya.


‘Keluarga Tante Bianca sama Ibu belum datang ke sini sekalipun semenjak Nenek dirawat.’ Gumam Ega dalam hati yang tentu saja tidak tertangkap pendengaran Papa Yudith.


Di sudut kantin rumah sakit yang hanya terdapat Papa Yudith dan Ega sebagai pengunjung, malam yang beranjak pagi itu tidak membuat keduanya ingin memejamkan mata. Bahkan agenda makan yang Papa Yudith bayangkan berakhir dengan hanya ditemani roti isi dan kopi hitam. Jelas saja hampir seluruh penjual di kantin itu tutup, tersisa penjual minuman dan makanan pengganjal perut berupa roti saja.


...****************...


*


*


*


Apa yang ingin Ega bicarakan dengan Papa Yudith?🤔


*


*


Bab selanjutnya masih tentang keluarga ini, sebelum kejutan lainnya.😄


FYI, bab berisi kejutan udah selesai, tapi bab selanjutnya setelah ini baru Hana ketik sekitar 500 kata. Imajinasinya terpental di bab lain yang masih belum jelas masuk ke nomor urut bab berapa.😁

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2