Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kencan Kedua yang GAGAL


__ADS_3

'Ehh!!?? Kok..??' Batin Ara bingung, kaget yang menerpa seolah pernyataan cintanya ditolak. Bukan karma saja sudah merasa sakit, bagaimana bila Ara mendapatkan karma penolakan dari Rava?


"Pernikahan kita harus diresmikan oleh hukum. Perlu berkas untuk diurus yang gak bisa secepat kilat. Mau saya pakai uang suap juga pasti mereka gak bisa selesaikan secepat mungkin."


"Oh.. Gitu.." Menetralkan keterkejutan sebelumnya, Ara mengunyah bulatan selada berisi sambal. Rasa pedas pecah di dalam rongga mulut, benar-benar menyadarkan Ara akan rasa lega atas penjelasan Rava.


Mungkin begitulah malu-malu meong versi Ara. Diajak menikah tidak mau, tapi ia juga tidak ingin Rava tinggalkan. Sudah sangat mengalahkan lomba tarik tambang kebimbangan Ara itu.


"Saya akan bilang sama Mama, Papa. Tapi persetujuan kamu tetap yang utama. Kita jalani dulu, tapi saya mau hubungan ini serius. Kamu mau kan berjuang sama saya?" Tanya Rava tegas.


Tanpa jawaban pun Rava akan tetap memaksa keinginannya. Cukup egois, tapi Rava yakin Ara juga akan mencintainya.


"Aku.. Aku masih bingung." Kecewa, lagi-lagi Rava kecewa. Bukan itu jawaban yang ia inginkan.


Tertunduk menghembuskan kasar nafasnya, Arah masih sempat melirik makanan yang bahkan belum ia sentuh separuhnya.


"Makanlah dulu.. Lupakan pertanyaan saya tadi." Mengalah. Rava menggeser segelas air jeruk peras hangat untuk membasahi kerongkongannya yang sempat ikut tercekat.


Flashback Off


"Toko buku??" Gumam Ara sambil mengerutkan dahinya. Sejauh ini keduanya belum pernah kencan layaknya pasangan normal. Pertama kencan ala mandor proyek. Lalu sekarang tampaknya akan benar-benar menerapkan kencan ala si Pak Dosen yang curi-curi waktu dengan mahasiswinya.


"Mas mau ngapain??" Tanya Ara sembari menyerahkan helm yang ia kenakan pada Rava.


"Beli buku." Jawab Rafa singkat meraih uluran helm dan menguncinya di sisi kiri jok motor.


"Ah, iya.. Ke toko buku ya beli buku.. Gak mungkin beli siomay." Gumam Ara lirih agak sewot sambil mengekor di belakang Rava. Semua orang pasti tau ke toko buku untuk beli buku atau sekedar melihat-lihat jikalau ada buku yang cocok. Entah Ara yang salah bertanya atau memang Rava yang tidak memberi jawaban memuaskan.


"Kamu butuh ini??" Menggeleng. Buku berisi berbagai teknik survei dan sampling itu ada di tangan Rava.


Menyipitkan matanya, Ara sudah curiga bahwa Rava akan memaksanya belajar.


"Mas Rava butuh buku apa?"


"Bukan saya, tapi kamu butuh buku. Ayo, kita cari untuk skripsi kamu nanti." Melongo dengan mata terbelalak. Raut wajah Ara benar-benar terkejut. Secepat kilat ia memikirkan kapan pernah berujar perlu buku, namun nihil. Nyatanya Ara memang tidak sedang membutuhkan buku apapun.


"Gak lagi butuh apa-apa deh.."


"Katanya kamu udah mulai merancang skripsi kamu nanti.."


"Iya memang udah. Tapi masih belum butuh buku. Lagian syarat daftar pustaka juga lebih banyak jurnal, bukan buku cetak kayak gini Mas. Kamu lupa ya Mas?" Menyilangkan tangan di depan dada, Ara menatap lekat sosok tegap di hadapannya.


"Eh.. Iya.." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Rava salah tingkah menahan malu.

__ADS_1


"Saya kebanyakan mikirin kencan jadi lupa sama tata cara penulisan skripsi yang sesuai standar Universitas." Ucap Rava sambil menyengir. Bisa-bisanya Rava lupa akibat kelamaan dan berlebihan memikirkan modus apa yang bisa ia lakukan. Rupanya cinta benar-benar membuat seorang Rava yang penuh perhitungan menjadi bodoh.


"Ya udah.. Mending kita ke sebelah.." Ajak Ara, menarik pergelangan tangan Rava. Tindakan kecil spontan yang membuat Rava bak kuda delman yang melangkah sesuai arahan lewat tali kekang.


"Mumpung masih di sini, temenin lihat komik manga Jepang ya.." Ucap Ara sambil melepas genggamannya. Sedangkan korbannya justru mendesah kecewa.


"Mana ya..??" Bergumam sendiri, Ara berjongkok mencari buku komik yang sudah terlepas dari plastik pembungkusnya.


"Nah.. Ketemu!!" Ucap Ara girang.


Brugh!!


"Argh!" Keluh Ara dan Rava bersamaan. Tubuh Ara menubruk Rava yang baru saja menunduk. Bersandar manja pada dada bidang dengan degup jantung tidak beraturan.


"Maaf Mas.." Ucap Ara sembari menyingkir dari dekapan Rava. Meletakkan buku yang sempat menarik perhatiannya.


"Sakit ya??" Raut khawatir tampak menghiasi wajah Ara. Mengusap lembut rahang Rava yang sempat ia hantam dengan kepala batunya. Tentu saja Rava diam membeku. Tidak mampu menikmati usapan itu, pikirannya terlalu banyak dipenuhi kembang api tahun baru. Bahkan jantung berdetak lebih cepat dari bunyi cincangan daging ala chef bintang 5.


"Keluar aja ya, Mas?? Ara pengen jajan." Ucap Ara sambil memandang Rava.


"Mas!!" Seru Ara dengan suara agak meninggi membuyarkan lamunan Rava.


"Ha?? Iya??" Benarkan Rava melamun, buktinya sekarang sorot matanya benar-benar kebingungan.


"Ayo makan aja.. Lapar."


"Dasar.." Mengacak lembut rambut Ara, kini Rava yang menggenggam jari-jemari Ara. Mata yang tertuju pada jari yang saling bertautan itu memancarkan kebahagiaan. Ara merasa terlindung, meski hanya lewat tindakan kecil yang juga menguntungkan Rava.


Kesenangan yang Ara dan Rava rasakan tidak pula tergambar pada tempat berbeda diwaktu yang sama. Langkah seorang gadis penuh amarah terasa mengguncang bumi.


"Brengsek!!"


Braakk..!!


"Kamu kenapa, Kak?"


Suara gaduh menarik atensi seseorang yang hendak mengemis cinta. Menghentikan langkah dan menatap tas tangan yang sempat dihempas kasar. Sebuah amplop putih sampai meloncat keluar dari tas tanpa resleting itu.


"Kak Nindy kenapa??" Tanyanya lagi.


"Diam..!!" Bentak Nindy dengan mata memerah. Tampak wajah tegang disertai urat menonjol di pelipis. Tangan terkepal di sisi tubuh dan rahang mengeras sangat menonjol amarah yang meluap-luap.


"Haah..!! Masa bodoh lah!!" Memutar bola matanya malas, hembusan nafas itu tersirat sangat putus asa. Saudara sedarah namun berbeda rahim itu tidak pernah akur. Pertemuan singkat keduanya selalu berisi kalimat sengit.

__ADS_1


Tap.


Tap.


Kaki yang belum sempat membawa sang raga melewati ambang pintu itu terhenti. Sekelebat kesalahannya pada seseorang tiba-tiba berputar di pelupuk mata. Menoleh pada sang Kakak yang masih dalam mode setan gila, ia kembali melangkah mendekat.


"Apa rencana mu gagal?" Tanpa basa-basi pertanyaan itu seakan langsung menampar Nindy.


"Semua gara-gara kamu juga!! Kenapa pakai libatkan cecunguk yang gak punya skill!!?? Seenggaknya dia bisa sakit-sakitan meski rencana ku gagal!!" Jawab Nindy histeris. Suaranya menggelegar menyeruak pendengaran.


"Jadi Kakak sekarang nyalahin aku??" Mengerut hingga alis nyaris tertaut menyiratkan rasa tidak percaya.


"Memang kamu yang salah!!" Hardik Nindy dengan sorot mata sinis.


"Asal Kakak tau ya..!! Aku gak akan ngusik Ara lagi kalau bukan gara-gara Kakak!!!" Balasan tidak kalah tajam keluar. Nafasnya terdengar menggebu-gebu seperti bison yang siap menyeruduk.


"Kamu pikir aku bakal percaya!!?? Otak mu itu dari dulu udah penuh iri dengki sama Ara!!" Seringai lebar menghiasi wajah Nindy. Melangkah mendekati sang adik, senyuman Nindy tampak menyeramkan.


"Aku menyesal Kak sudah melakukan semua itu. Sekarang semuanya udah berubah. Dewa udah pergi. Dia sama sekali nggak mau berhubungan dengan aku lagi. Semuanya dia blokir." Terduduk, untaian kalimat memilukan itu terlontar melewati bibir yang bergetar.


"Selama ini cuma Dewa yang ada buat aku. Cuma Dewa yang aku mau, tapi udah lama hatinya berpaling. Aku yang tahu justru menahan dia untuk tetap di sisiku. Aku pikir dia akan tunduk, tapi hati nggak bisa dipaksakan." Mengusap kasar wajahnya, ia berdiri menatap sendu Nindy. Helaan panjang terhembus dari lubang hidungnya, namun tidak membuat sesak di dadanya berkurang.


...****************...


*


*


*


Dewa sebenarnya suka siapa?🤔


*


*


Ada yang liat story IG Hana? Tebak dong kira-kira ucapan Rava akan muncul di bab berapa.😄


By the way, udah pada taukan siapa si dia yang lagi adu mulut sama Nindy?🙂


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2