Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Ekstrak Daun Jambu


__ADS_3

“Oh, iya.. Hm, ini Bang Gilang. Mas Rava mau ngobrol sama Bang Gilang?” Ucap Ara sambil menatap Gilang yang sedang membayar air minum botol kepada seorang Ibu-ibu, tentu saja itu penjualnya.


[Kenapa ada Gilang di sana?] Mengernyitkan dahi, sebelah tangan Rava terkepal erat di sisi tubuhnya.


“Mas belum baca chat yang Ara kirim?” Kini berganti Ara yang mengernyitkan dahinya.


[Mas langsung telepon kamu waktu kelihatan ada sinyal. Belum sempat cek bagian pesan.] Menyugar kasar rambutnya, Rava putus asa pada tingkah sinyal yang betah malu-malu untuk muncul.


“Ara pulang ke Kota B naik motor bareng Bang Gilang, Mas.” Ucap Ara jujur tanpa beban.


[APA??] Melebarkan kelopak matanya disertai suara yang meninggi, debaran di balik dada kiri Rava terdengar nyaring melebihi deburan ombak. Seolah ingin melompat keluar, mengejar sang pemilik cinta dan menjauhkannya dari Gilang.


“Astaga.. Udah kayak Dimas aja suka teriak waktu telepon.” Gerutu Ara sembari mengusap daun telinganya.


[Kamu sering telepon juga sama Dimas?] Belum habis panas luar dalam yang ia rasakan, Rava sudah dibumbui lagi oleh perasaan cemburu yang memburu.


Mungkin dirinya bisa meredam dan menutup emosinya, namun sudah beberapa hari sulit menghubungi Ara dan frustasi karena sinyal membuat Rava ingin meluapkan kekesalannya.


[Sayang, Mas mau bicara sebentar sama Gilang.] Ucap Rava tiba-tiba sambil memijat kepala nya yang sebenarnya tidak sakit atau bahkan berdenyut. Semua hanya sebuah spontanitas saja.


“Oke.” Ucap Ara pada Rava melalui sambungan telepon.


“Nih, Mas Rava mau ngomong.” Menyerahkan ponsel dari tangannya pada Gilang, Ara menyandarkan tubuhnya di motor, tepat di belakang punggung Gilang.


“Hal-..”


[Jangan macam-macam kamu sama istri Abang!] Ucap Rava ketus tanpa basa-basi. Memotong sapaan Gilang yang baru sampai di ujung langit-langit mulutnya.


“Calonnya ketinggalan Bang. Belum istri, masih calon loh..” Tukas Gilang jengah pada keposesifan Rava.


[Hati-hati bawa motornya. Jangan modus sengaja rem mendadak. Awas kamu!!]


“Ketahuan yang pernah modus gitu, iya kan?” Ucap Gilang dengan suara mendayu, mengalun puas dengan senyum sumringah.


“Gilang minta dipeluk Ara juga mana Abang tau.” Celetuk Gilang lagi secara tiba-tiba untuk membangkitkan kobaran api cemburu Rava. Dalam pikiran Gilang, Rava berada jauh di sana, jadi dirinya aman dari amukan banteng posesif.


Benar, aman untuk saat ini, tidak tau pula bagaimana nasibnya di masa depan.


Plak.


“Sakit Ra..!! Main pukul aja, bar-bar!” Ucap Gilang dengan tatapan sinis sambil mengusap pelan lengannya yang terpukul gemas oleh Ara.

__ADS_1


“Mulut mu itu Bang, bikin masalah.” Bisik Ara lirih.


[Halo?]


“Iya, tenang aja Bang, aku udah punya pacar.” Ucap Gilang tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Pengakuan itu tidak membuat Ara terkejut, justru Ara meragukan ucapan Gilang.


“Ara kalah jauh, jadi aku gak mungkin tertarik sama tipe bocil.” Ucap Gilang santai dengan lirikan mata mengejek pada Ara. Tatapan Ara jelas langsung membulat, kali ini dirinya baru terkejut dan sebal dikatai sebagai bocil.


Dugh.


“Bocil?” Ucap Ara dengan tatapan nyalang setelah sempat menendang kaki Gilang.


“Bocil beringas!!” Pekik Gilang dengan suara meninggi. Kaki yang Ara tendang langsung terangkat ke atas jok motor. Mengusap kasar berharap rasa berdenyut segera menghilang.


“Mana ponsel ku!? Mau bicara dulu sama Mas Rava.” Ucap Ara dengan merebut paksa ponsel yang masih Gilang genggam.


[Sayang?] Sapa Rava dari seberang sana yang merasa diabaikan. Terduduk di pasir pantai yang basah, Rava tidak perduli tindakannya menghasilkan sebuah cap di celana seperti balita yang mengompol.


“Mas di sana baik-baik aja kan? Perutnya masih sakit nggak?” Suara Ara melembut. Tatapannya berubah teduh tapi sarat akan kekhawatiran.


[Udah enakan kok sayang.. Kemarin Mas dikasih air ekstrak daun jambu sama warga sekitar. Rasanya gak enak, tapi segan juga mau Mas tolak.] Tutur Rava menenangkan Ara. Tanpa perlu diam-diam mengulum senyumannya, kini Rava sudah tersenyum lebar, bebas tanpa batas.


[Iya maaf, yang..] Ucap Rava sesal.


Bukan menyesal karena tidak cocok dengan makanannya, namun rasa sesal karena membuat Ara sempat khawatir. Padahal jelas posisi Ara juga dalam keadaan berduka. Bukannya menemani, Rava justru pergi jauh dan baru bisa memberi kabar dirinya terkena diare hingga dehidrasi.


“Enak banget kan sakit perut melilit sampai digotong ke puskesmas?” Sindir Ara tepat sasaran.


Terlalu lemas dan sering bolak-balik menyetor isi perutnya membuat Rava kehabisan tenaga hingga tumbang. Beruntung sebelum kesadarannya hilang Rava masih sempat menghubungi rekannya untuk membantu ke puskesmas satu-satunya di Desa itu.


[Nggak loh, yang..] Ucap Rava membantah dalam nada rengekan.


“Terusin aja nanti coba-coba makan pedas gak sesuai kemampuan perut lagi!” Gerutu Ara ketus seakan tidak ada suara lembut dengan kekhawatiran maksimal sebelumnya.


[Mas kapok. Tadinya mau makan sesuatu yang ingin kamu makan. Makanya Mas minta sengaja nyari yang jual telur rica-rica. Tapi kayaknya dimasak pakai cabai kering, jadi perutnya nggak cocok. Biasa juga kalau cabe merah segar Mas makan gak apa-apa kok.] Ucap Rava yang secara tidak langsung berargumen bahwa semua salah cabe kering.


“Mas sekali makan telurnya 3 sama sambal yang hampir setengah mangkuk gimana nggak mules?! Orang satu ini bener-bener ya.” Ucap Ara bertambah sewot saat mengingat foto dari Rava yang ia terima 3 hari yang lalu.


[Kan Mas juga mau belajar supaya lidahnya nggak kaget lagi sama masakan kamu. Supaya kamu gak susah pisah makanan atau terlalu banyak turunin standar lidah kamu demi Mas.]


“Jangan bilang Mas nyari yang jual sambal terasi juga?” Tanya Ara penuh selidik, matanya memicing, namun objek yang dipandang dan yang terbayang di otaknya jelas sangat berbeda.

__ADS_1


[Sebenarnya Mas sakit perut gara-gara sambal terasi juga. Setelah malam sebelumnya Mas makan telur rica-rica, itu besoknya sarapan tempe goreng hangat sama sambal terasi plus lalapan. Persis sama apa yang kamu mau. Cuma teman Mas buatnya kepedasan deh, jadi reaksi sakit perutnya cepat banget.] Menyengir Rava sambil menggaruk pelipisnya.


Menepuk dahinya dengan sepenuh hati, Ara bukannya senang atau bangga, tapi miris pada lambung Rava yang menjadi uji coba. Dari sini Ara mulai bertekad membatasi curhatan ngidam makanan berbau cabe. Bisa saja makanan yang Ara inginkan tidak bisa ia dapatkan, tapi justru sudah sampai ke lambung Rava yang rentan.


“Udah belum?” Celetuk Gilang tiba-tiba sambil menyenggol pelan lengan kiri Ara dengan sikunya.


“Mas udah dulu ya. Ara mau lanjut lagi, masih jauh perjalanannya.”


[Iya, sayang. Kamu hati-hati ya.. kalau ada rest area suruh Gilang berhenti dulu. Jangan maksa tempuh perjalanan jauh kalau mulai capek.]


“Iya, Mas. Udah ya Ara matikan?”


[Iya, sayang. I love you, sunshine..]


“Hm, iya.” Ucap Ara singkat tanpa membalas ucapan manis Rava. Pipinya sudah merona dan panas hingga menimbulkan suara kekehan Gilang yang menahan tawa nya.


“Yang lagi kasmaran. Ck! Ck!”


Mengabaikan cibiran Gilang, Ara sudah duduk di jok belakang sambil mengipasi wajahnya. Ara salah tingkah, debaran jantungnya seakan melayang bersama roti awan. Tidak terbayangkan bila ditambah hadirnya Rava di hadapan Ara, mungkin wajah memerah itu ingin disembunyikan di ketiak Rava.


...****************...


*


*


*


Apakah benar Gilang memiliki pacar?🤔


*


*


Kalau Hana calon istri nya Bang Gilang, jadi pacarnya siapa?😕


Ketiak Rava bau asem gak ya.. Takutnya waktu Ara beneran sembunyi di ketiak Rava malah zonk.🤭


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2