
“Kamu siap Dim?”
“Siaplah..! Aku nggak pernah menyangka akan ada di moments yang selama ini hanya ada dibenak aku aja.” Ucap Dimas sambil menyengir.
“Sama, aku juga.”
“Udah keren kan? Aku ganteng kan?” Memainkan kedua alisnya naik-turun secara serentak, Dimas tersenyum lebar. Aura positif yang menguar memancarkan kebahagiaan dari diri Dimas.
“Demi hari bahagia ini aku rela bohong, kamu ganteng banget.” Kalimat itu bukan sebuah kebohongan yang tebebas dari bibir melengkung ke atas dan ibu jari yang teracung mantap.
Pada kenyataannya Dimas memang terlihat tampan dalam balutan kemeja putih berlapis jas dan dasi kupu-kupu yang senada dengan celana bahan kain hitam yang ia gunakan. Sekilas penampilan Dimas tampak seperti warna pakaian pegawai magang, yang membedakan hanya pada dasi kupu-kupunya. Namun ketahuilah yang ada di hadapan Ara jelas cukup enak dipandang.
“Aku tinggal ke ruang Yuki dulu ya, Dim.. Pasti dia cantik banget.”
“Video call ya di sana..” Teriak Dimas sambil menatap Ara yang menyilangkan tangannya ke udara dengan tetap memunggungi Dimas.
“Dasar teman pelit!! Aku kan juga mau lihat gimana si Yukicot kalau dirias jadi pengantin.” Gerutu Dimas sambil menyandarkan punggungnya di sofa single, memainkan kancing kemeja seakan mengeluarkan jurus jitu saat ujian pilihan ganda.
“Dimas!?” Sebuah suara yang tidak asing menyeruak indra pendengaran Dimas.
“Loh Pak Rava datang? Kata Ara Bapak masih di luar Kota.” Mengernyitkan dahinya, Dimas memiringkan kepalanya sambil memutar memori. Dimas yakin Ara sempat menyebutkan bahwa Rava tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
“Dimana Ara?” Mengabaikan kebingungan Dimas, Rava yang sempat menyapukan pandangan ke segala penjuru sebenarnya justru merasa lega tidak menemukan Ara.
Sedari tadi hati Rava sudah membara saat Jona dengan santai mengabarkan lewat pesan singkat bahwa sang Kakak pergi dengan laki-laki lain. Padahal ia berusaha memberi kejutan dengan menjemput Ara di rumah, namun gagal karena terlambat. Perjalanan panjang dan terjebak macet benar-benar membuat Rava gemar mengumpat.
Setibanya di lokasi acara, bukannya bisa langsung menemukan sosok pujaan hatinya, Rava justru diarahkan oleh Jona pada informasi bahwa Ara bersama Dimas. Tanpa alasan yang masuk akal, akhir-akhir ini Rava seolah waspada terhadap kehadiran Dimas. Ralat, bukan hanya Dimas, tapi Gilang, laki-laki lainnya dan pastinya Dewa yang bekerja dalam satu gedung yang sama dengannya.
Mengingat Dewa dan beberapa pertemuan tidak sengaja membuat Rava menahan gejolak amarah. Rava seakan membenci Dewa yang pernah Ara sukai. Rasa benci itu bahkan seolah akan meletup bila tidak diredam lewat tawa Ara dalam angannya.
Bukan membenci karena Dewa pernah memiliki ruang spesial di hati Ara, tapi lebih pada bagaimana Dewa pernah menggoreskan luka mendalam pada Ara nya. Menyia-nyiakan perasaan tulus dari gadis yang kini hanya menyimpan cinta milik Rava.
“Ara baru aja pergi ke ruang rias Yuki. Bapak nanti keluarnya bareng saya aja. Acaranya juga belum dimulai.. Duduk ngadem di sini aja Pak.” Ucap Dimas santai sembari menyilang kan kakinya.
Ruangan yang diperuntukan hanya untuk pihak keluarga dan juga kedua mempelai tampak kosong dan hanya terisi oleh kehadiran Dimas. Mungkin karena sebentar lagi acara sakral pengikat janji suci pernikahan itu akan segera di mulai.
“Saya duluan aja, Dim. Saya mau temani Jona dan Rian di luar.” Ucap Rava cepat sambil sekilas memberikan senyum kaku pada Dimas.
__ADS_1
“Wih.. Lagi pendekatan sama adik ipar. Semangat ya Pak.. Semoga,” ucapan terakhir Dimas sengaja diputus, ia menggoda Rava dengan kerlingan mata.
“Cepat menyusul..” Ucap Dimas lagi dengan nada mendayu, dagu terangkat sekilas dan senyum merekah. Seketika Rava bergidik ngeri pada tingkah Dimas. Mengusap tangannya yang merinding dan berjalan cepat meninggalkan Dimas yang tergelak kencang.
“Sayaaang..” Panggil Rava tanpa peduli pada banyak pasang mata yang ikut menoleh ke arahnya. Langkah dan senyuman di bibirnya melebar bersamaan.
“Sayang..” Panggil Rava lagi, kali ini dengan lembut.
“Mas?” Ucap Ara lirih. Ia tidak percaya pada kehadiran sosok yang sudah merangkul posesif. Mendongakkan kepalanya, Ara tatap Rava dengan raut terkejut. “Mas Rava?”
“Kamu kenapa sih kayak lihat barang antik?” Tanya Rava sambil mencubit gemas ujung hidung Ara.
“Kok bisa datang?” Tanya Ara dengan kernyitan di dahi.
“Memang kenapa Mas harus gak bisa datang?” Ucap Rava sembari terkekeh. Wajah Ara sungguh terlihat sangat menggemaskan.
“Bukan gitu.. Katanya masih di luar Kota. Semalam telepon bilang besok baru pulang.”
“Mas memang mau pulang hari ini. Mau kasih kejutan sama kamu. Gak taunya rupanya hari ini Mas juga terkejut teman kamu udah mau nikah.”
“Nah itu, Ara juga gak nyangka kalau hari ini teman Ara mau nikah. Tiba-tiba aja kasih undangan.” Menghembuskan nafas beratnya, Ara khawatir pada kondisi Yuki yang jauh dari kata baik. Hari yang bahagia tidak tampak bahagia di mata Ara, senyuman Yuki justru menyesakkan ruang kecil di dada Ara.
“Ara pikir Mas kan nggak dekat banget sama Yuki, jadi ya gak usah datang juga gak apa-apa. Tapi rupanya Yuki minta Ara untuk undang Mas juga, jadi ya gitu..” Desah Ara sembari mengerjapkan matanya dan tersenyum sok imut.
“Jangan pasang muka gitu, nanti ada yang lihat Sayang..” Seloroh Rava sambil menangkup kedua pipi Ara.
“Jelek banget ya?” Tanya Ara spontan.
“Imut banget sampai Mas gak rela berbagi.”
“Halah.. Lebay nya.” Memutar bola mata malas, Ara menepis pelan tangan Rava. Ara lupa bahwa semua yang Rava lakukan hanya akan menyenangkan hatinya saja.
“Harusnya kita yang di depan sana.” Ucap Rava tiba-tiba saat keduanya sudah duduk bersama keluarga Ara, memandang pada arah yang sama, yaitu pelaminan.
“Ngapain kita yang di depan sana?” Tanya Ara pura-pura tidak tau dengan memasang wajah polos. Berbisik lirih tepat di dekat telinga Rava sambil menahan nafasnya.
“Ya kita nikah, Sayang..” Balas Rava tidak kalah lirihnya sembari melirik pada Papa Yudith yang terhanyut dalam alunan melodi yang mengiringi acara sakral itu. Sedangkan Mama Lauritz sibuk membersihkan sisa bumbu rendang yang menempel pada bibir Rian.
__ADS_1
“Ya kenapa harus di depan sana? Ini kan acara punya Yuki.” Menaikkan alis kanannya, Ara berucap santai disertai melepas belitan jemari Rava. Tangannya sudah lembab karena terlalu lama Rava genggam.
“Pinter banget berkilah nya.” Ucap Rava gemas sambil merangkul bahu Ara erat. Hampir saja Rava ingin mengecup pelipis Ara jika tidak langsung sadar posisi mereka saat ini.
“Fakta loh Mas.. Ini acara nikah Yuki, masa iya kita yang di depan sana.”
“Ya udah, pulang nanti kita nikah di depan rumah kamu.” Ucapan santai Rava mungkin seperti candaan, namun jujur saja Rava akan nekat bila boleh melakukannya dengan serius. Bahkan tanpa sadar Rava mengucapkannya dengan lantang.
“Siapa yang mau nikahin kamu sama anak Papa?” Pertanyaan datar itu terucap dari bibir Papa Yudith yang rupanya sudah menatap serius pada Rava dan Ara.
“Lepas.” Bisik Ara lirih sambil mengelakkan tubuhnya dari rangkulan Rava.
“Gak apa-apa, sini aja.” Melepas rangkulannya, Rava beralih kembali menggenggam tangan Ara di bawah meja.
...****************...
*
*
*
Bukan Ara, tapi Yuki, jadi siapakah yang menikah dengan Yuki?🤔
*
*
Hana siap menerima keluhan karena bukan Ara yang menikah.😄
Mau tau kelanjutan kisah Yuki? Ayo diintip ke novel ‘Terhalang Cinta KITA Tanpa AKU’ yang sudah di rilis. Klik profil Hana saja ya.. Jangan lupa di klik love favoritnya.
Blurd :
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰