
"Ra, demam?" Punggung tangan Yuki menyentuh dahi Ara. Mata cekung Ara merespon dengan mengerjap sekilas.
"Kok bisa?" Lanjut Yuki.
"Pertanyaan bodoh apa itu? Kok bisa?? Hello mbak Yuki yang katanya pinter." Celetuk Dimas seenaknya.
"Dasar Dimasu!!" Melotot marah Yuki pada Dimas.
"Heh.. Yukicot!! Mulutnya dijaga ya!!" Telunjuk kiri Dimas mengacung, menunjuk Yuki naik turun berkali-kali.
"Lagian orang sakit juga ada sebab akibat kali. Hipotesis aja perlu buat prediksi sakit apa. Ya kali sebab akibat dilupain. 5W 1H tetep perlu Bro." Cerocos Yuki menggebu-gebu.
"Nah tau itu 5W 1H. Dari mana datang 'kok bisa'??"
"Dasar Dimas Cuuiiiit!! Cuit cuit burung perkutut aku gampar juga nanti!! Huh! Huh!" Emosi Yuki memuncak. Kedua tangan Yuki sudah bertengger cantik di sisi pinggangnya. Posisinya sudah siap menantang gulat Dimas.
"Duh. Mulai lagi." Membatin jengah Ara pandangi kedua makhluk kasat mata yang gemar olahraga cekcok.
"Udah laaah.." Mengerjap-ngerjapkan matanya imut bak anak bayi, jurus memelas mau tidak mau Ara lancarkan.
Meski telinga Ara sudah biasa dilewati agen penyalur informasi dari kanan ke kiri dan kiri ke kanan, namun kepala yang sudah panas tidak mampu menampung segala macam kosa kata yang pasti akan melebihi kapasitas.
"Aku cuma ketiduran di lantai. Jadi paling demam gara-gara itu." Jelas Ara menyela, berharap ketegangan diantara kedua temannya padam. Namun gagal, percuma suara Ara keluar kalau mental di telinga keduanya.
"Ara.." Suara melengking tiba-tiba menginterupsi ketiganya. Sorak gembira Ara rayakan di dalam hati pada sosok yang datang tiba-tiba itu.
"Kata Om Sul ini ada titipan dari satpam gerbang depan."
Mengeryit heran Ara amati kantong berlogo salah satu apotik ternama. Ditelitinya isi kantong yang sudah diterimanya itu.
"Dari siapa ini Feb?" Tanya Ara pada si pengantar barang.
"Gak tau. Kata Om Sul tadi satpam depan kasih katanya ada yang nitip buat Belvya anak kelautan perikanan semester 5. Nah kan Belvya cuma satu. Jelas dong siapa?"
"Emang apa sih isinya?" Lanjut si pengantar yang dipanggil 'Feb' itu.
"Obat flu sama turun panas. Perasaan yang tau aku sakit baru 2 bocah ini deh." Jawab Ara.
"Ciyee.. Ada fans nih kayaknya.. Uhuuy.." Goda Feby, salah satu teman satu angkatan Ara, Yuki dan Dimas.
"Gak usah GR dulu kali Ra. Chat atau telpon orang rumah sana. Orang aneh mana coba yang mau ngefans. Artis juga bukan." Cibiran Dimas membuat Ara mendengus sebal pada Dimas. Bisa-bisanya Dimas tega menusuk hidungnya yang sedang mengembang ingin terbang.
Tutt.. Tutt.. Tutt..
[Halo kak? Kenapa Kak?]
"Mama ada kirim obat flu sama demam ya buat Kakak ke kampus?"
[Siapa yang sakit Kak?]
__ADS_1
"Kakak yang sakit Ma. Jadi bukan dari rumah?"
[Tukang sayur langganan depan rumah mungkin..] Jawab Mama Lauritz sekenanya.
[Bukan Mama. Jangan dipakai obatnya. Nanti kalau isinya aneh-aneh gimana? Simpan aja dulu atau buang langsung. Pulang nanti ke Dokter aja.]
"Oke Ma kalau gitu. Udah dulu ya Ma. Kakak tutup."
[Oke sayang.]
"Kata Mama bukan. Jangan diminum juga katanya." Jelas Ara pada semuanya setelah panggilan diakhiri.
"Ya udah. Simpan aja dulu Ra. Buat barang bukti. Mending cari yang anget-anget sana!! Sama itu beli kompres demam yang kayak buat bayi itu gih." Mendelik sebal Ara pada Dimas. Masa Ara harus memakai kompres demam sepanjang pergerakannya di kampus.
Memang terkadang urat malunya sudah putus, terlalu cuek, tidak perduli sekitar, namun Ara tetap tidak ingin jadi perhatian banyak orang gara-gara kompres demam yang terpampang di dahinya.
"Eh Feby mana?" Tanya Ara pada Dimas dan Yuki saat sosok yang ternyata bernama 'Feby' tidak ada diantara ketiganya.
"Heh!! Udah pergi dari tadi kali pas ada yang nelpon. Kebiasaan banget gak peka lingkungan hidupnya sendiri." Celetuk Yuki yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Ara.
"Udah yuk pulang Ra. Kita antar ya.. Tadi aku nebeng dia perginya, jadi motor gak ada yang ditinggal nih. Kapan lagi bisa ghibah berdua?" Ucap Yuki sambil menarik lengan Ara.
"Terus pulang dari rumah Ara mau ngojek?" Tanya Dimas pada Yuki.
"Ya ikutin kita lah dari belakang cuit. Ya kali pergi diantar pulang tak dijemput?? Aku bukan jelangkung yang bisa mandiri." Celetuk Yuki sewot. Bisa-bisa saja agenda pulang akan ngaret, syukurnya kali ini Dimas tidak membuka granatnya.
...----------------...
Menyipit Ara menangkap siluet yang belum jelas rupa wajahnya. Sosok familiar yang masih belum Ara ingat sepanjang roda motor mengikis jarak. Maklum saja Ara mengidap astigmatisme yang menyebabkan ia sulit melihat jelas, namun Ara enggan menggunakan kaca mata.
"Bang Bima?" Ucap Ara lirih yang masih mampu di dengar Yuki.
Turun dari motornya, Ara menghampiri Bang Bima.
"Sore Bang.. Ada apa ya? Mama lagi keluar sama Papa ketemu orang beli mobil dari bengkelnya Papa." Tanpa mendengar jawaban keperluan apa dari Bang Bima, Ara sudah yakin pasti yang dicari Mama-nya.
"Cuma mau kasih kue dari nenek Dek. Kemaren Tante Liz ada bilang ke nenek katanya ada yang pengen." Senyum menawan lagi-lagi hampir menggoyahkan Ara. Bang Bima menyodorkan kotak berisi kue apem yang sempat membuat Ara ngidam. Dengan girang dan semangat tinggi Ara sambut kotak kue itu.
"Yes!! Apem!! Udah lama banget gak makan ini. Bilang sama nenek makasih ya Bang." Mata Ara menyipit nyaris membentuk garis akibat senyum yang super lebar.
"Oya Dek, Abang minta nomor kontaknya boleh? Jadi kalau gak ada Tante Liz bisa hubungin Adek kalau nenek nitip-nitip gitu." Ucap Bang Bima sembari menunjukkan ponselnya.
"Oh iya bang. Ketik aja ya Bang, biar Ara sebutin." Jawab Ara santai sambil menatap Bang Bima sekilas. Tidak mampu Ara berlama-lama menatap wajah rupawan itu.
"0813*******7. Udah itu Bang." Lanjut Ara.
"Oke. Makasih ya Ra."
"KHEM!!" Deheman keras layaknya mengeluarkan dahak batu mengejutkan Ara dan Bang Bima. Si pelaku di belakang tubuh Ara sudah menyenggol kasar bahu kiri Ara.
__ADS_1
"Dimas Bang, temennya Ara." Menyodorkan tangan untuk bersalaman, Ara mampu melihat senyum ala bisnis milik Dimas.
"Bima. Mmm.. Tetangganya Ara."
Menaikan sebelah alisnya, Dimas menoleh ke kanan kiri memerhatikan lingkungan rumah Ara yang berjauhan dari rumah lainnya. Pasti Dimas bingung dan sedang menerka-nerka tetangga yang sebelah mana, dan Ara mana perduli mau Dimas bingung atau tidak.
"Ooh.. Tetangga yaa.. Hem.. Tetangga loh Dim.." Celetuk Yuki yang sudah berada di samping kanan Ara.
"Dasar Yuki sialan!!" Membatin kesal Ara dengar kalimat Yuki yang penuh godaan, sindiran dan ejekan padanya itu.
"Kalau gitu Abang pulang dulu ya Dek.. Mari Dimas, mari Dek. Abang pulang ya Ra." Ucap lembut Bang Bima untuk pamit pada tiga kembang serangkai.
"Ada yang udah move on. Pantesan kemaren ketemu Hans lagi selow aja. Rupanya Hans udah jadi batu karang di laut." Goda Yuki pada Ara. Memang Ara sempat beberapa kali bertemu Hans lagi, tentu bersama tim penelitian. Jika berdua dengan Hans saja pasti tidak hanya akan banyak makan hati, tapi juga jantung Ara.
"Udah deh diem aja. Mending mampir dulu makan nih kue. Di rumah juga Mama ada stok stik keju, kue bawang sama brownies kering tuh." Sergah Ara pada kedua temannya.
"Kok gak bilang sih dari tadi Ra? Cepet buka pintunya dong biar bisa nyerbu!!" Urat malu Dimas memang tidak pernah dipasang. Kalau bisa masuk ke lemari kue Mama Lauritz, pasti sudah bertapa Dimas di dalam sana.
"Nih buka." Meletakan kunci rumah dengan gantungan tabung-tabung kecil bening berisi pasir sintetis warna-warni.
"Mandi di sini aja ya Yuki. Pakai baju aku aja." Ucap Ara pada Yuki saat sudah sampai di ruang tengah rumah orang tua Ara.
"Ogah. Percuma mandi tapi gak ganti dalaman." Tolak Yuki sambil mengibaskan tangan tanda tidak mau.
"Ada yang baru. Udah di cuci juga. Ambil aja." Bujuk Ara pada Yuki.
"Nah kalau gitu aku suka." Ucap Yuki bergegas ke kamar Ara. Yuki memang sudah biasa seperti itu, hanya saja bila ada Ara di dekatnya. Yuki masih tahu diri harus memiliki etika di rumah orang.
"Aku gimana?" Tanya Dimas tiba-tiba pada Ara.
"Emang mau makai dalaman aku?"
Mendelik sebal Dimas berlalu meninggalkan Ara sembari meraih toples kue bawang.
...----------------...
Tepat jam setengah tujuh malam Ara selesai memasak capcay, telur dadar dan tempe goreng. Ara, Dimas, Yuki dan kedua adik Ara duduk makan malam bersama sambil menonton berita di salah satu stasiun televisi. Kelimanya memilih duduk di lantai beralas karpet bulu tipis untuk makan sambil menonton.
Malam itu Mama Lauritz dan Papa Yudith akan pulang malam karena katanya sekalian belanja bulanan di supermarket besar yang lumayan jauh jaraknya dari rumah.
"Ck.. Udah feeling aku ini. Keliatan kinerjanya gak bagus tapi sering eksis di sosmed jalan-jalan, ternyata korupsi proyek reklamasi sama pasir. Anaknya pemakai juga. Sekali ketangkep langsung sekeluarga geng." Ucap Dimas semangat mengamati berita utama di televisi rumah Ara.
Tubuh Ara menegang. Ara sangat kenal pada salah satu sosok yang sedang di sorot kamera dalam kamar hotel itu. Telur dadar yang sudah dikunyah itu sulit Ara ditelan.
...****************...
Astigmatisme : Astigmatisme atau mata silinder adalah gangguan penglihatan akibat kelainan pada kelengkungan kornea atau lensa yang menyebabkan pandangan kabur, baik dalam jarak dekat maupun jauh.
Reklamasi : Kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan, sosial dan ekonomi melalui kegiatan pengurugan, pengeringan lahan atau drainase.
__ADS_1