
"Selamat sore, Pak.."
"Hmm"
Ceklek
"Jangan ganggu saya sampai setengah jam nanti." Perintah Dion pada Nindy yang menjabat sebagai perawat sekaligus asistennya.
Nindy Alexandria (Rhu Hwayoung)
"Baik, Pak." Jawab Nindy cepat. Mengamati sosok Dion yang menghilang di balik pintu, dapat Nindy lihat bahwa Dion tampak banyak pikiran dan menumpuk beban.
"Dokter ganteng kenapa lagi sih??" Gumam Nindy.
'Padahal udah sempet senyum sumringah lagi beberapa hari ini, kenapa sekarang kusut lagi sih Mas Dion ini??' Ucap Nindy dalam hati. Menyebut Dion dengan panggilan 'Mas' tanpa izin, padahal jelas Dion lebih muda 2 tahun darinya.
Sedangkan di dalam ruangan bernuansa putih, Dion menutup matanya dengan lengan kanan. Helaan nafas tidak beraturan. Menjadi tenaga ahli kejiwaan bukan berarti ia mampu mengendalikan emosinya sendiri.
Dion tidak bisa membayangkan bagaimana hancur lebur dirinya jika Ara menjadi Kakak iparnya kelak. Melihat saja keduanya tertawa bersama sudah terselip rasa sakit menusuk di dada. Entah ia harus bagaimana lagi untuk melenyapkan secuil rasa cinta yang masih tampak permukaannya. Iya, cinta yang terpaksa Dion kubur masih terlihat jelas.
"Bang Rava bahagia, Ara bahagia, aku bahagia.." Gumam Dion lirih. Kali ini matanya sudah menatap bebas langit-langit atap berbatas plafon putih, namun sialnya mata itu seolah menjadi proyektor yang menyorot plafon sebagai layar. Adegan demi adegan mengiris jantung Dion yang pernah ia lihat terputar perlahan, mengejek mirisnya kisah cinta Dion diantara sang pasien dan Abang kandungnya.
"Kenapa dulu Bang Rava gak langsung bilang kalau Ara cewek yang disuka?? Kalau aja dulu aku tau duluan, semua gak bakalan kejadian kayak gini.."
"Kalau aja dulu aku berani lancang lihat foto di kotak itu, pasti aku tau itu Ara." Sesal Dion pada dirinya sendiri. Memutar kursi yang didudukinya menghadap dinding kosong, Dion memejamkan matanya.
Sedangkan di luar ruangan Dion ada Nindy yang sengaja membuat air rempah hangat berisi kayu manis dan cengkeh yang sengaja distok oleh Dion, ia tau kebiasaan Dion saat tubuhnya lelah dan pikirannya kacau. Membawa segelas minuman dengan aroma wangi itu menuju ruang Dion, Nindy lupa jika waktu belum menunjukkan setengah jam Dion berdiam dalam ruangannya. Membuka perlahan hingga tanpa suara, langkah kaki Nindy terhenti kala suara lirih sosok yang membelakanginya terdengar jelas.
"Ara.." Memegangi rambutnya, Dion menyebutkan nama Ara.
'Sialan! Pasti gara-gara anak kecil itu.' Ucap Nindy dalam hati seraya menutup kembali pintu ruangan Rava perlahan. Gelas berisi minuman hangat itu ia letakan kasar di mejanya. Tangan terkepal dan nafas tidak beraturan, Nindy mengutuk pada kematian Ara. Berharap misi bunuh diri Ara selanjutnya akan berhasil.
'Anak sialan itu lagi-lagi bikin Mas Dion susah!! Pasien aja tapi gatel banget!!' membatin kesal Nindy pada Ara. Padahal Ara jelas tidak akan tau apa-apa tentang kondisi Dion, bahkan tidak ada kesalahan Ara sedikitpun pada keadaan Dion yang kacau.
'Apa ini karma?' Ucap Nindy tiba-tiba yang masih dalam hatinya. Kejadian beberapa tahun lalu membuat Nindy gusar, keberadaan Ara bisa menjadi batu sandungan bagi kedekatan Nindy dan Dion. Seolah pikiran licik menguasai seluruh saraf otaknya, Nindy mencoba mencari jalan keluar untuk menyingkirkan Ara.
"Iya, aku harus provokasi dia. Pasti sekarang dia udah keluar." Ucap Nindy sumringah.
"Siapa yang keluar??"
Pyarr
Nindy yang tersentak kaget tanpa sengaja menyenggol segelas minuman yang sudah mulai dingin. Nindy yang kaget, gugup dan juga kelabakan menjadi bingung harus apa. Ia terlalu khawatir Dion mengetahui ide liciknya, padahal tidak akan mungkin bisa diketahui Dion jika Nindy hanya mengucapkan dalam hati.
"Hati-hati dong Mbak!!" Suara tinggi Dion mengisi seluruh ruang terbuka itu. Bahkan beberapa perawat yang bertugas di luar sampai mengintip dari balik pintu kaca. Mereka terlalu takut ikut campur bila Dion sedang bertanduk.
"Maaf Mas.. Ehh.. Maaf Dok." Ucap Nindy gelagapan, Dion yang sempat mengernyit sudah menormalkan kembali raut wajahnya.
"Tolong bersihkan yang bener.. Minta sapu sama pel dulu sana ke bibi di ruang belakang." Ucap Dion ketus.
__ADS_1
Semenjak Dion mengetahui bahwa Nindy pernah bersikap kasar, sinis dan sewot pada Ara, sejak itulah rasa hormat dan sikap ramah Dion berubah. Jika perasaannya sedang baik, Dion akan melihat Nindy bagai orang asing yang hanya diberikan senyum seadanya. Hanya tanda terima kasih karena sudah bekerja dengan maksimal pada Dion. Namun bila sedang kacau seperti saat ini, maka kalimat yang biasanya terdengar ramah juga akan keluar dengan ketus dan sinis.
Sedangkan di tempat berbeda, Ara asik melakukan ritual mandinya. Jangan kira Rava sudah lenyap dan menyisakan goresan ban mobilnya saja di halaman rumah, ia saat ini justru dalam perbincangan seru bersama Papa Yudith. Pembahasan seputar tanah nampaknya sangat cocok dengan Rava dibandingkan piston, radiator, kampas, pompa gas dan seperangkat kunci set.
"Bagus dong Rav kalau bangun ruko daerah situ.."
"Hehe.. Iya Pa." Jawab Rava singkat dengan kekehan kecil.
"Tapi bukannya kemarin cerita perusahan gerak di bidang pengerukan sama yang buat reklamasi ya??" Tanya Papa Yudith saat mengingat pekerjaan yang pernah Rava sebutkan.
"Ini lagi mulai merambah ke jasa lain Pa. Masih baru juga.. Rencana dari sini nanti bakal ada proyek pembangunan di daerah terpencil. Pelosok banget lah daerahnya.. Bisa susah sinyal kita di sana." Ucap Rava sambil menautkan kedua jari-jari tangannya. Bohong bila mengatakan Rava sudah terbiasa dan tidak gugup lagi, justru sebelum Ara resmi menjadi miliknya terucap jantung Rava akan terus bergenderang tidak karuan.
"Program pemerintah atau swasta??"
"Swasta Pa. Ini proyek Rava sama temen-temen, sekaligus temen yang di pendidikan itu kali ini kampusnya menyasar daerah pelosok. Jadi rencananya mahasiswa yang tahun ini KUKERTA mau diikutkan ke daerah yang Rava bangun." Ucap Rava bangga. Sebisa mungkin pada kesempatan apapun ia ingin menjual kelebihannya agar dilirik oleh Papa Yudith sebagai calon pendamping Ara.
"KUKERTA? Maksudnya KKN ya?" Tanya Papa Yudith pada Rava.
"Nah iya itu Pa."
"Program sama bidang pendidikan yang mau dibangun apa?"
"Sejauh survei yang dilakuin rencana proyek pembangunan gedung sekolah SMA, soalnya di daerah itu masih sampai SMP aja. Kepala daerah di sana juga udah diajak runding buat pengadaan jasa pengajar, mungkin awal akan banyak diisi staf honorer. Jadi sambil menunggu proses pembangunan selesai, dari daerah bisa naikin permintaan staf pengajar dulu."
"Jadi anak-anak di sana SMA nya keluar daerah gitu?"
"Sebagian iya Pa, sisanya putus sekolah. Yang masih mau sekolah juga gak bisa pergi pulang ke rumahnya langsung, jadi harus kos atau tinggal di rumah saudara yang ada di daerah yang ada SMA. Jauh banget jarak tempuh buat keluar desa.."
"Ya gitu Rav kalau masih mau ngejar pendidikan. Dulu Papa juga sempat jalan kaki ngelewatin kebun tebu kalau mau berangkat sekolah waktu SD sampai SMP. Baru lah SMA naik angkutan umum lewat jalan aspal, soalnya sekolahnya jauh."
"Di mobil bawa baju ganti nggak?" Tanya Papa Yudith tiba-tiba.
"Bawa Pa, kenapa?"
"Ambil gih!! Mandi di sini, nanti ikut makan di rumah aja." Ucap Papa Yudith sembari menepuk pelan bahu Rava. Menggendikkan dagunya, Papa Yudith kembali memerintah Rava mengambil baju ganti di mobil milik Rava sendiri.
Meskipun Papa Yudith dan Mama Lauritz masih mempunyai orang tua yang lengkap, namun keduanya seolah sudah yatim piatu tanpa kasih sayang. Oleh karena itu, baik Rava maupun Gilang yang sudah hadir terlebih dahulu, keduanya sudah sama-sama dianggap anak bagi Papa Yudith dan Mama Lauritz. Bila jodoh Ara nanti bukan diantara keduanya, Papa Yudith tetap akan menganggap Rava dan Gilang anaknya sendiri, sama seperti Ega yang jelas-jelas sudah dirawat dari bayi yang masih merah.
"Udah?"
"Udah Pa, ini bajunya." Mengangkat kantong hitam berisi pakaiannya, Rava menjawab pertanyaan Papa Yudith.
"Masuk dulu, tunggu di tangga ya.. Papa mau ambil kunci motor dulu." Ucap Papa Yudith berlalu meninggalkan Rava yang juga melangkahkan kakinya menuju tangga satu-satunya yang dimaksud Papa Yudith.
"Rollin, rollin, rollin.. Rollin, rollin, rollin.." Berlenggak-lenggok Ara menggumamkan reff lagu Rollin dari girlband Brave girls. Tanpa Ara sadari ada sepasang mata yang sudah melotot, air liur sudah tertengguk berkali-kali.
Gluk
Gluk
Jakun naik turun tidak terkendali tampak tidak ikut terkejut.
__ADS_1
"Hik.." Bunyi suara cegukan mendadak tampaknya menghentikan langkah Ara.
Namun bukan suara cegukan yang sebenarnya menghentikan langkah kaki Ara. Ara mematung kala matanya menangkap sepasang kaki manusia asing yang diyakini berjenis kelamin laki-laki, bukan Jona, Rian apalagi Papa Yudith. Menaikkan pandangannya, Ara membulatkan kedua bola matanya.
"AAAAAAAAA...!!!!" Jerit Ara kuat, tangannya menutup kedua bahu yang terbuka. Iya, Ara hanya mengenakan handuknya saja. Terlalu percaya diri tidak ada sosok asing lain di rumahnya, Ara santai mandi tanpa membawa baju ganti.
"TUTUP MATA!!!!" Kali ini Ara kembali berteriak.
"Astaga!! Maaf Ra!!" Ucap Rava kuat, berbalik mengalihkan pandangannya. Jantung berdebar kencang bagai berada ditengah perang amunisi rudal.
Brugh
"Aduuuhh!!!" Jerit Ara tertahan yang membuat Rava kembali menatap Ara. Terpeleset menubruk dinding di sisi kiri tangga, rencana kabur secepatnya berubah menjadi bencana baru.
"Araa..." Berlari menghampiri Ara, Rava seolah tidak melihat sang gadis berbalut handuk. Otak Rava sudah penuh kekhawatiran melihat Ara terduduk mengusap pinggulnya.
"TUTUP MATTAAA!!!"
"Kakak kenapa??" Suara Jona dan Rian serentak saling berpadu.
"Om pergiiii!!!" Jerit Jona sembari menutup mata Rava dengan telapak tangannya.
"Kenapa ini??" Kali ini suara Mama Lauritz yang menyeruak diikuti derap kaki Papa Yudith dibelakangnya.
Dan di meja persegi kali ini yang diisi dengan tambahan 1 anggota, Rava belum bisa melupakan bayangan tubuh Ara. Mengutuk otak jahatnya, pipi Rava bersemu merah. Kunyahan nasi putih yang sudah disiram kuah sayur sop terasa kering dan sulit tertelan.
...****************...
*
*
*
Kira-kira ada yang penasaran gimana momen Rava minta izin panggil 'Papa' dan 'Mama' kayak gimana??😄
Coba tebak kira-kira di masa depan apa yang bakal terjadi.. Udah Hana spoiler loh😊
*
*
2 Bab aja ya.. Mata Hana masih kayak bajak laut nih😄 Kalau yang kiri dibuka langsung puyeng😑
Kelamaan perjalanan, ditambah capek sehari sebelumnya langsung drop seharian ini😞 Waktu tadi ngitung jarak perjalanan kaget banget.. pantesan panas duduknya, 106,4 KM 😅
Udah bisa nyamain yang lagi mudik gak??😆
BTW, yang mau tau gimana Ara goyangnya bisa cari sendiri ya.. judul lagunya Rollin dari Brave Girls😎
__ADS_1
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰