
Benda tipis mengkilat tergeletak asal di atas meja dapur yang berantakan. Banyak pula wadah-wadah transparan berukuran sedang yang terbuka. Sebagian yang tertutup sudah terisi serbuk putih dengan tingkat warna yang beraneka.
Ada pula wadah tabung kecil yang terisi butiran rempah. Benar, ketumbar, merica dan kemiri baru saja Ara stok dalam tabung berdiameter 4 sentimeter dan setinggi 7 sentimeter.
Dapur yang berantakan itu akibat Ara sibuk mengorganisir supply bahan makanan hasil belanjaannya pagi itu.
"Sayang ...."
Puff.
Masih digenggaman kedua tangan Ara, tepung terigu dalam kemasan plastik yang baru saja digunting menyembur berhamburan. Bagian dasar kemasan yang terbentur kasar ke atas meja memberikan tekanan hingga tepung yang berada di permukaan mau tidak mau terlempar.
"Uhuk ... Mas!!" pekik Ara kesal sembari terbatuk-batuk. Wajah, rambut dan bajunya penuh tepung terigu.
"Hahaha... Kenapa jadi mandi tepung, Sayang?" Jemari Rava bergerak mengelap wajah Ara yang belepotan tepung. Rava masih saja tertawa renyah tanpa dosa.
Bugh.
"Gara-gara Mas bikin kaget. Ngeselin banget!" protes Ara sambil melayangkan pukulan ke lengan atas Rava.
"Ini gara-gara kamu pergi belanja gak mandi tapi tetap dandan. Apa lagi ini nih lipstik nya Mas gak suka." Tunjuk Rava pada bibir Ara yang terpoles lipstik tipis. Dalam sekejap ibu jari Rava mengusap bibir Ara agar lipstik berwarna salmon itu terhapus. "Bibir kamu tambah seksi kalau pakai ini. Bikin kesel Mas tadi banyak yang curi-curi pandang lihatin kamu."
"Sadar ya Pak! Mereka itu lihatin Bapak, bukan saya!" ketus Ara sewot. "Yang dari tadi disapa pegawai siapa? Kamu Mas! Makanya orang-orang itu pada lirik-lirik kamu, bukan Ara."
"Kamu aja yang gak tau tadi ada yang lihatin. Pokoknya nanti kalau keluar pakai masker sama topi supaya gak kelihatan ini muka cantiknya."
"Ngaco! Sekalian aja Mas juga ikutan pakai masker ekstrak green tea biar gak cuma tertutup tapi makin bening."
"Lucu banget kamu, masa pakai masker ekstrak green tea." Cubit Rava gemas pada pipi Ara yang masih penuh tepung.
"Disindir malah ketawa." Mendengus sebal Ara kembali melanjutkan memindahkan tepung terigu dari plastik kemasan ke dalam wadah transparan yang sudah diberi label nama.
"Biar Mas aja yang urus. Kamu mandi sana, ini pasti lengket gak enak."
"Tapi ini masih banyak, Mas."
"Nanti kalau kamu udah selesai mandi tapi Mas belum juga selesai kan bisa kamu bantu lanjutkan. Lagian semuanya udah dikasih nama, bisa Mas ikutin petunjuknya," tutur Rava berusaha membujuk Ara agar meninggalkan pekerjaan dapur kepadanya.
"Gak apa-apa?" tanya Ara meragu. Ia memang senang selalu dibantu oleh Rava, persis seperti Papa Yudith yang selalu membantu Mama Lauritz, namun rasa segan yang hadir dari pemikiran bahwa semua kewajiban itu menjadi tugasnya membuat Ara meragu.
Cup.
Mendadak kecupan singkat jatuh di bibir Ara. Dengan senyum mengembang Rava mendorong pelan tubuh Ara menjauhi area dapur sambil berkata, "serahkan semuanya sama Mas."
__ADS_1
Meneruskan langkahnya menuju kamar mandi di kamar utama rumah berlantai satu itu, Ara bergegas dengan segala urusannya. Ia tidak ingin membuat Rava menunggu lama.
Bahkan dalam waktu singkat Ara sudah hampir selesai dengan kegiatannya. Tidak perlu ritual gosok-menggosok yang memakan waktu. Ara yang sudah merasa cukup segar dan bersih melenggang keluar menggunakan handuk yang melilit dadanya.
Sejenak Ara terkekeh kala mengingat dulu Rava pernah memergokinya mengenakan handuk seperti ini sembari bersenandung dan berjoget riang. Belum lagi saat ingin kabur justru mengalami kesialan karena membentur dinding.
"Malu-maluin banget sih dulu itu," gumam Ara lirih sambil mengenakan pakaian dalamnya.
"Aduh ...." Baru saja tangan Ara meraih celana pendek dari dalam lemari, tiba-tiba cairan hangat terasa keluar dari inti bagian bawah tubuhnya. Sontak saja hal itu membuat Ara menggigit bibir khawatir.
Berlari menuju kamar mandi dengan hanya mengenakan kaos oblong dan paha terekspos, Ara juga membawa handuk yang tersampir di bahu. Tidak lupa Ara menyambar gulungan ****** ***** baru dan sebuah benda tipis empuk.
Tepat lima hari setelah Ara melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Seperti yang sudah diduga, kandungan Ara kosong. Tubuh lemas dan muntah-muntah yang dialaminya karena telat makan, asam lambung yang meningkat dan kelelahan.
Bercak merah yang tercetak di pakaian dalam sudah cukup menjelaskan tanpa perlu melakukan pemeriksaan ulang. Padahal Ara sempat berharap saat 2 hari lagi kembali melakukan pemeriksaan bisa mendapatkan kabar bahagia. Sayangnya harapan itu hanya bisa dipendam di dalam hati.
“Sayang?” panggil Rava dari balik pintu.
“Udah mandinya?” ucap Rava lagi, bersandar pada dinding di sisi luar kamar mandi.
Ara yang menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi membuat Rava khawatir. Pasalnya beberapa hari ke belakang setelah sempat tumbang, Ara sering mengeluh sakit pinggang. Oleh karena itu Rava sering kali membuat berbagai alasan agar bisa membantu Ara mengerjakan pekerjaan rumah. Sangat sulit membujuk sosok yang terbiasa mandiri.
Ceklek.
“Datang bulan, Mas.” Menabrakkan diri ke tubuh Rava, Ara memeluk Rava dengan sangat erat. Sepersekian detik kemudian terdengar suara isakan lirih.
“Kenapa harus nangis kalau datang bulan, hm?” ucap Rava lembut, mengusap kepala Ara dengan sayang. “Mas gak mau kamu stres karena mikirin belum hamil. Sekarang kita nikmati aja waktu pacaran kita. Baru 2 bulan Sayang kita nikah. Lagi pula nanti kita bisa ikut program hamil."
“Jangan tinggalin Ara. Jangan cari istri lagi kalau ... Pokoknya lebih baik Ara mati aja kalau Mas cari yang lain.” Seketika tubuh Ara tersentak. Dijauhkan dari dekapan Rava dengan kedua bahu yang di cengkeram. Tidak terlalu kuat, namun masih mampu membuat Ara meringis sakit.
“Ma-Mas ….” Sorot mata Rava menajam seakan menguliti Ara. Ini adalah pertama kalinya Ara merasa takut dengan tatapan Rava yang biasanya selalu meneduhkan.
Menunduk dengan bahu kembali terguncang pelan, segala pikiran buruk jika suatu saat dirinya dicampakkan menghantui benak Ara. Masa lalu benar-benar masih membuat Ara ketakutan. Ia mengaku masih sangat lemah jika kenangan kelam itu kembali terputar.
Selain itu menyesal Ara menghabiskan waktu luangnya membaca novel berisi perselingkuhan. Kini segala kilasan reka adegan justru menjadikan Rava sebagai tersangka utama dalam khayalannya. Tentu saja semua itu semakin terbumbui dengan fakta dirinya yang belum juga hamil. Sangat berbeda dengan cerita para ibu-ibu di warung Bang Buna yang pernah didengarnya jika anak-anak mereka bisa langsung hamil.
“Huuufft ….” Luapan udara yang seolah menyumbat saluran pernafasan Rava akhirnya dipaksa terhembus lewat mulut. Tentu Rava marah mendengar penuturan Ara.
Sedetik.
Dua detik.
Berganti tepat 1 menit keduanya terdiam. Rava sedikit melipat lututnya, merendahkan tubuh jangkungnya, mensejajarkan wajahnya dengan kepala Ara yang masih menunduk bersalah.
__ADS_1
"Sayang ... Kalau kamu memilih kematian, Mas pastikan Mas akan ikut kamu. Jangan pernah berpikir seburuk ini. Apa kamu gak percaya sama cinta Mas? Kamu gak percaya kalau Mas benar-benar mencintai kamu seorang?" ucap Rava dengan suara bergetar parau menahan sesak di dadanya.
Mengangkat dagu Ara dengan jarinya, kini mata Ara tepat menatap mata berkaca-kaca Rava. Sorot mata terluka terlukis jelas dari tatapan Rava.
"Ma-af ... Maaf, Mas... Maaf," ucap Ara sambil terisak, memohon maaf pada Rava tanpa keberanian meski hanya sekedar memalingkan wajahnya.
Berbeda dengan Ara yang bergeming, Rava mengulas senyum kaku karena masih dikuasai amarah. Rava kembali menegakkan tubuhnya, membawa Ara masuk ke dalam dekapan hangatnya. Ia sangat tau jika Ara memerlukan dukungannya, maka dari itu Rava berusaha meredam amarahnya.
"Ada atau tidaknya anak diantara kita, kamu tetap bertahta di hati Mas. Kita tetap bisa bahagia meski hanya berdua. Mas untuk kamu dan kamu untuk Mas. Cukup dengan itu aja kita masih bisa bahagia. Percaya ya sama Mas?" bisik Rava tepat di atas puncak kepala Ara yang spontan langsung diangguki oleh Ara.
"Satu lagi, apapun yang ada dipikiran kamu, tolong jangan kamu artikan sesuai ketakutan kamu. Coba sekarang bayangin saat Mas bilang pengen mati aja kalau kamu ninggalin Mas dengan laki-laki lain, kamu suka gak?"
Mengeratkan tangan yang melingkar di tubuh Rava, Ara menggelengkan kepala dengan kening menempel di dada Rava. Ara merasa bodoh pada ucapan spontan yang terkandung tuduhan dan ancaman itu.
Jujur saja, ketakutan hebat menghantam Rava jika suatu saat Ara kembali bertindak nekad. Rava hanya ingin Ara merasa bahagia tanpa perlu mengulang kisah lama yang menyakitkan.
"Mau di kamar aja atau ikut Mas ke dapur?" tanya Rava sembari mengangkat tubuh Ara dalam gendongan layaknya koala.
"Ikut ke dapur aja. Masih ada yang harus dikerjain kan?" Merebahkan kepalanya menghadap ceruk leher Rava, helaan nafas Ara sukses membuat tengkuk Rava meremang. Namun sebisa mungkin Rava bersikap biasa saja.
"Udah selesai, Sayang. Mas mau ke dapur buatin kamu air jahe hangat. Biar perutnya enak, gak terlalu nyeri nantinya." Mengecup pipi Ara sambil melangkah menuju dapur, Rava tersenyum lega pada Ara yang sudah tampak tenang.
"Mas masih gak mau panggil Ara adek atau dedek?" celetuk Ara tiba-tiba.
"Gak mau. Rian aja kamu panggil baby, masa Mas tetap kamu panggil Mas? Terus kenapa juga Mas harus panggil kamu adek? Pokoknya gak mau," protes Rava kuat dengan bibir mencebik sebagai penolakan. "Kenapa gak Bunda aja?"
"Nanti Ara mau anak kita panggil Mas itu Papa, jadi mana cocok Papa sama Bunda."
"Kamu itu Bunda, Mas jadi Ayah."
"Tapi Ara mau Mama Papa, bukan Ayah Bunda," ucap Ara kukuh dengan keinginannya.
...****************...
*
*
*
Hari ini sengaja lebih panjang (sedikit) chapter nya😄 Kerasa gak?😃
Terima kasih sudah menanti kisah perbucinan ArVa🥰
__ADS_1