
...PERINGATAN UNTUK PARA DEDEK HARAP DI SKIP!!!...
...PENUH ADEGAN BERBAHAYA!!!...
...⚠21+⚠...
“Good morning, Sunshine..” Sapa pemilik suara serak yang mengelus lembut pipi gembul Ara.
Memundurkan kepalanya, Ara yang baru mengerjap sayup-sayup mendengar suara familiar langsung membuka lebar kelopak matanya. Terbelalak dan hampir berteriak. Beruntung saraf di otak cepat terhubung sebagai pengingat bahwa Ara tidak sendiri lagi.
“Kenapa melotot gini?” Tanya Rava sambil terkekeh, keduanya berbaring miring saling berhadapan. Sejurus kemudian ibu jari kanan Rava bergerak mengusap alis kiri Ara hingga membuat Ara berkedip menetralkan keterkejutannya.
“Kaget.” Jawab Ara singkat dan perlahan kembali memejamkan matanya dengan degup jantung yang terpompa kencang. Kedua telapak tangannya digunakan untuk menopang pipi di atas bantal.
“Dingin?” Tanya Rava sembari menaikkan selimut hingga menutupi bahu Ara, menepuk-nepuk pelan bahu gadis mungil yang sudah menjadi istrinya.
“Ngantuk.” Jawab Ara lirih yang semakin membenamkan wajahnya masuk di balik selimut. Begitu pula dengan Rava yang ikut bersembunyi sambil mendekap dan berulang kali mendaratkan kecupannya di pipi, bibir, dahi, mata bahkan dagu Ara sehingga si empunya bukannya kembali terlelap, justru mendengus jengah.
“Sayang banget sama kamu.” Ucap Rava sembari mengecup singkat bibir Ara. Sepersekian detik kemudian seringai tipis menghiasi bibir Rava yang kini sudah bertindak lebih jauh dengan mengapit dan menarik lembut bibir bawah Ara, menghisap dan m e l u m a t tanpa ampun.
“Emmpt.. Eugh.” Desah dan lenguh Ara yang berusaha melepas pertautan bibir itu. Meski begitu mata Ara masih terpejam seolah sedang menikmati bibir Rava yang tiba-tiba semanis gulali. Padahal Ara benci makanan manis, namun tidak untuk rasa yang terecap dari bibir Rava.
Plak.
Bunyi pertemuan singkat kulit telapak tangan Ara dengan lengan Rava menggema memenuhi kamar bernuansa biru. Ruangan segi empat tertutup yang masih betah keduanya diami menjadi saksi bisu gagalnya sebuah adegan yang kemarin malam berhasil membuat Rava panas dingin tidak menentu.
Sudah dapat dipastikan malam pertama mereka hanya terisi obrolan seputar permintaan maaf Ara yang berujung Rava ditinggal tidur. Sempat ada aksi pijat karena kaki Rava terkilir tidak pula berlanjut pada adegan pijat plus-plus. Sudah tersakiti malah ditinggal lagi, mungkin jika dilebih-lebihkan akan seperti itu ungkapannya.
“Sstt.. Sedikit, Sayang..” Bisik Rava lirih yang sudah mengungkung Ara. Lengan kokohnya menghimpit tubuh bagian atas Ara agar tidak kabur. Hanya salah satu pergelangan kaki Rava yang sakit, sisanya jelas segar bugar dan siap menyerang Ara setiap saat. Namun tetap harus mengantongi persetujuan Ara, meski sesuatu di inti tubuhnya sudah berteriak memberontak.
Tersenyum penuh makna, Rava menundukkan kepalanya, menyapu tipis bibir dingin miliknya pada daun telinga Ara hingga menimbulkan gelayar aneh. Rava tidak perduli jika Ara kembali memukul lengan atau bahkan membogem punggungnya.
Seolah mengabsen setiap senti bagian tubuh milik istri kecilnya yang terekspos, bibir dan lidah Rava tanpa henti menyusuri lekuk leher hingga tulang selangka Ara. Tanpa aba-aba atau peringatan Rava sudah menjadi monster hisap berkedok vacuum cleaner hotel berkekuatan super.
__ADS_1
“Mak-kanya ko-de dulu.. Kan.. Kag-gett ja-dinyaah..” Ucap Ara tidak kalah lirih, sengau dan terputus-putus, atau lebih tepat dikatakan Ara malu dengan ciuman panas dan decapan rakus Rava di pagi yang masih dingin itu.
“Dari tadi Mas udah kode loh, Sayang..” Ucap Rava dengan suara yang sama sengaunya, menatap lekat wajah memerah Ara dengan mata berkabut gairah.
Sedangkan Ara menundukkan pandangannya tidak ingin membalas tatapan menuntut penuh gairah Rava. Nafas yang malu-malu untuk terhembus itu menahan gejolak asing yang seolah ingin menolak namun juga ingin meminta lagi. Aneh dan mengerikan, tapi nyata Ara rasakan.
“Lagi ya?” Tanya Rava basa-basi, tanpa menunggu jawaban Ara secepat kilat ia menyerang leher polos dengan kecupan dan gigitan kelaparan. Menahan kedua pergelangan tangan Ara ke atas kepala dengan tangan kanannya. Tidak ingin diam, tangan kiri Rava bergerilya di balik kaos tipis yang Ara kenakan.
Tidak ada aksi sepak terjang dadakan lagi. Ara berusaha menerima apa yang Rava lakukan, meski takut, malu, risih tapi juga nikmat yang sulit untuk dijelaskan. Kini Ara hanya berusaha melipat rapat bibirnya dengan sedikit menggigit agar suara aneh yang menggelikan pendengarannya tidak terlepas begitu saja.
...SEKALI LAGI PARA DEDEK SAYANG KU HARAP DI SKIP!!!...
...PENUH ADEGAN BERBAHAYA!!!...
...⚠21+⚠...
Cukup lama Rava bermain-main sampai keduanya kini sama polosnya. Bahkan Ara tidak menyadari sejak kapan satu per satu pakaiannya berhasil Rava loloskan. Hanya peluh yang membanjiri pelipis terasa nyata mengalir, tubuhnya terasa panas, padahal udara sangat dingin dan langit masih gelap meski pagi sudah menyapa.
Kecupan di dahi Rava hadiahi sebelum kembali memberikan Ara tatapan permohonan. “Boleh?” Ucap Rava sambil menahan sesuatu yang berdenyut ingin dituntaskan.
Memalingkan wajahnya, Ara mengangguk sebagai jawaban. Pagi ini dirinya tau akan menjadi wanita Rava seutuhnya, bukan seorang gadis yang sama seperti sebelumnya.
“Maaasss..!!” Pekik Ara sambil mencengkeram bahu kokoh Rava, kukunya yang tumpul jelas sudah meninggalkan bekas luka. Dobrakan lembut berubah kasar yang terus-menerus mencoba masuk rupanya sangat menyakitkan. Benar-benar sama seperti yang tertulis di beberapa artikel yang Ara baca sebelum melangsungkan pernikahan. Inilah yang membuat Ara takut, namun dirinya juga tau jika tidak bisa menghindar selamanya.
M e l u m a t bibir yang ingin menjerit, Rava menjeda aksinya. Hingga tubuh yang menegang di bawahnya kembali rileks, Rava menghentakkan pinggulnya, mendorong sesuatu untuk melesat masuk bak peluru meriam yang menghujam. Begitulah pagi pertama Rava dan Ara yang berakhir dengan d e s a h a n saling bersautan yang dibanjiri peluh.
Tidak tau sudah berapa lama keduanya berpacu hingga akhirnya Rava roboh dengan nafas tersengal. Mendekap erat Ara dari belakang yang tampak kelelahan, menghujani dengan kalimat sayang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus pada sosok cantik yang menyembunyikan wajah merona nya di balik telapak tangan.
Tersenyum bak orang kehilangan akal, Rava benar-benar bahagia bisa menjadi suami Ara yang selama ini selalu ia cintai. ‘Semoga keluarga kita cepat bertambah.’ Ucap Rava dalam hati, telapak tangannya mengusap perut datar Ara yang sudah nyaris tertidur.
Sedangkan di luar kabut tebal menyelimuti langit pagi masih sama mengantuk nya dengan Ara sebelumnya. Embun di dedaunan juga masih setia terlelap, belum ingin beranjak jatuh atau menguap. Namun salah satu penghuni rumah sudah lincah kesana-kemari dengan perkakas dapur sebagai tameng perangnya. Tentu bukan Ara yang sudah kembali jatuh ke alam mimpi sehingga tidak merasakan ada sosok nakal yang meraba seluruh permukaan kulitnya dan meninggalkan jejak merah lewat bibir gemasnya.
...****************...
__ADS_1
*
*
*
Sebenarnya aku malu nulis ini, makanya proses ketik lama. Intinya terima kasih buat literasi berlabel 21+ yang udah kasih pencerahan.
Tetap harus keluar dari jalur aman dan nyaman. Makanya aku juga buat novel ketiga yang pengen lebih hareudang bakso beranak cabe. (Kalau berhasil gak terisi keolengan hakiki😂)
Kira-kira ada yang nanya lagi “Kakak Author Udah Nikah?” gak ya kali ini?🙂
For your information, author nya udah punya 3 anak sampai detik ini. Ada Aara, Yuki sama si bungsu Lintang (niatnya nanti mau nambah anak cowok *eh😳Siapa tuh?🤔). Tapi sayang seribu sayang anaknya ini hasil halu gara-gara emaknya jomblo tulen.😂
Kenalan dulu yuk sama si bungsu Lintang 👇
Genre : Komedi Romantis
Sinopsis :
Bintang dan Lintang, dua anak manusia yang mendadak bersatu dalam ikatan suci, tanpa cinta. Menggores kisah masing-masing dalam lembaran yang sama. Mereka bukan teman ranjang biasa.
Benarkah titik-titik kisah yang dirangkai hanya sebatas legalitas goresan hitam di atas putih?
Lalu, bagaimana keduanya mengarungi hari-hari setelah resmi melepas status si gagal move on dan jomblo abadi?
*
*
Terima kasih buat semuanya yang sudah menanti kisah Aara😘
__ADS_1