
Jika ada mahasiswa yang mengatakan libur kuliah berarti tidak ada kegiatan bahkan kehidupan di lingkungan kampus, maka bisa jadi sepak terjangnya lebih rendah dibanding mahasiswa kupu-kupu alias kuliah-pulang-kuliah-pulang. Riset Dosen akan terus berjalan, alat-alat laboratorium tetap akan bekerja, jangan lupakan asisten Dosen yang rata-rata mahasiswa juga harus siap sedia 24 jam bila dibutuhkan, belum lagi analisis data yang harus cepat di setorkan.
Di luar itu masih ada anggota inti organisasi kampus yang harus membuat laporan pertanggungjawaban proposal pengajuan dana agar di semester selanjutnya organisasi tetap memiliki dana operasional. Jelas bukan jika lingkungan kampus berbeda dengan jenjang 12 tahun dimana saat kata sakral libur terucap berarti tidak ada kegiatan dan kita bisa malas-malasan di rumah alias menjadi ulat sutra di kamar tercinta.
Dan di sinilah Ara saat ini, seolah menantang gedung raksasa dengan setelan semi formalnya. Memoles lagi bibirnya sesuai pesan Yuki dan harus mengambil foto selfienya agar Yuki bisa menilai kemampuannya sendiri. Make up hasil karya Yuki berhasil Ara gunakan disaat yang tepat, meski melalui drama panjang. Iya, Yuki pulang lebih cepat dan merecoki Ara dengan berbagai pertanyaan absurd gara-gara berita remahan ulah Dimas. Otak Ara yang sudah cukup lelah menggambar jalur perjalanan panjang yang harus ditempuh terpaksa menampung segala ocehan Yuki.
"Permisi Kak, sebelumnya maaf kalau saya ganggu, saya Ara, mahasiswa dari Kampus X. Saya bisa minta tolong untuk disampaikan surat undangan ini dari Kampus X pada Bapak Aquila Ravandra Kim?" Tanya Ara sembari menunjukkan amplop coklat persegi panjang yang dibubuhi stempel resmi berlogo Universitasnya.
"Kakak bisa langsung ke ruang Pak Rava di lantai 4 ya Kak.. Sudah ditunggu Pak Rava di ruangannya. Silakan Kak, nanti biar saya sampaikan sama staf di lantai atas kalau tamunya sudah datang." Tangan resepsionis itu seolah mengarahkan Ara untuk masuk ke dalam lift. Di dalam lift yang bergerak naik dengan sedikit linglung Ara bagai kambing yang ditarik tali kekangnya hanya mampu menurut.
"Kak Ara ya?" Tanya seorang staf wanita di seberang meja yang baru saja Ara hampiri.
"Iya Kak.. Saya cuma mau kasih ini aja." Tunjuk Ara pada amplop coklat yang tidak ia simpan dalam tasnya lagi.
"Silakan langsung masuk aja ke pintu ujung di sebelah kiri ya Kak.. Pak Rava masih menunggu di dalam." Ucap staf itu. Padahal Ara ingin menitipkan dan pulang begitu saja.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Kenapa gak langsung masuk aja?" Tanya Rava yang sudah muncul di ambang pintu.
"Kan gak sopan Pak.." Jawab Ara menatap singkat bola mata Rava.
"Mas, bukan Bapak!"
"Iya, Pak." Menggeleng pasrah Rava mendengar panggilannya masih 'bapak'. Ia pikir setelah panggilan 'om' pernah tersemat padanya lama-kelamaan akan turun sampai ke tingkat 'mas', rupanya perjuangannya masih sangat panjang dan berkelok.
"Cantik.."
"Hah?" Mengernyit dengan mulut terbuka Ara seketika menengadah menatap Rava. Suara samar layaknya bergumam yang Ara dengar membuat otaknya berpikir macam-macam.
"Udah ayo masuk!"
'Heh tangannya.. Tangannya nakal.. Leppaaaaassss!!!' Jerit Ara sekencangnya, namun hanya dalam hati sembari mengawasi tangannya yang digenggam.
"Duduk sini dulu.. Minumannya belum dikeluarin dari kulkas." Beranjak meninggalkan Ara yang sudah duduk di kursi panjang nan empuk, Rava membuka kulkas mini yang membuat Ara melongo. Segala macam jenis minuman tersusun rapi lengkap dengan berbagai macam camilan. Air liur Ara menggenang kala matanya menangkap camilan coklat kesukaannya.
Tak
"Kamu suka ini kan?" Sebotol minuman dingin rasa lemon dan sekotak camilan coklat yang sudah Ara pantau diletakkan di atas meja kaca oval setinggi lutut Ara.
"Ehh.. Iya Pak. Suka kok.." Ucap Ara sambil tersenyum canggung. Wajahnya sudah merona menahan malu seolah tertangkap basah mengincar milik orang lain.
"Oya Pak, maaf sebelumnya Pak.. Di sini saya disuruh Pak Dekan buat kasih surat undangan ini ke Bapak." Menyerahkan amplop yang sedari tadi Ara pegang
"Maaf ya saya buat kamu jadi capek."
Deg
Deg
Deg
Jantung kurang ajar Ara berdetak cepat tidak karuan. Ara diam membeku, hanya pupil matanya yang membesar. Seluruh otot-otot tubuhnya menegang. Usapan lancang pada puncak kepalanya lebih mengejutkan daripada sengatan Ikan Sembilang. Seakan lupa diri, Rava tidak kunjung menghentikan tindakannya.
"Mak-Maksud Ba-pak ap-pa??" Tergagap Ara mencoba bernafas. Dengan sedikit kesadaran yang pulih perlahan Ara menjauhkan kepalanya. Namun justru usahanya salah, kini pipi kirinya sudah dicubit gemas Rava.
__ADS_1
"Kamu harus capek-capek ke kampus terus ke kantor saya. Kalau tau Pak Dika suruh kamu ke kampus mending gak usah aja."
"Oh gitu.. Maaf Pak, jangan pegang-pegang! Gak baik." Lagi-lagi Ara berusaha menjauh dengan menggeser posisi duduknya. Akhir-akhir ini Ara sadar bahwa ia tidak bisa mengendalikan dirinya bila berhadapan dengan Rava. Seandainya yang dihadapi saat ini orang lain mungkin sudah Ara pelintir dan injak tangan lancang milik orang itu.
"Kamu pasti masih bingung kan?" Tanya Rava terkekeh melihat mata membulat Ara yang terus mengerjap linglung.
"Iya, saya yang minta Pak Dika, Dekan kamu itu buat suruh kamu yang antar surat ini ke saya langsung."
Sejenak kemudian Ara tersadar bahwa ia sedang dipermainkan. Ingatannya kembali pada awal Ara menginjakkan kakinya ke kantor Rava. Bagaimana bisa Ara hari ini sudah ditunggu bila tidak pernah menghubungi Rava untuk melakukan pertemuan.
"Bapak modus sama saya ya??" Tanya Ara menatap lekat Rava menuntut jawaban.
"Semua demi kamu mau ketemu saya." Ucap Rava lembut.
"Wah.. Wah.. Bisa-bisanya Dosen kayak gini??"
"Saya juga manusia Ra.. Apalagi buat berjuang demi cinta saya."
"Dosen dingin apaan?? Dosen ganjen doyan gombal iya." Ucap Ara lirih mengalihkan pandangannya dari senyuman Rava yang mampu membombardir debaran jantungnya.
"Kamu dandan secantik ini buat saya ya??"
"Ini Yuki lagi belajar make up kali Pak.. Saya bahan uji cobanya." Binar mata Rava seketika meredup. Ara bisa menebak pasti tadi Rava sempat kepedean.
"Saya mau bicara tentang kita. Kasih saya kesempatan ya?" Rava menarik tubuh Ara agar berhadapan dengannya. Kedua lutut Ara dipegang kuat menahan Ara untuk tidak menghindar. "Saya mau bicara serius. Menikah sama saya Ra, kamu mau kan?"
Bugh
"Kok malah mukul saya sih Ra?? Kamu ini baru saya lamar malah udah KDRT duluan."
"Bercandaan nya gak lucu Pak!!" Sarkas Ara.
"Saya serius Ra.. Saya mau kamu bersedia merelakan waktu kamu yang tersisa buat hidup susah dan senang sama saya. Walaupun saya pasti akan selalu berusaha buat kamu senang dan gak bakal tega bikin kamu susah, tapi saya sadar kalau standar kebahagiaan kita beda. Seperti kamu duduk di depan saya kayak gini aja saya udah senang banget Ra, apalagi kamu udah rela dengar apa yang saya mau."
"Tapi saya serius ingin menjadi kepala keluarga buat kamu dan anak-anak kita nanti. Saya cinta sama kamu."
"Sekarang, gak tau nanti. Saya gak mau sakit karena nanti pasti bakal dicampakkan."
"Saya sayang banget sama kamu. Kita bakal terus sama-sama sampai salah satu dari kita dipanggil Tuhan. Saya pasti selalu ada buat kamu."
"Maaf saya gak percaya. Saya tau, saat ini semua tampak indah di mata Bapak dan juga untuk saya, tapi saat satu persatu perasaan itu sirna akan jadi super pahit. Jadi buat apa sekarang saya harus percaya keindahan yang ada di depan mata kalau saya tau pasti akhirnya juga sama?"
"Kamu salah. Gak ada yang tau akhir dari sebuah cerita, bahkan penulis cerita kadang membelokkan akhir kisah buatannya sendiri."
"Dan kita juga gak tau apa akan berakhir indah kisah yang akan kita mulai kan Pak?"
"Tapi bukan berarti akan berakhir buruk kan Ra?"
"Kemungkinan itu tetap ada. Yakin 100% kita bahagia? Gak kan? Masih ada 0,1% dari keraguan apa kita akan bahagia bersama yang bisa jadi nyata. Meski cuma 0,1%, tapi buat apa saya ambil resiko?" Tatapan mata Ara sendu, perasaannya seperti diaduk-aduk. Ara memang bersyukur jika ada seseorang yang tulus menyayanginya, namun membina hubungan serius tidak pernah ada dipikiran Ara.
"Saya memang biasa diabaikan dan dibuang, tapi bukan berarti saya gak akan sakit saat kembali gak diinginkan. Sangat manusiawi kalau saya akan tetap terluka. Jadi menyerah lah, karena saya gak percaya sama ungkapan cinta Bapak yang katanya akan kekal." Ara tersenyum kaku, hatinya ikut sakit mendengar untaian kalimat penolakannya sendiri.
"Kamu tau kan rasanya dicampakkan itu sakit??" Helaan nafas berat Rava mengisi keheningan sesaat yang tercipta. "Saya ditolak. Cinta saya kamu tolak Ra. Saat ini saya juga sakit.. Tapi saya sayang dan cinta sama kamu, jadi maaf kalau saya gak akan menyerah seperti yang kamu mau."
Rasa trauma Ara perlahan memang terobati. Melawan ketakutan dalam dirinya dengan penyebab rasa takut itu sendiri cukup sangat menyembuhkan Ara. Namun untuk memulai sesuatu lagi dari awal dengan segala rasa trauma yang masih tertumpuk bukan perkara mudah. Ketakutan bahwa Ara akan dicampakkan terus menghantui segala pilihan hatinya. Menolak mengakui segala macam rasa cinta yang mungkin akan muncul, Ara terus membentengi keyakinan kuatnya memilih untuk jomblo abadi.
Sosok Rava yang mendekati Ara dalam diam lewat berbagai perhatian memang sempat menarik setitik rasa suka Ara. Sangat munafik bila Ara berkata tidak sedikitpun ia tertarik. Rasa itu ada, hanya Ara padamkan dan bunuh perlahan sebelum benar-benar tumbuh subur menggerogoti hati rapuhnya.
"Apa yang buat kamu gak yakin sama saya?"
"Kita baru kenal." Jawab Ara singkat.
"Hanya itu?" Tanya Rava mencoba mengulik alasan yang mungkin Ara coba sembunyikan.
__ADS_1
"Iya. Lagian sejak kapan Bapak suka sama saya??" Mengernyit heran Ara tatap sekilas Rava. Niatnya ingin melihat kejujuran dari bola mata laki-laki matang itu harus diurungkan, rupanya hatinya sudah lemah pada sosok Rava. Entah sudah diberi jimat atau pelet apa sehingga Ara tiba-tiba bisa sangat berdebar dan salah tingkah.
"Kamu masih gak ingat sama saya?" Tanya Rava dengan senyum yang tidak pernah luntur.
"Ingat apa Pak?" Memutar bola matanya Ara coba mengingat sesuatu.
"Jangan-jangan dari warung bakso itu ya Bapak mulai suka sama saya!??" Melotot lebar Ara tutup mulutnya tanda terkejut dan tidak percaya.
"Ternyata kamu lupa.. Suka dulu sama saya, nanti saya kasih tau semuanya." Mengacak gemas rambut Ara, Rava menyembunyikan patah hati yang kesekian kalinya pada Ara.
"Sekarang saya mau kamu simpan ini dulu.. Saat perasaan kamu udah yakin sama saya, tolong pakai kalung ini. Gak usah kamu coba balikin ke saya, karena saya tau pasti akan kamu pakai." Ucap Rava sembari meletakkan sebuah kalung di atas telapak tangan kanan Ara.
(TIFFANY & CO ; X Closed Interlocking Pendant in Yellow Gold)
"Saya gak bisa terima ini Pak." Mencoba meletakan kembali kalung dari telapak tangannya kepada Rava, Ara justru tidak sadar kedua tangannya sudah dalam genggaman hangat Rava.
"Kalau kamu paksa kembalikan kalung ini, saya akan anggap penolakan kamu karena ada laki-laki lain." Rava berucap pelan, tatapannya penuh harap pada Ara untuk berjuang membuka hati untuknya.
"Bapak dengar sendiri tadi saya memang gak berminat punya hubungan sama siapapun. Jadi gak ada laki-laki lain." Ucap Ara serius. Sudah cukup ia nyaris gila karena laki-laki, jadi untuk apa melihat orang dari jenis kelaminnya, cukup anggap mereka sama-sama manusia saja.
"Bener gak ada laki-laki lain??"
"Serius deh Pak. Ngapain juga saya tutup-tutupi kalau memang ada laki-laki lain??" Tanya Ara heran. Gelagat Rava tampak seperti memikirkan sesuatu. Nama Hans bahkan sempat muncul di angan-angan Ara sebagai pemicu pertanyaan Rava.
Sedangkan Rava saat ini berada diantara lega dan khawatir. Sosok yang dikenalkan Papa Yudith sebagai calon menantu pilihan merupakan ancaman terberat dari semua kandidat musuh yang sudah Rava tandai.
Apalagi bila diingatkan kembali pada kejadian saat Rava berkunjung ke rumah Ara terakhir kali. Bukan hanya was-was dan takut, namun juga marah. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana saat tidak sengaja ia dengar sosok itu mengembalikan ikat rambut Ara yang tertinggal saat Ara tidur di kamarnya. Bagai dihantam batu karang dan ditikam brutal jantungnya mendengar kalimat dari adegan bisik-bisik itu. Rasanya Rava ingin menghapus kebebasan bisik-bisik saat itu juga.
Sudah bertahun-tahun mengawasi Ara tidak pernah Rava dapati Ara melangkah pada pergaulan bebas. Ia ingat hanya sebentar sempat meninggalkan Ara tanpa pengawasan. Pikiran kalutnya kembali menghantam Rava dengan dahsyat. Ia takut Ara akan menderita lagi. Ara yang sudah ia jaga dari jauh tidak boleh disakiti siapapun lagi.
...****************...
Ikan Sembilang : Ikan berkumis yang juga dikenal dengan Lele laut yang hidup di laut dangkal atau muara sungai. Ciri tubuh menonjol berupa menyatunya sirip punggung kedua, sirip ekor, dan sirip anus sehingga bagian belakangnya tampak seperti sidat.
Ikan Sembilang juga memiliki sengat/patil yang bila tergores atau tertusuk patilĀ sembilang, wajah akan pucat, seluruh badan terasa panas, susah tidur dan kejang-kejang. Umumnya racun Sembilang ini unik bila sudah dikeluarkan, tubuh korban akan berangsur-angsur membaik selama 24 jam.
*
*
*
Berdasarkan penjelasan dari Dokter yang pernah Hana temui, racun Sembilang ini termasuk yang berbahaya setelah Ikan Batu/ Ikan Lepu. Jika dikatakan akan berangsur selama 24 jam itu gak sepenuhnya benar dan salah.
Sedikit cerita, Hana ini korban sengat Ikan Sembilang waktu kegiatan penelitian. Waktu itu dengan pedenya ku lepas sepatu karet gara-gara perhitungan tinggal 5 langkah sampai darat.
Benar aja rasanya itu dahsyat, awalnya sakit karena kena patil, tapi karena Hana ini anaknya lasak jadi waktu lihat kakinya berdarah masih santai.. Mulai panik waktu gak sampai semenit tiba-tiba sesak nafas dan kata temen pucat.. Karena gak sadar kalau di sengat Sembilang soalnya kebetulan sempat di lewati Pari kecil, jadi mikirnya kemana-mana dan udah berserah kalau harus berpulangš
Kebetulan lokasi itu di pelosok dan butuh waktu 1 jam sampai ke rumah sakit. Bahkan Hana di suntik 2 kali sampai gak berasa karena nahan sakit di kaki.
24 jam hilang?? hemmš¤ yang benar buat Hana 9 Hari gak bisa jalan, sakit sampai ke tulang, berdenyut tiada tara mau kaki dan kepala, bikin mata panda gara-gara gak bisa tidur.. Kena air dingin aja kakinya kaku, kram dan Hana kejangš Selesai gak kerasa sakit baru keliatan badan memar-memar karena gak sadar pas lagi sakit mukulin badan sendiri š beruntungnya Hana ini tipe kalau marah jadi rakus, dan nahan sakit bikin marah jadi gak kelaparanš¤
Dari cerita singkat pengalaman ini, Hana tekankan tolong jaga keamanan. Meskipun terasa aman tapi kalau belum sampai di darat jangan pernah lepas pelindung kaki, khususnya kalau lagi di daerah pantai berlumpur.
*
*
Terima kasih udah terus dukung Hana dan gak bosan buat pantau kisah Araš„°
__ADS_1
Udah jelas sekarang siapa calon mantu versi Papa Yudith??š Coba sebutin namanya buat yang tauš