Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kontraksi


__ADS_3

Deru suara mobil meninggalkan bandara yang berdiri megah. Melaju menjauhi portal pintu keluar. Membawa banyak nyawa dengan raga yang baru saja melepas kepergian seorang suami dan menantu.


Ara mendongakkan kepalanya di jendela mobil. Memandang lurus ke langit biru pada pesawat yang sedang mengudara. Gumpalan awan yang berjarak dan pesawat yang belum lama lepas landas membuat Ara dengan jelas masih bisa melihatnya.


Rava yang mulanya berjibaku agar tidak meninjau langsung ke lokasi proyek merasa tidak puas hanya dengan membaca laporan kerja bawahannya. Alhasil dengan sangat terpaksa Rava memadatkan jadwal guna meninjau langsung bangunan hasil penggelapan dana itu. Belum lagi Rava harus menangani secara langsung beberapa investor yang menuntut karena terseret kasus.


Sedetikpun Rava tidak menyia-nyiakan waktunya. Bahkan selagi mengudara dirinya tetap disibukkan dengan mempelajari berkas laporan keuangan serta analisis kasus yang akan menjadi inti pertemuan penting setibanya di sana. Tentu tidak sendirian, Rava ditemani sekretaris yang merupakan orang kepercayaannya.


"Kakak sementara tidur di kamar bawah tempat Adek. Jangan macam-macam ke kamar atas sendirian!" perintah Mama Lauritz sesampainya di rumah. Mata wanita tua itu tajam, menatap awas pada perut besar sang anak.


Untuk sementara waktu Ara akan tinggal bersama keluarganya. Sedangkan rumahnya sengaja Rava pasrahkan pada Bik Tih.


Bisa saja keluarganya itu bergantian menemani Ara di rumahnya sendiri, namun Ara yang rindu rumah orang tuanya meminta izin Rava untuk tinggal bersama keluarganya. Tentu saja Rava langsung menyetujui, ia akan lebih tenang karena banyak yang akan menemani Ara selama dirinya pergi.


"Anak dua itu tidur bareng di kamar Kakak?" tanya Ara sambil celingukan memperhatikan bantal, guling dan selimut kedua adiknya lenyap dari kasur masing-masing.


"Rian mana bisa tidur kalau gak lihat Mamasnya, Kak. Lagian kamar mu sekarang udah jadi basecamp kalau siang. Kasurnya kan besar. Kadang mereka main perang-perangan di atas."


"Bisa-bisanya anak dua itu. Lucu ya Ma mereka. Padahal cowok udah gede lagi, tapi masih suka manja-manjaan bareng. Mamas juga itu Bulat diuyel-uyel mulu kayak bayi."


"Kayak kamu gak gitu aja, Kak. Malah parah kamu ... Sekarang aja udah nikah jadi jarang di rumah. Berkurang lah suara timang-timang bayi."


"Hehe ... Habis gimana ya Ma, gak bisa kalau gak kayak gitu. Sebesar apapun Rian, buat Kakak kelihatan masih bayi. Padahal sekarang udah hampir setinggi Papa. Bahkan bentar lagi dipanggil Om." Terkekeh Ara membayangkan si bungsu Rian akan dipanggil Om oleh anaknya kelak.


"Mama yang gak nyangka, Kak. Kamu yang dulu pulang sekolah rok nya suka dipakai buat payung sama bekal malah dijual sekarang udah mau kasih Mama cucu," ucap Maka Lauritz cukup takjub pada anak perempuannya yang sudah tumbuh dewasa. Menyadarkan pula pada umurnya yang semakin menua.


"Oya, Ma, besok Ara ikut ke toko ya? Semenjak hamil masuk bulan ketujuh sama Mas Rava disuruh urus pembukuan dari rumah aja jadi bosen banget."


"Besok minta antar Papa pakai mobil kalau gitu."


"Mobil dari Mas Rava masih gak dipakai Papa ya, Ma? Tadi Kakak lihat Papa pergi ke bengkel bawa si hitam."


"Katanya sayang pakai mobil bagus cuma buat ke bengkel. Apa lagi kalau udah gantian. Di bengkel mana ada yang bersih, Kak. Paling pagi atau sore Papa sama Jona suka bawa panasin mesinnya aja," jelas Mama Lauritz sembari mengosongkan satu ruang di dalam lemari pakaian bersama milik Jona dan Rian. Tangannya dengan lihai membantu menyusun pakaian Ara.


Sedangkan Ara dengan santai duduk di tepi ranjang. Namun sedetik kemudian tiba-tiba tatapannya gusar.


"Ma...," lirih Ara menjeda ucapannya, "perasaan Kakak kok mendadak gak enak ya? Mas Rava bakal baik-baik aja kan ya?"


"Gak ada apa-apa. Paling perasaan Kakak aja yang gak rela ditinggal jauh sama Rava," tutur Mama Lauritz berusaha menenangkan Ara yang tampak dilanda kekhawatiran. Menampik pikiran buruk yang berkelebat.

__ADS_1


Menjelang siang ponsel Ara bergetar, menampilkan nama dengan foto sosok yang sedari tadi dikhawatirkan. Secepatnya Ara menggeser ikon hijau yang menyambungkan panggilan video itu.


[Sayang ....]


"Udah sampai?" tanya Ara cepat sambil memperhatikan setiap sudut tempat di belakang Rava yang tertangkap lensa kamera. Terlihat sekali Rava sedang berada di dalam sebuah ruangan.


[Udah dari tadi, Sayang. Maaf ya gak langsung kabarin kamu. Sesampai di sini Mas langsung dijemput orang kantor. Bahas kerjaan di jalan lanjut meeting. Ini baru aja selesai.]


"Yang penting Mas baik-baik aja di sana. Nanti kalau ada waktu lagi jangan lupa kasih kabar." Sendu Ara menatap gurat lelah yang menghiasi wajah Rava.


Hampir 5 hari laki-laki itu tidak cukup tidur. Menghabiskan waktu berkutat dengan pekerjaannya. Hanya sedikit menyisihkan waktu untuk menciumi sang istri yang tertidur dan calon buah hati yang terkadang menendang usapan lembutnya.


"Mas udah makan?"


[Belum. Ini baru mau makan. Sekarang temani Mas makan dulu ya?]


Rava menggeser botol air kemasan yang masih utuh. Meletakkan ponselnya agar menyorot tepat dirinya yang hendak mengisi perut. Tidak lama terlihat di layar Rava yang menarik bungkusan makanan.


"Kelihatan enak banget Mas capcay nya," ucap Ara sambil menelan air liurnya. Mata calon ibu muda itu berbinar melihat menu makan siang Rava merupakan salah satu makanan favoritnya.


[Agak keasinan sama ada udang juga di sini, Yang. Kamu gak bisa makan ini. Nanti kalau Mas pulang kita beli di tempat langganan Mas, lebih enak di sana.]


Keduanya menghabiskan waktu istirahat Rava dengan obrolan ringan. Bahkan Ara benar-benar kembali tergoda untuk makan lagi. Tak ayal sepiring perkedel kentang tanpa sadar ludes dilahapnya.


Jangan heran, selera makan Ara memang menggila semenjak awal kehamilannya. Sangat beruntung di masa kehamilan Ara tidak termasuk kategori yang rewel, walaupun di trisemester ketiga harus merasakan morning sickness.


...----------------...


"Haah ...." Menghela nafas kasar, Ara merindukan Rava. Sungguh waktu 3 hari itu dilaluinya dengan cukup berat. Tidurnya tidak tenang tanpa usapan lembut Rava. Tentu saja lingkar menghitam tidak ragu menghiasi kantong matanya.


"Egh! Maaa ... Mama?!" panggil Ara pada Mama Lauritz dengan intonasi meninggi.


Kakinya kesulitan dibawa melangkah saat gelombang menakjubkan itu melanda. Ia mencengkeram erat tepian kursi. Mendudukkan diri sambil menikmati sensasi yang sangat menakjubkan.


Ara berusaha tenang kala merasakan perutnya kembali berkontraksi. Hampir 1 jam penuh rasa itu menerjang dengan selang waktu berdekatan yang konstan. Mulanya ia biarkan, namun gelombang yang baru saja dirasakannya sangat dahsyat.


Sejenak Ara mengatur nafasnya yang memburu. Menanti kehadiran Mama Lauritz dengan sabar. Ara sadar Mama Lauritz sedang sibuk memberikan pembekalan sekaligus evaluasi kerja pada karyawan toko aneka camilan kering miliknya.


Kios kecil yang berada di sebelah bengkel Papa Yudith sudah dipindah dan berubah menjadi ruko 2 pintu. Setahun belakangan usaha Mama Lauritz berkembang pesat hingga bisa merekrut banyak masyarakat sekitar yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tentu semua itu tidak lepas dari keberhasilan ide Ara dalam memasarkan produk camilan sang Mama.

__ADS_1


Benar, Ara tetap memiliki mimpi menjadi wanita karir terlepas dari statusnya sebagai ibu rumah tangga.


"Kakak habis angkat yang berat-berat ya? Kan Mama udah bilang diam aja gak usah ngurusin apapun selain kas toko! Aduuuuh ... Galon pula kamu angkat!" omel Mama Lauritz tanpa menanyakan kebenarannya pada Ara. Pasalnya terlalu panik kala mendapati galon air pada dispenser sudah terganti.


"Kakak diam aja loh, Ma ... Itu galon diganti orang lain," sanggah Ara sembari mengusap perutnya.


"Sssh ... Ma minta Papa jemput. Udah dari semalam perutnya gak enak. Ini sebentar-sebentar juga kerasa kontraksinya."


Terbelalak Mama Lauritz mendengar penuturan Ara. Secepat kilat kaki wanita tua itu melangkah mendekati ujung meja, meraih tas dan merogoh ponsel. Pasalnya di toko hanya ada motor milik pegawai yang bisa digunakan untuk transportasi.


"Cari taksi di depan aja ya, Kak? Kamu udah mules-mules terus kan?"


"Gak usah, Ma. Ini udah hilang lagi. Udah gak kenapa-napa. Bantuin Kakak bangun buat nunggu Papa di depan aja."


"Hubungi Rava kalau udah sampai di rumah sakit aja, Kak. Biar kita tau bukaan ke berapa dulu. Takutnya Rava panik di sana."


"Iya, Ma," jawab Ara singkat seraya berjalan menuju teras depan toko sambil dituntun Mama Lauritz. Bulir-bulir keringat mendadak timbul dari balik sela rambut, menetes pelan jatuh ke pelipis dan terusap punggung tangan.


Selang 15 menit berlalu, kini Papa Yudith sudah berlari panik menghampiri istri dan anaknya yang tampak sedang menahan kesakitan.


"Bisa jalan sendiri? Mau Papa gendong? Sakit banget, Kak?" cerca Papa Yudith tidak ada habisnya. Bahkan calon Kakek itu tidak sadar jika kakinya ikut melangkah menemani Ara menuju mobil yang diparkir tepat di pelataran toko sang istri.


Memutar bola matanya malas, Mama Lauritz tidak menyangka jika Papa Yudith akan sepanik itu. Padahal dahulu saat menyambut kelahiran anaknya sendiri selalu tenang, santai dan terkesan biasa saja meski ekspresinya terlihat sangat senang.


Di kursi belakang mobil pertama Papa Yudith, Ara kembali bernafas lega, menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam. Ketakutannya pada kesakitan saat kontraksi ternyata tidak terlalu mengerikan, atau mungkin saja belum terjadi.


Membuka matanya lebar, Ara tersenyum kecil memperhatikan mobil Papanya. Benar, mobil Papa Yudith masih sama. Tidak terganti meski sudah Rava bujuk bahkan sempat belikan langsung mobil keluaran terbaru. Bukan tidak menghargai pemberian menantunya, namun Papa Yudith memiliki ikatan tersendiri dengan mobil butut yang sekuat tenaga dibeli dan modifikasi bersama Jona.


Mobil butut yang terpoles sempurna itu punya cerita. Banyak kenangan canda tawa bahagia, raut bangga anak-anaknya kala pertama kali mobil itu berhasil mengantarkan mereka berkeliling Kota. Bahkan dikala mobil itu mogok, bukan keluhan yang pertama tergema, namun tertawaan anak-anaknya yang membuat Papa Yudith semakin bersemangat memperbaiki.


...****************...


*


*


*


Terima kasih sudah mengikuti perjalanan kisah Ara😘

__ADS_1


__ADS_2