Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Pelukan Teletubbies


__ADS_3

"Hah..!!" Menghela nafas kasar, Ara merasa nyeri di sekujur tubuhnya. Kaki lemas tidak kuat menopang bobot tubuhnya. Tanpa Ara sadari jari-jemarinya gemetaran tidak terkontrol.


"Sakit." Duduk berjongkok, menelungkup kepala Ara di atas kedua lututnya. Tidak ada tangis meski mata Ara sudah berkedut, yang ada hanya rasa berdenyut di kepalanya.


Rava lupa, Ara tidak seperti perempuan lainnya. Layaknya kaca tebal yang terlihat kokoh meski retak, namun sedikit sentilan langsung meluluhlantakkan hingga tidak bersisa. Begitulah Ara, ia terlihat baik-baik saja, seolah sorot matanya hanya diisi kebahagiaan, namun sayangnya jiwa nya kosong. Cangkang hampa yang bisa hancur kapan saja bak debu tertiup angin musim panas itu hanya dipaksa terus bertahan.


Jangan membuat Ara merasa hadirnya tidak diinginkan, masa kecil pilu sudah cukup menyakitinya. Masa remaja di saat sudah mengenal indahnya cinta, Ara juga tersakiti. Beranjak dewasa, Ara sudah benar-benar memahami artinya rasa terasingkan. Memilih sendirian seumur hidup yang akhirnya dibelokkan untuk menatap seorang Rava, Ara lagi-lagi ingin menghilang.


"Ha ha ha.. Ha ha ha.." Tawa terpotong-potong itu sangat menyedihkan. Bak orang kehilangan akal sehatnya, Ara tarik kuat rambutnya. Terluka, darah sedikit menetes dari luka mengering yang tergores kasar oleh rambut Ara.


"Kenapa baru mau mulai aku harus sakit lagi!!???" Keluh Ara lirih, memilukan.


Menengadahkan wajahnya, Ara tertawa lebar dan kencang. Terukir wajah tersenyum Rava di plafon toilet khusus perempuan, sungguh tidak elit sama sekali. Beruntung hanya Ara yang mampu mendengar tawa yang cukup menggelegar itu.


"Dia bohong!!"


"Penipu!!"


"Jahat!!"


"Dia gak sayang aku?? Iya.. Dia gak sayang beneran sama aku." Gumam Ara berulang-ulang, menggigit kuku ibu jarinya dengan bibir bergetar. Isak kecil akhirnya mencuat. Ara tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya.


"Hah.. Hah.. Huuuu.. Hiks.. Huuk.. Huuuk.. Hiks.. Hiks.. Ha ha ha.." Tangisan yang ditahan berakhir dengan tawa berderai air mata. Mengusap kasar lelehan air mata, Ara meraup oksigen yang tidak terlalu segar itu sebanyak-banyaknya.


"Aku bisa hidup sendiri. Aku bisa bahagia sendiri." Ucap Ara mantap, mengepalkan kedua tangannya.


Jangan katakan Ara berlebihan, semua tidak akan berbalik menghunusnya bila tekad belum sempat dibulatkan. Memandang wajah mengerikan terpantul dari cermin toilet, ada bisikan lain agar ia tidak melangkah mundur. Kesempatan yang sekali lagi seolah terbuka, Ara masih ingin melihat bagaimana kelanjutan cerita mereka berdua atau mungkin hanya untuk merasakan kehancuran sekali lagi.


Tidak perduli mata sembab dan hidung memerah, Ara berjalan santai menuju parkiran. Otak Ara melupakan satu hal penting, motor matic kesayangan yang masih terparkir cantik di garasi rumah.


"Kunci motornya kok hilang sih!!??" Gerutu Ara sambil mengobrak-abrik isi tas nya.


Tuutt.. Tuutt.. Tuutt..


Bukan bunyi kentut, itu hanya suara sambungan telepon dari panggilan yang Ara lakukan. Nada sambung yang cukup lama tidak bersambut. Ara menjadi semakin kesal, rasanya kesialan sering kali mendatanginya keroyokan.


[Halo?]


"Kunci motor ku kebawa dirimu gak, Ki??" Layaknya petasan cabe suara Ara melengking. Untuk pertama kalinya Yuki tersentak kaget, padahal biasanya suara melengking hanya milik seorang Yuki.


[Udah pikun Buk??] Pertanyaan Yuki terdengar mengejek.


"Gak usah aneh-aneh dulu.. Seriusan ini aku gak bisa pulang loh!!" Ucap Ara memelas yang dibumbui kekesalan.


[Kamu itu pergi diantar ngapain nanyain kunci motor sama aku.]


"Argh!!" Geram Ara kala baru mengingat dirinya pergi ke kampus menunggangi kereta kencana Rava.


[Aduh!! Ini anak kenapa lagi sih!!??] Menjauhkan ponsel dari telinganya, Yuki menggeleng bingung.


"Aku lupa kalau tadi pagi diantar.." Rengek Ara sambil duduk berjongkok, terlihat menyedihkan seperti anak kucing yang dibuang.


[Mau aku jemput??]


"Gak usah. Jauh tau. Lagian pasti lagi sakit pinggang kan?"


[Iya.. Nyeri parah ini pinggang ku. Mana bocor lagi tadi, untung waktu ke parkiran sama Dimas dibantu tutup pakai tas.]


"Maaf ya aku gak ikut bantu tadi."

__ADS_1


[Gak apa-apa. Lagian tadi aku lari ngibrit sendiri juga gak akan banyak yang sadar ada stempel merah.. Hahahaha..]


"Gak mungkin lah gak sadar.. Celana warna terang gitu."


[Mending ceritain tadi diapain aja sama Bu Dian!!?]


"Besok aja deh.. Intinya aku gak dipakai jadi asisten dia lagi, udah gitu aja." Ada perasaan kecewa dalam untaian kalimat Ara, sejujurnya ia cukup nyaman berkerja bersama Dian. Sangat nyaman tentunya sebelum Rava muncul diantara keduanya. Seolah Rava adalah orang ketiga dalam hubungan Dian dan Ara, sungguh lucu.


[Memang tadi gak bilang Papa mu pulang jam berapa? Biasa Om Yudith standby jemput anak emasnya.] Ucap Yuki menaikan alis kanannya. Pasalnya Papa Yudith itu sangat super mudah khawatir dan heboh pada ketiga anaknya, khusunya Ara sang anak gadis satu-satunya.


"Tadi aku gak pergi sama Papa." Ucap Ara lirih.


[Lah jadi???] Suara Yuki meninggi, bingung dan penasaran menjadi satu.


"Sama Mas Rava.." Lagi-lagi suara Ara layaknya sedang berbisik.


[Uhuk!!] Bukan candaan apalagi godaan, Yuki benar-benar tersedak air liurnya. Air liur yang memenuhi rongga mulut Yuki ikut kaget, padahal Yuki baru saja ingin menelan kembali air liurnya.


[GILA..!!] Nah kan, baru juga dikatakan suara melengking hanya milik Yuki, terbukti kini suara itu terasa mendobrak gendang telinga hingga menembus ke otak Ara.


[Kalian udah sejauh apa ini..!!??] Tanya Yuki histeris. Melompat kecil berpindah posisi dari berbaring menjadi berdiri dengan gemas.


"Nanti juga deh aku ceritanya, sekarang aku pusing pulang kayak gimana."


[Sampai lupa aku, Ra.. Matikan dulu telepon kita! Sana telepon sayang mu.. Uhuuuuy.. Ciieee..]


[Mas Rava aku pulang kok gak dijemput sih?? Uh.. Mas Rava jahat..!!] Suara mendayu-dayu kecentilan yang Ara yakini terucap dari bibir yang membentuk layaknya paruh platipus.


[Gitu ya nanti ngomongnya.. Hahahaha..]


"Udah?? Puas??"


"Udahlah aku matikan. Bye.." Ucap Ara cepat dan mematikan sepihak panggilan itu. Tidak sanggup lagi Ara mendengar suara sok manis milik Yuki.


Baru saja pandangan Ara menyapu sekelilingnya, matanya sudah bertemu mata elang milik Rava. Laki-laki yang terengah-engah itu menatap lekat kedua bola mata Ara. Tampak langkah kaki lebar milik Rava semakin mendekat.


"Kamu habis nangis?" Menangkup pipi Ara, ibu jari Rava mengusap area di bawah mata kiri Ara.


"Kenapa??" Tidak tau saja Rava bahwa pelaku utama dari tangisan Ara adalah dirinya sendiri.


"Lepas!" Ucap Ara datar, meski ia cukup berdebar. Entah mengapa semenjak mengaku pada dirinya sendiri atas hadirnya Rava, emosi Ara mudah sekali terombang-ambing. Apalagi jantung berdebar dan rasa gugup yang justru mudah sekali menyerbu Ara.


"Karena saya?" Akhirnya Rava paham, dengan rasa bersalah menumpuk Rava bawa tubuh Ara dalam dekapannya. Tidak perduli pada banyak pasang bola mata yang sudah melotot nyaris jatuh menggelinding.


Tampaknya ucapan Rava pagi tadi tidak berlaku. Katanya tidak ingin mengejar Ara agar tidak mengusik hidup damai Ara lagi, namun justru kini dengan terang-terangan Rava memeluk Ara di parkiran fakultas. Yakinlah pusat berita yang sedang menahan nyeri datang bulan di kamarnya pasti sudah menerima jepretan cantik sepasang manusia berpelukan layaknya teletubbies.


...****************...


Yuk kita kenalan dulu sama Platipus si Mamalia yang bertelur 😊



Jadi Platipus ini termasuk binatang yang cukup antimainstream alias mau beda dari Mamalia lainnya yang umumnya bereproduksi dengan cara vivipar (melahirkan atau beranak), si Platipus ini malah ovipar (bertelur).


Secara umum Mamalia itu didefinisikan sebagai kelompok hewan menyusui yang terdapat dalam golongan vertebrata atau bertulang belakang.


Maka dari itu, meskipun Platipus bertelur, tapi Platipus ini juga menyusui anaknya.


*

__ADS_1


*


*


Gosip panas apa yang kira-kira akan mencuat?


*


*


Buat semua pembaca, Hana mau mohon maaf sebesar-besarnya.. Jadi mulai dari bab ini sampai gak tau bab berapa atau mungkin sampai tamat, jadi..


Hana mau buat lebih pendek alias cuma sekitar 1000-1300 kata aja. Kalau bab sebelumnya Hana update selalu berkisar 2100-2400 kata per bab, semoga di bab baru ini gak bikin lebih kecewa ya🙏🙏 Meskipun ku tau Kakak-kakak semuanya pasti kecewa 🤧


Alasannya??




Ngejar 2000 kata di waktu sibuk suka bikin gagal fokus.




Lihat naskah panjang belum kelar revisi bikin pusing, meskipun cuma revisi typo aja.




Adanya perubahan alur di tengah cerita yang mengharuskan Hana merombak seluruh naskah awal.




Berharap bisa rajin update karena target per bab lebih sedikit.




Saran dari author cantik biar bisa rajin update dan membantu naik level novelnya 😁 Kebetulan beliau untuk novelnya per bab seribuan kata tapi 2 bab/hari (Kak Novi terima kasih udah kasih informasi, saran dan semangatnya🥰)




FYI, kematian Bima harusnya di bab 20an, tapi baru-baru ini dimunculkan. Jadi sebenarnya Hana udah dari sekian lama mengulang ketik naskah😅 Memang ada beberapa yang tinggal copas, tapi ya tetap aja harus dicocokkan.


Nih salah satu Karya Author Novi 👇👇 ini yang masih ONGOING ya😊



*


Terima kasih untuk yang telah setia memantau kisah Ara dan terus memberikan Hana dukungan 🥰

__ADS_1


__ADS_2