
"Aaaarrrgghhh!!!" Meremas rambut dengan kasar, sosok yang dipanggil Eric oleh keluarganya itu terduduk di sudut ranjangnya. Sudah cukup lama panggilan Eric tidak tersemat pada dirinya.
"Aku harus gimana ini??" Menopang wajahnya dengan telapak tangan kanan, Eric sesekali memijat pelipisnya.
"Aku bisa menghindar dengan sembunyi. Tapi Ara bakalan kesusahan kalau aku gak hadir di sampingnya." Gumam Eric lirih.
Skenario yang dihindari justru menuntun Eric kembali dengan tidak terduga. Niat hati menolak perjodohan untuk terbebas dari kekangan bayang-bayang Papi dan Mami nya, Eric kini terjerat rasa hutang budi pada Papa Yudith. Eric tidak mungkin meninggalkan Ara berusaha menolak sendirian rencana perjodohan. Eric sangat yakin semua pemaksaan ini akan menjadi beban pikiran bagi Ara.
"Sial!! Mana ponsel ku!!??" Beranjak hendak menuju ruang saksi bisu perdebatan, dahi Eric berkerut. Gagang pintu yang ditarik kuat tertahan. Pintu yang tadi hanya ditutupnya sudah terkunci rapat.
Clak
Clak
Brak
Brak
Brak
Ujung kaki Eric menendang pintu kayu berwarna putih tulang. Tidak lecet atau tergores sedikitpun, namun jelas kaki Eric terasa panas.
"Kenapa terkunci??" Menyugar rambutnya, mata Eric mengelilingi segala penjuru kamarnya. Mengabaikan kakinya yang berdenyut, Eric berlari ke arah pintu balkon.
Srak
Menyibak gorden abu-abu panjang menjuntai, Eric akhirnya mendapati dirinya sedang dikurung. Pintu kaca tebal penghubung kamar dengan balkon seolah menertawakan Eric. Ternyata ia kalah cepat dengan orang rumahnya.
"Hahahaha.. Benar-benar gila semua orang. Aku udah setua ini masih juga dikendalikan kayak anak kecil yang gak tau apa-apa!!" Mengeraskan rahangnya, Eric meninju udara.
Kembali berkeliling kamar, Eric mengangkat meja kayu di sudut kamarnya. Memposisikan diri membanting meja tidak berdosa ke arah pintu kaca.
Brak
Gagal. Bukan dilemparkan, namun Eric kembali meletakkan meja itu tepat di hadapannya. Eric masih berusaha menggali memorinya, hingga ingatan ponsel yang dipinjamkan pada sang Mami berkelebat dipikirannya.
"Oh gitu jadinya.. Kalian mau seret aku secara paksa." Menyeringai, sorot mata licik tergambar jelas di bola mata Eric. Otak penurut miliknya sudah terkontaminasi dengan trik-trik licik, bukan cerdik tapi licik.
Meraih tas ransel dari dalam lemari, Eric membuka kotak harta karun di kamarnya. Berbagai barang yang diam-diam ia beli hingga nyaris 500 bundel uang pecahan berwarna merah tersusun rapi.
"Maaf Pi, kali ini Eric pergi dengan membawa harta Papi." Jam tangan berharga ratusan juta, hingga beberapa bundel uang cash sudah mengisi sesak tas ransel Eric. Jika sebelumnya Eric kabur bermodal uang pinjaman dari sang sahabat, maka kali ini ia akan membawa secuil harta orang tuanya.
Menyibak seprai kasur miliknya, Eric melilit-lilitkan dengan berbagai kaos, handuk dan selimut layaknya tali tambang dalam adegan pelarian. Tongkat baseball yang hanya sebuah koleksi tidak sengaja Eric temukan di sela baju gantung siap menjadi gebrakan pembuka.
Brak
Retak. Kaca yang kelewatan tebal itu hanya membentuk garis retakan. Beruntung kamar Eric kedap suara jadi segala aksinya tidak terdeteksi, namun tidak tau bila getaran kaca terdengar jelas dari arah luar balkon.
Prang!!
Akhirnya lubang sebesar semangka seberat 5 kilogram terbentuk. Menahan diri untuk tidak langsung melempar meja yang sudah disiapkan, Eric nampaknya sudah cocok dengan senjata barunya. Mengayunkan kembali tongkat baseball dengan superpower yang seketika ia miliki, Eric mengeratkan giginya.
Prang!!
Prang!!
Pukulan bertubi-tubi Eric lancarkan, bukan hanya demi akses pelarian yang terbuka, tapi juga pelampiasan amarah. Puas dengan hasil kerjanya, Eric meraup lilitan kain yang teronggok di atas kasur. Dalam sekejap tali dadakan Eric sudah menggantung dengan ikatan kuat pada pagar balkon.
Prang!!
Pecahan kaca selebar 20 cm melayang dan mendarat bercerai-berai di paving halaman rumah, entah bagaimana caranya bisa terjadi. Bunyi keributan itu tentu menarik perhatian seseorang, apalagi ia menangkap lambaian kain warna-warni tersusun layaknya kue lapis.
Menatap ke arah kain terlilit dari dekat yang dikiranya kepangan rambut Rapunzel, pemilik mata yang ingin menemui satpam komplek incarannya melotot lebar. Lari tunggang langgang hingga sandal selop kuningnya terlepas sebelah, lebih baik dibiarkan demi laporan genting pada sang Nyonya rumah.
"Nyonya... Den Eric kabur lagiiiii..!!!" Teriak sang asisten rumah tangga yang mendapati tali abal-abal menggantung dari pagar balkon kamar Eric. Nafas terengah-engah dengan bulir keringat di pelipis menambah mendramatisir suasana, jangan lupakan pula jika hanya satu kaki yang terlindung sandal.
Brak
Pintu kamar Eric terbuka lebar, menampakkan pintu kaca yang sudah hancur dengan kepingin kaca berserakan.
"ERIC!!!!" Memegangi dada kirinya, jeritan Mami Eric terdengar frustasi. Nampaknya darah tinggi Mami Eric kambuh.
__ADS_1
Mendudukkan diri di ranjang milik Eric, wanita paruh baya itu masih bisa mencium aroma parfum anaknya. Sedangkan sosok yang bertiarap di kolong ranjang menutup mulutnya rapat-rapat. Iya, Eric masih bersembunyi di kamarnya. Tidak ingin mati konyol atau luka serius akibat terjatuh dari lantai 2 yang cukup tinggi. Jangan membayangkan rumah berlantai 2 biasa, tapi bayangkan lah rumah megah dengan pilar kokoh. Sangat jauh berbeda dengan rumah berlantai 2 yang Ara tempati.
Berharap siasat murahannya berhasil, Eric bertahan di bawah kolong sempit itu. Bagaimana tidak bertahan jika Mami nya masih setia mendudukkan diri di ranjang miliknya. Hanya para asisten rumah tangga dan penjaga yang sibuk berkeliling. Dan lagi-lagi keberuntungan masih berpihak pada Eric, kamera pengawas di sisi kamarnya sedang rusak.
"Mi.." Papi Eric berlari menghampiri istrinya yang sudah terlihat kacau. Ada gurat kesedihan di kedua wajah yang mulai tampak garis keriputnya itu.
"Pi, Eric kabur lagi.." Tangan yang menutup wajah menopang pada masing-masing sisi lutut. Mami Eric menahan isak tangisnya. Tidak menyangka di hari tua mendapat kejutan anak kesayangannya yang kabur.
"Hah..!! Harus gimana lagi kita sama anak nakal itu??" Mengusap wajah gusar, Papi Eric ikut duduk di samping Mami Eric.
"Batalkan aja Pi perjodohan Eric dan Ara.. Udah yang kedua kalinya Eric kabur dari rumah.. Papi tau kan kalau Eric gak pernah susah. Di rumah aja jarang kena panas, Papi lihat sekarang dia.. Dia bahkan sampai numpang-numpang di hidup orang.." Suara Mami Eric tercekat, bayangan anak semata wayangnya bekerja keras banting tulang demi menyambung hidup berhasil menyayat hati. "Gak tega Mami.. Gak sanggup lagi Mami biarin Eric hidup susah di luar sana."
"Papi juga bingung Mi.. Kita udah tau latar belakang Ara. Mami tau sendiri juga kan dari laporan orang suruhan kita gimana karakter Ara?? Selama ini gak ada sedikitpun laporan buruk, malah hubungan Ara dan Eric terlihat cukup dekat."
"Tapi hal itu sekarang gak berguna Pi!! Eric udah kabur lagi!!" Suara meninggi milik Mami Eric mengisi seluruh sudut kamar bernuansa abu-abu itu.
"Mami.. Dengarkan Papi dulu ya.. Salah satu syarat Eric bisa gantikan Papi cuma dengan dia punya istri. Sedangkan kita tau kalau temen perempuan Eric itu banyak Mi, tapi gak ada yang diajak serius sama Eric. Pusing Papi mikirin Eric. Lagian dari semua perempuan itu juga gak ada yang Mami suka kan??" Memijat pelipis kirinya, Papi Eric menatap sendu sang istri.
"Ya jelas gak suka Pi!! Mereka semua itu cuma manfaatin anak kita. Kenapa juga Eric yang sukanya main game online di rumah sekali punya teman di dunia nyata parasit semau!!??" Menggebu-gebu, ucapan dengan nada penuh kesal terlontar bebas.
"Makanya itu Papi berani terima tawaran Om Baren. Latar belakang Ara jelas, kita juga masih bisa dibilang kerabat jauh karena kita ini Kakak ipar dari keponakan Om Baren." Jelas Papi Eric. Merangkul bahu Mami Eric sembari memberikan usapan pada lengan, keduanya serentak menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa jadi rumit gini sih Pi??"
"Semuanya ini gara-gara wasiat Papa.. Kalau kita gak persiapkan pernikahan Eric dari sekarang, mana bisa setelah 5 tahun pernikahan baru Eric boleh pegang perusahaan. Mau umur berapa Eric baru punya kendali?? Masalahnya sekarang, jadi harus sampai setua apa Papi yang ngurus perusahaan kita??"
"Apa kita lebih baik kasih tau aja hal itu ke Eric Pi?" Keduanya saling bertatapan dengan sorot mata gusar.
"Papi takut kalau Eric tau alasan sebenarnya dia justru bertindak gila. Gimana kalau anak kita itu malah bayar perempuan buat dinikahi dan bikin kontrak pernikahan??"
"Kenapa Papi yang jadi drama gitu??" Mengernyit heran Mami Eric pada jalan pikiran aneh nan lebay suaminya.
"Kebanyakan Mami kasih tau cerita nikah kontrak sih.. Papi jadi kepikiran yang nggak-nggak. Takut Eric buat hidup anak orang merana juga.."
"Gak mungkin anak kita kayak gitu Pi!! Jangan mikir aneh-aneh, nanti malah jadi doa kan amit-amit banget."
Sayangnya yang ditakutkan kedua orang tua Eric sudah tersampaikan secara langsung ke telinga Eric. Padahal Eric sendiri tidak terlalu memikirkan soal harta warisan. Cukup kebutuhannya terpenuhi dan untuk modal menghidupi anak orang yang akan ia minta nantinya. Sadar bila tidak akan hidup melajang selama, Eric menumpu kepalanya pada tangan yang menelungkup di atas dinginnya lantai.
Mengendap-endap menuju pintu belakang, Eric masih menyempatkan diri menyambangi isi kulkas. Kabur pun Eric juga perlu energi. Tidak perduli ia akan tertangkap kamera pengawas dari pintu belakang, Eric buru-buru berlari kencang melewati pintu pagar yang langsung disambut oleh jalanan komplek perumahan.
Sedangkan di tempat berbeda, Ara mendengar keributan dari lantai bawah. Menajamkan pendengaran, Ara menangkap suara familiar. Pemilik jantung yang berdebar gugup itu diam-diam mengintip.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki yang berjinjit itu terhenti di ujung dasar anak tangga. Mendudukkan dirinya seolah ia bisa menjadi manusia transparan, Ara memindai seluruh penjuru rumah yang mampu ia tatap.
"YA!!!" Tersentak kaget Ara pada suara Jona. Adik jahilnya yang belum sempat disemprot semburan naga sudah melarikan diri sembari menjulurkan lidah pada Ara.
Menaikan tangan terkepal dan mata melotot, Ara melayangkan ancaman. Jantungnya yang sempat berdebar gugup justru berubah normal, sungguh hebat.
Melangkahkan kaki menuju pusat keributan, Ara disuguhkan kehadiran Bima. Tersenyum tipis Bima pada Ara, senyum manis yang sudah lama tidak Ara lihat. Bahkan suara Bima juga nyaris Ara lupakan. Tersadar Ara sudah terlalu lama menghindari Bima.
"Sudah lama kita gak ketemu.." Sapaan pertama Bima setelah sekian lama. Bukannya luntur atau tetap konstan, senyum Bima justru semakin mengembang. Suara lirih yang hanya ditujukan untuk Ara terdengar sangat jelas mengetuk gendang telinga Ara.
"Mama dari mana??" Mengabaikan sapaan ramah Bima, Ara merapat dirinya pada Mama Lauritz.
"Habis beli beras di tempat Bang Buna malah motor Jona kempes Kak. Untung ada Bima.. Jadi dibantu antar berasnya ini. Makasih ya Nak Bima." Menepuk-nepuk pelan lengan Bima, Mama Lauritz sudah bersiap mengangkat sekarung beras dengan berat 25 kilogram itu.
"Gak usah Tante, biar saya saja. Tante tinggal tunjukkan harus diletakkan dimana." Tangan Bima menahan sekarung beras yang teronggok di lantai teras depan rumah.
"Ya udah, ayo masuk. Kakak buatin minum Bima ya."
"Iya.." Menjawab setengah malas, langkah gontai Ara mengikuti Mama Lauritz dan Bima.
"Diminum dulu Bang.." Menyodorkan segelas air jeruk dari botol kemasan, Ara bingung harus melakukan apa lagi.
"Makasih Ra.."
__ADS_1
"Bima udah selesai koas nya??" Tanya Mama Lauritz pada Bima.
"Belum Tante.. Kalau lancar tinggal setahun lagi waktu Bima buat koas."
"Oh gitu.. Jadi sekarang lagi libur nih??"
"Iya, Tante. Kebetulan dapat jatah libur, jadi bisa pulang lihat Nenek di rumah."
"Nenek mu itu lincah banget ya Bim.. Kayak gak ada capek-capeknya." Ucap Mama Lauritz yang dibalas senyuman oleh Bima. Namun hati kecil Bima justru mencelos, sangat terasa kegagalan membalas jasa orang yang telah merawatnya. Bima merasa seharusnya sudah bisa memberikan penghidupan yang layak bagi Nenek Imah, bukan membiarkan Nenek nya tetap bekerja keras. Mau bagaimana lagi bila si Nenek yang memang tidak mau menyusahkan cucu satu-satunya yang sedang memperjuangkan gelar dokter tetap ngotot ingin berjualan.
"Kak.. Temenin Bima ya.. Mama mau beres-beres sebentar." Ucap Mama Lauritz seraya berlalu dari hadapan Bima dan Ara.
"Siap Mama ku sayang.." Teriak Ara agar terdengar oleh Mama Lauritz.
"Hmm.. Bang.."
"Iya, Ra."
"Duduk di teras samping aja yuk Bang.. Biar enak kalau mau ngobrol." Menunjuk ke arah samping rumahnya, bola mata Ara justru menatap tidak tentu arah. Sejujurnya Ara sangat canggung bertemu Bima di saat yang kurang tepat dengan pikirannya penuh dugaan yang tidak jelas.
"Kamu baik-baik aja kan Ra?" Membuka percakapan, Bima dan Ara sudah duduk pada kursi yang sama memandang kolam akuakultur.
"Iya, baik-baik aja. Kenapa Bang??"
"Abang merasa kamu menghindari Abang beberapa waktu ini. Kita gak pernah teleponan lagi, bahkan pesan Abang jarang kamu balas. Kalaupun sering itu juga singkat, keliatan gak niat balasnya. Abang ada salah ya sama kamu?" Pertanyaan menohok dada Ara akhirnya terucap juga. Ada rasa diabaikan dan tidak diinginkan yang menyakiti relung hati Bima.
Jangan kira hubungan Bima dan Ara lenyap begitu saja hanya karena Ara menduga Bima adalah Eric. Keduanya tetap berkirim pesan, meski intensitasnya menurun bahkan terkesan hanya satu arah dari Bima saja. Ara masih membatasi dirinya. Takut jika kekalutan di otaknya terbukti benar.
Jika saja Bima belum masuk ke daftar orang penting, mungkin Ara akan acuh dan masa bodoh. Nyatanya Bima punya tempat tersendiri di sudut hati Ara.
Perlakuan dan segala tindak-tanduk Bima mengisi kenangan baik. Tidak dapat ditampik bahwa Ara tidak akan terlepas dari jeruji ketakutannya bila Bima terlambat hadir. Segala perhatian dan pengertian layaknya sosok Kakak laki-laki yang Ara rindukan, Bima hadir dengan segala harapan Ara.
"ARA..!!!!" Terperanjat Ara dan Bima, pemilik suara melengking itu justru hanya menyengir. "Maaf.. Gak tau kalau lagi mojok. Ups!! Sorry.."
Yuki Yulika Abian (Kim Yoo Jung)
"Yuki sableng!!!"
...****************...
*
*
*
Kalau Bima di rumah Ara.. Eric yang lagi kabur itu bukan 'Bima'?? Jadi, ERIC INI SIAPA??😳
Rilis juga visual Yuki, cantik kan?😊
*
*
Jangan tanya nama Papi dan Mami nya Eric ya.. belum di launching.. jadi diam-diam aja ya🤫🤭
Buat yang bingung seputar 'jatah libur koas'. Jadi ...
Peserta koas itu juga punya jatah libur ya.. Cuma kayak gimana ngatur waktu liburnya Hana kurang tau, banyak banget penjelasan yang beda dari setiap platform yang Hana kunjungi 😅 Jadi maaf banget gak ada ilmu/informasi yang bisa Hana bagi di atas ya😁
Intinya dari segala macam itu bisa Hana tarik kesimpulan jatah libur peserta koas harus disesuaikan antar sesama peserta koas, supaya jadwal jaga gak keteteran.
Nah.. Biar bisa tambah ilmu semuanya, buat yang punya pengalaman atau tau cerita pengalaman orang lain semasa koas bisa tuh berbagi di kolom komentar👇👇😊
...(FYI, MAU DOUBLE UP🤭)...
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰
__ADS_1