Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Mak Lampir Geblek


__ADS_3

"AAAAAAAAAAAAAAAA..!!!"


Raungan kuat yang terdengar samar di telinga orang-orang yang sibuk menikmati malam panjang bersama teman, pacar bahkan keluarga seolah seperti amukan gorila di film Tarzan. Meski sempat terusik dengan menatap sekitar, namun mereka tidak menemukan keanehan sedikitpun. Sayangnya mereka tidak bisa menyaksikan siaran langsung pertandingan UFC kelas ringan sumber suara raungan muncul.


Kedua laki-laki yang mulanya hanya bertugas mencekal Yuki salah satunya sedang meringkuk di atas tanah dingin. Tidak tau badai apa yang sudah terjadi dalam waktu singkat kala Yuki berubah menjadi disco pang-pang. Sedangkan seorang lagi hanya tetap berusaha menahan seorang gadis mungil yang tampak seperti rubah beringas yang sudah menatap dengan taring menyeringai.


"LEPASIN!!! AKU PECAHIN JUGA ITU TELUR!!!" Ancam Yuki dengan tangan yang terbebas sudah melepas sandal bertumit 5 sentimeter, tidak terlalu tinggi apalagi runcing, namun cukup dahsyat untuk menceplok. Hanya menceplok kepala hingga gegar otak, jangan berpikir macam-macam, meski memang sudah dibuat bercabang.


Sedangkan pada ring gulat lainnya, ada Ara yang sudah bermain tarik menarik. Namun bukan tarik tambang sesungguhnya yang berhadiah rantang pada pesta perayaan kemerdekaan, melainkan lebih cocok disebut aksi jambak menjambak.


Perkelahian yang awalnya berat sebelah itu sudah seimbang. Kilatan amarah di bawah remangnya cahaya temaram tidak membuat suasana gulat meredup. Kedua perempuan dengan masa lalu kelam sedang bertemu setelah sekian lama. Sebenarnya hanya Dinda yang menciptakan kelamnya kisah kedua gadis muda itu.


Bukan hanya dahulu saja kelicikan Dinda harus Ara alami hingga membuatnya nyaris gila dan membenci semua laki-laki. Namun kini Ara sadar, Dinda tidak pernah berubah. Dinda tetaplah perempuan arogan yang selalu merasa paling benar dan berambisi pada obsesi memiliki apapun yang ia inginkan.


"Penggoda sialan!!" Ucap Dinda menatap nyalang yang dibalas tatapan lebih tajam oleh Ara. Jika dulu ia tidak ingin bermasalah dengan perempuan hingga membiarkan segala tindakan Dinda, maka tidak untuk kini. Tidak perduli laki-laki atau perempuan, Ara hanya akan menatapnya sebagai manusia saja. Tidak ada pilah memilah untuk melawan sebuah kesalahan.



Adinda Alexandria (Park Ju Hyun)


"Tinggalkan Dewa!!" Hardik Dinda, mata cantiknya sangat tajam. Nafas memburu yang menyiratkan banyak amarah terdengar jelas di pendengaran Ara.


"Ahahaha.." Tawa Ara hampa, bisa-bisanya Dinda menyuruhnya melakukan hal yang mustahil. Benar-benar mustahil karena tidak perlu dilakukan juga Ara tidak punya hubungan apa-apa dengan Dewa.


"DIAM!!" Bentak Dinda yang jengah pada tawa Ara.


"Dasar jalang!!" Teriakan Dinda cukup kuat, sekuat tangan yang mendorong bahu Ara.


"Aku gak punya hubungan apa-apa sama Bang Dewa. Mau dia nyungsep sekalipun gak ada waktu ku buat dia. Jadi apa yang perlu aku tinggalkan!!!???" Ucap Ara panjang sambil membalas dorongan yang Dinda berikan. Bahkan berkali-kali lipat lebih banyak dan kasar hingga hampir membuat Dinda terjungkal.


Jika lawannya laki-laki, mungkin Ara tidak akan berlama-lama menjelaskan dalam untaian kata. Tentu bogeman lebih efektif menyadarkan lawannya. Sayangnya, Ara yang selalu menghindari masalah dengan sesama kaumnya harus memilih tetap melawan. Apalagi bila lawannya perempuan seperti Dinda yang selalu mencari masalah terlebih dahulu dengannya. Tidak dulu dan tidak sekarang, selalu Dinda yang berulah.


Plak..!!

__ADS_1


Suara tamparan kencang berasal dari pertemuan telapak tangan Dinda dan pipi gembul Ara. Memegangi pipinya yang panas, amarah Ara layaknya api unggun raksasa.


Senyuman muncul dari seseorang yang diam-diam mengabadikan momen itu sedari tadi. Memilih mengakhiri pantauan nya, ia bergegas melangkah pergi. Iya, dia adalah perempuan yang sengaja memprovokasi Dinda untuk menjatuhkan Ara. Kemarahan dan kecemburuan membuatnya nekad berbuat jahat.


"Kurang ajar!!" Mendesis Ara menerjang Dinda hingga terkapar di atas rumput hijau. Menduduki perut Dinda, Ara sudah berusaha memukuli Dinda. Hingga yang terakhir dengan gemasnya Ara berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Dinda untuk melancarkan aksi gilanya.


"Aaaarrrgghhhh!!!!" Erang Dinda kuat, bahu kanannya terasa putus akibat gigitan gigi kelinci milik Ara. Meski begitu Ara tidak langsung menghentikan aksinya, kali ini ia menyerang tangan Dinda. Sumpah demi apapun, cap gigi Ara di tubuh Dinda tampaknya bisa digunakan untuk mencetak gigi palsu.


"Aaaarrrggghhh!!! Udah GIILLLAAAAA YAAAAA!!!!" Lagi-lagi Dinda menjerit, tangannya dipelintir kasar oleh Ara.


"Jangan harap aku bakal diem gak membalas kakak seperti yang terjadi di masa lalu!! Hanya bau Bang Dewa aja aku gak sudi lagi untuk tau, gak usah gila nyuruh aku pergi."


"Gak usah munafik!! Kalian diam-diam selingkuh!! Aku tau dari dulu kamu iri kan sama aku!!??"


"Jangan kebanyakan menghayal karena jadi pecandu Kak! Pergilah sebelum aku cekik Kakak sampai mati!!" Ucap Ara datar, pandangan matanya mengatakan sebuah keseriusan. Bergidik ngeri Dinda yang mulanya sok berkuasa dan yakin Ara akan bertekuk lutut memohon ampun padanya.


Beranjak dari posisinya, Ara menatap perkelahian Yuki yang tiada akhir. Meski Ara yakin kedua laki-laki itu sudah cukup kewalahan menghadapi tingkah Yuki.


"EGH!!" Lenguhan kesakitan dari tinju yang tepat mengenai ulu hati menyambut hasil bogeman Ara.


"Lepas atau aku tambah." Ucap Ara dengan masih tetap memamerkan tinjunya. Sedangkan sang korban memohon pada Dinda untuk mengakhiri segalanya. Seolah mendapat angin segar dari anggukan Dinda, keduanya menyingkir ke arah Dinda. Mereka bukan preman, apalagi tukang pukul yang gemar menyiksa perempuan. Keduanya hanya pemuda yang butuh uang untuk membeli token game online.


"Kenapa gak bilang kalau yang ditahan kayak ayam habis dipotong??" Bisik salah satu laki-laki yang masih terdengar jelas oleh Yuki.


"Heh!! Kalau lemah itu gak usah nyalahin lawannya yang punya tenaga ekstra!! Pergi kalian!! Termasuk kamu!!" Telunjuk Yuki menuding mantap ke arah Dinda.


"Bakal aku remes kayak mie kremes kalian semua!!" Ucap Yuki menggebu-gebu sambil berontak dalam dekapan Ara. Bukannya Ara yang heboh, justru Yuki yang masih dipenuhi amarah.


"Ayo cabut!!" Perintah Dinda pada pengikutnya.


"Urusan kita belum selesai!!" Ucap Dinda sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Ara. Hah! Yang benar saja Dinda itu masih ingin mencari masalah dengan Ara.


"DASAR MAK LAMPIR GEBLEK!!!!" Teriak Yuki kuat, suara melengkingnya membuat telinga Ara berdenging.

__ADS_1


"Astaga Yuki udah kali!!" Ucap Ara berat sambil tetap menahan pergelangan tangan Yuki. Takut bila terlepas Yuki akan mengamuk dan mengejar Dinda bak anjing gila. Belum juga Yuki sempat memprotes, bunyi ponsel Ara mengejutkan keduanya. Tas yang tergeletak dan sudah tampak kotor itu masih menyimpan sempurna ponsel Ara.


"Halo Pak? Datang ke taman Kota sekarang!! Ara sekarat!!" Merampas ponsel dan menjawab panggilan sesukanya, Yuki ingin Rava melihat kondisi Ara. Berharap Rava bisa terpancing emosinya dan membuat perhitungan dengan Dinda.


[Ap-Apa!??] Terbata-bata Rava yang hampir menjatuhkan dirinya, terbayang sudah kondisi mengenaskan Ara yang mencoba bunuh diri lagi. Banyak pikiran bodoh bergelanyut manja dalam otak Rava.


[Saya pergi!!] Ucap Rava seketika menyambar kunci motor dan mematikan sambungan telepon.


...****************...


*


*


*


Siapa sebenarnya dalang permasalahan ini?šŸ¤”


Kira-kira ada yang aneh gak sama nama Dinda?😁


*


*


Dari bab sebelumnya pada banyak yang bilang Ara >< Rava itu memang udah jodoh, dari nama aja udah cocok🤭


Sejujurnya Hana sendiri baru sadar sekitar 2 minggu lalu waktu mau buat nama couple inišŸ˜…


Maaf lagi ya update pendek dan gak double, tapi hanya ini satu-satunya cara biar setiap hari bisa update. Soalnya Hana gak sempat kalau mau lebih panjang lagi🤧


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🄰

__ADS_1


__ADS_2