Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Kwetiau Pembawa Cinta


__ADS_3

Rembesan air mata tanpa perintah terjun bebas dari kedua bola mata yang terpejam. Bukan sekali atau dua kali Ara terpuruk dalam kesedihan tidak menentu. Otak yang terasa kosong dalam kebingungan tidak mampu menahan suara-suara berdenging di telinga Ara. Layaknya terhimpit di tengah aksi kerusuhan, telinga Ara menangkap seluruh gema yang tidak dapat didefinisikan.


Tiba-tiba wajah tersenyum Rava mengisi pelupuk mata Ara. Namun sayang seribu sayang kilasan manis itu secepat kilat berubah menjadi Dewa dan Hans yang mengabaikan Ara dengan menyedihkan.


Kembali memeluk lutut dan menenggelamkan wajah diantara kedua lututnya, Ara mulai terisak. Takut kenangan manis yang Rava ukir hanya sesaat. Takut bila ia menjatuhkan hatinya pada Rava maka kisah bersama Hans akan terulang. Bagaimana rasa sayang Hans yang meluluhkan Ara membuatnya diperbudak oleh perasaan yang diartikan sebagai cinta dan mirisnya terhempas begitu saja.


Segala kilatan tidak beraturan terputar terus-menerus di mata terpejam Ara. Menggosok sekuat tenaga juga tidak melenyapkan bayangan tawa menghina yang tersungging dari wajah tampan Hans. Seolah tawa itu juga beralih pada wajah Rava yang membuat Ara benar-benar menggila, tertekan dan sangat takut. Bahkan lambung yang memberontak tidak bisa menyadarkan Ara dari pikirannya yang kalut.


Memang seseorang terkadang lebih ahli memberi nasehat orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Terbukti setelah dengan bijaknya Ara menyuruh Yuki menangis sepuasnya setelah perut penuh, nyatanya Ara gundah gulana berderai air mata dengan lambung melilit.


"Gimana kalau disaat aku udah mantap menyamakan langkah kaki sama Mas Rava terus dia berubah haluan?? Gimana kalau langkah kaki kami gak untuk tujuan yang sama? Gimana kalau disaat kami udah bersama dia sadar ada perempuan lain yang lebih baik, yang gak sakit kayak aku dan lebih layak untuk bersanding dengan dia?? Terus aku harus gimana kalau semua itu terjadi??" Menyalurkan rasa nyerinya dengan menggigit kecil pergelangan tangan kiri, Ara merasa ngilu yang dahsyat pada urat nadinya.


"Aku mohon.. Pergilah dari ingatan ku Hans.. Kenangan kita menyakitkan. Tolong pergi dari kepala ku." Jemari dari kedua tangan Ara meremas kasar hingga beberapa helai rambut patah disela-sela ruas jari. Memori lama yang sempat terkubur seolah menari-nari menertawakan kerapuhan Ara.


"Tuhan, aku mohon buat aku hilang ingatan aja. Aku selalu berharap saat kami bertemu aku udah selesai dengan rasa ku, tapi kenapa sekarang masih sakit bahkan setelah melepaskan??"


"Kenapa sekarang aku sedih lagi??" Menengadah, Ara tatap rembulan yang bersembunyi di balik awan hitam. "Sebelumnya aku udah baik-baik aja.. Kenapa sekarang sakit lagi??"


"Aku pengen mati aja rasanya." Bangkit mencengkram pagar pembatas balkon. Tatapan kosong menembus ke dasar tanah. Seluruh saraf tubuh Ara seolah sudah tidak dibawah kendalinya lagi. Kedua tangan yang bertumpu kuat menahan beban tubuh sedang berusaha memanjat pagar pembatas.


Sedikit berjinjit, kaki kanan Ara sudah menapak bagian atas pagar. Suara tawa yang menyemangati Ara layaknya pemandu sorak tim basket sekolah menengah sudah menggila. Kepala Ara dipenuhi segala bisikan dan dorongan untuk mencoba hal baru.


......Lompat......


......Lompat......


......Kamu akan bahagia......


......Ada aku di sana......


......Ayo......


......Lompat dan lepaskan beban mu......


......Lompat Ara......


......Bahagia selamanya......


......Lompat......


Drrt.. Drrt..


Tring!!


Notifikasi pesan menggetarkan ponsel Ara. Namun getaran dari ponsel yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai dingin tidak mengusik Ara sedikitpun. Seolah Tuhan mencoba menggagalkan tingkah Ara yang kelewatan batas, ponselnya kali ini berdering nyaring tiada henti. Suara panggilan masuk sayup-sayup mengetuk pintu pendengaran Ara.


Drrt.. Drrt.. Drrt..


Not a single day has passed where I'm not missing you here


Not a single year has gone where I'm not missing you dear


My heart breaks the more that you're gone


I'm still missing you right here, missing you my dear


...


(BTOB - Missing You (English Version))


"Astaga.. Apa yang aku lakuin ini??" Tersadar Ara dengan posisi sudah menduduki pagar balkon. Kaki Ara menjuntai ke sisi keluar dan dalam teras balkon. Tangan yang mencengkeram kuat itu sedikit bergetar.


Bunyi ponsel yang tidak puas berdering akhirnya mengusik Ara. Masih tetap dengan alunan nada dering yang lembut, Ara meraih ponselnya. Bola mata bulat itu mengerjap perlahan.


📞Panggilan Masuk Mas Rava


"Hah.." Helaan nafas kasar yang sarat akan kebimbangan.


"Angkat nggak ya?" Menggigit kuku ibu jarinya, Ara masih dilema untuk menyentuh ikon hijau.


"Halo?" Akhirnya Ara memilih menerima panggilan telepon dari Rava.


[Halo Ra.. Kamu udah tidur ya tadi??] Ketukan kaki kanan teratur yang tidak mampu Ara lihat itu sedang menetralkan rasa gugupnya. Sudah dua panggilan tidak terjawab yang sempat Rava pikir Ara sedang mengabaikannya.


"Iya Mas." Ucap Ara bohong. Bukan tujuan Ara tidak jujur, namun respon otaknya lebih cepat untuk berkata iya.


[Maaf ya kalau Mas ganggu waktu kamu..] Mengusap tengkuknya, Rava cukup menyesal telah mengganggu waktu istirahat Ara.


"Gak apa-apa. Ada apa Mas?" Tanya Ara santai. Lidahnya sudah cukup lihai menyematkan panggilan 'Mas' pada Rava.


[Saya kangen.] Ucap Rava lirih. Menggigit bibir bawahnya, Rava sudah panas dingin. Bukan pertama kalinya ungkapan rindu itu terucap, namun tetap selalu membuat Rava super gugup.


Hening.


[Saya kangen kamu Ra.. Sekarang saya pengen banget lihat kamu, tapi jadwal saya diulur di sini.] Menghela nafas kasar, Rava mendongakkan kepalanya. Lengan kiri menutup sepasang mata Rava. Keheningan terisi hembusan nafas Rava yang mulai teratur membuat Ara canggung.


"Hmm." Ara bingung harus menjawab apa lagi. Semuanya masih terasa asing untuknya. Rasanya sangat aneh bagi Ara yang terbiasa berjuang sendiri, bukan diperjuangkan seperti Rava memperlakukannya.


[Saya kangen banget sama kamu Ra.] Ucap Rava getir. Ada rasa sesak saat ia terus-menerus berada pada sisi jalan berseberangan dengan Ara. Melangkah seorang diri mengejar Ara yang terasa terus menjauh. Rasanya tentu lebih sakit dibandingkan Ara yang tidak mengetahui perasaannya.


"Iya." Jawab Ara singkat. Lidah Ara kelu. Bibirnya ingin mengatakan sesuatu, namun otak yang seketika kosong hanya mampu bertahan dalam kebingungan.


[Kamu tadi gak mandi malam-malam lagi kan?] Mengalihkan pembicaraan, Rava memahami Ara yang mulai tidak nyaman. Biarlah ia tahan rasa yang terus meluap, begitu pikir Rava.

__ADS_1


"Nggak kok." Mendudukkan dirinya di ranjang, Ara berkata lemah lembut. Senyum terukir jelas di wajah cantik Ara. Seolah ada taburan kacang almond dan coklat Belgia di dalam rongga mulutnya, Ara merasa bahagia. Hal kecil yang bisa menyentil relung hati Ara dengan biasan cahaya membentuk pelangi. Andai Rava bisa melihat senyuman itu, mungkin hati gundahnya akan sirna.


[Udah makan juga tadi?] Tanya Rava lagi.


"Mmm.. Belum." Kali ini Ara mencoba jujur. Otak dan bibirnya sudah menjadi tim yang solid.


[Kenapa? Kamu pengen apa? Biar saya pesankan dari sini..] Menoleh dan mengernyit heran Ara menatap lamat-lamat nama Rava yang terpampang di Ponselnya.


"Serius??" Tanya Ara penuh keraguan. Bisa-bisanya Rava menawarkan sesuatu, tapi ia saja tidak sedang berada di satu kota dengan Ara.


[Iya, kamu mau apa?? Bilang aja nanti saya yang buat pesanannya.] Ucap Rava serius. Pikiran Rava sudah penuh nama-nama yang akan ia jadikan kurir spesial demi Ara.


"Memang mau pesan dimana??" Tanya Ara lagi dengan masih diselimuti keraguan.


[Di aplikasi atau gak saya bisa telepon tempat biasa saya pesan makanan.] Jawab Rava cepat. Jari-jemari nya sudah sibuk menggulir layar ponsel mencari berbagai makanan pesan antar yang pasti Ara sukai.


"Mmm.." Mata yang mendelik bukan karena sebal apalagi marah itu sedang sibuk berpikir. Dahi yang berkerut dan alis hampir bertaut masih belum mampu memilih berbagai hidangan yang berputar layaknya bianglala berkekuatan super.


[Gak usah takut kalau mau sesuatu.. Saya malah seneng banget kalau kamu mau minta ke saya.] Untaian kalimat dari suara rendah Rava membuat jiwa Ara bersorak girang.


'Kwetiau goreng kayaknya enak..' Menelan air liurnya, Ara sedang membayangkan sebungkus kwetiau goreng dari tempat langganannya.


[Kamu mau kwetiau goreng?? Saya pesan itu mau? Roti bakar keju kacang mau juga??] Menjerit tertahan di dalam hati, Ara berdiri seketika. Telepati dadakan telah berhasil dikirim mulus tanpa cacat.


"Maauuuuu.." Jawab Ara girang, tanpa sadar tubuhnya sudah meloncat kesenangan.


[Kamu pasti lucu banget sekarang.. Argh!! Saya pengen ketemu..] Suara Rava terdengar manja di telinga Ara. Jika Rava 10 tahun lebih muda dari Ara, pasti sudah habis pipinya digigit. Nyatanya Rava justru 12 tahun lebih dewasa dari Ara. Garis bawahi kata dewasa, bukan tua. Jangan membuat Rava semakin sensitif.


"Apaan sih!?" Ucap Ara ketus, setengah menutupi rasa malunya. Kedua sisi pipi memanas yang bersemu merah itu terhimpit ponsel dan tangan kiri Ara.


[Jadi mau kwetiau goreng sama roti bakar aja? Gak mau yang lain lagi?]


"Kalau tambah martabak telur boleh??" Cicit Ara lirih. Salahkan Rava yang terus menawarkan Ara makanan, jadi bukan salah Ara bila uang Rava terkuras.


[Ada lagi?] Lagi-lagi ucapan Rava hampir menggoda Ara. Sungguh lemah Ara pada makanan enak. Layaknya sifat genetik yang sama menurun pada Ara dan Rian. Tampaknya Ara pernah tidak sadar diri mengatai Rian si lemah pada makanan, nyatanya saat ini Ara nyaris tidak tau malu.


"Gak deh, itu aja cukup." Ucap Ara mantap, ia harus menahan gejolak ingin makanan lain lagi. Bukan lapar perut atau lapar mata, tapi Ara sedang menghadapi lapar angan-angan. Sangat berbahaya saat kata 'kayaknya enak' itu muncul di kepala Ara.


[Ya udah, tunggu sebentar ya..]


"Oke." Ara menjauhkan ponselnya. Ada keheningan dari panggilan itu.


Lima menit berlalu dan sambungan panggilan dari Rava belum juga dimatikan, meski sedikitpun suara Rava tidak terdengar lagi. Sedangkan Ara saat ini sibuk bergulung di bawah selimut. Merasa tidak tau diri jika mematikan panggilan tanpa ucapan perpisahan.


[Halo?] Mata nyaris terpejam tiba-tiba terbuka lebar. Menyambar ponsel yang sengaja diaktifkan loudspeaker nya, Ara gelagapan menjawab.


"Ha-Halo? Iya??" Ucap Ara dalam posisi terduduk.


[Hahaha.. Lama ya saya? Kamu ketiduran lagi?]


[Haha.. Alasannya..] Tergelak Rava. Menatap indahnya langit malam dari kamar penginapan, ada bayangan Rava memeluk Ara di tengah rembulan. Menggeleng perlahan, Rava menghapus khayalan menggelikan itu.


[Ra..]


"Iya, kenapa??"


[Panggilannya dialihkan ke video mau Ra?] Kalimat tanya Rava penuh permohonan. Menyandarkan tubuh lelahnya pada kusen jendela sembari jarinya mengetuk seirama detak jantung.


"Kenapa?" Tanya Ara gusar.


[Saya kangen.] Sekian kalinya lagi Rava mengucurkan kalimat kerinduan.


"Ck!!" Tanpa sadar Ara berdecak. Ara bukan kesal atau malas pada Rava, menurutnya panggilan video tidak sebanding dengan sebungkus kwetiau dan roti bakar yang akan sampai ke rumahnya. Decak spontan itu justru adalah respon rasa malu pada wajah kumalnya.


[Gak mau ya?] Kecewa Rava mendapatkan jawaban sebatas decak tidak jelas.


"Udah jelek mukanya.. Gak mau.." Gerutu Ara.


[Cantik kok. Siapa yang bilang jelek?] Tersenyum manis, Rava bernafas lega usahanya masih bisa diperjuangkan.


"Sok tau banget." Memanyunkan bibirnya, sejujurnya Ara sudah cukup merona.


[Dialihkan ya?? Sebentar aja Ra.. Janji deh sampai kwetiau sampai aja terus teleponnya selesai biar kamu tenang makannya.]


"Hmm.. Oke." Jawab Ara singkat. Tidak ada gunanya juga Ara menolak permintaan sepele Rava.


Dalam sekejap sambungan telepon itu berubah menjadi panggilan video. Namun anehnya bukan wajah Ara yang pertama kali Rava lihat, foto seorang laki-laki asing yang mengisi sisi dinding kamar Ara mengejutkan Rava. Terbelalak memanas luar dalam Rava berusaha menetralkan wajah mengeras miliknya.


[Ara kamu dimana?] Ucap Rava yang sudah jengah dengan senyum yang ingin ia cabik-cabik.


"Sebentar.." Mengarahkan layar ponsel ke wajahnya, Ara berdehem sejenak. Canggung harus bertatapan dengan Rava, bahkan ini pertama kali bagi keduanya dalam situasi baru.


[Nah kan cantik..] Ucap Rava jujur. Tidak ada godaan dalam ucapan Rava, semua tulus dari dalam lubuk hatinya.


"Apaan sih!!? Ini juga tadi pakai bedak sama lipstik dulu." Menutup wajah malu-malu dengan selimut biru, Ara ingin tenggelam ke dasar kasur.


[Kalau gitu jangan sembunyi Ra.. Saya kangen pengen lihat kamu.." Cemberut dan kesal yang dibuat-buat, Rava merengek pada Ara. Sungguh sangat imut.


"Udah." Jawab Ara ketus dan masih tidak menatap Rava, namun setidaknya wajah cantik itu terbebas dari selimut.


"Kok diem?" Mau tidak mau Ara menatap layar ponsel dimana wajah Rava sedang tersenyum cerah. Mengernyit heran Ara pada tingkah Rava.


"Mas Rava!!"

__ADS_1


[Hmm..]


"Kok jadi diem sih?? Mau ngapain lagi?" Tanya Ara kesal, ia sudah sangat gelisah tidak menentu.


[Saya pengen mandang kamu sepuas-puasnya, meskipun gak akan pernah bisa saya merasa puas.] Ibu jari Rava mengusap perlahan wajah Ara yang terpampang di layar ponselnya. Ada keinginan untuk mencium pipi yang bertambah cabi karena menggembung akibat kesal. Rava lagi-lagi menggelengkan kepala mengusir pikiran nakal yang berseliweran di otaknya.


"Dih kadal, tokek, reptil." Cela Ara lirih dengan bibir mencebik. Bola mata yang dirotasi dengan malas itu membuang pandangan ke segala arah. Rava jelas masih mampu mendengar umpatan Ara yang justru terdengar indah di telinganya. Dasar bucin level akut yang sudah tidak bisa tertolong lagi.


Suara motor yang memasuki halaman rumah samar-samar terdengar sampai kamar Ara. Berlari kencang ke arah balkon, Ara dapat melihat sosok pengantar makanan.


"Udah datang.." Senyum cerah dan meloncat kecil, Ara seolah lupa masih ada Rava yang memperhatikannya dari layar ponsel.


[Hal kecil kayak gini aja udah bikin kamu seneng.. Lain kali kalau mau apa-apa bilang sama saya aja ya Ra? Apapun yang kamu mau saya akan berusaha dapatkan.] Ucap Rava serius.


"Gak enak lah minta terus."


[Biar enak makanya kamu jadi istri saya..] Ucap Rava santai yang nyatanya memerlukan penahan debaran jantungnya yang hampir terlepas.


Memilih tidak menjawab, Ara hendak turun menyambut makanannya. Belum juga tangannya menyentuh knop pintu sudah muncul ketukan dari arah berlawanan.


Tok


Tok


Tok


"Kakak??" Suara Rian terdengar.


Ceklek


"Kwetiau kan??" Ucap Ara senang.


"Iya.. Tumben Kakak beli banyak.."


"Banyak??"


"Iya, banyak. Kwetiau 5 bungkus, martabak telur 3 kotak sama roti bakar 2 bungkus itu. Biasa Kakak beli gak sebanyak itu." Membelalakkan matanya, Ara melirik pada Rava yang tersenyum manis di seberang sana.


"Little star turun duluan ya.. Nanti Kakak nyusul."


"Makan duluan boleh??" Tanya Rian dengan binar permohonan. Menganggukkan kepala sebagai jawaban singkat, Ara langsung dihadiahi sebuah kecupan di pipi.


Tidak pernah Ara sangka Rava akan membelikan banyak makanan tidak hanya untuknya, tapi untuk orang satu rumahnya. Padahal niat hati Ara akan membagi sebungkus kwetiau goreng itu dengan Jona dan Rian.


Sementara Rava yang disuguhkan adegan kecupan manis Rian sudah sangat cemburu. Baru juga Rian yang jelas adik kandung Ara, entah akan seperti apa bila ada laki-laki asing lain yang memperlakukan Ara seperti itu.


"Mas.." Panggil Ara pelan.


[Iya.. Matikan lah teleponnya. Makan dulu sana sama orang rumah ya.. Jangan telat makan lagi besok-besok. Kalau mau sesuatu bilang aja langsung sama saya.]


Mengakhiri panggilan telepon yang cukup panjang itu, Ara sudah berlari kencang menghampiri santapan malamnya. Aroma yang sangat familiar mengusik indra penciuman Ara. Kembali menjerit tertahan di dalam hati kala mendapati semua makanan dari tempat favoritnya.


...****************...


Kembali pada cerita di akhir bab sebelumnya dan di awal bab ini, dapat dilihat bahwa Ara sedang mengalami salah satu gejala PTSD, yaitu lebih emosional. Dimana emosi yang datang tiba-tiba tidak dapat terkendali.


Kesedihan mendalam yang ditunjang kondisi trauma membuat Ara larut dalam kesedihan dan menangis tanpa sebab yang jelas. Selain itu juga tangis Ara lebih mengekspresikan rasa ketakutan dan kecemasan.


Gejala penderita PTSD secara umum:



Cemas,


Khawatir,


Mudah marah,


Lebih emosional,


Sesak nafas,


Mual hingga muntah,


Berkeringat hebat dalam kapasitas yang berlebihan.



Tahap yang lebih serius adalah rasa ingin melukai diri sendiri yang tentunya harus dikonsultasikan pada dokter.


*


*


*


Apakah cinta akan muncul dari sebungkus kwetiau goreng?🀭


*


*


Kok uwu banget sih Rava ke Ara, kapan Hana ada yang merhatiin gitu??😌 (laah kok jadi sad ending 😕)

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2