Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Laki-laki Lain


__ADS_3

“Mas tunggu di ruang tengah aja ya.. Ara mau siap-siap dulu.”


“Iya, sayang.”


Langkah kedua anak manusia itu serentak meski tidak sama. Keduanya berjalan beriringan, tentunya tanpa genggaman tangan.


“Papa di rumah ya?” Tanya Rava tiba-tiba.


“Di bengkel Mas, kenapa?” Ucap Ara dengan berganti melontarkan pertanyaan secara spontan. Ia hanya sekedar berbasa-basi.


“Di samping rumah tadi ada motor di luar gitu, Mas kira Papa yang bawa.” Ucap Rava menjelaskan maksud dari pertanyaan yang ia tanyakan sebelumnya.


“Oh itu Dimas. Nah itu anaknya lagi makan bakso.” Tunjuk Ara pada Dimas yang duduk santai di karpet bulu sembari menikmati semangkuk bakso kuah.


“Loh Pak Rava? Siang Pak..” Meletakkan mangkuk bakso nya di lantai, Dimas beranjak dari duduknya. Ia berdiri dan sedikit menekuk tubuhnya memberi salam pada Rava.


“Hm, iya.” Respon Rava singkat. Matanya menyipit waspada pada kehadiran Dimas.


“Ya udah Mas sama Dimas aja ya di sini. Mau Ara buatin kopi?” Ujar Ara.


“Gak usah. Mas tadi udah sempat minum kopi di kantor.” Tolak Rava halus sambil menyunggingkan senyumannya.


“Kalau gitu Ara mau mandi dulu ya Mas.” Ucap Ara sambil tangannya bergerak seakan menunjuk pada kamar mandi.


“Iya sayang..” Ucap Rava tidak kalah lebih lembut dari sebelumnya.


“Pfft..!! Uhuk..Uhuk..”


“Pelan Dim..”


Dugh.


Dugh.


Dimas memukul pelan dadanya meski yang terasa sakit justru tenggorokannya. Secara mendadak ia tersedak kuah bakso yang sedang diseruput nya. Terkejut pada ujaran lembut Rava pada Ara, termasuk pula panggilan ‘sayang’ yang Rava sematkan tanpa malu-malu pada Ara.


“Sa-yang!!??” Ucap Dimas mengeja dengan tidak percaya.


“Uluuh.. Sayang.. Sayang belum mandi?” Menggoyangkan bahunya, Dimas kembali berujar dengan sok manis. Ia senang menggoda Ara, atau lebih tepatnya sedang mengejek Ara.


“Ya ampun saaaa-yaaaaang.. hahahahaha..” Tergelak kuat, telapak tangan Dimas juga sibuk memukul pahanya sendiri. Mengabaikan kenikmatan semangkuk bakso yang tersisa seperempat, rupanya mengejek Ara terasa lebih nikmat.

__ADS_1


Pletak.


“Berisik Dim! Ku robek bibir mu nanti!!” Bukan sentilan, baru saja Ara menjitak kasar pelipis Dimas.


“Ampun Ra..!! Sakit banget tau!!” Keluh Dimas sambil menggosok pelipisnya yang terasa sangat nyeri. Penglihatannya sempat mengabur sesaat. Kekuatan Ara benar-benar tidak bisa diremehkan.


Dimas lupa bahwa dulu pulpen nya sempat menjadi korban kekesalan Ara hingga terbelah menjadi dua hanya dalam sekali remasan. Tentu saja semua itu juga didukung kualitas plastik kerangka pulpennya yang rendah, maklum saja harganya sangat murah, karena yang terpenting cukup bisa digunakan untuk menulis.


“Sekali lagi bertingkah, ku remukin leher mu!” Ancam Ara sambil meremas udara dengan kedua tangannya. Jujur saja Rava yang melihatnya langsung bergidik ngeri. Rava lantas mengusap beberapa kali tengkuknya yang merinding.


“Sayang jangan jahat gitu dong sama aku.” Masih saja Dimas tidak kapok. Ia malah berujar dalam rengekan dan mencebikkan bibirnya.


“Dimas!” Suara berat tertahan sukses membuat Dimas menoleh. Ia tersenyum kaku pada Rava yang sudah menggeram. Suara hembusan nafas Rava seakan siap membakar Dimas hidup-hidup.


“Eh, maaf Pak.. Temen kalau gak godain gini rasanya bukan temen, cuma bercanda aja kok Pak, iya kan sayang?” Ucap Dimas cengengesan. Ia bahkan kelepasan memanggil Ara sayang karena terlalu gugup pada Rava.


“Aduh.. Kelepasan Pak, hehe..” Mengacungkan dua jari tanda perdamaian, kekehan Dimas terdengar sangat canggung.


“Kamu..” Menahan kekesalannya, Rava berujar lirih dengan dahi mengerut dan rahang mengeras sekilas. Mata yang sempat terpejam sesaat itu terbuka, Rava tersenyum saat pandangannya bertemu dengan tatapan mata Ara.


“Udah Mas.. Dimas bibirnya sering pelatihan nyinyir. Sabarin aja..” Ucap Ara pasrah.


“Anggap aja barusan uji nyali kalau ada laki-laki lain yang panggil Ara sayang.” Rava mendelik pada ucapan santai Dimas. Sedangkan yang baru saja melontarkan kalimat itu sudah asik mengunyah bakso terakhir dari mangkuknya.


“Om Yudith, Jona sama Rian loh laki-laki lainnya. Kakak sayang kan pakai sayang juga.” Kembali mengacungkan kedua jari tanda perdamaian, Dimas berkilah dengan sangat mulus.


“Minta dibogem bener-bener deh kamu itu Dim..! Aku tinggal kamu sama Mas Rava berduaan jangan sampai main cakar-cakaran ya..!”


“Kamu pikir Mas kucing mau nyakar Dimas!?” Mendengus Rava berucap lirih pada Ara.


“Bukan cakar pakai kuku kayak kucing, tapi garukan rumput. Kamu latihan kesabaran dulu ya Mas kalau sama Dimas. Belum lagi kalau kamu juga nimbrung sama teman duet Dimas.” Ucap Ara tidak kalah lirihnya pada Rava.


“Bisik-bisiknya gak pro. Masih kedengaran tau sama telinga ku.” Celetuk Dimas.


“Siapa juga yang bisik-bisik? Fitnah!” Ucap Ara ketus.


“Kakak belum mandi juga dari tadi!?” Seru Mama Lauritz yang datang tiba-tiba dari arah belakang.


“Anak gadis kayak gini Rav yang kamu mau? Mending kalau bisa tukar tambah sama yang lain aja, gak berguna ini anak.” Ucap Mama Lauritz lagi, kali ini ditujukan pada Rava sambil menunjuk Ara yang sudah cemberut.


“Iya tuh Pak. Mending sama yang lain aja yang gak bau kambing.” Ucap Dimas layaknya bara api tambahan pada oven bakar. Ia sudah bergerak ke sisi Mama Lauritz seolah menjadi tim sorak di garis belakang.

__ADS_1


“Mama gitu banget sama anaknya sendiri. Ngapain lagi kamu ikut-ikutan!?” Melotot Ara pada Dimas yang menjulurkan lidahnya.


“Udah mandi sana! Kirain tadi naik mau siap-siap, ternyata tidur lagi.”


“Cuma merem sebentar Ma.. Ara gak tidur kok.” Kilah Ara.


“Udah sana mandi!!” Perintah Mama Lauritz tegas.


Berlari kencang menuju kamarnya, Ara sudah memproses di otaknya pada baju apa yang akan ia bawa ke kamar mandi. Tidak mungkin Ara mengulang kisah lama terpergok dalam lilitan handuk oleh Rava. Apalagi laki-laki asing di rumahnya kini bertambah dengan adanya Dimas.


“Tante.. Dimas berangkat dulu ya.. Terima kasih sarapan makan siang nya ya Tante ku yang paling cantik..”


“Loh gak jadi sama Ara?” Tanya Mama Lauritz sembari mengulum senyumannya.


“Gak mau jadi pengawal atau ikut arak-arakan yang lagi ngebucin. Kalau nanti menuju hari bahagia baru Dimas rela. Kalau sekarang gak mau. Nanti kadar ngenes Dimas lebih cepat naik level, Te.” Ujar Dimas panjang lebar sambil mengenakan tas ranselnya.


“Doakan aja..” Ucap Rava ramah, tapi tetap saja singkat.


“Pasti Pak. Semangat terus ya Pak. Jangan sampai Ara kepincut sama yang lebih muda. Kalau ganteng sih Bapak udah ganteng banget.” Ucap Dimas seenaknya tanpa sadar menyinggung hal paling sensitif bagi Rava. Tentu saja senyum yang menghiasi wajah Rava seketika langsung luntur. Wajahnya bahkan terlihat lebih masam dibandingkan jeruk nipis.


...****************...


*


*


*


Masih selamatkah nyawa Dimas setelah ini dari tangan Rava?😏


*


*


Hana akan slow UP lagi. Kerjaan di real life cukup banyak dan udah beberapa waktu kesehatan menurun. Meski ada waktu, tapi orang rumah benar-benar membatasi Hana supaya bisa lebih sering istirahat di waktu luang.🙏


Selain itu Hana mohon doa nya untuk 2 orang dari keluarga Hana, tepatnya Om dan Tante nya Hana yang baru aja disapa Mas-mas/Mbak-mbak covid. Semoga beliau bisa melewati ini semua dan kembali sehat.🙏


By the way, judulnya clickbait banget ya.🤭


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2