Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Cap Gigi


__ADS_3

Tap.


Tap.


Tap.


“Mau Mas temani dulu?” Menatap lekat sosok gadis yang berjalan di sisinya, Rava sedikit menundukkan pandangannya agar bisa lebih jelas melihat wajah sang pujaan hati.


“Ara langsung masuk aja Mas. Lagi pula ada yang Ara kenal di kelompok KKN Ara.” Tolak Ara halus, ia tau Rava harus segera ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun Ara juga tidak berbohong karena memang ada seseorang yang dikenali dalam kelompok yang sudah kampus tentukan.


“Hati-hati ya Sayang.. Mas langsung ke kantor kalau gitu.” Ucap Rava lembut sambil mengusak sayang poni Ara.


“Di jadwal acara pengarahannya selesai jam 4 sore kan?” Imbuh Rava bertanya, kali ini dirinya merapikan poni rambut Ara yang sempat dibuat berantakan oleh jemarinya.


“Iya, Mas. Tapi paling biasalah, bisa lebih lama selesai gara-gara molor mulai acaranya.” Jawab Ara yang sudah menghentikan langkahnya, membalas tatapan Rava yang sedang terfokus pada poninya.


“Tapi bisa juga lebih cepat selesai dari estimasi waktunya.” Lanjut ucapan Ara sambil menghentikan kesibukan yang tidak ada habisnya Rava lakukan. Padahal selama apapun Rava berkutat penuh keseriusan, bentuk tatanan rambut dan poni Ara tidak akan berubah sedikitpun.


“Intinya nanti jangan lupa perhatikan ponsel kamu. Kabari Mas posisi kamu di mana. Nanti Mas jemput lagi. Jangan coba-coba pulang sendiri atau diam-diam tanpa kabar naik angkutan umum lagi!” Ucap Rava sembari memegangi kedua bahu Ara. Mengikis jarak yang hanya menyisakan sebatas penggaris 30 cm, pandangan keduanya sama-sama terpusat pada pantulan diri masing-masing.


“Siap, Mas!” Jawab Ara lantang, memundurkan langkah sebelum Rava mendengar debaran jantungnya yang tidak beraturan.


“Manis banget sih..” Ucap Rava gemas.


“Aw!”


“Sayang udah.. Sakit Sayang..”


Teriakan terlontar dari bibir kedua orang yang berbeda. Ara yang menjerit pertama kali karena sekali lagi pipi gembul nya dicubit oleh Rava. Sedangkan Rava harus menerima gigitan Ara di telapak tangan, tepatnya pada sekitar area di bawah ibu jari.


Gerakan balasan yang super cepat membuat Rava terlonjak kaget. Belum lagi Ara yang terlanjur jengah pada kebiasaan Rava langsung menangkap tangan Rava dan menggigitnya kasar. Meski tidak terlalu kuat, namun gigitan itu bertahan cukup lama.


“Pipi Ara membesar sampai hampir menutupi mata ini. Jangan suka cubit-cubit lagi!” Ucap Ara ketus. Suasana romantis seketika lenyap akibat ulah cubitan Rava yang berhadiah gigitan.


“Iya-iya, Sayang.. Tapi ini sakit.” Ujar Rava mengiyakan yang diakhiri rengekan manja.


“Sakit banget ya?” Tanya Ara khawatir dan juga merasa bersalah. Meraih tangan Rava yang sedari tadi pemiliknya kibaskan.

__ADS_1


“Lah ada cap gigi Ara, hehe.. Maaf Mas.” Mengusap lembut telapak tangan Rava yang berpola giginya, Ara menyengir dengan tatapan memelas. Melancarkan jurus kerjapan imut di balik topeng mata sendu dan bibir manyun seolah menahan tangis. Jelas semua hanya akting belaka.


“Tiupin Yang.. Sakit nih..” Rava berkata sembari menyodorkan tangan yang masih digenggam Ara lebih mendekat ke bibir Ara.


Berpura-pura kesal dengan membuang pandangannya ke sembarang arah, Rava tiba-tiba memasang wajah datar. Ia tau bahwa dirinya sudah kalah dan tidak bisa marah bila Ara sudah memberinya tatapan. Lirikan cuek saja Rava sudah meleleh, bagaimana mungkin dirinya kuat jika harus melawan kerjapan imut yang disengaja?


Mengerucut dan membulatkan bibirnya, sensasi dingin yang keluar dari bibir Ara menyapu telapak tangan Rava. Mengulum senyumannya, Rava ingin bersorak girang. Meski harus menahan rasa yang membuncah dan tarikan semu di bibirnya, Rava mencoba bersikap tenang dan tidak perduli.


“Udah.” Ucap Ara singkat mengakhiri gelayar menakjubkan yang membuat kepala Rava menoleh dengan kecewa.


“Jangan minta lagi!” Ancam Ara sambil memicingkan mata, mengarahkan telunjuknya agar Rava diam tidak bersuara. Jelas saja Rava hanya mampu mencebik, kali ini benar-benar memancarkan raut kekecewaan sesungguhnya.


“Udah ya Mas berangkat sana. Ara juga harus langsung masuk ke gedung itu.” Ucap Ara sambil mengedikan dagunya ke arah gedung berlantai 2 yang berjarak 30 meter dari posisinya berdiri.


Tidak lupa Ara juga mendorong mundur tubuh Rava agar segera menuju mobilnya dan kembali ke kantor meneruskan pekerjaan. Ara sadar bahwa waktu jam makan siang Rava sudah hampir habis, belum lagi perlu memakan cukup waktu untuk menempuh perjalanan kembali ke kantor.


Meninggalkan Rava yang bersikeras akan pergi saat Ara sudah menghilang dari pandangannya, kini Ara sedang dilanda kebingungan. Dirinya terlambat beberapa menit dari waktu yang dijanjikan untuk berkumpul sebelum acara dimulai.


“Feby..” Teriak Ara kuat pada sosok yang dikenalinya.


“Sorry, macet.” Kilah Ara sambil memberikan cengiran.


“Cih! Sejak kapan ada macet di sini?” Berdecih dengan tatapan meremehkan, Feby sudah tau Ara akan terlambat.


“Sejak tadi dong.. Buktinya aku telat.” Ucap Ara santai memberi pembelaan.


“Alasan mu.. Untung Yuki pernah bilang kamu lelet kalau siap-siap, jadi aku udah persiapan kalau harus garing nungguin di sini.” Melipat tangannya di depan dada, Feby memberikan sindiran sinis.


“Ngomong-ngomong kita harus gimana lagi habis ini?” Tanya Ara sambil menolehkan kepala, mengintip keramaian di dalam gedung dari kaca jendela transparan.


“Kumpul sama anak-anak lain. Tadi aku udah sempat ketemu sebelum keluar lagi nunggu kamu.” Ucap Feby sambil mengotak-atik ponselnya.


“Ya udah, ayo ke sana.” Ucap Ara cepat, merangkul lengan Feby agar berjalan di sisinya.


“Kamu kenal sama Lea?” Tanya Feby tiba-tiba saat keduanya berada di ambang pintu masuk sebuah ruangan luas yang memang diperuntukan untuk kegiatan berskala besar.


“Lea? Siapa? Anak yang satu kelompok sama kita? Aku gak begitu kenal, tau juga waktu kita perkenalan di grup yang kamu buat.” Celoteh Ara sarat akan kebingungan, mengingat-ingat satu-satunya sosok Lea yang ia kenali.

__ADS_1


“Dari tadi dia nanyain kamu. Aku pikir sebelumnya kalian saling kenal.” Ucap Feby dengan sorot mata yang menyapu segala penjuru, mencari keberadaan anggota tim KKN yang sudah sempat ia temui.


“Nanyain apaan, Feb?”


“Banyak macam pokoknya, aku lupa apa aja. Tadinya aku pikir cuma sekedar basa-basi aja, makanya aku tanggapi asal. Tapi dia kayaknya udah cukup kenal kamu.” Seloroh Feby sekenanya, namun cukup membuat Ara semakin penasaran.


“Kok bisa??” Tanya Ara yang semakin terheran pada sosok Lea.


Tidak berselang lama, seketika Ara teringat pada salah satu chat dari nomor yang sudah ia simpan dengan nama Lea. Di situ dapat Ara ketahui bahwa Lea adalah teman satu angkatan yang mengambil program studi berbeda darinya, namun masih dalam fakultas yang sama.


“Nah itu mereka, ayo..” Tarikan Feby membuyarkan banyak praduga yang sedang Ara susun di kepalanya. Sel-sel otak yang hendak menyambung teori dadakan sedetik kemudian langsung memilih untuk pensiun dini.


Melangkahkan kakinya mendekat, seseorang yang Ara yakini bernama Lea memberinya sambutan hangat. Berdiri mengulurkan tangan dengan senyum sumringah yang hanya ditujukan untuk Ara.


“Hi, Ara.. Aku Lea..”


...****************...


*


*


*


Siapakah Lea?🤔


*


*


Masih ingat dengan Feby?😁


Buat yang sudah lupa silakan baca ‘BAB 15 Kompres Demam’.✌


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2