
"Kak Ara jadi pelakor ya?" Celetuk seseorang yang sampai pada pendengaran Ara. Memasang telinganya selebar mungkin di ambang pintu yang masih terhadang punggung Dimas, rupanya banyak bibir sedang menggunjingkan Ara.
"Katanya udah tunangan terus direbut." Langkah kaki Ara yang sempat terhenti itu berjengit mundur, kernyitan di dahi menyita perhatian Yuki.
"Kenapa??" Tanya Yuki dari belakang Ara.
"Gak apa-apa. Nanti kalau lewatin tukang ghibah gak usah dicakar, biarin aja!!"
"Ada apa sih??" Masih bingung dengan apa yang terjadi, Yuki saat ini menatap Dimas penuh tanya. Kedua alis yang nyaris bersatu menghiasi wajah imut Yuki.
"Dim.. Pepet Yuki jangan sampai lepas ya!? Aku malas kalau ada ribut-ribut." Bisa dipastikan bahwa Dimas hanya mengangguk, ia juga sangat paham seberapa bahayanya Yuki saat mengamuk. Meski hanya pertumpahan darah biasa lewat aksi cakar, namun tentu akan terkenang sepanjang masa. Selain itu juga Dimas tidak ingin berada diantara tawuran para perempuan bar-bar.
Menyiapkan mental semampunya, Ara menghembuskan nafas panjang. Kehidupan kampusnya sudah sangat berbeda, ia hanya perlu bertahan di tahun terakhirnya dengan tanpa cacat yang berlebihan. Ada harapan besar Mama Lauritz dan Papa Yudith yang Ara jaga.
Biarlah omongan orang terlontar sesuka hati, toh nyatanya tidak begitu. Ada rasa ingin menjelaskan, namun dapat Ara pastikan semua hanya akan menjadi angin semilir sesaat dikala panas terik yang tidak dianggap. Di mata banyak orang, Ara memang orang ketiga dan ia cukup sadar lebih banyak bukti paksaan yang menuduhnya. Tidak jelas asal usulnya, namun cukup menyudutkan Ara.
"Padahal lengket banget, kok bisa ya?"
"Nusuk dari belakang, munafik banget."
"Kak Ara yang pendiam gitu rupanya murahan.." Terbelalak bola mata Yuki, kepalanya seolah berputar 360 derajat memburu pemilik suara menyebalkan itu.
"Orang kayak dia itu pasti gak punya malu, mau diomongin gimana juga bakal diem. Udah faktanya juga." Kali ini suara bisikan yang sengaja ditinggikan jelas untuk menyindir Ara. Meski sikapnya tampak biasa, tapi percayalah jiwanya sudah bergemuruh marah penuh kilatan petir.
"Kurang ajar!!!" Geram Yuki dengan amarah memuncak, tangan mengepal dan rahang mengeras sudah menjadi kuda-kuda baku hantam.
"Udah.. Gak usah." Ucap Ara lirih diiringi Dimas yang merangkul paksa Yuki untuk menyingkir.
"Tapi tau gak kalau belum lama ini dia dilabrak cewek lain?"
Deg!
'Apaan lagi ini??' Membatin prihatin Ara pada nasibnya. Menjadi selebriti dadakan bukan salah satu dari sejuta impian Ara.
"Maksudnya?"
"Kayaknya dia jadi selingkuhan laki-laki lain."
"Wah.. Pak Kim kasihan banget malah dapat sampah."
__ADS_1
'KURANG AJAR!!!!!' Pekik Yuki kuat dalam hati, jika mulutnya tidak tiba-tiba dibekap Dimas, mungkin suara lengkingan menggelegar sudah mengguncang setiap lapisan semen di gedung megah itu. Jika dipikir-pikir, Dimas tampaknya punya hobi baru berupa membekap mulut ceriwis Yuki.
"Ngapain kasihan sama laki-laki kayak begitu?"
"Ya kasihan, Bu Dian kurang apa coba?"
"Kalau lakinya mau mungkin aja mereka sama. Sampul luarnya aja yang bagus."
'Mau ku tebas tapi nanti dibilang kegeeran, padahal memang yang diomongin itu aku.' Melewati kerumunan tukang ghibah dadakan dengan masa bodoh, hanya Yuki yang sibuk menelisik wajah-wajah pemain baru. Sedangkan Ara tentu saja cukup memandang lurus ke depan dan acuh. Nyatanya panas yang membara sudah sampai hingga ke puncak kepala Ara.
'Bisa-bisanya sepanjang lorong yang dibahas aku semua.. Mana bisa nyambung lagi yang dibahas..' Ucap Ara miris dalam hati, padahal dahulu ia bisa dengan mudah percaya bahkan acuh pada gosip yang beredar. Kini, setelah menjadi pemeran utama dalam setiap tajuk rumor panas, Ara hanya bisa mengasihani dirinya dan orang-orang lain yang senasib. Ternyata menahan emosi pada omong kosong orang lain tidak semudah yang ia kira.
"Akhirnya.." Ucap Ara penuh kelegaan. Terbebas dari suara-suara tidak kasat mata yang menghujam akal sehatnya. Bersyukur kontrol diri Ara cukup tinggi.
Melanjutkan langkah menuju kantin fakultas, ketiganya kompak jalan beriringan. Tentu Yuki masih berada di tengah Ara dan Dimas, takut akan ada umpan yang berhasil memancing emosi Yuki.
"Siang Bu.." Sapa Yuki pada seorang Dosen yang asik memakan sepiring batagor.
"Mau makan kalian?"
'Gak!! Mau tidur!!'
'Ya iyaa laah..!!'
Serentak menjawab dalam hati, pada kenyataannya Dimas, Ara dan Yuki hanya menampilkan senyuman manis. Mungkin ini baru definisi munafik sebenarnya dari diri Ara yang sempat menjadi pergunjingan.
"Duduk sini aja! Yang lain penuh itu." Alasan. Jauh di ujung kantin masih terdapat banyak bangku kosong, bukan karena diisi setan, tapi memang jam makan siang yang sudah hampir terlewat membuat suasana kantin lenggang.
Mendudukkan tubuh dengan sangat terpaksa, ketiganya seketika terdiam hening. Acara perbincangan sok pintar ketiganya lenyap di hadapan sang ahlinya.
"Bener ya yang lagi booming itu?" Pertanyaan tanpa basa-basi terlontar begitu saja di sela decapan pada setiap kunyahan.
Masih Ingatkah kalian pada sosok sekretaris jurusan dengan blouse biru dan rok span hitam?
Atau, masih ingatkah kalian pada sosok Dosen yang mirip pembawa acara gosip terkenal?
Iya, inilah sosok itu. Sang senior ghibah yang sempat muncul dalam adegan yang mengamanatkan Ara memberikan data anggota penelitian pada Rava. Bahkan kejadian itu membuat Ara juga bertemu Dewa, meski hanya lewat tatapan sekilas.
"Ibu masih dapat gosip ya?? Ketinggalan fakta nih kali ini.." Ucap Yuki menggebu-gebu, ada kobaran api di bola matanya yang membuat Dimas dan Ara merinding.
__ADS_1
"Jadi gini Bu, kalau plankton musnah pasti populasi ikan kecil bisa hilang juga kan? Nah kalau ikan kecil gak ada, ikan besar pasti susah mau dapat makanan. Ekosistem terganggu kan Bu?" Memberikan perumpamaan dengan materi ekologi, Yuki seolah lupa yang dihadapi ialah sang pemberi materi.
"Tumben kamu bahas materi sama Ibu?? Biasa semangat ngajakin ghibah.."
"Ini lagi proses ghibah Bu.. Coba sekarang Ibu bayangkan plankton itu Ara, nah ikan kecil itu Pak Rava.." Memainkan kedua alisnya naik turun serentak, Yuki sedang memberi kode keras.
"Kenapa saya jadi bingung sendiri padahal Dosennya itu saya??" Rupanya kode keras Yuki gagal. Menopang kepala dengan salah satu tangan, kerutan di dahi sudah menjabarkan banyaknya rasa bingung yang mendera.
"Haduuhh.. Jadi maksudnya itu Pak Rava yang ngejar-ngejar Ara sampai ke sini, jadi bisa di bayangkan kalau Ara gak ada di sini apa yang selanjutnya terjadi.. Tau kan Bu??" Meski Yuki yang sibuk berbincang, entah mengapa wajah Ara memanas padahal ia hanya sibuk menanti pesanannya.
"Rumor yang Pak Rava sama Ibu D itu hoax!!" Ucap Yuki mantap, bahkan pukulan kecil di meja tampak meluapkan semangat juangnya.
"Serius kamu?? Iya gitu Ra??" Mengalihkan pandangan dari wajah Yuki ke Ara, pertanyaan singkat penuh tanya itu berhasil mengejutkan Ara.
"Ha?? Apa Bu??" Gelagapan Ara yang tiba-tiba disebutkan namanya. Meski telinganya fokus mendengar, tapi reflek perubahan mode menguping tidak bisa sefleksibel yang ia kira.
"Beneran, Bu." Bukan Ara yang menjawab, tapi Yuki.
"Percaya deh sama saya.. Pak Rava itu kan dekat sama Bu D waktu kegiatan diakhir penelitian itu kan, Bu?? Nah.. Saya lihat sendiri loh Bu, Pak Rava itu matanya ngintilin Ara terus. Ck! Ck! Ck!" Ucap Yuki bangga, tidak sia-sia selama ini menjadi fans musiman Rava. Mulanya ia berpikir hanya kebetulan saja tatapan Rava mengarah pada Ara, namun lama-kelamaan ia sadar bahwa ada sorot berbeda yang Rava pancarkan.
...****************...
*
*
*
Rumor apa yang sebenarnya sudah beredar?🤔
*
*
Rupanya Yuki udah peka banget.. Jangan-jangan Dimas juga..😄
Sadar gak sih dulu Yuki dan Dimas biasa aja dan cuma lihatin adegan kejar-kejaran Rava>*Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰