
“Gimana, Mas?” Ara tampak cemas memandang Rava terburu-buru mengemas beberapa dokumen penting.
Menggeleng lesu Rava menatap sendu wajah sang istri. “Gak bisa, Sayang. Harus Mas yang handle.”
Senyum laki-laki yang baru saja mengantar Ara periksa kandungan itu luntur karena sebuah panggilan telepon.
“Sabar, Mas. Jangan marah-marah,” ucap Ara seraya mengusap turun bahu dan lengan kokoh Rava.
“Memang Mas kelihatan marah?” Mengernyitkan dahinya, Rava menangkap jemari kecil Ara yang ikut membengkak seiring pertambahan usia kandungannya.
“Suram banget,” ucap Ara sambil menepuk pelan pipi Rava dengan sebelah tangannya, sejurus kemudian telunjuknya naik memutar di dahi Rava, “jangan berkerut-kerut gini keningnya, Ayah. Lipai belum keluar, tapi kerutan Ayah nya udah nambah.”
“Huuh … Mas kesal, Sayang. Kalau laporan tadi benar, mau gak mau Mas harus ikut meninjau ke lokasi. Gak mungkin Mas ninggalin kamu yang udah hamil besar gini,” keluh Rava frustasi. Matanya menyorot sendu perut besar Ara.
Berlutut Rava menciumi perut yang kembali bergelombang. Didaratkan lama bibir yang mengerucut, meresapi seolah kecupannya sampai pada raga sang buah hati di dalam sana.
“Doakan Ayah cepat pulang ... Lipai bantu Ayah temani Bunda ya?" bisik Rava sembari membayangkan sebentar lagi dirinya akan menimang bayi mungil menyerupai Ara. Sungguh kesabarannya nyaris di ambang batas. Rasanya tidak kuat menanti HPL yang masih 3 minggu lagi.
Mendongak Rava bertanya pada Ara, “nanti mau Mas belikan apa?”
“Roti bakar keju dicampur kismis sama choco chips,” jawab Ara cepat tanpa pikir panjang. Sekilas bayangan roti bakar dengan parutan keju tebal bercampur kismis berwarna ungu kehitaman serta taburan choco chips yang diberi susu kental manis meluberkan air liurnya.
“Memang ada?”
“Kayaknya gak ada, Mas … Ya udah roti bakar keju aja, di dapur masih ada kismis,” tukas Ara yang akhirnya menyadari bahwa roti bakar keinginannya sejauh ini tidak ada terjual di manapun.
Memeluk tubuh Ara dari samping, Rava berpamitan dengan berat hati. Langkah gontai yang memupuk kekesalan itu mengantarkan Rava sampai ke mobilnya. Waktu yang seharusnya dihabiskan untuk menemani Ara tersita karena ulah pegawai nakal yang menggelapkan dana.
Meski geram karena terhianati, Rava cukup bersyukur orang kepercayaannya bisa mengendus lebih awal kecurangan itu. Pantas saja pembangunan gedung yang diperuntukan untuk swalayan barunya tidak selesai-selesai, rupanya ada permainan kotor pencucian dana.
Berbeda dengan Rava yang pusing memikirkan pekerjaannya, Ara di rumah memutuskan untuk menyibukkan diri mengemas barang-barang yang akan dibawa saat persalinan nanti.
Tas jinjing besar masih tersembunyi di sudut dalam lemari, namun berbagai keperluan dirinya dan sang buah hati hingga pakaian untuk Rava sudah Ara kemas menjadi satu dalam sebuah keranjang. Tidak ingin terburu-buru memasukkannya ke dalam tas dan melupakan sesuatu yang juga penting.
Setengah jam dari kepergian Rava, bel rumahnya berbunyi. Ketukan di pintu juga menggema. Mengintip sedikit dari jendela kaca dua arah, dapat terlihat Jona dengan seragam sekolahnya berdiri di depan pintu.
Ceklek.
“Kejutan.”
“Gak terkejut,” ucap Ara acuh dengan mata yang meneliti Jona dari ujung rambut hingga sepasang sepatu sekolah yang masih dikenakannya.
Melipat tangan di depan dada dengan sebelah alis naik, Ara bertanya, “baru pulang sekolah?”
“Iya. Tadi baru mau masukin motor dengar Mas Rava telepon Mama minta buat datang ke sini nemenin Kakak.”
“Terus kenapa datang ke sini sendiri? Mama ke mana?” Melebarkan pintu agar Jona masuk, kepala Ara celingukan mencari kehadiran Mama Lauritz.
“Mama cuma pulang bentar, di depan juga udah ditungguin Bude.”
__ADS_1
“Bude? Bude siapa?”
“Itu Bude yang kerja di warung Bang Buna. Malam mau ada acara di tempat siapa gitu tadi lupa Mama ngomongnya buru-buru gak jelas … Pokoknya lagi repot bantu-bantu. Gak enak juga udah ditungguin Bude. Kalau gak palingan Mama udah ke sini.”
“Terus sekarang kenapa datang ke rumah Kakak gak ganti baju dulu?” tanya Ara sambil memperhatikan Jona yang duduk di lantai melepas sepatunya.
“Kan di kamar sini ada baju ku, Kak. Kalau gak ada juga bisa pakai punya Mas Rava, pasti dikasih,” ucap Jona santai.
“Enak banget bibir mu itu ngomongnya.” Mencubit gemas bibir Jona, Ara cukup kesulitan saat sedikit membungkukkan punggungnya. Perut besar berisi Lipai jelas mengganjal.
“Kan memang benar, Kak. Kolor ku aja ada di kamar itu. Lagian Mas Rava pinter juga ya bikin rumah sendiri tapi buatin kamar buat adik-adiknya juga.”
“Udah feeling kalau bakal ada penjajah di rumah ini,” celetuk Ara sekenanya. Gegas ia berjalan pelan dengan tangan kiri menyangga pinggang dan tangan kanan mengelus perutnya.
Sedangkan Jona yang sudah selesai dengan kegiatannya langsung melenggang begitu saja menuju dapur, mengabsen rak camilan yang pasti selalu penuh.
“Mandi sana dulu, Mas! Habis itu masak lauk sendiri. Kakak belum masak lagi.” Suara Ara meninggi dari ruang keluarga yang lebih dekat dengan dapur sebelum kembali ke kamarnya.
Berlari keluar dari dapur untuk menemui sang Kakak, Jona memainkan kedua alisnya sambil berkata, “Kakak mau aku masakin juga gak?”
“Ambil sawi dari kebun Kakak, ditumis sama kulit tahu. Terus buatin telur dadar ya … Lebihin buat Mas Rava juga.”
“Cih … Ketahuan males masak, iya kan?” Berdecih Jona menghembuskan nafas pelan.
Sedetik kemudian dirinya mendekati Ara, telapak tangannya ikut mengusap perut sang Kakak. Tersenyum hangat untuk calon keponakannya yang masih di dalam kandungan.
“Ya udah aku mandi dulu. Nanti aku masakin. Pasti bakal bikin ketagihan.”
Kini, Ara hanya berharap semoga mimpi adiknya itu bisa terwujud.
...----------------...
[Sayang, maaf banget Mas harus lembur.]
“Gak apa-apa, Mas. Di sini juga Mama Papa baru aja datang. Jadi Mas gak perlu terlalu khawatir tentang Ara. Fokus aja sama urusan di kantor.” Menyelipkan rambut yang tergerai ke balik daun telinga, Ara menoleh sekilas pada keluarganya yang tengah berkumpul menonton film bersama.
Semuanya kompak bertandang untuk menemani Ara. Hanya Papa Yudith yang mungkin nantinya akan pulang agar rumahnya tidak kosong.
[Beneran dikorupsi dananya, Yang … Bisa jadi bangunan yang udah hampir selesai itu harus Mas robohkan. Rugi besar.]
Mengulas senyum tipis, Ara berusaha menjadi pendengar yang baik pada segala keluhan Rava. Ara tau suaminya itu sedang dirundung emosi memuncak, sangat terlihat jelas dari garis wajah Rava yang mengeras.
“Kalau memang pilihan paling tepat itu, ya gak masalah Mas. Dari pada kedepannya baru diresmikan terus roboh, bisa jadi kerugiannya tambah besar atau parahnya ada korban jiwa. Mas yang sabar ya. Jangan terlalu terbawa emosi.”
[Iya, Sayang. Terima kasih … Huuft … Dengar suara kamu bikin perasaan Mas jadi tenang. Apa lagi lihat senyum kamu itu, pusingnya jadi berkurang.]
“Gombal aja terus … Mas jangan lupa makan malam. Apa perlu Ara minta Jona antar makanan?”
[Gak perlu, Sayang. Lihat ini udah ada kue. Tadi karyawan Mas udah sediain.]
__ADS_1
Menyipitkan matanya, hati Ara mendadak gelisah pada sosok-sosok yang tidak diketahuinya sedang lembur bersama sang suami.
“Cowok semua kan di sana?” tanya Ara menyelidik.
[Iya, cowok semua. Mas putar kamera belakang sebentar … Udah lihat kan? Cowok semua itu.]
“Ya udah Mas makan dulu itu kue nya. Jangan lupa kalau mau pulang kasih kabar dulu!”
Panggilan video singkat itu berakhir. Ara bukannya tidak khawatir pada Rava. Jujur saja selama ini Rava selalu berbagi cerita seputar pekerjaannya. Baru saja beberapa hari yang lalu Rava cukup antusias membahas bakal calon swalayan yang baru, namun kini usaha Rava itu tampaknya harus kembali dimulai dari dasar lagi.
“Lembur Rava, Kak?” tanya Mama Lauritz yang sudah berada di samping Ara. Sedari tadi ibu 3 anak itu sudah mengamati anak sulungnya, bukan fokus menonton film.
Pernah merasakan saat hamil tua sekaligus merawat bayi namun harus ditinggal Papa Yudith seorang diri karena tuntutan pekerjaan membuat Mama Lauritz tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Apa lagi nasibnya dulu tidak ada yang memberikan perhatian. Beruntung ada Ega yang menjadi teman sekaligus pelipur lara ketika menjalani masa-masa sulit mengandung Ara.
Angguk Ara mengiyakan. “Iya, Ma. Ada yang korupsi karyawannya. Jadi itu masalah dadakan banget harus cepat diselesaikan.”
“Kamu tidur aja, Kak. Nanti biar Jona sama Mama yang nungguin Rava pulang. Besok adik mu itu libur. Katanya mau nonton film juga yang tayang jam 10 nanti.”
“Mau tidur kalau Mas Rava belum pulang jadi gak tenang, Ma,” tolak Ara lemah. Ia sudah sangat yakin tidak mampu terlelap. Pasalnya tanpa usapan Rava, Lipai akan beraktraksi menjelang Ara hampir tenggelam dalam buaian mimpinya.
“Baring di sofa aja sana biar Mama urut kaki mu yang bengkak itu. Besok pagi keliling rumah, jalan-jalan sebentar biar nanti lahirannya gampang.”
“Iya, Ma. Biasanya setiap pagi juga Mas Rava ajak jalan-jalan sebentar di sekitar rumah.”
Bantalan sofa di ruang keluarga ditumpuk sebagai sandaran punggung Ara. Ia dimanjakan oleh seluruh keluarganya. Mama Lauritz yang mengurut pelan telapak kakinya. Jona yang memijat tangan kirinya, serta Papa Yudith yang mengusap puncak kepala Ara dan sesekali memberikan pijatan di pelipis. Sedangkan Rian diam menikmati tontonan sambil mengemil keripik kentang.
“Barang-barang buat lahiran nanti udah dikemas?”
“Udah Ara sisihkan, tapi belum dimasukan ke tas.”
“Besok Mama bantu urus. Jangan sampai mau lahiran aja kayak orang mau pindahan,” tegas Mama Lauritz. Tau saja jika Ara pasti menumpuk segala hal yang selalu dirasa penting. Entah benar-benar dibutuhkan atau tidak. Maklum saja karena ini pertama kalinya Ara mempersiapkan diri menyambut kelahiran sang buah hati.
“Ponakan cewek kan, Kak?” Suara Jona menyeletuk tiba-tiba. Ia bertanya dengan intonasi yang menyiratkan besarnya rasa penasaran yang disimpan.
“Di USG kemarin kelihatan cewek.”
“Asik! Akhirnya gak dapat adik cewek kecil tapi ponakan cewek jadilah.”
“Memang kenapa?”
“Mau pamer dia, Kak. Kemarin ada temennya ke rumah bawa adik perempuan yang masih kecil. Pas digendong-gendong ada yang ngiri gara-gara adiknya sendiri udah gak bisa ditimang-timang,” seloroh Mama Lauritz yang menghadirkan cengiran di bibir Jona, namun lirikan jengah dan cebikan di bibir Rian.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah menanti kisah Ara yang menuju ending ini🥰