
Terik mentari membakar tanpa ragu kulit Ara yang sempat mendingin. Mengusap tangannya yang tertutup kemeja lengan panjang, ingin rasanya Ara menyingsingkan lengan kemeja itu hingga ke siku, namun terpaksa Ara urungkan.
Luka yang sempat Ara torehkan lewat cutter, jarum dan beberapa benda tumpul benar-benar meninggalkan kenangan yang membekas. Melukis abstrak tumpang tindih tidak beraturan.
‘Kapan bekas ini hilang semua?’ Keluh Ara dalam hati, menyingkap sedikit kemeja oversize yang dikenakan, tampak garis-garis goresan samar masih memenuhi lengan kiri Ara. Sedangkan lengan kanan hampir dipastikan telah sembuh dan mulus kembali.
Ara merasa cukup beruntung pada luka yang hanya menembus lapisan kulit dermis, ia sadar perlu waktu yang tidak singkat untuk regenerasi dan memulihkan kulit yang terlanjur dirusaknya.
Sejujurnya Ara tidak terlalu mempermasalahkan jika bekas lukanya terlihat oleh orang lain. Terbukti saat Ara menginap di rumah Kakek Baren yang dengan santai mengenakan kaos oblong. Memamerkan lengannya yang jauh dari kata ‘normal’ bagi orang lain.
Meski bisikan dan lirikan kepo yang dilakukan diam-diam para asisten rumah tangga sangat ketara oleh Ara, namun ia menanggapinya dengan cuek. Tidak ingin ambil pusing, lagi pula Ara hanya berdiam diri di dalam rumah megah itu saja.
Namun di Kota B rasanya berbeda. Ara hanya ingin menjaga keluarganya dari cibiran karena ulah nekatnya di masa lalu. Meski tidak merugikan orang lain, Ara tau dirinya masih akan dipandang aib bagi sekelompok orang berpikiran sempit.
Membelokkan langkah ke sebuah taman kecil, mata Ara berbinar mendapati Yuki dan Dimas masih berada di tempat yang disepakati untuk berkumpul.
“Kalian gak jadi makan?” Melipat tangannya di depan dada, Ara mengernyitkan dahi, menatap sampah plastik transparan dari kemasan roti isi dengan corak berwarna hijau yang dominan.
“Udah ini.” Ucap Dimas sembari mengedikan dagunya sekilas. Sebuah kode umum saat mager melanda.
“Kamu gak makan, Ki?” Tanya Ara lagi, namun kali ini tatapannya terfokus pada Yuki.
“Makan.” Jawab Yuki singkat, raut wajahnya mulai berubah seakan menahan suatu gejolak.
“Makan apaan?” Sekali lagi pertanyaan Ara terucap dengan suara menuntut.
“Ini.” Menggeser bungkus roti yang sudah tidak berisi, Yuki berdehem singkat.
‘Ini?’ Gumam Ara dalam hati, mengernyitkan dahi seakan tidak percaya. “Ini bukan punya Dimas?”
“Punya aku lah, siapa lagi diantara kita yang doyan bawa roti isi srikaya kalau bukan aku?”
“Tumben kamu mau bagi-bagi, sehat kan?” Tanya Ara disertai senyum mengejek.
“Wah parah, pasti mau bilang aku sakit atau gak waras kan? Ngaku!” Menyipitkan matanya, Dimas menunjuk Ara dengan sorot mata ditajamkan.
“Biasa juga kamu gak mau bagi-bagi kalau roti isi selai srikaya.” Berkata dengan santai, Ara mengedikan bahunya acuh.
“Kan biasanya kita bertiga, kalau dibagi sepertiga bagian mana sanggup buat ganjal lambung ku yang terlanjur melar.” Jelas Dimas penuh pembelaan.
“Hm..” Dehem Ara dan Yuki singkat bersamaan.
“Udah yuk ke kelas, bentar lagi mulai.” Ajak Ara sambil memandangi layar ponselnya. Waktu terus berganti di layar ponselnya hingga menyisakan beberapa menit hitungan jari.
__ADS_1
“Kalian duluan aja, aku mau ke toilet.” Ucap Yuki sambil meraup tas nya terburu-buru.
“Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Ara khawatir.
“Mual banget, hoek..” Jawab Yuki cepat, menahan rasa mual yang bergejolak hebat.
“Yuki gak punya anak pre-order kan?” Celetuk Dimas tiba-tiba, memandang lekat punggung Yuki yang akhirnya menghilang di balik pintu toilet.
Melirik sekilas pada Dimas, Ara melanjutkan langkahnya di sisi kiri Dimas, mengernyitkan dahi dan melipat tangan sambil berpikir serius arti dari kalimat yang Dimas ucapkan. “Anak pre-order kayak gimana maksud kamu?”
“Pre-order, dipesan duluan anaknya sebelum sah. Ini kan belum ada 2 minggu pernikahan dia.”
Otak Ara seakan harus memutar jalan hingga menemukan titik dimana ia tadi dipaksa mulai berpikir. Kalimat itu tidak diucapkan menggunakan bahasa planet lain, namun kebiasaan Dimas memberi istilah aneh benar-benar sering memaksa Ara berpikir di luar nalar bahkan secara ilmiah pun tidak terdefinisi kan.
“Maksudnya nyicil duluan terus jreng jeng-jeng tarara gitu?” Tanya Ara dengan istilah tidak kalah anehnya sambil membuka lebar kelopak matanya, menengadahkan tangan seakan meminta jawaban.
“Hamidun gitu?” Lagi-lagi Ara bersuara dengan bibir yang dibiarkan tidak terkatup. Sorot matanya penuh tanda tanya.
Menjentikkan jarinya di depan wajah Ara, Dimas mengangguk cepat, menggoncang kan jemari kanan asal seolah membenarkan. “Nah itu..”
Pletak..!
“Bilang dong hamil duluan! Pre-order gak jelas pula yang disebut.. Dikira anak itu barang bisa dikirim pakai kurir express.” Gerutu Ara kesal setelah puas menjitak kepala Dimas.
“Astaga.. Apa hubungannya lagi itu CUUIITT!!!??” Menggeram jengah, Ara memekik kesal tertahan dengan gigi mengatup rapat.
“Kenapa kamu emsosi, Ra? Ehh..” Memukul pelan bibirnya secara reflek, Dimas berjalan mengejar langkah ringan Ara yang mendahuluinya. “Emosi ya.. Kan jadi salah sebut.”
Tanpa memperdulikan Dimas yang mengekor di belakangnya, Ara mendudukkan tubuhnya dan merapatkan satu bangku kosong ke sisi kanannya. Meletakkan tas ransel hitam miliknya ke bangku yang ia peruntukan untuk Yuki.
...----------------...
“Mamas.. Coba perhatikan dulu, Kakak gendut banget ya?” Seloroh Ara sambil memutar-mutar tubuhnya, berlenggak-lenggok di hadapan Jona.
Meletakkan ponselnya, Jona menelisik Ara dari ujung kaki hingga puncak kepala. Mengusap dagunya dengan sudut kanan bibir yang tertarik ke samping. “Gendut.”
Hanya satu kata namun mampu melebarkan kelopak matanya. Kepercayaan diri Ara tiba-tiba menyusut seiring mulut yang terus menganga kaget mulai tertutup. Ara tentu ingat dengan jelas dulu sering dirundung dengan perkataan jelek dan gendut.
Meski kini dirinya menyadari bahwa bukan penampilan fisik yang terpenting, namun rasa takut menjadi dirinya yang lama menghantui pikiran Ara. Belum lagi otak Ara sudah berpikir negatif bila Rava akan berpaling darinya yang tidak menarik lagi.
“Serius??”
Ara sepenuhnya mempercayai ucapan Jona. Berbeda jika Ara bertanya kepada Rian, jawabannya akan sangat manis berbelit yang intinya tidak ingin menyebutkan sang Kakak gendut.
__ADS_1
Sebuah jawaban yang tidak akan pernah mengecewakan, namun Ara meragukan setiap ucapan Rian yang terkesan manis. Jika Jona, ia akan langsung menyembur pedas, singkat dan menusuk langsung pada fakta yang terkadang menyakitkan.
“Iya. Di sini, sini sama ini, sekarang udah kelihatan berlemak banget. Lama-lama bisa bergelambir parah kalau Kakak doyan hibernasi kayak ular piton.” Menunjuk pada lemak dagu, lengan atas dan pinggul, Jona tanpa ragu berujar sambil sesekali mengangguk.
“Nanti kalau ada kirimin lagi jangan makan, buat Jona aja.” Ucap Jona sambil menyeringai dan memainkan kedua alisnya.
“Mau mu..!” Ucap Ara sambil menekan pipi Jona beberapa kali layaknya memencet tombol remot televisi yang macet.
“Salahnya Kakak sekarang rakus. Kalau habis makan jajanan dari Mas Rava gak usah nyerang kue yang ada di lemari Mama. Mau tidur ngemil, jadilah membengkak.” Sindir Jona tepat sasaran.
“Udahlah Kakak sana, aku mau main game. Kakak ganggu kalau di sini.” Usir Jona tanpa menatap pada Ara, mengibaskan tangan dan mendorong pelan pinggang Ara.
...****************...
Dermis : Lapisan di bawah epidermis yang lebih tebal, memiliki kelenjar keringat dan pembuluh darah yang membantu dalam mengatur dan mempertahankan suhu tubuh, kelenjar minyak dan keringat, serta ujung saraf yang dapat mengirimkan sensasi berupa sentuhan, rasa nyeri, gatal, dan suhu ke otak.
*
*
*
Apakah Ara akan rendah diri atau menyiksa dirinya dengan diet tidak sehat?🤔
*
*
Bab selanjutnya akan kita percepat waktunya, cuma gak cepat-cepat banget.😂
Di sini Hana juga mau ucapkan terima kasih untuk yang udah kasih tips di kedua novel Hana🥰 Terima kasih sudah mengeluarkan koin untuk kasih Hana jajan😄
Bahkan lebih banyak jajan yang dikasih dibandingkan receh hitungan viewers yang biasanya harus Hana kumpulkan satu bulan lamanya.🤭
Memang pembaca novel Hana sedikit, bahkan pernah berada di jumlah 1 digit saja.🤧
Mungkin karena masih banyak kekurangan dan gak terlalu menarik di pasaran sini. Tapi intinya cukup senang selama ini bisa berbagi imajinasi dan interaksi dengan semuanya 🥰🤗
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1