
“Kalau ganti ada berita aneh-aneh tentang aku lagi awas kamu ya..!!” Ancam Ara pada Yuki.
“Aman.. Kamu tenang aja, Ra.” Mengacungkan ibu jarinya, Yuki mantap seolah bisa menjamin kerahasian pertemuan penting yang bisa saja merubah kisah Ara selanjutnya.
“Kamu lupa yang bikin cerita aku bakal nikah sama Pak Rava di kalangan kampus siapa?” Memukul pelan lengan Yuki, untaian kalimat Ara jelas menahan kekesalan.
“Aku. Tapi kan bener kamu nanti nikah sama Pak Rava. Bukan gosip ya itu.” Jawab Yuki dengan santai dan cueknya.
“Anggap aja mau sentil lalat tapi bebek sekampung ikut terhempas.” Lanjut Yuki tanpa beban dan seenaknya.
"Jadi ini mau apa sih? Aku bingung dari tadi denger kalian gak jelas gini.” Ujar Dimas yang seketika membuat Yuki menarik nafas dalam-dalam.
“Mending diam dan ikut aja kalau mau. Kalau gak cepat pulang sana!” Perintah yang juga pengusiran itu menarik sudut kiri atas bibir Dimas untuk mencibir.
“Ayo pergi sekarang.” Menangkis perdebatan yang bisa saja membludak, Ara menarik tangan Yuki untuk cepat bergerak.
“Ketemu dimana?” Menghentikan langkahnya, Ara bertanya sambil menatap Yuki. Hampir saja Ara melangkah tanpa tujuan yang jelas.
“Di ruangannya.. Pas tuh enak, adem dan pastinya ada jajan.” Ujar Yuki yang kini telah melepas rengkuhan tangan Ara dari lengannya dan berjalan dengan meloncat riang layaknya kelinci liar.
“Teman mu itu bikin malu.” Celetuk Dimas yang sudah menyamakan langkah dengan Ara.
‘Gak nyadar banget kalau kalian itu sama.’ Menggelengkan kepala pelan, Ara berkata dalam hati setelah sempat melirik Dimas sekilas.
“Yaaah.. Si Yuki main tinggal aja, Dim. Kamu ketuk terus masuk duluan di depan ku lah..” Pinta Ara pada Dimas. Keduanya sudah tepat berada di depan pintu ruang Sekretaris Jurusan yang menyatu dengan milik Ketua Jurusan.
“Manja. Tinggal ketuk terus masuk aja kayak biasanya juga.” Ucap Dimas sambil menjulurkan tangannya yang terkepal santai.
Tok.
Tok.
Tok.
Ceklek.
“Permisi, Bu..” Ujar Dimas sembari menyembulkan kepalanya masuk ke dalam ruangan yang terasa menyejukkan itu.
“Masuk, Dim. Ara mana?”
__ADS_1
“Di sini, Bu.. Saya di belakang Dimas.” Jawab Ara sambil mengikuti Dimas melangkah masuk.
“Ambil kursi di depan itu Dim buat kamu. Ara pakai yang ini aja.” Ucapnya sambil menunjuk pada kursi di seberang mejanya.
“Jadi gimana, kalian mau nanya apa nih gerombolan gini?”
“Bu, saya penasaran nih..” Ujar Yuki tiba-tiba.
“Penasaran apa?”
“Kampus kita ada komite kemahasiswaan juga bagian kedisiplinan kan, Bu?”
“Ya ada dong.. Kamu ada perlu apa mau urusan ke sana?”
“Ibu tau kan gosip si Ara ini..” Menyenggol lengan Ara sekilas, Yuki mencebikkan bibirnya ke arah Ara.
“Kamu belum dikasih tau Pak Kim ya Ra?” Melipat tangannya ke atas meja, lontaran kalimat itu ditujukan pada Ara.
“Maksudnya Ibu apa ya? Maaf, saya kurang paham.” Mengernyit bingung Ara menjawab dengan sopan.
“Semua masalah udah diselesaikan sama Pak Kim. Udah lama juga, mungkin hampir lebih dari 2 minggu yang lalu. Malahan Ibu pikir kamu udah tau, soalnya Pak Kim sendiri yang minta biar dia yang cerita ke kamu.”
“Rupanya benar ya kalian mau nikah sebentar lagi.” Untaian kalimat ini terdengar jelas menggoda Ara.
“Saya pikir dulu Pak Kim beneran sama Bu Dian, ehh ternyata si Dian aja yang suka melebih-lebihkan cerita.” Ujarnya kesal.
“Menyesal saya sempat percaya gitu aja. Padahal jelas-jelas memang sering berduaan gara-gara ada proyek bersama.” Lanjutnya lagi sambil menghembuskan nafas kasar.
“Saya ini memang suka gosip, sadar juga kalau dapat julukan senior ghibah.”
Deg!
Celetukan tiba-tiba itu membuat wajah Yuki seketika menegang. Beruntung tidak sampai pucat pias. Ia seakan tertangkap basah mengatai sosok dewasa di hadapannya ini. Berkomat-kamit dalam hati, Yuki berharap jangan sampai ada yang pernah mendengar bibir lemas nya mengatai ‘senior ghibah’ selain Ara dan Dimas saja.
“Tapi asal kalian tau ya, yang saya omongin gak boleh kacangan, harus jelas dan sesuai fakta atau bukti nyata. Harus aktual dan konkrit, bukan abal-abal semata demi kesenangan.” Ucapnya bangga. Ara baru tau rupanya menjadi penggosip itu tidak sekedar pandai bersilat lidah, namun juga harus mengantongi pengetahuan yang luas.
“Memang apa yang udah diselesaikan, Bu?” Tanya Dimas yang sudah sejak awal penasaran bercampur kebingungan.
“Semua udah di klarifikasi. Tentang Ara yang katanya pelakor, ayam kampus, simpanan om-om, sama..” Kalimat itu berakhir dengan lirih seakan ada sesuatu yang tidak pantas untuk disinggung lebih jauh lagi. Lambaian tangan kecil disertai tubuh yang mencondong sontak membuat Ara, Yuki dan Dimas ikut mendekat.
__ADS_1
“Maaf ya sebelumnya, sama yang terakhir bukti ada yang bilang kamu bipolar terus sakit jiwa nyaris gila apa gitu juga udah diusut Pak Kim. Katanya pihaknya udah dapat siapa yang nyebar kebohongan itu, jadi urusannya di luar kuasa pihak kampus.”
Ara yang mendengarkan penjelasan itu hanya diam mematung. Bukan hanya terkejut pada tindakan Rava, namun juga ia kaget dengan fakta bahwa ada yang menjatuhkan kondisi mentalnya. Meski Ara akui jiwanya memang belum sehat sepenuhnya, namun jelas bukan bipolar atau hal lainnya yang entah tidak Ara ketahui. Ara tau mentalnya sakit, tapi jelas ia tidak gila.
“Lagian kalau ada teguran juga pasti pengajar yang dipindah tugas atau nonaktifkan sementara. Beda kalau kasus besar dan parah, semuanya bisa dicabut. Dosen izin mengajarnya dilepas, mahasiswa ya jelas DO kalau pelanggaran berat.” Jelasnya lagi dengan suara yang kembali seperti biasa.
“Tapi ini kan masalah remeh sebenarnya. Bukan hak kampus juga buat menghakimi, cuma gak tau sama siapa dikasih bumbu apa jadi membesar masalah kamu dan Pak Kim itu. Jadi ya akhirnya demi kebaikan bersama perlu di klarifikasi. Bahkan ini Pak Kim sendiri yang mengatur semuanya. Kebetulan saya ini kan Sekretaris Jurusan, jadi hadir juga menggantikan Ketua Jurusan yang lagi pelatihan waktu itu.”
Pembicaraan di ruangan menyejukkan itu berakhir dengan Ara yang kembali terbengong. Ia tidak habis pikir pada seseorang yang tega menjatuhkannya. Belum lagi fakta lain tentang Rava yang terungkap membuatnya kesal sampai ke ubun-ubun.
“Udah fix pasti Nindy itu yang bikin masalah. Aku memang gak tau siapa dia, tapi saat tau dia kerja di klinik tempat mu di rawat sama penjelasan tadi, aku yakin memang dia yang bikin ulah.” Ujar Yuki sambil meluruskan kakinya. Kini Ara dan Yuki masih duduk di bawah salah satu pohon rindang di sekitar tempat parkir, sedangkan Dimas sudah meluncur pulang untuk bekerja paruh waktu sebagai kurir bawang goreng dan keripik singkong.
“Tapi gimana caranya dia bisa sampai tau kontak grup jurusan?” Mendongakkan wajahnya ke arah langit, mata terpejam Ara sedang Manahan rasa berdenyut di kepalanya.
“Entahlah.. Orang niat jahat pasti udah nyusun rencana matang-matang, meski tetap aja bakal terendus bangkainya.”
...****************...
*
*
*
Kenapa Ara kesal pada Rava?🤔
Apa yang tidak Ara ketahui tentang Rava?🤔
*
*
Ayo tebak lagi, kira-kira rahasia apa yang belum Hana ungkap tentang Rava kali ini.😄
Kita menuju AADR S2 alias 'Ada Apa dengan Rava' season 2. 😆
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1