Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Dosen PPKM


__ADS_3

Selama 7 hari penuh itulah Ara selalu merepotkan Rava. Walaupun sejatinya Rava yang menyulitkan dirinya sendiri sebagai tukang ojek pribadi Ara. Alasannya tentu untuk tidak menyiakan sedikitpun waktu kebersamaan yang terus menyusut. Tidak perduli ia harus bekerja lebih gesit dan memforsir tenaganya.


“Ra, tau gak?”


“Nggak!” Ucap Dimas cepat.


“Aku ngomong sama Ara, bukan arang!” Mendelik sinis Yuki pada Dimas dengan hidung mengerut.


“Rasis ya?” Tunjuk Dimas tepat di wajah Yuki sambil menyeringai.


“Gak jelas!” Memutar bola matanya malas, Yuki merangkul lengan kiri Ara.


“Heh..!” Seru Dimas tertahan, pandangannya terpaku pada sorot mata Ara yang tajam.


“Udah Dim..! Yang harus dicatat banyak ini. Jangan bikin aku gagal fokus sama cekcok nya kalian!” Geram Ara sambil kembali fokus pada buku di hadapannya. Ia benar-benar membenci sesi mencatat seperti ini. Namun harus apalagi bila tugasnya wajib di tulis tangan.


“Mam.. Pus..!!” Ucap Yuki dengan senyum mengejek pada Dimas yang masih dapat Ara dengar. Menggeleng perlahan pasrah, Ara hanya akan menerima saja bila Dimas dan Yuki akan kembali berduet maut.


“Ra.. Kamu tau gak kenapa waktu gosip mu yang heboh itu cuma di Fakultas kita? Bahkan kata anak-anak yang aku kenal di FE meski ada yang ngegosip mereka itu gak sampai seheboh di fakultas kita.” Bisik Yuki menggebu-gebu sembari menyentak pelan lengan Ara dalam rangkulannya.


“Aku bahkan sebelumnya gak sadar itu sempat heboh.” Ucap Ara jujur. Tangan, mata dan otaknya masih terfokus pada jajaran kalimat pembahasan implementasi dari Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.


“Iya aku paham banget teman ku yang satu ini kadang hidup di dunia lain.”


“Kamu mau bilang aku setan?” Ucap Ara ketus, namun tetap tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun untuk menatap Yuki.


“Maksudnya itu terlalu fokus sama yang ada di sekitarnya sampai hal-hal lain yang mengusik kalau di luar radar bisa gak terdeteksi gitu loh. Aku gak bilang kamu setan, soalnya yang setan itu Dimas.” Jelas Yuki dengan diakhiri tersenyum mengejek pada Dimas yang sudah terbelalak.


“Aku diam kena juga..” Gumam Dimas lirih.


“Balik ke topik yang mau aku bahas.. Jadi Pak Rava itu termasuk Dosen PPKM.” Ucap Yuki sambil menyengir.


“PPKM?” Tanya Ara dan Dimas serentak. Keduanya sama-sama mengernyit bingung pada julukan yang Yuki sematkan pada Rava.


“Iya, PPKM alias pelit, perhitungan, killer dan moody.” Ucap Yuki setengah berbisik setelah sempat menoleh ke kanan-kiri layaknya pencuri.


“Mas Rava moody?? Kayak bukan dia aja deh..” Ucap Ara tidak percaya. Kali ini ucapan Yuki berhasil menggoda Ara untuk berpaling dari tugasnya.

__ADS_1


“Aku juga nyaris gak percaya kalau Pak Rava moody orangnya. Kalau galak dalam diam kayaknya bener. Tatapan mata mengintimidasinya aja udah bikin merinding.” Ucap Dimas sambil bergidik ngeri.


“Moody nya Pak Rava beda, Ra.. Kalau Dosen lain mungkin bisa dilihat dari uring-uringan atau jadi ketus. Nah kalau Pak Rava katanya gak gitu..” Ucap Yuki dengan semangat.


“Kata teman ku di sana, Pak Rava bakal tetap ngajar seperti biasa, konstan gak ramah dan dinginnya. Kalau yang umum suasana kelasnya kayak di kulkas, pas moody bakal berasa kayak di puncak pegunungan es. Cuma yang paling parah waktu gosip kamu lagi panas-panasnya. Mereka bilang serasa belajar di Antartika.” Ucap Yuki lagi seolah menjadi saksi nyata kelas ekstrim Rava.


“Kalau moody kayak gitu sih aku percaya deh. Sorot mata kesal, bosan, marah atau nahan emosi Pak Rava sama Ara kan persis banget. Jodoh memang gak bisa tertukar ya..” Ucap Dimas sambil menganggukkan kepalanya.


“Memang aku kayak gitu?” Tanya Ara tidak percaya.


“Nggak..!” Jawab Yuki dan Dimas bersamaan dengan raut wajah malas. Keduanya bahkan kompak memalingkan pandangannya ke lain arah.


“Sama kayak kalian berdua ya.. Jodoh gak mungkin tertukar.”


“Najis!!”


“Amit-amit..!!”


“Kan jodoh.. Nolak aja kompak..” Terkekeh Ara menyaksikan penolakan kedua sosok berlainan jenis itu.


"Terus kenapa gak heboh di sana? Bukannya kalau masalah moody gak berpengaruh banget sama gosip?" Tanya Ara yang kini semakin penasaran.


"Iya terus??"


"Astaga.. Masa gitu aja gak paham Ra!? Ck!" Tiba-tiba Dimas berdecak kesal karena otak lemot Ara.


"Kalau paham gak aku tanya." Dengus Ara.


"Intinya ya jelas gak berani macam-macam karena takut hidupnya di kampus langsung tamat kalau mengusik kamu gitu. Terbukti juga sekarang Bu Dian gak julid parah lagi sama kamu." Jelas Yuki pada Ara sambil tersenyum puas. Ia benar-benar ingin tertawa jahat pada Dian yang kini seolah bungkam dan bagai orang asing.


"So sweet banget ya Pak Rava tiba-tiba aja langsung selesaikan masalah kamu. Diam-diam melindungi.. Cowok kayak gitu berasa halal di tikung kalau ceweknya gak bersyukur." Ucap Yuki sambil memeluk dirinya sendiri. Namun percayalah ia sedang menguji Ara. Lewat tatapan yang mengintip dari ujung ekor matanya, Yuki dapat menangkap gelagat Ara yang kesal padanya.


“Mending sekarang kita bahas Yukicot aja.” Ucap Dimas tiba-tiba. Meskipun ia percaya tidak akan ada adegan tarik-menarik rambut atau bahkan cakar-cakaran, namun sorot mata Ara cukup membuat rambut halus di lengannya berdiri tegak.


“Aku kenapa?” Tanya Yuki bingung.


“Lagi ada masalah?” Bukannya menjawab keheranan Yuki, Dimas justru langsung bertanya tanpa basa-basi lagi.

__ADS_1


“Masalah? Tugas numpuk dan aku mager, itu masalahnya.” Ucap Yuki sambil menyandarkan punggungnya seakan menyalurkan beban dari ucapan yang belum ia ungkapkan seluruhnya.


“Bukan itu. Kamu ada masalah di luar tentang kuliah ini?” Tanya Dimas lagi. tentu saja Dimas tidak akan percaya pada jawaban Yuki sebelumnya.


“Gak ada tuh.” Ucap Yuki santai sembari mengangkat bahunya acuh.


“Yakin?” Kali ini Ara yang bersuara. Ia sependapat dengan Dimas bahwa sikap Yuki cukup berbeda. Pernah beberapa kali Ara memergoki Yuki yang terhanyut dalam lamunannya. Helaan nafas kasar kala Yuki memastikan sebuah notifikasi di ponselnya muncul juga tidak luput dari perhatian Ara.


“Iya.. Kalian kenapa sih? Ada yang aneh dari aku ya?” Menangkup pipinya sendiri, Yuki berpura-pura tidak mengerti maksud kedua teman dekatnya itu.


“Kamu kayak gak semangat beberapa hari ini. Sering telat juga datangnya. Malah aku lihat kamu turun dari mobil jauh dari parkiran Fakultas kita. Mobilnya juga asing banget.” Ucap Ara yang tiba-tiba ingin menyerocos tiada henti.


“Itu saudara.” Ucap Yuki singkat, namun dapat Ara tangkap ada perasaan kesal yang membingkai raut wajah Yuki.


“Saudara dari mana? Orang tua mu kan dua-duanya anak tunggal.” Dimas kembali bertanya.


...****************...


*


*


*


Ada apa dengan Yuki?🤔


*


*


Ada yang pakai apk W yang warna oren itu?😄 Hana buka akun di sana buat seru-seruan aja. Baru 1 cerpen lama yang diangkut ke sana. (Bisa cari @hi_1LIGHT)


Sejujurnya Hana sempat galau SPIN OFF untuk kisah Yuki mau UP dimana, tapi kayaknya akan UP di sini. Dan sekarang tambah galau pemilihan sudut pandang penulisan sama nyari visual cast buat pemeran lain di kisah Yuki.😅


Kalau sudut pandang penulisan kisah Yuki disamakan kayak Hana tulis kisah Ara ini pada setuju gak? Gak ngebosenin kan?😁


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2