Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Hingga Maut Memisahkan


__ADS_3

Dengusan hembusan kasar keluar dari sepasang lubang hidung Ara. Ponsel yang tadinya ada di tangannya seketika terhempas ke atas kasur tanpa belas kasih. Sedangkan si empunya berbaring telentang dengan membentangkan kedua tangan menguasai kasur.


“Kamu mau ganti ponsel?” Celetuk Rava bertanya dari ambang pintu saat melihat Ara menghempaskan ponsel dari genggaman. Berdiri dengan tangan kanan mendorong daun pintu dan menguncinya, sedangkan di tangan kiri sudah ada segelas susu hangat.


Berjalan mendekat ke ranjang tidur mereka, Rava meletakkan segelas susu hangat di atas nakas. Beringsut mendudukkan dirinya sambil meraih puncak kepala Ara untuk diusap dengan penuh kasih. “Nanti Mas atur waktu supaya kita bisa keluar lihat-lihat ponsel keluaran terbaru yang kamu mau.” Ucap Rava lembut dengan senyum merekah di bibirnya.


“Bukan mau ganti kok. Ini masih bagus, gak perlu ganti. Cuma kuota internetnya habis.” Menggeleng pelan, Ara menolak saran Rava. Diraihnya ponsel yang sedikit berjarak dari tangannya, digenggam di atas dada.


“Kalau gitu pakai ponsel Mas kan bisa.. Kamu pakai aja suka-suka kamu. Mas juga gak terlalu sering pakai kalau bukan penting banget kayak urusan kerja.” Ucap Rava masih terus memberi usapan lembut pada kepala Ara, sesekali Rava juga merapikan rambut Ara yang berantakan.


“Gak ada aplikasinya di ponsel Mas.” Keluh Ara memanyunkan bibirnya yang berhasil membuat Rava gemas. Sontak saja Rava langsung menundukkan kepalanya mencium singkat bibir sang istri yang sebenarnya ingin digigitnya itu.


Membaringkan tubuhnya di sisi Ara, Rava mensejajarkan wajahnya agar bisa menatap lekat Ara dari dekat. “Maaf, ya.. Mas ngerasa udah selesai semua dari rumah ini. Tapi Mas lupa pasang wifi.”


“Apaan sih kayak gitu. Kan Ara bisa minta hotspot. Kalau kuota Mas juga habis ya udah kita bobok aja kayak gini.” Ucap Ara sembari memainkan jemarinya di pelipis dan pipi Rava.


“Jadi sekarang mau internetan dulu? Nyalakan aja, Sayang.. Tapi sebelum itu minum susu nya, nanti keburu dingin.” Tutur Rava secepat kilat beranjak dari posisi rebahan nya, meraup gelas berisi susu ke tangan kanannya dan menanti agar Ara segera duduk.


Meraih uluran segelas susu hangat dari tangan Rava, Ara tidak langsung meminumnya, melainkan menatap Rava dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan. Sungguh Ara bersyukur dengan Rava yang sangat mencintai dirinya. Berharap semoga kisah mereka tetap dipenuhi rasa cinta yang semakin menggelora hingga maut memisahkan.


“Pelan-pelan.” Seru Rava saat melihat Ara terburu-buru menengguk susu yang ia buatkan. Khawatir jika sewaktu-waktu Ara bisa tersedak.


“Makasih ya, Mas.” Ucap Ara setelah selesai menandaskan susu hangat yang kini menghuni lambungnya.


“Sini kasih Mas lagi gelasnya..!” Pinta Rava pada gelas kosong di tangan Ara dengan mengulurkan telapak tangannya yang terbuka.


“Langsung Ara taruh dapur aja, Mas.” Ucap Ara yang hendak beranjak dari atas kasur. Sebelah kakinya sudah menginjak lantai kamar yang dingin.


“Besok aja sekalian keluar. Taruh di sini aja dulu.” Cegah Rava yang sudah merebut gelas yang Ara genggam. Meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas nakas samping ranjang, bersebelahan dengan lampu tidur.


“Ada sisa susu di sudut bibir kamu.” Ucap Rava lagi saat noda susu di sekitar bibir Ara mengambil alih pusat perhatiannya.

__ADS_1


“Tolong tisu itu, Mas!” Tunjuk Ara pada sekotak tisu yang lebih dekat dengan jangkauan tangan Rava.


“Gak usah pakai tisu. Kayak gini aja.” Rava mendongakkan kepala Ara secepat kilat dengan tangan kanan yang sudah menekan lembut tengkuk Ara. Tanpa menunda waktu lama kepala Rava menunduk dimiringkan dan mendaratkan sapuan bibirnya menyesap noda susu yang tersisa di bibir Ara. Tentunya sedikit modus untuk mendapatkan ciuman. Selalu saja Rava bisa memanfaatkan segala kesempatan yang ada.


“Manis.” Ucap Rava singkat sambil menyeringai tipis. Senyumannya benar-benar penuh makna nakal yang sedikit banyak sudah Ara pahami.


“Ya manis lah, susu nya aja manis.” Terkekeh Ara menanggapi kalimat yang Rava ucapkan.


“Bukan susu, tapi bibir kamu yang manis.” Ucap Rava sambil menghimpit kedua sisi pipi Ara dengan telapak tangannya. Mau tidak mau tindakan Rava membuat mata bulat Ara seketika menyipit dengan lemak pipi gembul yang menyembul. Satu dari sekian banyak kebiasaan Rava ini benar-benar harus Ara biasakan.


“Aneh-aneh banget sih..” Ucap Ara agak kurang jelas. Maklum saja bibirnya ikut mengerucut karena tekanan memutar di pipi yang Rava berikan. Seolah sedang memberikan pijatan di wajah, justru Ara yang merasakan membayangkan pipinya bak squishy yang asik Rava mainkan.


Menghentikan kesenangannya, Rava mendudukkan dirinya di samping Ara. Merengkuh bahu mungil untuk didekapnya dengan merebahkan kepala Ara di dadanya. “Sekarang jadi mau buka hotspot dari ponsel Mas?” Tanya Rava di sela kecupan yang kembali menghujani puncak kepala Ara.


“Jadiiii..!!” Ucap Ara girang sambil mengangkat kepalanya. Nyaris saja kepala Ara membentur dagu Rava yang baru saja dijauhkan.


Menggeser tubuhnya lebih dekat dengan nakas dan menyandarkan punggung di sandaran ranjang, Rava menepuk pelan sisi kasur di sampingnya agar Ara mendekat.”Sini..!”


“Udah?” Tanya Ara saat Rava selesai menggulir layar ponselnya.


“Kodenya?” Tanya Ara lagi saat harus memasukkan kode sandi tertentu agar terhubung dengan koneksi internet dari ponsel Rava.


“21-42-63-39.” Ucap Rava pelan, mengeja setiap dua angka terpisah agar tidak terlewat oleh Ara.


“Susah banget sih Mas bikin kodenya, 21426339. Mas gak susah ingatnya?” Keluh Ara dengan kombinasi angka tidak biasa untuk sekedar mengakses hotspot dari ponsel Rava. Ara yang tidak suka ribet dan gampang terlupa cukup memasukan delapan angka 0 sebagai kombinasi kode sandi. Benar-benar pilihan yang sangat jauh berbeda.


“Ini kan nama kita. Jadi gak mungkin bikin Mas susah ingat.” Ujar Rava yang sukses membuat Ara mengernyit kebingungan. Entah dari sisi mana Rava menyebutkan delapan angka itu adalah kombinasi nama mereka.


“Nama kita?” Tanya Ara masih dengan ketidakpercayaan yang terlukis jelas dari sorot matanya.


“Iya, 21 ini nama kamu, Aara. Kalau 42 ini baru nama Mas, Rava.” Jelas Rava sambil memerhatikan perubahan raut wajah Ara yang semakin tenggelam dalam kebingungan.

__ADS_1


“Dari mana 21 ini bisa jadi nama Aara?” Benar saja, Ara sudah memutar otaknya yang seketika tumpul dan mendapati jalan buntu untuk memecahkan misteri angka dari namanya sendiri.


“Coba kamu urutkan semua abjad dari A sampai Z. Dimulai dari A yang dikonversi ke angka 1, lalu sampai Z di angka 26. Terus tambahkan setiap angka yang mewakili huruf di nama kamu.” Jelas Rava yang mulai Ara pahami. Sejenak Ara sudah mulai menghitung di angka ke berapa huruf R yang merupakan salah satu huruf di nama ‘Aara’ berada.


“Tiga kali angka 1 terus ditambah 18 dari huruf R, jadi 21 untuk nama Aara.” Ucap Ara lirih dengan kesepuluh jemarinya yang bergerak satu per satu mulai berhitung. Sejenak Ara mulai memicingkan matanya, menatap Rava selekat mungkin dengan kerutan di dahi. “Kalau 21 untuk nama Ara, 42 untuk nama Mas.. Jangan bilang 63 itu gabungan antara Aara dan Rava?”


“Pintar.” Puji Rava singkat dengan kecupan gemas kembali mendarat di pipi Ara. Sungguh Rava ketagihan untuk terus menciumi Ara.


...****************...


*


*


*


Misteri kode 21426339 sudah mulai selesai dipecahkan. Jadi, 39 kira-kira dari nama apa ya?🤔


(Clue nya arti nama mereka😉)


*


*


By the way, ada novel baru nih dari teman Hana, bisa cari nama pena gustikhafida atau langsung cari novel berjudul Sepupuku, Suamiku.


Mau tau sinopsis ceritanya? Simak dari foto di bawah ini ya😄👇



Silakan berselancar ke novel teman Hana😘

__ADS_1


*


Terima kasih untuk semuanya yang udah setia dengan kisah ArVa dan selalu memberi dukungan untuk Hana🥰


__ADS_2