Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Menyalahi Kode Etik


__ADS_3

“Jangan-jangan Suster Nindy gak kerja di klinik Dokter Dion ada hubungannya lagi sama Mas, iya kan?” Tanya Ara lagi dengan penuh selidik, mengarahkan jari telunjuknya tepat pada wajah Rava.


“Semua itu memang salah dia. Tentang kepindahannya itu juga masih bagus kan dari pada tidak ada kerjaan lagi.” Ucap Rava tanpa beban. Baginya hukuman yang Nindy terima sudah cukup ringan. Rava tidak pula memaksa Nindy untuk mengklarifikasi gosip tentang Ara, ia hanya menegaskan bahwa Nindy harus pergi menjauh dari jangkauan Ara.


“Iya sih.. Tapi Ara penasaran. Kenapa Mas gak mau cerita? Mas gak berbuat yang aneh-aneh kan?” Mengedikan dagunya, Ara juga mencebikan bibirnya sambil melotot tajam.


“Gak ada ya Mas aneh-aneh.” Bantah Rava spontan.


“Bohong kan?” Memicingkan matanya, Ara juga menggeser posisi duduknya menjauh dari Rava.


“Percaya sayang sama Mas.. Ini Mas ceritakan kalau kamu penasaran banget. Jadi..” Ujar Rava sambil menarik Ara mendekat. Angannya terbang jauh pada beberapa minggu yang lalu.


Flashback On.


“Om..” Sapaan tiba-tiba itu mengejutkan sosok paruh baya yang baru saja melewati setengah abad hidupnya.


“Kamu Rav.. Hampir aja Om jantungan.” Terperanjat kaget, ia mengusap pelan dada kirinya.


Drek.


“Hehe.. Maaf Om.”Sambil menarik kursi kayu mengkilap, Rava hanya berujar dengan senyum menyengir.


“Gimana Heru? Bagus gak kerjanya?” Pertanyaan yang terlontar tiba-tiba itu ditujukan untuk Rava.


“Iya, bagus. Rava ke sini juga mau bilang terima kasih sama Om.”


“Kayak sama siapa aja kamu bilang terima kasih begitu. Sekarang itu yang penting pesanan calon menantu buat Om buruan kamu kasih!” Ucapnya tegas dengan penuh makna.


“Rava maunya juga gitu.” Gumam Rava lirih. Seketika raut wajahnya mendung mengalahkan langit gelap di luar bangunan Kafe sederhana yang Rava kunjungi.


“Kamu ditolak sama Ara?” Pertanyaan menohok tanpa basa-basi seakan menertawakan Rava. Nyatanya si penanya sedang tidak habis pikir pada pesona sosok rupawan Rava yang rupanya tidak mempan untuk menggoda Ara.


“Masih usaha Om.” Jawab Rava putus asa.


“Kamu masih belum cerita tentang Ara kecil yang kamu temui?”


“Belum. Om Dika kan tau Rava pengen Ara sadar sedikit aja tentang masa kecilnya sama Rava.” Jawab Rava dengan hati yang meragu. Ia berharap Ara masih menyimpan di memorinya kisah receh kala itu tapi berkesan manis bagi Rava.


“Aduh lupa.. Om salah nanya, sampai sekarang Ara juga masih kecil. Bisa-bisanya kamu Rav suka sama anak kecil.” Menepuk dahinya pelan sambil terkekeh menertawakan Rava.


Sedangkan Rava hanya memutar bola matanya malas. Ia sudah terlalu sering digoda oleh mantan sekretaris Ayah nya itu. Bahkan sosok yang Rava panggil Om Dika itu tau benar kisah cinta Rava. Bukan Rava sengaja bercerita, ia hanya ketahuan saat dalam misi menguntit Ara.


“Oya, hampir aja lupa.. Ini dokumen yang kamu minta. Besok kan kamu mulai sibuk bolak-balik keluar Kota, jadi gak usah susah-susah ke kantor lagi buat ambil berkas-berkas yang lainnya. Semua udah Om siapin di sini.”

__ADS_1


“Terima kasih ya, Om. Maaf kalau Rava jadi ngerepotin aja.”


“Gak apa-apa, Rav. Kamu kayak gak biasa kerja sama Om aja. Jadi dimana Dion sekarang?” Om Dika mengedarkan pandangannya mencari sosok Dion yang sempat Rava sebutkan akan bertemu dengannya sepulang dari klinik. Entah apa yang dipikirkan kedua bersaudara dengan mengatur janji temu di Kafe. Padahal sudah sangat jelas mereka tinggal pada satu atap yang sama.


“Masih di perjalanan, Om. Dia bilang agak terlambat soalnya sekalian rapat internal klinik gitu.” Jelas Rava pada Om Dika.


“Sebenarnya di sini Om cukup bingung. Alasan apa staf klinik Dion menjelekkan Ara? Apa dia suka sama kamu? Atau.. Kamu ada main mata ya sebelumnya sama perawat yang kerja di tempat Dion?” Ucap Om Dika yang menyinggung permasalahan yang sedikit banyak ia ketahui.


“Mana mungkin Bang Rava aneh-aneh gitu, Om. Dia selama ini udah setia sama status pedo makanya sampai jadi perjaka tua kayak gini.” Celetuk Dion yang datang tiba-tiba layaknya jin botol. Langkah kakinya super hening hingga tidak terdeteksi. Mungkin saja Dion juga titisan iblis yang kesasar karena ujarannya sering menyelekit menyentil lawan bicaranya.


Bugh.


“Aduh!! Sakit, Om!! Kok Dion dipukul sih!?” Mengusap lengan kirinya berlebihan, Dion sedang berakting sok tersakiti.


“Bibir mu itu dari kecil kebiasaan lemes doyan ngejekin Rava. Kirain makin tua bisa di rem, rupanya sama aja.”


“Harus itu.. Ini tandanya berkembang dan naik level, Om. Lagian nyatanya Dion tetap lebih muda dari Bang Rava.” Ucap Dion santai dengan tetap mencibir Rava. Sejujurnya Rava ingin sekali menghadiahi bibir Dion dengan sengatan tamparan maut, namun ia menahan diri agar tidak ada ocehan yang akan membuatnya semakin gila.


“Ya udah kalau gitu Om pamit duluan. Masih harus belikan pesanan bakso Tante kalian, nanti ngomel lagi dia di rumah tau Om sekalian nongkrong kayak gini.” Ucap Om Dika sambil beranjak dari duduknya.


“Dion laporin ke Tante deh kalau gitu.” Merogoh ponsel mahalnya dengan gerakan perlahan dibuat-buat, Dion sukses mendapat pelototan Om Dika.


“Bocah kurang ajar!”


“Ampun Om..!! Dion udah besar jangan dijewer mulu dong!”


“Kamu itu Yon, ck! Gak ada kapoknya. Te..” Ucapan Om Dika terputus. Getar di ponselnya membuat ia terbelalak sekilas.


“Nah kan udah di kode. Ya udah Om pulang dulu.” Pamit Om Dika, berlalu meninggalkan Rava dan Dion yang siap pada pembicaraan serius.


“Hati-hati om..” Ucap Rava dan Dion bersamaan. Keduanya kompak terdiam menatap punggung Om Dika hingga menghilang.


“Ada apa Bang?” Tanya Dion membuyarkan suasana hening yang tercipta.


Srak.


“Baca itu!” Mendorong kuat sebuah map merah yang berisi berbagai hal yang akan mengejutkan Dion.


“Sialan!! Dasar brengsek!!” Benar saja, belum seluruh lembaran Dion baca sudah muncul sebuh umpatan kasar. Jangan lupakan tangan terkepal seketika yang memukul meja. Tidak menghebohkan, namun jelas pukulan itu cukup kuat.


“Abang minta tolong sama kamu untuk bantu selesaikan masalah ini. Abang gak punya wewenang di ranah pekerjaan kamu.” Ucap Rava memohon.


“Abang tenang aja. Hal ini udah menyalahi kode etik. Gak seharusnya dia membeberkan rekam medis pasien Dion ke orang lain. Kalau sampai ketahuan, bukan cuma si Nindy itu yang kena sanksi, tapi Dion juga.” Geram Dion dengan tangan terkepal, bahkan urat tangannya sampai menonjol.

__ADS_1


“Abang mau dia gak kerja di tempat kamu lagi, bisa kan? Selesaikan juga tanpa cela dan pastikan dia gak akan mengusik Ara lagi.”


“Serahkan sama Dion. Pokoknya Abang tenang aja.”


“Jaga emosi mu juga. Jangan sampai menambah masalah baru untuk kita semua. Di situ udah ada semua bukti permasalahannya, meski sampai sekarang Abang masih belum bisa temukan dari mana dia bisa akses kontak grup chat di jurusan Ara. Udah abang minta kenalan Om Dika juga tapi nihil, jejak digitalnya gak ada.” Keluh Rava sambil menghela nafas kasar. Satu-satunya cara adalah menanyakan secara langsung pada Nindy siapa komplotannya.


...****************...


Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Pasal 32 huruf i, menyebutkan setiap pasien mempunyai hak mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.


Dasar hukum lain yang mengatur kerahasian data pribadi pasien :



Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Kesehatan.


Pasal 17 huruf h angka 2 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.



Sedangkan Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 4/PUU-V/2007, pelaku penyebaran identitas pasien adalah dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban dalam Pasal 46 ayat (1) dan Pasal 51 huruf c UU 29/2004, maka dapat dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 50 juta berdasarkan Pasal 79 huruf b dan c UU 29/2004 jo.



Pelanggaran atas kewajiban rumah sakit akan dikenakan sanksi administratif berupa teguran, teguran tertulis, atau denda dan pencabutan izin rumah sakit.


Berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 26 dan Pasal 45, disebutkan bahwa penyebar data pribadi tanpa izin ialah perbuatan pidana yang diancam hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp750 juta.


*


*


*


Apa yang sebenarnya Dion lakukan pada Nindy?🤔


*


*


Hana mohon maaf jikalau segala peraturan yang ada masih ada kekurangan.🙏


Intinya penjelasan bab ini dari yang Nindy lakukan kalau dituntut bisa kena pasal berlapis.✌ Kenapa?🤔 (Hayooo.. Kenapa tuh?😄)

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2