
Uap panas mengepul dari segelas susu coklat di pagi yang cukup dingin. Mungkin sebagian orang masih sibuk bergelung dan bergulat bersama selimut meski sinar sang mentari sudah menyembul. Mengintip malu-malu dari ujung daratan yang tampak jauh di mata.
Sedangkan seorang gadis yang sesekali menguap sudah sibuk bertempur memeras otaknya. Kertas-kertas putih yang tadinya tanpa noda sudah penuh coretan. Berserakan dengan berbagai ide yang hampir selesai, namun ditolak oleh nalarnya sendiri.
Jangan kira pula segelas susu coklat hangat itu baru mengawali pagi. Itu sudah gelas ketiga yang diantarkan Bibi pengurus rumah ke kamar yang Ara tempati. Benar, gadis itu adalah Ara yang sedang berjuang menyusun makalah bernilai ujian tengah semesternya.
Tidak tau harus bersyukur atau mengeluh, nyatanya Dosen super sibuk yang seharusnya memberikan ujian langsung di hari pertama lebih memilih memberikan tugas yang sekaligus memuat nilai ujian. Meski sempat bersorak girang, kini Ara asik memijat kepala dan pangkal hidungnya. Pusing berdenyut dan frustasi, itulah gambaran paling sederhana untuk Ara.
Tugas yang diberikan 16 jam lebih cepat itu langsung Ara kerjakan. Meskipun begitu, usaha Ara sebelumnya sempat tertunda karena berusaha meminjam laptop Ega yang justru berakhir dengan Kakek Baren memberinya laptop baru sebagai hadiah.
Ara khawatir suasana lingkungan baru yang kurang ia sukai memperlambat kinerja otaknya. Benar saja, entah harus menyalahkan atau tidak, Ara saat ini benar-benar kesulitan berpikir. Padahal sudah semalaman Ara mulai mencoba mengerjakan makalahnya.
“Ini harus buat kayak gimana lagi..!!??” Keluh Ara sambil menelungkup kan wajahnya ke atas meja.
“Perencanaan pembangunan wilayah pesisir yang low budget tapi harus antimainstream. Pelaku usaha utama harus warga lokal itu gak masalah.. Tapi kalau harus punya wilayah model yang bener-bener belum terjamah kegiatan ini harus cari kemana!!?? Kenapa gak boleh samaan sih wilayahnya..” Gumam Ara sembari mengacak kasar rambutnya.
Jika sarang burung atau rambut singa adalah sebuah sindiran yang biasa Ara terima, entah kini harus dikatakan mirip apalagi bentuk rambut Ara. Kericuhan demontrasi mungkin akan mental bila melihat wujud rambut Ara.
“Coba dulu aku bawa laptop ku, seenggaknya aku bisa baca referensi dari materi PPT atau jurnal yang udah disimpan khusus.” Keluhan mengalir bebas tanpa batas dari bibir tipis Ara. Pagi yang tampak cerah itu tidak mampu mengawali hari yang sudah terlanjur keruh di hadapan Ara.
Meraih laptop yang masih mengkilap tanpa cacat atau goresan kecil secuilpun, Ara mengusap pelan deretan tombol di papan ketik yang terlapis pelindung karet transparan. Ara menghela nafasnya panjang dan berat, berharap rasa mengganjal di dadanya terlepas.
Bebannya semakin bertumpuk meski sinyal WI-FI seakan bisa ia gunakan seluncuran karena terlalu kencang dan lancar. Belum lagi laptop yang dibeli dadakan oleh Kakek Baren layaknya tahu bulat cukup membuat Ara lumayan terbantu dalam menyusun makalahnya.
Tok.
Tok.
Tok.
“MAASSUUUKK..” Teriak Ara lantang. Ia yakin suaranya menembus pintu kayu dan menyeruak pendengaran seseorang yang menanti di balik pintu.
Ceklek.
“Non.. Sarapannya udah siap. Ini Bibi di suruh Tuan Besar buat antar ke kamar Non.” Tanya nya dengan sopan.
“Bibi kan udah Ara bilang jangan panggil Non lagi. Mending Mbak Ara kalau gak mau panggil Ara aja.”
“Udah kebiasaan Non, eh Mbak..” Ucapnya sambil meletakkan sepiring nasi putih dengan tumisan dan lauk terpisah. Tidak ketinggalan pula segelas air putih dan sebotol minuman bersuplemen yang mengandung vitamin C menjadi pelengkap sajian pagi itu.
‘Kebiasaan dari mana coba? Baru juga mau 3 hari di sini.’ Gerutu Ara dalam hati.
“Terima kasih ya Bi..” Ucap Ara sambil membantu menggeser nampan sarapannya. Ara takut tidak sengaja menyenggol atau menumpahkan apapun yang bisa memporak-porandakan tumpukan kertas berisi bermacam-macam goresan pengetahuan.
__ADS_1
“Iya, Mbak.. Nanti jangan Mbak sendiri yang bawa ke dapur. Biar Bibi yang ambil ke kamar ya, Mbak.” Ucapnya sopan sembari memundurkan badannya.
“Kalau nanti Ara turun biar sekalian bawa juga gak apa-apa Bi.” Ucap Ara lembut.
“Jangan Mbak, itu kerjaan Bibi di sini.” Cegah sang Bibi dengan khawatir.
“Iya deh, Bi..” Ujar Ara pasrah. Ia sudah 2 kali gagal membawa gelas bekas minumnya ke dapur. Bahkan tujuannya membuat susu hangat juga terganti dengan cukup menanti di kamar saja.
Layaknya terkena portal penyekatan, Ara hanya mampu menjauh 7 langkah dari pintu kamar tamu yang ia tempati. Selebihnya tubuhnya terhenti karena terpergok para pengurus rumah Kakek Baren yang heboh menanyakan segala hal yang bisa mereka lakukan untuk Ara.
Berlebihan? Jelas amat sangat berlebihan. Namun semua itu sesuai perintah Kakek Baren agar semua pekerja melayani apapun yang cucu-cucunya inginkan.
Enak sekali hidupnya beberapa hari itu dilayani layaknya penguasa. Namun tetap saja bagi Ara yang sudah dibiasakan mandiri manjadi risih dengan berbagai perhatian berlebihan yang diberikan.
“Bibi pamit dulu ya Mbak.. Nanti kalau Mbak Ara mau dibuatkan yang lain lagi panggil Bibi aja, Mbak.”
“Iya, Bi. Terima kasih ya.” Ucap Ara sambil memberikan senyum ramah. Ia harus bersyukur mendapat pelayanan seperti ini, sejujurnya cukup sangat menghemat waktu untuk hanya fokus pada makalahnya saja.
“Kak..” Suara familiar menginterupsi perhatian Ara yang sempat kembali terfokus pada layar laptopnya.
“Mama? Masuk Ma..” Ara menolehkan kepalanya, tampak Mama Lauritz berjalan masuk dan berpapasan dengan Bibi yang keluar sambil menundukkan kepala sekilas pada Mama Lauritz.
“Tugas mu gimana?” Tanya Mama Lauritz sembari mendudukkan dirinya di samping Ara.
Tiba-tiba keluhan Ara berubah menjadi ide yang mungkin cemerlang. Kehadiran Mama Lauritz seolah menjadi oksigen tambahan bagi otak Ara yang sempat mengeras.
“Bagus juga itu Kak. Titik berat ekowisata kan wisata yang berwawasan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.”
“Kalau buat Kampung Nelayan itu jadi Kampung warna-warni kayak bagus juga gak Ma? Itu rumah penduduk aja yang di cat warna-warni, terus kasih bagian edukasi di sistem pelestarian biota yang ada sama alur produksi bahan pangan laut dari masyarakat lokal. Pemerannya nanti relawan pelaku didik sama warga lokal di pesisir Kota B."
“Coba aja Kak. Kamu tugas kayak gini kalau bagus bisa dibuat pengajuan langsung kan?”
“Iya sih Ma.. Kalau hasilnya bagus bisa dinaikan jadi proposal pengembangan wilayah.”
“Coba sekarang jangan dibikin pusing atau terlalu muluk-muluk ide kamu itu. Kamu coba berkhayal aja dari satu titik yang kamu inginkan. Kamu ubah sesuai imajinasi kamu, kira-kira kalau kamu main ke sana hal apa yang paling kamu inginkan.” Tutur Mama Lauritz sambil mengusap kepala Ara dengan sayang dan penuh kelembutan.
“Selanjutnya Kakak bisa sangkut pautkan satu per satu dengan kondisi di lapangan. Kamu kan suka halu sama cowok-cowok ganteng yang ditempel fotonya di dinding kamar, pasti lancarkan sinyal mengkhayal nya?” Ucap Mama Lauritz lagi sembari menaik-turunkan kedua alisnya serentak. Bibir Mama Lauritz sudah melengkung, membentuk senyuman yang memamerkan deretan gigi putih sehatnya.
“Itu beda Ma.. Ara ngebucin sama mikirin tugas mana bisa disamakan.” Gerutu Ara dalam helaan nafas sebal.
“Rava kalau tau kamu suka koleksi foto cowok lain pasti langsung jadi tugu selamat datang.” Celetukan tiba-tiba Mama Lauritz yang membawa nama Rava membuat Ara mengerutkan dahinya. Menatap Mama Lauritz yang terkekeh geli, Ara hanya bisa menggeleng pelan.
“Apaan sih Mama..” Ucap Ara lirih sambil menopang pipi pada lengan. Membaringkan kepalanya malas di atas lengan kiri yang menempel lurus pada meja kayu.
__ADS_1
“Udah kelihatan dari muka Rava, cemburuan berat.” Ucap Mama Lauritz santai sembari mengangguk-angguk kepalanya singkat.
“Mama sok tau deh.”
“Buktikan aja sendiri.” Ucap Mama Lauritz percaya diri.
“Kayak gak ada kerjaan aja.” Ujar Ara sewot.
“Takuuuttt..??” Tanya Mama Lauritz dengan nada mendayu nan panjang, sangat jelas sedang menggoda anak gadis satu-satunya.
“Aah udah lah Ma..” Rengek Ara sambil mencebikkan bibirnya. Ia mulai tidak tahan digoda Mama Lauritz.
“Iya-iya.. Ngomong-ngomong itu laptopnya bagus kan Kak?”
“Jelas bagus lah Ma. Ini kan mahal juga. Tapi sayangnya gak ada materi Ara sama sekali yang bisa dibuat referensi.” Ucap Ara yang diakhiri dengan kekecewaan. Menyesal Ara tidak benar-benar membawa laptop miliknya sendiri yang berisi jejak petualangan dan perjuangan selama menempuh jenjang perkuliahan.
“Lagian kamu bilang koper itu dulu isinya peralatan perang kuliah. Masa laptop gak kebawa?” Ucap Mama Lauritz dengan tatapan yang berbeda.
“Mm.. Itu..” Ara tergagap dengan pupil mata gusar. Melirik tidak beraturan ke segala arah sambil memutar paksa otaknya.
“Jadi benar dulu kamu ambil uang Tante Laura secara gak baik?” Ucap Mama Lauritz tiba-tiba, membungkam rapat bibir Ara. Seketika Ara tidak mampu berpikir apapun lagi. Kini Ara paham, rupanya Mama Lauritz hanya pura-pura tidak tau pada kesalahannya.
“Ma-maaf Ma..” Tertunduk dan meremas jemarinya, Ara memilih memohon maaf. Jelas tanpa disebutkan lagi Ara sudah seolah memberi pengakuan.
...****************...
*
*
*
Akankah Mama Lauritz yang kecewa akan memarahi Ara setelah ini?🤔
*
*
Rava udah muncul ya.. Lewat jalur express ghibahan.🤭
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1