Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Menantu Siaga


__ADS_3

Berbaring dengan pikiran berkecamuk, rasa nyeri mulai Ara rasakan. Ingin Ara melepas perban yang membalut rapat lengan kirinya. Penasaran pada wujud hasil karya terbesar di lengan kiri miliknya. Ara yakin, goresan itu cukup dalam sehingga ia mampu merasa kesakitan kali ini. Sungguh berbeda dengan rasa perih torehan luka dari jarum yang biasa Ara lakukan.


Memejamkan matanya, Ara tidak mampu tertidur. Banyak hal yang terjadi dalam waktu yang begitu singkat. Seakan semuanya hanya mimpi, Ara berharap ia hanya terbentur pohon besar dan pingsan saat sedang berbagi pecel bersama Bima.


Ceklek.


Suara knop pintu membuyarkan harapan kecil Ara, sosok yang tetap tampan meski Ara yakin belum juga mandi itu melangkah semakin mendekat. Seulas senyum tulus diberikan hanya untuk Ara.


"Kenapa belum tidur lagi?" Tanya Rava lembut. Tangan yang nyaris mengambang di udara itu Rava turunkan lagi. Keberanian Rava lenyap kala mata Ara terbuka, berbeda saat Ara setengah sadar atau kehilangan kesadaran. Bukannya menjadi pengecut, Rava hanya khawatir Ara merasa tidak nyaman dengan banyaknya sentuhan yang diberikan.


"Mas Rava belum mandi kan?" Bukannya menjawab, Ara justru melontarkan sebuah pertanyaan.


"Kok tau?" Tanya Rava dengan kerutan di dahinya, kaget dan takjub Ara mengetahui bahwa tubuhnya belum dibasuh sedikitpun.


'Gimana gak tau kalau dari sore bajunya gak ganti.. Mana tadi Mama bilang baru dari perjalanan luar Kota. Gak sadar apa ya ini Bapak-bapak??' Membatin Ara tatap Rava lamat-lamat. Dapat diterka sudah pasti Rava salah tingkah mendapat tatapan intens dari sang pujaan hati. Meski wajah dan bibir pucat Ara mengurangi estetika kecantikan yang Ara miliki, namun di mata Rava hanya ada wajah manis yang bersinar dan berkilau. Jangan pernah bandingkan kecantikan Ara layaknya bidadari, karena bagi Rava jelas Ara mengalahkan para bidadari.


"Iya." Jawab Ara spontan, singkat tapi memporak-porandakan harga diri Rava. Nyatanya hidung Ara hanya mampu menghirup aroma maskulin daun mint yang memenangkan, bukan bau busuk seperti yang Rava pikirkan.


Tanpa sadar Rava mencium sisi luar ketiaknya. Otaknya sudah dipenuhi aroma karet basah gelondongan yang semerbak mengalahkan pupuk kandang. Pemilik wajah yang merah padam tersengat rasa malu itu mengusap tengkuknya yang merinding. Jika bisa menghapus ingatan layaknya cuplikan film laki-laki berjas hitam, sudah pasti Rava akan menghapus rangkaian adegan saat ini.


"Maaf ya saya bau. Saya mandi dulu." Ucap Rava cepat sambil berlalu dengan tergesa-gesa. Rasa bersalah yang sempat Ara rasakan berganti dengan senyum samar. Bagaimana bisa Rava tertipu hanya dengan kata 'iya' jika wanginya saja tercium jelas oleh rambut-rambut halus di rongga hidung Ara, begitu pikir Ara.


Sepeninggal Rava yang entah sedang melakukan apa, Ara berganti mencium sisi luar ketiaknya secara bergantian. Aroma sengatan matahari tertangkap nyata, bau kecut dan sensasi asin justru terecap di lidah Ara.


Menghela nafas kasar, Ara kali ini teringat Rava yang menggendongnya dalam keadaan setengah sadar. Iya, meski sempat tidak bisa memproses beberapa hal yang terjadi, namun malam ini otak Ara tiba-tiba memutar semua cerita detik demi detik tanpa sensor atau sekedar diburamkan sedikit.


Ah!! Ara mulai malu.


Tidak habis pikir bila nanti Rava yang berganti mengejek dirinya bau, karena memang nyatanya lumayan bau. Tidak sadar saja Ara bahwa si bucin Rava tidak akan perduli pada hal remeh-temeh seperti itu.


"Ara.." Terperanjat Ara dalam lamunannya. Terlalu menghayati rasa malu membuat dirinya terdiam dalam sorot mata kosong, telinga tertutup dan nafas lirih tidak terdeteksi. Wajar bila suara derap langkah kaki Dion juga ikut tidak mampu mengusik Ara.


"Masih sakit lengannya?" Tanya Dion santai, menarik kursi duduk di sisi kiri brankar Ara.


"Nggak sakit kok.." Jawab Ara bohong, mana mungkin rasa yang berdenyut dan cekit-cekit seperti iklan pasta gigi itu bukan sakit. Menegakkan tubuh malasnya, Ara mendudukkan tubuhnya yang masih berada di atas brankar pesakit.


"Ini obat kamu.. Nanti obat yang ini sebelum makan ya, buat lambung kamu. Kalau yang ini setelah makan." Jelas Dion sambil menunjukkan beberapa obat dalam plastik klip transparan dengan beberapa petunjuk dasar aturan konsumsinya.


"Aku juga udah kasih tau Bang Rava, jadi nanti nurut aja sama dia. Satu lagi, kamu juga harus tahan sama tingkahnya." Terkekeh Dion mengakhiri kalimatnya, bayangan hebohnya Rava sudah sangat jelas tergambar. Sang Abang yang over protektif jelas akan meresahkan Ara.


"Kalau yang itu apa Dok??" Ekor mata Ara menunjuk pada kantong lain yang Dion bawa.


"Ini buat luka kamu. Nah sekarang aku mau bersihin dulu luka telapak tangan kamu itu.. Bawa sini.." Pinta Dion dengan tangan terulur meminta disambut oleh Ara.


Ara mengernyitkan dahi ketika luka yang tidak terlalu serius itu terasa perih. Olesan salep dingin diakhir sesi lumayan terasa nyaman di luka Ara, meski awalnya pasti perih.


"Ini salep antibiotik buat luka luar. Jadi besok waktu kamu ganti perban lengan, kamu juga harus kasih ini diakhir." Ucap Dion sambil mengangkat salep antibiotik yang disebutkannya.

__ADS_1


"Gantinya kapan Dok?"


"Kalau luka baru, apalagi luka jahit kayak gini, kamu harus tunggu 24 jam terlebih dahulu baru bisa ganti perban. Gak bisa kamu bentar-bentar ganti, kecuali kalau gak sengaja kotor itu mau gak mau harus ganti biar gak bikin infeksi. Makanya harus kamu jaga sendiri supaya gak kotor perbannya." Jelas Dion yang cukup membuat Ara waspada.


"Ada lagi yang mau kamu tanyain?" Tanya Dion dengan menatap Ara, sudah sangat hafal Dion pada sorot mata penuh rasa penasaran itu. "Keluarkan aja pertanyaan kamu itu. Kalau gak pasti bikin kamu tidur gak tenang nanti."


"Ara gak gila kan Dok?" Tanya Ara lirih, menunduk dan menggigit sudut kiri bibir bawahnya.


Sedangkan Rava dengan kekuatan super sudah duduk berhadapan dengan benteng paling kokoh yang sulit ditembus. Duduk di sofa ruang tamu menatap Rian yang tiba-tiba menjadi berani menatapnya. Seolah berubah menjadi tukang jagal, Rian menatap sinis Rava.


Perjumpaan awal yang canggung berubah kala Rava datang meminta dibawakan baju ganti untuk Ara. Sosok Rian yang hendak berlari ke kamarnya setelah menunjukkan keberadaan Rava pada Mama Lauritz itu putar balik. Bahkan Rian sempat heboh memanggil-manggil si Mas Jona untuk ikut serta mengintimidasi Rava.


Niat hati ingin mandi di klinik Dion diurungkan Rava. Memilih bergegas mengambil pakaian ganti untuk Ara setelah mendengar penjelasan Dion tentang luka Ara dan seolah semesta merestui, Papa Yudith menelpon akan mengantarkan pakaian untuk Ara. Berkilah sedang dalam perjalanan yang dekat dengan rumah Ara, Rava sengaja menjadi menantu siaga untuk Papa Yudith. Biarkan saja Rava suka-suka mengakui dirinya sebagai menantu, keyakinan akan berhasil memperistri Ara sudah semakin menguat.


"Mama.. Om itu gak culik Kakak kan?" Bisik Rian lirih tepat di telinga Mama Lauritz. Lirih bagi Rian rupanya masih terdengar jelas di telinga Rava. Menengguk air liurnya sedikit kasar, Rava masih harus melewati jurang, bukit dan lembah untuk mendekatkan diri pada Rian.


"Kakak lagi main ke rumah Kak Yuki, Dek.. Ini Om Rava malah bantuin Kakak ambil baju. Tau kan kalau Kakak kamu gak secewek Kak Yuki?" Jelas Mama Lauritz perlahan, tentunya untuk menutupi kondisi dan keberadaan Ara dari Jona dan Rian.


"Sampai kapan Ma?" Tanya Rian yang merasa kehilangan. Padahal baru juga beberapa jam mata bening itu tidak menangkap sosok Ara. Kebiasaan Rian yang doyan mengusel-usel melebihi kucing pada Ara dan Jona saat nonton TV malam-malam bersama akan terasa kurang lengkap.


"Sampai tugas dari Dosennya selesai." Ucapan Mama Lauritz membuat Rian seketika menatap Rava tajam, Rian ingat betul bahwa Rava pernah disebut sebagai Dosen Kakaknya juga.


"Dari Om itu ya Ma tugasnya?" Tanya Rian lirih lagi, ekor matanya masih menyoroti Rava. Rian mendengus kesal jika mengingat tugas Ara yang segudang hingga mengabaikan dirinya yang mengajak Ara main ular tangga.


"Iya, Om itu." Jawab Mama Lauritz singkat sambil menghampiri Rava yang sudah beranjak dari duduknya. Menyambut uluran dua kantong cukup besar berisi pakaian Ara dan beberapa makanan, Rava sedang menata kepingan hatinya.


Nyaris 45 menit Rava menghilang dari pandangan Ara. Sosok itu sedang berjalan tergesa-gesa di parkiran klinik sang Adik yang harusnya sudah tutup, mengingat waktu praktik Dion hanya sampai jam 9 malam saja. Menenteng dua kantong berisi pakaian dan makan malam untuk Ara dan Rava yang sudah Mama Lauritz siapkan. Senyum membingkai di wajah tampan Rava. Gigi yang terekspos nampaknya sudah lama mengering saking lamanya Rava tersenyum lebar.


Mempercepat langkahnya, Rava dapat melihat pintu ruang Ara terbuka. Mematung dengan wajah mengeras Rava diambang pintu, jika tidak mengingat kantong yang dipegang terdapat beban amanat dari Mama Lauritz mungkin sudah melayang ke punggung Dion.


Posisi Dion yang berdiri menutup tubuh mungil Ara terlihat seperti melakukan hal yang bukan-bukan, tidak-tidak atau mungkin iya-iya. Pikiran Rava berkecamuk kalut membayangkan Dion mencium Ara yang sudah diklaim sebagai miliknya.


Tidak perlu bersumpah 'demi dewa' ala Nenek populer drama Bollywood, Rava sudah terbakar api cemburu dan amarah yang menggelora. Rian yang mendekat atau bahkan Papa Yudith yang memeluk dan menciumi Ara saja entah mengapa Rava tidak rela. Ingin memisahkan, namun sadar ia tidak berhak apapun atas Ara. Apalagi bila melihat posisi Dion yang sudah sangat ingin ditendang Rava, meski status Dion jelas sebagai adik kandung Rava.


"KHEM!!" Deheman keras Rava seakan berusaha mengeluarkan lempengan batu kali mengejutkan Dion dan Ara.


"Aduh..!!" Mengaduh Ara kala telapak tangannya tidak sengaja ditekan oleh Dion akibat efek kejut deheman Rava. Pegangan Dion yang terlepas tiba-tiba itu baru ingin menyentuh kembali bagian telapak tangan Ara yang terluka.


"Jangan pegang!!" Sergah Rava menahan tangan Dion mengambang di udara. Langkah lebar dan cepat Rava mengguncang kuah sop dalam plastik tahan panas. Jangan lupakan kantong pakaian yang Rava tinggalkan demi tangan terbebas menepis tangan Dion yang akan menyentuh Ara.


"Santai Bang.. Adik mu ini Dokter ganteng yang mau periksa pasiennya. Jangan kebucinan akut gitu deh." Memutar bola matanya malas, Dion mendekat pada Rava dan membisikkan kalimat mengesalkan.


"Nanti Ara risih terus kabur ke Dion kan Bang Rava cuma bisa nangis di pojokan ruang kerja." Bisikan Dion di telinga memancing sisi dingin Rava. Mata terbelalak dan gigi mengatup rapat terasa ingin mengunyah Dion.


"Mas Rava gak jadi mandi??" Tanya Ara membuyarkan suasana tegang. Rava yang tadinya berapi-api sudah berubah menjadi layaknya es krim coklat bertabur remahan biskuit hitam berlapis krim putih rasa vanila.


"Hah!!??" Bukan jawaban dan juga bukan suara Rava. Dion menganga tidak percaya pada pendengarannya. Mengusap kasar kedua daun telinganya, Dion seolah mengeluarkan berbagai macam hal yang menyumbat saluran pendengaran miliknya.

__ADS_1


"Mas??" Lagi-lagi Dion bertingkah berlebihan.


"Ara sayang kenapa Mas Dion gak pernah di upgrade jadi Mas?? Kenapa Dokter Dion mulu??" Tanya Dion menggebu-gebu, lupa sudah untuk mengerem mulutnya. Bibir tipis Dion benar-benar tidak berfungsi memfilter ucapannya. Seenaknya memanggil 'Ara sayang' tepat di hadapan malaikat maut. Maaf Dion, sebentar lagi riwayat mu mungkin akan tamat.


"Aaarrgghhh!!!" Jerit Dion kuat, bukan sakit tapi ia terkejut. Daun telinga yang di tarik Rava penuh kekesalan tidak menciutkan nyali Dion, apalagi telinganya.


"Cemburu gak pada tempatnya.. Bang Rava lepas!!" Menepis kuat tangan Rava, Dion berani menatap Ara sambil cemberut.


"Ara tega sama Mas Dion.." Menghentakkan kaki bak bocah dilarang main ke parit, Dion menyilangkan kedua tangannya. Memijit pelipisnya, Rava kemudian menjitak kepala Dion.


"Bang Rava mentang-mentang udah jadi Mas sekarang suka-suka dekati Ara punya Dion! Tega.. Ck! Ck! Ck!" Berdecak Dion menggeleng kepalanya perlahan yang dihadiahi Rava dengan tatapan menghunus.


'Sebenarnya yang bocah itu siapa di sini??' Tanya Ara dalam hati, menghembuskan nafas beratnya.


"Pergi sana kamu Yon!" Usir Rava pada Dion. Mendorong tubuh sang Adik hingga melewati ambang pintu.


Brak.


Terhempas kasar pintu tidak berdosa itu, menyisakan Ara dan Dion yang sama-sama terkejut dalam sisi ruang berbeda. Sedangkan Rava yang mendengus kesal itu sudah berganti posisi di kursi yang sempat Dion duduki.


"Tadi Dion ngapain kamu?" Tanya Rava dengan nada penuh kesal. Mata yang menyorot tajam Ara itu hanya mendapat jawaban gelengan, bukan jawaban sebenarnya, melainkan Ara tidak habis pikir dengan sikap Rava yang kekanak-kanakan.


"Mas Rava beneran udah 32 tahun?"


"Kok kamu bahas umur saya Ra?" Suara kesal itu melunak, diingatkan umurnya membuat kepercayaan diri Rava anjlok seketika. Perasaan tidak pantas meraih Ara yang masih segar melebihi oasis di padang pasir sungguh menciutkan diri Rava.


"Cuma nanya juga kok.. Lagian Mas Rava kelihatan kayak bocah sih.. Ngalah-ngalahin Ara waktu masih SD aja." Ucap Ara santai sembari melirik Rava sekilas.


"Kamu gak suka sama saya yang kayak bocah?" Tanya Rava dalam nada penuh ketegasan. Tidak ada jawaban, Ara sedang gelagapan bingung harus menjawab apa. Hatinya bimbang, terombang-ambing belum jelas akan berlabuh kemana. Entah suka atau tidak, rasanya Ara ingin berkata tidak ada pengaruh sama sekali. Namun bibirnya sengaja dibungkam, seakan ucapan bohong akan terucap. Jujur saja Ara sudah goyah dan mencondongkan hatinya pada Rava.


...****************...


*


*


*


Apakah posesif nya Rian akan jadi batu sandungan Rava mengejar cinta Ara?šŸ¤”


*


*


Beberapa bab masih seputar hari yang sama, ada yang bosan?šŸ˜•


*

__ADS_1


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🄰


__ADS_2