
Flashback On
"Bang.."
"Kenapa Yon?" Rava menghentikan tangannya yang sibuk merapikan dasi.
"Udah sejauh apa hubungan Abang sama Ara?" Tanya Dion tanpa basa-basi, mendudukkan dirinya di sisi tepi ranjang Rava.
"Maksud kamu?" Mengernyit heran Rava pada pertanyaan tiba-tiba Dion. Radar tanda bahaya milik Rava secara spontan langsung siaga.
Keduanya sudah berbaikan, meski tidak ada kata maaf yang terucapkan. Seolah tidak pernah merebutkan sesuatu yang sama, Dion dan Rava melupakan perang dingin yang dilewati selama beberapa belas hari. Acara saling mendiamkan lama-kelamaan menghilang berganti pembicaraan singkat di meja makan yang berlanjut pada pembahasan ringan seputar pekerjaan masing-masing.
"Udah ada kemajuan usaha pencalonan dirinya?"
"Makin gak ngerti Abang. Yang jelas kenapa sih Yon!?" Bersedekap, Rava menatap tajam Dion. Pandangan Rava sempat teralihkan pada lembaran kertas yang diyakini berupa tumpukan beberapa lembar foto di tangan kanan Dion. Posisi yang diterbalikkan membuat Rava tidak mampu menebak lebih jauh lagi.
"Oke, kalau gak jelas berarti Dion punya kesempatan buat dekati Ara lagi."
"Jangan macam-macam kamu!!" Suara Rava seketika meninggi, mata melotot nyaris meloncat tertahan untaian saraf.
"Nah.. Udah diancam baru garang." Memutar bola mata malas, Dion menyeringai.
"Aku juga suka Bang sama Ara.. Aku belum bilang menyerah kan?" Lanjut Dion dengan serius.
"Kamu.." Telunjuk Rava sudah terangkat mengarah pada Dion. Kelopak mata Rava yang terbuka lebar menyorot tajam Dion, namun sedetik kemudian berubah sendu.
"Iya. Aku belum bilang menyerah kan?"
"Maksud kamu sekarang apa?" Nada suara Rava naik 3 tingkat dibandingkan sebelumnya. Namun bentak kan kasar tidak mengejutkan Dion sedikitpun.
Rasa tidak ingin mengalah memberontak, namun Rava sadar memaksa Dion untuk berhenti juga tidak mungkin. Apalagi Ara yang belum jelas akan menerima kesungguhannya. Seolah merenggut kebahagiaan Dion secara paksa, Rava merasa tidak akan pernah bisa benar-benar bahagia. Belum lagi pemikiran Rava yang yakin bahwa terkadang usaha tidak akan sejalan dengan hasil yang diinginkan.
Hukum usaha manusia tidak selalu dapat disebutkan berbanding lurus atau bahkan berbanding terbalik dengan hasil yang diperoleh. Semua tergantung pada 2 sisi jika melibatkan orang kedua. Berbeda dengan saat Rava berusaha memahami seluk-beluk bisnis untuk dirinya sendiri hingga prosesnya berbanding lurus, usahanya tidak membohongi hasil yang Rava peroleh. Namun, kini ada Ara yang menjadi patokan akhir yang bahagia atau Rava harus kandas merelakan segala rasa cintanya.
Srak
"Tobat Bang!!" Seru Dion setelah melempar sesuatu yang sedari tadi sudah ditutupinya ke atas kasur Rava.
"Kamu bongkar barang-barang Abang!??" Membelalakkan matanya, meski tidak dekat Rava masih mampu melihat foto-foto apa yang Dion lempar ke atas kasurnya. Berjalan mendekati sumber masalah, tangan Rava terulur menjangkau lembaran kertas foto itu.
"Cih!! Kurir yang kasih ke Dion kemarin." Jawab Dion santai, tidak ada rasa bersalah sedikitpun.
"Ngapain kamu bongkar?" Tanya Rava sengit, matanya kembali menatap tajam Dion.
"Dion kira berkas apa gitu kan, jadi ya ku buka aja amplopnya. Kalau penting mau Dion langsung taruh ke meja kerja Abang. Heh, rupanya.. Ck! Ck! Ck! Dasar penguntit meresahkan.." Berdecak menggelengkan kepala, Dion kembali menyeringai.
__ADS_1
"Gimana ya kalau Ara tau?" Memainkan kedua alisnya naik turun, Dion tersenyum mengejek. Berbeda dengan Rava yang justru memucat, tangan terkepal, gigi mengetat dengan rahang mengeras, Rava menghentikan pergerakannya menyusun sumber masalah baginya.
"Jangan macam-macam kamu Yon!!"
"Ya ya ya.." Jawab Dion remeh.
"Udah beresin cepet, sebelum Dion foto lagi terus kirim ke Ara nih.." Ancam Dion pada Rava, namun bukan bernada ancaman melainkan mengejek. Dion merogoh ponsel di saku celana pendeknya.
Pagi itu Dion memilih untuk menggoda Rava dengan penemuannya, sengaja mengganggu waktu Rava bersiap untuk berangkat kerja. Sedangkan Dion akan memulai jam kerjanya menjelang siang hari.
"Awas kamu!! Minggir!!" Usir Rava sambil menyenggol lengan Dion.
"Jahat banget sama Adiknya sendiri.. Nyesal deh Dion mau bilang menyerah dekati Ara.." Ucap Dion seolah penuh sesal. Rava mematung kala kalimat Dion mampu menelusup masuk menyentuh gendang telinganya.
"Maksud mu?" Berbalik menatap Dion, Rava bertanya serius maksud kalimat Dion. Tidak ingin langsung menyimpulkan sesuai isi pikirannya, Rava ingin menyakinkan kebenaran dari pikirannya.
"Diantara kita harus ada yang berhenti melangkah, jadi Bang Rava teruslah berjuang. Dion bakal bantu Bang Rava apapun yang terjadi, gimana Bang Rava udah menghabiskan waktu senang-senang Abang demi Dion. Di sini Dion akan bantu Abang meraih kebahagiaan Abang. Maafin Dion yang sempat gak mau mengalah sama Abang." Tutur Dion sambil menunduk, meski rasanya ia sudah patah hati berkali-kali sebelum benar-benar Ara ucapkan penolakan. Meremas jari-jemari yang saling bertautan, Dion mencoba menatap Rava. Hatinya ikut sakit bersamaan dengan kalimat yang meluncur bebas dari bibirnya.
"Makasih.. Makasih banget.. Maafin Abang yang gak bisa kasih apa yang kamu mau kali ini. Maafin Abang yang gak bisa lepasin Ara buat kamu.. Maafin Abang yang membunuh rasa cinta yang baru kamu tumbuhkan." Ucap Rava parau, ia sungguh bersalah pada Dion. Namun hatinya, rasa sayang dan cintanya pada Ara sudah terlanjur besar dan lama terpendam tidak mampu membuat Rava rela melepaskan Ara. Rava akui ia memang egois.
Keduanya saling berpelukan, baik Rava dan Dion sama-sama menyelami rasa bersalahnya. Dion merasa bersalah karena ia sempat ingin menjatuhkan Rava dihadapan Ara, namun ingatan bagaimana Rava terus bercerita sampai hampir gila saat Ara menghilang membuatnya sadar. Sedangkan Rava, janjinya akan membuat apapun yang Dion inginkan terpenuhi harus diakhiri dengan ketidakmampuan Rava melepas Ara pada adik satu-satunya.
"Sejak kapan itu?" Tanya Dion, keduanya sudah duduk bersandingan di ranjang Rava.
"Kelas 3 SMA." Rava menatap tumpukan foto di tangannya, tersenyum pada salah satu foto Ara yang sedang tertawa lepas.
"Selama itu jadi penguntit tapi baru berani gerak waktu Adik mu naksir cewek yang sama juga?" Ucap Dion ketus, setengah mengejek dan miris pada Abang kandungnya, Rava.
"Waktu Abang ketemu Ara di Kota K beberapa tahun lalu, Ara gak ada ingat Abang sedikitpun Yon. Setelah sekian lama Abang nungguin dia, akhirnya secara gak sengaja Abang nemuin Ara lewat buku tugas sekolah yang ada di meja kafe waktu Abang ngopi." Senyum Rava mengembang, tidak akan pernah terlupakan bagaimana ia ingin berteriak heboh namun harus tertahan demi tidak menakut-nakuti Ara.
"Sebelumnya Abang gak tau Ara lanjut sekolah dimana, setelah hampir 2 tahun nyari Ara di Kota ini.. Ara udah lebih dewasa, dia udah kelas 3 yang lagi sibuk belajar buat ujian nasional. Setelah itu juga Abang lagi-lagi kehilangan informasi Ara kuliah dimana. Asal kamu tau, Ara gak pernah keluar rumah waktu liburan. Abang sampai frustrasi cuma pengen lihat Ara aja."
"Sampai segitunya??" Menatap Rava dengan alis kanan terangkat, Dion seolah membicarakan gadis lain. Selama hampir setahun menjadi Dokter untuk Ara, Dion sangat paham sifat Ara yang tertutup.
"Bahkan pintu balkon bisa dihitung pakai jari kapan terbukanya." Menghela nafas kasar, Rava mengusap wajahnya perlahan mengingat ia hampir terusir oleh warga yang sedang siskamling. Rava diduga akan berbuat mesum di dalam mobil, namun ia terbukti sendirian dan tidak ada hal lain yang mencurigakan.
Berkilah sedang mengantuk dan mencegah terjadinya kecelakaan, Rava sudah berakting menguap beberapa kali. Hampir saja Papa Yudith dibangunkan warga untuk mengecek apa mungkin Rava komplotan penjahat yang menarget Papa Yudith, gemetaran tidak karuan Rava samarkan dengan senyum santai. Beruntung ia dilepas begitu saja, bahkan ditawarkan untuk tidur di pos kamling. Jika saja Papa Yudith sampai menandai wajah Rava, habis sudah harga dirinya.
Jujur saja Rava sempat kehilangan informasi dimana Ara melanjutkan studinya. Bertahan bahkan rela menanti seharian di mobil, Rava terus mengintai rumah berlantai 2 atau tepatnya pada arah balkon kamar Ara. Keluarga Ara meski terlihat ramah, banyak omong dan cerewet, namun sejatinya merupakan keluarga yang cukup tertutup. Jika bukan karena keberuntungan, Rava tidak akan secepat ini bisa mendekati Ara.
Mengenang momen pada saat Rava menjadi pembicara tamu pada seminar umum dari sebuah kampus, mata yang tadinya menatap malas kerumunan berubah berbinar saat gadis dengan setelan serba hitam sedang cemberut ditarik paksa oleh sepasang anak muda. Siapa lagi kalau bukan Yuki dan Dimas pelaku penarikan Ara. Sedetikpun Rava tidak ingin mengalihkan pandangannya dari Ara, hingga panggilan sang moderator menyentak alam bawah sadar Rava.
Flashback Off
Brak
__ADS_1
Melempar batu pada tumpukan kayu bekas gergajian yang tidak diketahui untuk apa, Ara menarik nafas dalam-dalam.
"Bapaaakkk!!!" Teriak Ara kuat tepat di depan wajah Rava yang melamun sambil tersenyum geli seperti orang gila di mata Ara.
"Hah!!" Tersentak kaget Rava pada suara melengking Ara. Tidak hanya Rava, namun para pekerja yang sedang membereskan perkakas bangunan untuk digunakan lagi besok juga ikut terkejut.
"Kayaknya Bapak gak cuma gila gara-gara suka bocah, tapi emang beneran gila." Menggelengkan kepala, Ara menyipitkan mata menatap Rava. Bersedekap dengan dahi mengerut, sejenak kemudian Ara sadar bahwa mulutnya sudah cukup kurang ajar.
"Maaf Pak.. Hehe.." Ucap Ara disertai menangkupkan kedua telapak tangan memohon ampunan.
Rava yang tadinya cukup malu, kini justru tertawa kecil melihat tingkah Ara. Sedangkan sosok yang sedari tadi sibuk menyusun remahan hatinya yang remuk sibuk tertawa terpingkal-pingkal. Menutup rapat mulutnya yang sedikit terbuka menahan tawa dengan kedua telapak tangan, Dion meneteskan air mata. Entah sedih atau terlalu geli dengan tingkah Rava, Dion menyanggah kepalanya pada kemudi mobil.
Cukup lama mengawasi sepasang manusia yang belum menjadi pasangan dari kejauhan tidak menghalangi Dion untuk melihat adegan spontan Ara. Niatnya hanya ingin menuju kliniknya, justru secara tidak sengaja mendapati Rava dan Ara sedang menatap bangunan yang masih berpondasi dengan helm putih khas pengawas.
...****************...
Di Indonesia tidak ada standar penggunaan warna khusus untuk helm keselamatan. Namun, Indonesia memiliki regulasi nasional yang terkait dengan helm keselamatan, yakni SNI ISO 3873:2012 tentang helm keselamatan industri dan Permenakertrans NO. PER.08 MEN VII 2010 tentang Alat Pelindung Diri (APD).
Oleh karena itu, perusahaan/jasa konstruksi bisa memakai standar warna safety helmet yang dibuat oleh Build UK, organisasi terbesar untuk perwakilan industri konstruksi di Inggris.
Sebelum tahun 2017👇
Setelah tahun 2017👇
*
*
*
Siapa nih yang seneng Dion menyerah??😄
*
*
Maaf ya Hana baru UP, kemarin sempat pergi gak tapi gak bawa cas hp.. mana cas orang-orang pada beda sama punya Hana😅
Sampai di rumah malah sakit gara-gara kecapekan dan tidur hampir seharian 😞
tunggu sebentar lagi yaa.. Hana mau UP 2 bab🙏 (fyi, aku bangun tidur bukan mandi dulu, tapi UP kisah Ara🤣 bakal ku hapus nih yg dalam kurung besok.. biar gak banyak yg tau aib ini😂)
Kalau ada typo ingetin yaa.. gak sempat pantau dulu😣
__ADS_1
*
Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰